Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Selasa, 16 Juni 2026

KULLU BID'ATIN

*KAJIAN MAKNA "KULL" (كل) DALAM HADITS TENTANG BID'AH* 

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Dengan membandingkan hadist tersebut serta QS. Al Kahfi: 79 yg sama-sama dihukumkan ke kullu majmu' akan kita dapati sebagai berikut:

Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan,

حدف الصفة على الموصوف

“Membuang sifat dari benda yg bersifat”.

Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan:

a. Kemungkinan pertama :

كُلُّ بِدْعَةٍ (حَسَنَةٍ) ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

“Semua bid’ah (yg baik) sesat, dan semua yg sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yg sama, hal itu tentu mustahil.

b. Kemungkinan kedua:

كُلُّ بِدْعَةٍ (سَيِئَةٍ) ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر

“Semua bid’ah (yg jelek) itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

Jelek dan sesat sejalan tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya:

وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)

“Di belakang mereka ada raja yg akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi: 79).

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menyebutkan kapal yg baik adalah KAPAL JELEK; karena yg jelek tidak mungkin diambil oleh raja.

Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yg baik كل سفينة حسنة.

كل محدث بدعة وكل بدعة ضﻻلة وكل ضﻻلة فى النار

"Kullu muhdatsin bid'ah, wa kullu bid'atin dholalah, wa kullu dholalatin fin naar"

Dalam hadits tersebut rancu sekali kalau kita maknai SETIAP bid'ah dengan makna KESELURUHAN, bukan SEBAGIAN. Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munauruq’ oleh Imam Al-Akhdhori yg telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shobban tertulis:

الَكُلّ حكمنَا عَلَى الْمجْموْع ككل ذَاكَ لَيْسَ ذَا وقَوْعحيْثمَا لكُلّ فَرْد حُكمَا فَإنَّهُ كُلّيّة قَدْ علمَا

"Kullu itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti ‘Sebagian itu tidak pernah terjadi’. Dan jika kita hukumkan untuk tiap2 satuan, maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yg sudah dimaklumi."

Mari perhatikan dengan seksama & cermat kalimat hadits tersebut. Jika memang maksud Rosululloh shalallahu 'alaihi wa sallam adalah SELURUH kenapa beliau BERPUTAR-PUTAR dalam haditsnya?

Kenapa Rosululloh tidak langsung saja
 كل محدث فى النار 
 "Kullu muhdatsin fin naar" (setiap yg baru itu di neraka) ?
 كل بدعة فى النار 
"Kullu Bid'atin fin naar" (setiap bid'ah itu di neraka)"?

Kenapa Rosululloh Shollallohu 'alaihi wa sallam menentukan yg akhir, yakni "kullu dholalatin fin naar" bahwa yg SESAT itulah yg masuk NERAKA ?

Selanjutnya, Kalimat bid'ah (بدعة) di sini adalah bentuk ISIM (kata benda) bukan FI'IL (kata kerja).

Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma'rifat (tertentu) dan Isim Nakirah (umum).

Nah..... kata BID'AH ini bukanlah

1. Isim dhomir
2. Isim alam
3. Isim isyaroh
4. Isim maushul
5. Ber alif lam

yg merupakan bagian dari isim ma'rifat. Jadi kalimat bid'ah di sini adalah isim nakiroh

Dan KULLU di sana berarti tidak beridhofah (bersandar) kepada salah satu dari yg 5 diatas.

Seandainya KULLU beridhofah kepada salah 1 yg 5 diatas, maka ia akan menjadi ma'rifat. Tapi pada 'KULLU BID'AH', ia beridhofah kepada nakiroh. Sehingga dalalah -nya adalah bersifat ‘am (umum).

Sedangkan setiap hal yg bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Ini sesuai dengan pendapat imam Nawawi ra.

قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَاعَامٌّ مَخْصٍُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ.

“Sabda Nabi Shollallohu 'alaihi wa sallam, “semua bid’ah adalah sesat”, ini adalah kata2 umum yg dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/154).

Lalu apakah SAH di atas itu dikatakan MUBTADA' (awal kalimat)? Padahal dalam kitab Alfiyah (salah 1 kitab rujukan ilmu nahwu), tertulis :

لايجوز المبتدأ بالنكراة

"Tidak boleh mubtada' itu dengan nakiroh."

KECUALI ada beberapa syarat, di antaranya adalah dengan sifat.

Andai pun mau dipaksakan untuk men-sah-kan mubtada' dengan ma'rifah agar tidak bersifat UMUM pada 'kullu bid'atin di atas, maka ada sifat yg di buang. (dilihat DARI SISI BALAGHAH).

*KITAB-KITAB YG MEMBAHAS KHUSUS BID’AH*

Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Asy-Syathibi Al-Gharnathi

ابتدأ طريقة لم يسبقه إليها سابق

فالبدعة إذن عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

Bid’ah secara bahasa berarti mencipta dan mengawali sesuatu. (Kitab Al-‘Itisham, I/36)

Sedangkan menurut istilah, bid’ah berarti cara baru dalam agama, yg belum ada contoh sebelumnya yg menyerupai syariah dan bertujuan untuk dijalankan & berlebihan dalam beribadah kepada الله سبحانه وتعال. )Kitab Al-‘Itisham, I/37)

Imam Syafi’i membagi perkara baru menjadi dua:

1. Perkara baru yg bertentangan dgn Al-Kitab & As-Sunnah atau atsar sahabat & ijma’. Ini adalah bidah dholalah.

2. Perkara baru yg baik tetapi tidak bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar sahabat & ijma’. Ini adalah bidah yg tidak tercela. Inilah yg dimaksud dgn perkataan Imam Syafi’i yg membagi bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah mahmudah terpuji & bid’ah mazmumah tercela/buruk. Bid'ah yg sesuai dgn sunnah adalah terpuji & baik, sedangkan yg bertentangan dgn sunnah ialah tercela & buruk”. 

Hilyah al-Auliya’, 9/113, & Al-Ba’its ‘ala Inkar Al-Bida’, hal. 15.Ini kelengkapan kalimatnya:

بن ادريس الشافعى يقول: البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وفق السنة فهو محمودة، وما خالف السنة فهو مذمومة. واحتج يقول عمروبن الخطاب فى قيام رمضان: نعمة البدعة هي. جز: 9 ص: 113

[حلية الاولياء وطبقات الاصفياء للحافظ أبى نعيم احمد بن عبدالله الاصفهانى]

وفي الحد ايضا معنى آخر مما ينظر فيه وهو ان البدعة من حيث قيل فيها انها طريقة في الدين مخترعة إلى آخره يدخل في عموم لفظها البدعة التركية كما يدخل فيه البدعة غير التركية فقد يقع الابتداع بنفس الترك تحريما للمتروك أو غير تحريم فان الفعل مثلا قد يكون حلالا بالشرع فيحرمه الانسان على نفسه أو يقصد تركه قصدا

فبهذا الترك اما ان يكون لأمر يعتبر مثله شرعا اولا فان كان لأمر يعتبر فلا حرج فيه اذ معناه انه ترك ما يجوز تركه أو ما يطلب بتركه كالذي يحرم على نفسه الطعام الفلاني من جهة أنه يضره في جسمه أو عقله أو دينه وما اشبه ذلك فلا مانع هنا من الترك بل ان قلنا بطلب التداوي للمريض فان الترك هنا مطلوب وان قلنا باباحة التداوي فالترك مباح

Batasan Arti Bid'ah

Dalam pembatasan arti bid'ah juga terdapat pengertian lain jika dilihat lebih saksama. yaitu: bid'ah sesuai dgn pengertian yg telah diberikan padanya, bahwa ia adalah tata cara di dalam agama yg baru diciptakan (dibuat-buat) & seterusnya. Termasuk dalam keumuman lafazhnya adalah bid'ah tarkiyyah (meninggalkan perintah agama), demikian halnya dengan bid'ah yg bukan tarkiyyah. Hal2 yg dianggap bid'ah terkadang ditinggalkan karena hukum asalnya adalah haram. Namun terkadang hukum asalnya adalah halal, tetapi karena dianggap bid'ah maka ia ditinggalkan. Suatu perbuatan misalnya menjadi halal karena ketentuan syar'i, namun ada juga manusia yg mengharamkannya atas dirinya karena ada tujuan tertentu, atau sengaja ingin meninggalkannya.

Meninggalkan suatu hukum; mungkin karena perkara tersebut dianggap telah disyariatkan seperti sebelumnya, karena jika perkaranya telah disyariatkan, maka tidak ada halangan dalam hal tersebut, sebab itu sama halnya dgn meninggalkan perkara yg dibolehkan untuk ditinggalkan atau sesuatu yg diperintahkan untuk ditinggalkan. Jadi di sini tidak ada penghalang untuk meninggalkannya. Namun jika beralasan untuk tujuan pengobatan bagi orang sakit, maka meninggalkan perbuatan hukumnya wajib. Namun jika kita hanya beralasan untuk pengobatan, maka meninggalkannya hukumnya mubah. (Kitab Al-‘Itisham, I/42])

*ITQON ASH-SHUN’AH FI TAHQIQ MA’NA AL-BID’AH*

Sayyid Al-'Allamah Abdullah bin Shodiq Al-Ghumari Al-Husaini..

قال النووي: قوله صلى الله عليه وسلم: "وكل بدعة ضلالة" هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع، قال أهل اللغة: هي كل شيء عمل غير مثال سابق. قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرّمة ومكروهة والمباح

في حديث العرباض بن سارية، قول النبي صلى الله عليه وسلم: "وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة" رواه أحمد وأبو داود والترمذي وابن ماجه، وصححه الترمذي وابن حبان والحاكم.

قال الحافظ بن رجب في شرحه: "والمراد بالبدعة ما أحدث مما لا أصل له في الشريعه يدل عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا، وإن كان بدعة لغة" اهـ.

Imam Nawawi berkata: Sabda Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam "Setiap bid’ah itu sesat" ini adalah umum yg dikhususkan & maksudnya pengertian secara umum. Ahli bahasa mengatakan: Bid’ah yaitu segala sesuatu amal perbuatan yg tdk ada contoh sebelumnya. Ulama mengatakan bahwa bid’ah terbagi menjadi lima macam yaitu wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.

Dalam hadits Uryadh bin Sariyah tentang sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Takutlah kamu akan perkara2 baru, maka setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata dlm penjelasannya: Yang dimaksud bid’ah adalah sesuatu yg baru yg tdk ada asalnya [contohnya] dlm syari’at yg menunjukkan atasnya. Adapun sesuatu yg ada asalnya dlm syari’at yg menunjukkan atasnya, maka bukan termasuk bid’ah menurut syara’ meski secara bahasa itu adalah bid’ah.

وفي صحيح البخاري عن ابن مسعود قال: "إن أحسن الحديث كتاب الله وأحسن الهدى هدى محمد صلّى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها".

قال الحافظ بن حجر والمحدثات بفتح الدال جمع محدثه، والمراد بها ما أحدث وما ليس له أصل في الشرع، ويسمى في عرف الشرع بدعة، وما كان له أصل يدل عليه الشرع، فليس ببدعة، فالبدعة في عرف الشرع مذمومة، بخلاف اللغة، فإن كل شيء أحدث على غير مثال، يسمى بدعة سواء كان محمودا او مذموما اهـ.

Dalam shohih Bukhori dari Ibnu Mas’ud berkata. Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabulloh Al-Qur’an & sebaik2 petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam & sejelek2nya perkara adalah yg baru dlm agama.

Lafadz muhdatsat dgn di fathah huruf dal-nya” kata jama’ plural dari Muhdatsah, maksudnya sesuatu yg baru yg tdk ada asal dasarnya dlm syari’at dan diketahui dalam hukum agama sebagai bid’ah.

Dan sesuatu yg memiliki asal landasan yg menunjukkan atasnya maka tdk termasuk bid’ah. Bid’ah sesuai pemahaman syar’i itu tercela sebab berlawanan dgn pemahaman secara bahasa.

Maka jika ada perkara baru yg tdk ada contohnya dinamakan bid’ah, baik bid’ah yg mahmudah maupun yg madzmumah.

وروى أبو نعيم عن ابراهيم بن الجنيد، قال: سمعت الشافعي يقول: البدعة بدعتان بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود وما خالف السنة فهو مذموم.

وروى البيهقي في مناقب الشافعي عنه، قال: المحدثات ضربان: ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنةً أو أثرا أو إجماعا، فهذه بدعة الضلالة.

وما أحدث من الخير لا خلاف فيه في واحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة وقد قال عمر في قيام رمضان: نعمة البدعة هذه يعني أنها محدثة لم تكن، وإذا كانت، ليس فيها رد لما مضى.

Diriwayatkan Abu Na’im dari Ibrahim bin Al-Janid berkata: Aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah & bid’ah madzmumah. Maka perkara baru yg sesuai sunnah, maka itu bid’ah terpuji. Dan perkara baru yg berlawanan dgn sunnah itu...bid’ah..tercela.”

Al-Baihaqi meriwayatkan dlm Manaqib Syafi’i biografi Syafi’i.... Imam Syafi’i berkata: Perkara baru itu ada dua macam, yaitu perkara baru yg bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar sahabat & ijma’. Ini adalah bidah dholalah.

Perkara baru yg baik tetapi tidak bertentangan dgn Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar Sahabat & ijma’. Ini adalah bidah yg tidak tercela. Dan Umar bin Khathab ra. berkata tentang qiyamu Romadhon sholat tarawih.

Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Yakni sholat tarawih adalah perkara baru yg tdk ada sebelumnya, & ketika ada itu bukan berarti menolak apa yg sdh berlalu.

والمراد بقوله: "كل بدعة ضلالة" ما أحدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام اهـ.

وقال النووي في تهذيب الأسماء واللغات: البدعة بكسر الباء، في الشرع، هي إحداث ما لم يكن في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم، وهي منقسمه إلى حسنة وقبيحة.

قال الامام الشافعي: "كل ما له مستند من الشرع، فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف، لأن تركهم للعمل به، قد يكون لعذر قام لهم في الوقت، أو لِما هو أفضل منه، أو لعله لم يبلغ جميعهم علم به" اهـ.

Dan yg dimaksud dgn sabda Rosul,
Setiap bid’ah adalah sesat,” adalah sesuatu yg baru dlm agama yg tdk ada dalil syar’i [al-Qur’an dan al-Hadits secara khusus maupun secara umum.

Dalam At-Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughot bahwa kalimat “Al-Bid’ah” itu dibaca kasror hurup “ba’-nya” di dalam pemahaman agama yaitu perkara baru yg tdk ada dimasa Nabi Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam & dia terbagi menjadi dua baik & buruk.

Setiap sesuatu yg mempunyai dasar dari dalil2 syara' maka bukan termasuk bid'ah, meskipun blm pernah dilakukan oleh salaf.
Karena sikap mereka meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada uzur yg terjadi saat itu (belum dibutuhkan) atau karena ada amaliah lain yg lebih utama, & atau hal itu barangkali belum diketahui oleh mereka.

والله الموفق الى اقوم الطريق
والله أعلم بالصواب

Sabtu, 13 Juni 2026

KEMULIAAN BULAN MUHARROM

Kemuliaan Bulan Muharram dan 20 Peristiwa yang Perlu Diketahui.
Oleh : KH.HUSNI THAMRIN UGM
(Pengasuh ponpes Raudhotul Fata kota sukabumi)
Muharram merupakan bulan pertama dari 12 bulan yang ada dalam penanggalan Hijriyah. Dari sejumlah bulan tersebut, Allah Swt telah memilih empat di antaranya sebagai bulan-bulan mulia (asyhurul hurum), yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrram, dan Rajab. Keempat bulan ini memiliki keutamaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh delapan bulan yang lainnya.

Kemuliaan Muharram
Masuk dalam salah satu asyhurul hurum, Muharram adalah bulan yang istimewa yang dipilih Allah Swt untuk dimuliakan sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu (QS At Taubah [9]: 36).

Pada bulan ini adalah moment untuk setiap hamba meningkatkan kualitas takwa, sebab orang yang melakukan maksiat pada keempat bulan tersebut salah satunya Muharram akan mendapat balasan dosa yang lebih besar. Selain dosa yang mengalami pelipatgandaan balasan, pahala amal ibadah juga demikian. Salah satunya adalah orang yang melakukan puasa sunnah pada bulan Muharram akan mendapat pahala 30 kali lipat. Diriwayatkan dalam satu hadits Nabi:  

عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ كَاَن لَهُ كَفَارَةً سَنَتَيْنِ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنَ الْمُحَرَّمِ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ ثَلَاثُونَ يَوْمًا. (رواه الطبراني في الصغير وهو غريب وإسناده لا بأس به)   

Artinya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.” (HR at-Thabarani dalam al-Mu’jamus Shaghîr. Hadits ini gharîb namun sanadnya tidak bermasalah).

Mulianya bulan Muharram yang penuh dengan makna dan keutamaan. 
Pada bulan tersebut umat islam disunnahkan untuk berpuasa pada hari 10 Muharram atau yang sering disebut dengan puasa Asyura. Puasa Asyura adalah puasa atas pembebasan Nabi Musa As yang dikejar oleh Fir’aun. 
Puasa tersebut mulanya dikerjakan oleh orang-orang Quraisy di masa Jahiliyah dengan alasan “Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. (HR. Bukhari; No: 1865 & Muslim, No: 1910)

Mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura keutamaannya diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

سُئِلَ عَنْ صِياَمِ يَوْمِ عَاشُوْرآءَ؟ قَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ .
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, No: 1977)

20 Peristiwa Penting
Selain itu, saking mulianya bulan Muharram, pada bulan tersebut juga menyimpan berbagai peristiwa bersejarah yang membentuk jalan panjang peradaban Islam. Melansir NU Online setidaknya ada 20 peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram. Sebagian peristiwa tersebut tersimpan rapi pada kitab klasik umat Islam, Kitab I’anah at-Thalibin, II/267. 

1. Diciptakannya Nabi Adam as di surga.
2. Diterimanya taubat Nabi Adam as 
3. Naik dan sejajarnya perahu Nabi Nuh as dengan bukit Judi setelah banjir besar, 
Terus turunnya ke muka bumi setelah banjir bandang,
4. Dikeluarkannya Nabi Yunus as dari perut ikan paus
5. Diterimanya taubat umat Nabi Yunus as 
6. Dilahirkannya Nabi Ibrahim as
7. Selamatnya Nabi Ibrahim as dari api yang membakarnya oleh Raja Namrud
8. Dikeluarkannya Nabi Yusuf as dari sumur setelah diceburkan saudara-saudaranya
19. Dipertemukannya Nabi Yusuf as dengan keluarganya kembali
10. Disembuhkannya penglihatan Nabi Ya’qub as 
11. Dibukanya (dihilangkan) ‘madlorot’ yang mendera Nabi Ayyub as 
12. Diampuninya Nabi Daud as 
13. Terbelahnya laut merah untuk Nabi Musa setelah dikejar Fir’aun
14. Tenggelamnya Fir’aun di dasar laut merah saat mengejar Nabi Musa as 
15. Dilahirkannya Nabi Isa as 
16. Diangkatnya Nabi Isa ke langit
17. Dibolak-balikannya tubuh ashabul Kahfi (para pemuda Bani Israil yang bersembunyi di dalam gua)
18. Diciptakannya ruh Nabi Muhammad saw
19. Dikandungnya Nabi Muhammad saw di rahim Ibunda Aminah ra
20. Wafatnya (syahid) cucu Nabi Muhammad saw Sayyiduna Husein ra

Hikmah 
Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?”
 
Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. 
Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram). (Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H).
 
Itulah kenapa, dari pemaparan diatas, kita seolah-olah dibawa dalam kisah yang penuh renungan dan pelajaran bagi umat sekarang. 
Dan mayoritas kisah yang terjadi di bulan Muharram, lebih terindikasi kepada pembebasan manusia dari ketertindasan dan mara bahaya. 
Sehingga pada bulan Muharram tersebut layak menjadi bulannya kemerdekaan bagi umat muslim dan mukmin.
Waallahu a'lam

Rabu, 10 Juni 2026

LI'AN TERMASUK CERAI PERMANEN

Berikut penjelasan **li‘ān (اللِّعَان)** secara runtut, dengan contoh kasus, dalil Al-Qur’an, hadits, dan ringkasan pendapat ulama.

---

# 1) Apa itu li‘ān

**Li‘ān** adalah sumpah saling melaknat antara suami dan istri di hadapan hakim ketika:

* suami menuduh istrinya berzina, atau
* suami mengingkari nasab anak (mengatakan anak itu bukan darinya),
  tetapi **tidak punya 4 saksi**.

---

# 2) Dalil Al-Qur’an

### Surah An-Nur ayat 6–9

Allah berfirman:

> “Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina) tetapi tidak ada saksi selain diri mereka sendiri…”
> (QS. An-Nur: 6–9)

Intinya ayat ini menetapkan prosedur li‘an:

* suami bersumpah 4 kali bahwa ia jujur
* sumpah ke-5: laknat Allah jika ia dusta
* istri juga bersumpah 4 kali bahwa suami dusta
* sumpah ke-5: murka Allah jika suami benar

---

# 3) Dalil Hadits (contoh kasus Nabi ﷺ)

### Hadits Sahih Bukhari & Muslim

Dari Ibnu Abbas r.a.:

Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:

> “Wahai Rasulullah, istriku telah berzina.”

Nabi ﷺ bersabda:

> “Datangkan bukti atau engkau akan dikenai had (hukuman qazaf).”

Laki-laki itu tidak mampu membawa saksi.

Maka turun ayat li‘an (QS An-Nur 6–9), lalu Nabi ﷺ memanggil keduanya dan memerintahkan li‘an.

📚 (Sahih Bukhari no. 4747, Sahih Muslim no. 1492)

---

# 4) Contoh kasus li‘an (detail)

## Kasus:

Seorang suami berkata:

> “Istriku berzina dengan laki-laki lain, dan aku yakin anak yang ia lahirkan bukan anakku.”

Ia tidak punya saksi.

### Proses di pengadilan:

#### (1) Sumpah suami 4 kali:

“Aku bersaksi demi Allah aku benar dalam tuduhanku.”

#### (2) Sumpah ke-5:

“Laknat Allah atas diriku jika aku berdusta.”

---

#### (3) Istri membalas 4 kali:

“Aku bersaksi demi Allah suamiku berdusta.”

#### (4) Sumpah ke-5:

“Murka Allah atasku jika suamiku benar.”

---

# 5) Akibat hukum li‘an

## Menurut ijma’ ulama:

1. **Perkawinan putus selamanya**
2. **Tidak boleh rujuk atau menikah lagi**
3. Anak:

   * tidak dinasabkan kepada suami
   * dinasabkan kepada ibu

---

# 6) Kaul ulama (pendapat)

## 1. Jumhur ulama (Maliki, Syafi’i, Hanbali)

* Li‘an menyebabkan **fasakh abadi (putus selamanya)**
* Tidak boleh rujuk kembali

📚 Referensi:

* *Al-Mughni* (Ibnu Qudamah)
* *Al-Majmu’* (Imam Nawawi)
* *Bidayatul Mujtahid* (Ibnu Rusyd)

---

## 2. Mazhab Hanafi (perincian)

* Juga menyatakan putusnya pernikahan terjadi
* Namun mereka membahas teknis fasakh dengan detail peradilan

📚 Referensi:

* *Al-Hidayah* (Al-Marghinani)

---

# 7) Hikmah li‘an

Ulama menjelaskan hikmahnya:

* Melindungi kehormatan istri dari tuduhan tanpa bukti
* Menjaga nasab anak
* Memberi jalan keluar ketika tidak ada saksi

---

# 8) Kesimpulan singkat

Li‘an adalah:

* sumpah saling melaknat suami-istri di pengadilan syariat
* terjadi karena tuduhan zina atau penafian anak tanpa saksi
* menyebabkan:
  👉 cerai selamanya
  👉 tidak boleh rujuk
  👉 nasab anak ke ibu

Allahu A'lam.

Selasa, 09 Juni 2026

CIRI HAJI MABRUR DAN TUJUAN BERHAJI

Di antara tanda-tanda haji mabrur yang telah disebutkan para ulama adalah:

1. Pertama
Harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang halal (Ihya Ulumiddin 1/261), karena Allah tidak menerima kecuali yang halal, sebagaimana ditegaskan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

“Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yang baik. (HR. Muslim (1015))

Orang yang ingin hajinya mabrur harus memastikan bahwa seluruh harta yang ia pakai untuk haji adalah harta yang halal, terutama mereka yang selama mempersiapkan biaya pelaksanaan ibadah haji tidak lepas dari transaksi dengan bank. 
Jika tidak, maka haji mabrur bagi mereka hanyalah jauh panggang dari api. 
Ibnu Rajab mengucapkan sebuah syair (Lathaiful Ma’arif 2/49):

إِذَا حَجَجْتَ بِمَالٍ أَصْلُهُ سُحْتٌ
فَمَا حَجَجْتَ وَلَكِنْ حَجَّتِ الْعِيرُ

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا كُلَّ صَالِحَةٍ
مَا كُلُّ مَنْ حَجَّ بَيْتَ اللَّهِ مَبْرُورُ

Jika anda haji dengan harta tak halal asalnya.

Maka anda tidak berhaji, yang berhaji hanya rombongan anda.

Allah tidak terima kecuali yang halal saja.

Tidak semua yang haji mabrur hajinya.

2. Kedua
Amalan-amalannya dilakukan dengan ikhlas dan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam. Paling tidak, rukun-rukun dan kewajibannya harus dijalankan, dan semua larangan harus ditinggalkan. Jika terjadi kesalahan, maka hendaknya segera melakukan penebusnya yang telah ditentukan.

Di samping itu, haji yang mabrur juga memperhatikan keikhlasan hati, yang seiring dengan majunya zaman semakin sulit dijaga. Mari merenungkan perkataan Syuraih al-Qadhi, “Yang (benar-benar) berhaji sedikit, meski jamaah haji banyak. Alangkah banyak orang yang berbuat baik, tapi alangkah sedikit yang ikhlas karena Allah.” (Lathaiful Ma’arif 1/257)

Pada zaman dahulu ada orang yang menjalankan ibadah haji dengan berjalan kaki setiap tahun. 
Suatu malam ia tidur di atas kasurnya, dan ibunya memintanya untuk mengambilkan air minum. Ia merasakan berat untuk bangkit memberikan air minum kepada sang ibu. 
Ia pun teringat perjalanan haji yang selalu ia lakukan dengan berjalan kaki tanpa merasa berat. 
Ia mawas diri dan berpikir bahwa pandangan dan pujian manusialah yang telah membuat perjalanan itu ringan. 
Sebaliknya saat menyendiri, memberikan air minum untuk orang paling berjasa pun terasa berat. Akhirnya, ia pun menyadari bahwa dirinya telah salah. (Lathaiful Ma’arif 1/257)

3. Ketiga
Hajinya dipenuhi dengan banyak amalan baik, seperti dzikir, shalat di Masjidil Haram, shalat pada waktunya, dan membantu teman seperjalanan.

Ibnu Rajab berkata, “Maka haji mabrur adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan baik, plus menghindari perbuatan-perbuatan dosa. (Lathaiful Ma’arif 1/67)

Di antara amalan khusus yang disyariatkan untuk meraih haji mabrur adalah bersedekah dan berkata-kata baik selama haji. 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang maksud haji mabrur, maka beliau menjawab,

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Memberi makan dan berkata-kata baik.” (HR. al-Baihaqi 2/413 (no. 10693), dihukumi shahih oleh al-Hakim dan al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 3/262 (no. 1264))

4. Keempat
Tidak berbuat maksiat selama ihram.

Maksiat dilarang dalam agama kita dalam semua kondisi. Dalam kondisi ihram, larangan tersebut menjadi lebih tegas, dan  jika dilanggar, maka haji mabrur yang diimpikan akan lepas.

Di antara yang dilarang selama haji adalah rafats, fusuq dan jidal. Allah berfirman,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah : 197)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barang siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya.” (HR. Muslim (1350) dan yang lain, dan ini adalah lafazh Ahmad di Musnad (7136))

Rafats adalah semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri selama ihram.

Fusuq adalah keluar dari ketaatan kepada Allah, apapun bentuknya. Dengan kata lain, segala bentuk maksiat adalah fusuq yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Jidal adalah berbantah-bantahan secara berlebihan. (Ihya Ulumiddin 1/261)

Ketiga hal ini dilarang selama ihram. Adapun di luar waktu ihram, bersenggama dengam pasangan kembali diperbolehkan, sedangkan larangan yang lain tetap tidak boleh.

Demikian juga, orang yang ingin hajinya mabrur harus meninggalkan semua bentuk dosa selama perjalanan ibadah haji, baik berupa syirik, bid’ah maupun maksiat.

5. Kelima
Setelah haji menjadi lebih baik

Salah satu tanda diterimanya amal seseorang di sisi Allah adalah diberikan taufik untuk melakukan kebaikan lagi setelah amalan tersebut. Sebaliknya, jika setelah beramal saleh melakukan perbuatan buruk, maka itu adalah tanda bahwa Allah tidak menerima amalannya. (Lathaiful Ma’arif 1/68)

Ibadah haji adalah madrasah. Selama kurang lebih satu bulan para jamaah haji disibukkan oleh berbagai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah. Untuk sementara, mereka terjauhkan dari hiruk pikuk urusan duniawi yang melalaikan. 
Di samping itu, mereka juga berkesempatan untuk mengambil ilmu agama yang murni dari para ulama tanah suci dan melihat praktik menjalankan agama yang benar.

Logikanya, setiap orang yang menjalankan ibadah haji akan pulang dari tanah suci dalam keadaan yang lebih baik. Namun yang terjadi tidak demikian, apalagi setelah tenggang waktu yang lama dari waktu berhaji. Banyak yang tidak terlihat lagi pengaruh baik haji pada dirinya.

Bertaubat setelah haji, berubah menjadi lebih baik, memiliki hati yang lebih lembut dan bersih, ilmu dan amal  yang lebih mantap dan  benar, kemudian istiqamah di atas kebaikan itu adalah salah satu tanda haji mabrur.

Orang yang hajinya mabrur menjadikan ibadah haji sebagai titik tolak untuk membuka lembaran baru dalam menggapai ridho Allah Ta’ala. Ia akan semakin mendekat ke akhirat dan menjauhi dunia.

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Haji mabrur adalah pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.” (At-Tarikh al-Kabir 3/238) Ia juga mengatakan, “Tandanya adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan sebelum haji.” (Lathaiful Ma’arif 1/67)

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, “Dikatakan bahwa tanda diterimanya haji adalah meninggalkan maksiat yang dahulu dilakukan, mengganti teman-teman yang buruk menjadi teman-teman yang baik, dan mengganti majlis kelalaian menjadi majlis dzikir dan kesadaran.” (Qutul Qulub 2/44)

يأتي على الناسِ زمانٌ يَحُجُّ أغنياءُ أمتي للنُّزْهةِ، وأوساطُهم للتجارةِ وقُرَّاؤُهم للرياءِ والسمعةِ، وفقراؤُهم للمسألةِ.

 Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabada;

ياتي علي الناس زمان يحج اغنياءُ امتي للنزهة و اوسطهم للتجارة و قراءهم للرياء و السمعة و فقراءُهم للمسالة

“Akan datang pada manusia suatu masa di mana berhaji dilakukan oleh orang-orang kaya dari ummatku untuk berwisata, oleh orang-orang menengah untuk berdagang, oleh orang-orang pandai untuk riya’ dan pamer, oleh orang-orang miskin untuk minta-minta”. (HR. Ibnul Jauzi dalam Mutsirul Gharam)

يأتي على الناس زمان يحج أغنياء أمتي للنزهة، وأوساطهم للتجارة، وقراؤهم للرياء والسمعة، وفقراؤهم للمسألة

"Akan datang suatu masa ketika orang-orang kaya dari umatku berhaji untuk berwisata, golongan menengah untuk berdagang, para qari untuk riya dan mencari popularitas, dan orang-orang fakir untuk meminta-minta." saya lacak sebagai kutipan langsung dari Ihya' Ulumiddin.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَحُجُّ لِلتِّجَارَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَحُجُّ لِلسِّيَاحَةِ وَالنُّزْهَةِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَحُجُّ لِيُقَالَ لَهُ الْحَاجُّ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَحُجُّ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ تَعَالَى.

Artinya:

"Di antara manusia ada yang berhaji untuk berdagang, ada yang berhaji untuk wisata dan berjalan-jalan, ada yang berhaji agar disebut 'haji', dan ada yang berhaji untuk mencari keridaan Allah Ta'ala."


إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. ( QS. An Nur 51-52)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al Baqarah: 208)

(ضعيف) عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - مرفوعا: ((يأتي على الناس زمان ‌يحج ‌أغنياء أمتي للنزهة، وأوساطهم للتجارة وقراؤهم للرياء والسمعة، وفقراؤهم للمسألة)). [خط، ابن الجوزي في ((منهاج القاصدين))، ((الضعيفة)) (1093)]


Penutup
Sekali lagi, yang menilai mabrur tidaknya haji seseorang adalah Allah semata. 
Para ulama hanya menjelaskan tanda-tanda haji mabrur sesuai dengan ilmu yang telah Allah berikan kepada mereka. 
Jika tanda-tanda ini ada dalam ibadah haji anda, maka hendaknya anda bersyukur atas taufik dari Allah. Anda boleh berharap ibadah anda diterima oleh Allah, dan teruslah berdoa agar ibadah anda benar-benar diterima. 
Adapun jika tanda-tanda itu tidak ada, maka anda harus mawas diri, istighfar dan memperbaiki amalan anda. 
Wallahu a’lam.


Kamis, 04 Juni 2026

JUNUB HARAM KEMASJIDKAH,,?

Berikut beberapa dalil yang sering dijadikan landasan oleh ulama yang berpendapat bahwa perempuan haid dan orang junub tidak boleh berdiam di masjid, beserta teks Arab dan referensinya.

## 1. Hadis larangan bagi haid dan junub

عن عائشة رضي الله عنها قالت:

> قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
>
> **«إِنِّي لَا أُحِلُّ الْمَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ»**

**Referensi:**

* Sunan Abi Dawud no. 232
* Sunan Ibn Majah no. 645

**Terjemah:**
"Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub."

**Catatan:** Para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan sanad hadis ini. Sebagian menghasankannya, sebagian lainnya mendhaifkannya.

---

## 2. Dalil Al-Qur'an

Allah Ta'ala berfirman:

> **يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا**

**Referensi:**

* Al-Qur'an (An-Nisā' : 43)

Mayoritas ahli tafsir dari kalangan fuqaha menafsirkan "الصلاة" pada ayat ini sebagai **tempat shalat (masjid)** dalam konteks larangan mendekati masjid saat junub kecuali sekadar lewat.

---

# Qaul Ulama

## 1. Imam An-Nawawi (Mazhab Syafi'i)

قال الإمام النووي:

> **أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى تَحْرِيمِ الْمُكْثِ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى الْجُنُبِ وَالْحَائِضِ**

**Referensi:**

* Al-Majmu', jilid 2, hlm. 160

**Terjemah:**
"Kaum muslimin berijma' atas haramnya berdiam di masjid bagi orang junub dan wanita haid."

Yang dimaksud An-Nawawi adalah ijma' tentang **berdiam (المكث)**, bukan sekadar lewat.

---

## 2. Imam Ibnu Qudamah (Mazhab Hanbali)

قال ابن قدامة:

> **وَلَا يَجُوزُ لِلْجُنُبِ وَلَا لِلْحَائِضِ اللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ**

**Referensi:**

* Al-Mughni, jilid 1, hlm. 195

**Terjemah:**
"Tidak boleh bagi orang junub dan wanita haid berdiam di masjid."

---

## 3. Imam Al-Kasani (Mazhab Hanafi)

قال الكاساني:

> **وَلَا يَدْخُلُ الْجُنُبُ وَالْحَائِضُ الْمَسْجِدَ إِلَّا عَابِرَ سَبِيلٍ**

**Referensi:**

* Bada'i al-Sana'i, jilid 1, hlm. 38

**Terjemah:**
"Orang junub dan wanita haid tidak memasuki masjid kecuali sebagai orang yang sekadar melintas."

---

## 4. Imam Ibnu Abdil Barr (Mazhab Maliki)

قال ابن عبد البر:

> **وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْحَائِضَ لَا تَمْكُثُ فِي الْمَسْجِدِ**

**Referensi:**

* Al-Istidhkar, jilid 1, hlm. 349

**Terjemah:**
"Mereka bersepakat bahwa wanita haid tidak boleh berdiam di masjid."

---

## Pendapat yang Membolehkan

Sebagian ulama seperti Ibn Hazm berpendapat bahwa wanita haid boleh masuk dan berada di masjid karena menurut beliau tidak ada nash sahih yang secara tegas melarangnya.

Beliau berkata:

> **وَدُخُولُ الْحَائِضِ الْمَسْجِدَ جَائِزٌ**

**Referensi:**

* Al-Muhalla, jilid 1, hlm. 401

**Terjemah:**
"Masuknya wanita haid ke masjid adalah boleh."

Beliau berdalil antara lain dengan hadis tentang budak perempuan berkulit hitam yang tinggal di masjid pada masa Nabi ﷺ, yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Menurut beliau, tidak ada keterangan bahwa wanita tersebut harus keluar dari masjid ketika haid.

### Kesimpulan

* Jumhur (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali) mengharamkan **berdiam (المكث)** di masjid bagi wanita haid dan orang junub.
* Jumhur umumnya membolehkan **sekadar lewat** jika aman dari mengotori masjid.
* Sebagian ulama seperti Ibn Hazm dan beberapa ulama kontemporer membolehkan wanita haid berada di masjid dengan dalil dan istidlal yang berbeda.

Karena masalah ini termasuk ranah ijtihadiyyah, sebaiknya ketika mengutip pendapat, disebutkan bahwa itu adalah pendapat jumhur ulama, bukan satu-satunya pendapat yang ada.
_____________________________

AREA MASJID DAN YANG BUKAN AREA MASJID

Dalam fikih, yang disebut **masjid (المسجد)** adalah area yang telah **diwakafkan atau ditetapkan secara permanen untuk shalat berjamaah**. Hukum-hukum khusus masjid (i'tikaf, tahiyyatul masjid, larangan jual beli, pembahasan haid dan junub, dll.) berlaku pada area tersebut.

### Area yang termasuk masjid

1. **Ruang utama shalat**

   * Tempat imam dan makmum melaksanakan shalat.
   * Ini termasuk masjid tanpa khilaf yang berarti.

2. **Lantai atas atau bawah yang memang menjadi tempat shalat masjid**

   * Jika sejak awal dibangun sebagai bagian dari area shalat masjid, hukumnya mengikuti masjid.

3. **Serambi atau perluasan bangunan yang diwakafkan sebagai area shalat**

   * Jika secara resmi menjadi bagian dari masjid dan digunakan untuk shalat berjamaah, maka termasuk masjid.

### Area yang umumnya tidak termasuk masjid

1. **Halaman luar yang tidak diwakafkan sebagai masjid**
2. **Tempat wudhu**
3. **Kamar mandi dan toilet**
4. **Ruang pengurus (kantor DKM/takmir)**
5. **Gudang**
6. **Dapur**
7. **Tempat parkir**
8. **Rumah imam atau marbot yang menempel dengan masjid**
9. **Aula serbaguna yang tidak diwakafkan sebagai area shalat**

Area-area tersebut biasanya tidak terkena hukum khusus masjid, kecuali jika dalam akad wakaf atau penetapan pengelola memang dinyatakan sebagai bagian dari masjid.

### Qaul ulama

Imam An-Nawawi berkata:

> **وَالْمَسْجِدُ هُوَ الْبُقْعَةُ الْمُعَدَّةُ لِلصَّلَاةِ**
>
> "Masjid adalah tempat yang disediakan untuk shalat."

Referensi:

* Al-Majmu'

Imam Ibnu Qudamah berkata:

> **وَمَا جُعِلَ مِنْهُ لِمَصَالِحِ الْمَسْجِدِ فَلَيْسَ لَهُ حُكْمُ الْمَسْجِدِ**
>
> "Bagian yang dijadikan untuk kemaslahatan masjid tidak otomatis memiliki hukum masjid."

Referensi:

* Al-Mughni

### Pada masjid modern

Perlu dilihat status masing-masing area:

* Karpet utama shalat → termasuk masjid.
* Mezanin yang dipakai shalat → termasuk masjid.
* Basement yang dijadikan ruang shalat → termasuk masjid.
* Lobi, kantor, perpustakaan, aula, kantin → belum tentu termasuk masjid; tergantung status wakaf dan penetapannya.
* Pelataran terbuka untuk parkir → biasanya bukan masjid.

Karena itu, untuk menentukan apakah suatu area termasuk masjid atau tidak, yang paling penting adalah **status wakaf dan peruntukannya**, bukan sekadar apakah area itu berada di dalam pagar atau satu bangunan dengan masjid.
______________________________

AREA TAMBAHAN MASJID TERMASUK MASJID

Dalil bahwa perluasan yang dijadikan bagian dari masjid hukumnya mengikuti masjid tidak berasal dari satu nash khusus yang berbunyi "perluasan masjid adalah masjid", tetapi dari pemahaman ulama terhadap hakikat masjid sebagai tempat yang diwakafkan dan ditetapkan untuk shalat.

### 1. Atsar Umar bin Khattab ketika memperluas Masjid Nabawi

Diriwayatkan bahwa Umar ibn al-Khattab memperluas Al-Masjid an-Nabawi dan membeli rumah-rumah di sekitarnya untuk dimasukkan ke dalam area masjid.

Dalam riwayat disebutkan:

> **أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ وَسَّعَ الْمَسْجِدَ**

**Referensi:**

* Sahih al-Bukhari, Kitab Ash-Shalah, Bab Bunyan al-Masjid.

Para ulama memahami bahwa area yang ditambahkan setelah perluasan menjadi bagian dari masjid dan memperoleh hukum masjid sebagaimana area lama.

---

### 2. Kaidah fikih tentang wakaf masjid

Imam An-Nawawi berkata:

> **الْمَسْجِدُ مَا وُقِفَ لِلصَّلَاةِ فِيهِ**

"Masjid adalah sesuatu yang diwakafkan untuk dilaksanakan shalat di dalamnya."

**Referensi:**

* Rawdat al-Talibin
* Al-Majmu'

Berdasarkan definisi ini, apabila suatu area baru telah diwakafkan atau ditetapkan sebagai bagian dari masjid untuk shalat, maka hukumnya menjadi masjid.

---

### 3. Pernyataan Ibnu Qudamah

قال ابن قدامة:

> **وَإِنْ زِيدَ فِي الْمَسْجِدِ فَالزِّيَادَةُ لَهَا حُكْمُ الْمَسْجِدِ**

"Apabila dilakukan penambahan pada masjid, maka tambahan tersebut memiliki hukum masjid."

**Referensi:**

* Al-Mughni (pembahasan ahkam al-masjid)

---

### 4. Fatwa ulama kontemporer

Permanent Committee for Scholarly Research and Ifta (Al-Lajnah Ad-Da'imah) menyatakan:

> **الزيادة الملحقة بالمسجد لها حكم المسجد إذا أُعِدَّت للصلاة**

"Tambahan yang digabungkan dengan masjid memiliki hukum masjid apabila dipersiapkan untuk shalat."

**Referensi:**

* Fatawa al-Lajnah ad-Da'imah

---

### Contoh penerapan

Jika:

* halaman diperluas,
* diberi bangunan,
* ditetapkan oleh wakif/pengelola sebagai area shalat,
* digunakan untuk shalat Jumat dan jamaah,

maka area tersebut menjadi bagian masjid dan berlaku hukum masjid padanya.

Sebaliknya, jika area tambahan hanya digunakan untuk:

* parkir,
* kantor DKM,
* aula,
* dapur,
* gudang,

maka tidak otomatis menjadi masjid meskipun berada dalam satu kompleks.

Jadi dasar utama para ulama adalah **status wakaf dan penetapan area tersebut sebagai tempat shalat**, ditambah praktik para sahabat ketika memperluas Masjid Nabawi yang menjadikan area tambahan itu bagian dari masjid.

_____________________________

BERJAMAAH DILANTAI DUA SEDANGKAN TANGGANYA DILUAR

Berikut dalil dan qaul ulama tentang **sahnya makmum berbeda lantai/ruangan (termasuk lantai dua) selama masih terhubung dalam jamaah dan bisa mengikuti imam**, beserta teks Arab dan referensinya.

---

# 1. Dalil umum kebolehan mengikuti imam

Dari hadits Nabi ﷺ:

> **إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ**

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti.”

📚 **Referensi:**
Sahih al-Bukhari no. 722
Sahih Muslim no. 414

➡️ Para ulama mengambil faidah: selama makmum masih bisa mengikuti imam (ilmu tentang gerakan imam), maka sah berjamaah meskipun terpisah tempat.

---

# 2. Qaul Imam An-Nawawi (Syafi’iyyah)

Imam An-Nawawi berkata:

> **وَيَجُوزُ الِاقْتِدَاءُ بِالْإِمَامِ مَعَ عِلْمِ انْتِقَالَاتِهِ**

“Boleh bermakmum kepada imam selama mengetahui perpindahan (gerakan) imam.”

📚 Referensi:
Al-Majmu' (Kitab Ash-Shalah, Bab Iqtida’)

➡️ Ini menjadi dasar bahwa tidak harus melihat langsung imam, cukup mengetahui gerakannya.

---

# 3. Qaul Imam Al-Khatib Asy-Syirbini (Syafi’i)

Beliau menyebut:

> **وَيَصِحُّ الاقْتِدَاءُ وَإِنِ انْفَصَلَتِ الْبُنْيَانُ إِذَا عُلِمَتِ الْأَفْعَالُ**

“Sah bermakmum meskipun terpisah bangunan jika diketahui perbuatan (imam).”

📚 Referensi:
Mughni al-Muhtaj

---

# 4. Qaul Ibnu Qudamah (Hanbali)

Ibnu Qudamah berkata:

> **وَإِذَا كَانَ يَسْمَعُ تَكْبِيرَ الإِمَامِ صَحَّ الاقْتِدَاءُ بِهِ**

“Jika seseorang dapat mendengar takbir imam maka sah bermakmum kepadanya.”

📚 Referensi:
Al-Mughni (Kitab ash-Shalah)

---

# 5. Kaidah ulama tentang اتصال الصفوف (ketersambungan shaf)

Ulama Syafi’iyyah menyebut bahwa syarat berjamaah di tempat berbeda adalah:

* masih bisa mengetahui imam
* atau ada sambungan jamaah (shaf bersambung menurut urf)

Imam Nawawi menjelaskan dalam:

> **وَإِنْ تَبَاعَدَتِ الصُّفُوفُ جَازَ مَا دَامَتِ الْمُشَاهَدَةُ أَوِ السَّمَاعُ**

“Walaupun shaf berjauhan tetap sah selama ada penglihatan atau pendengaran (imam).”

📚 Referensi:
Al-Majmu'

---

# 6. Kesimpulan hukum (ditarik dari dalil ulama)

Berjamaah di lantai dua **sah** jika:

✔ Masih bagian dari masjid atau bangunan jamaah
✔ Bisa mengetahui imam (suara/takbir atau mubaligh)
✔ Tidak terputus total tanpa hubungan jamaah menurut kebiasaan

❗ Tidak sah jika:

* terpisah seperti dua bangunan jauh tanpa koneksi jamaah
* tidak bisa mengetahui imam sama sekali
* tidak ada hubungan shaf/jamaah menurut urf

---

Kalau Anda mau, saya bisa buatkan **diagram kasus (sah vs tidak sah)** untuk lantai dua, rooftop, atau bangunan berbeda supaya lebih mudah dipahami.

Rabu, 03 Juni 2026

CIKAL BAKAL TAHLILAN ADA DARI ZAMAN DULU

Tahlilan adalah istilah untuk kegiatan dzikir bersama atau bisa disebut Majlis Dzikir, Selain dilakukan sebagai kegiatan rutin tiap malam jum'at, Tahlilan juga dilakukan dengan maksud untuk meringankan dosa dan siksa seseorang yang telah meninggal. 
LANTAS siapa yg pertama kali melakukannya ??? Jawabannya tak lain adalah Nabi Muhammad sendiri, ketika seorang Sahabat bernama Sa'ad bin Mu'adz meninggal dunia..
Adalah Jabir bin Abdullah Al-anshori yang menceritakan ketika pemakaman usai, Nabi lalu memimpin pembacaan dzikir dengan suara keras dan dalam waktu yang cukup lama.

LEPAS TUUU.... Para sahabat bertanya, "untuk apa pembacaan dzikir tadi ya rasul..??",
Nabi menjawab, "sungguh telah menyempit kuburan hamba yg soleh ini, hingga Allah lapangkan berkat bacaan dzikir tadi".

Referensi : Kitab Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 23 hal. 158

Selasa, 02 Juni 2026

Hukum Memandikan Jenazah oleh Orang yang Berhadats

Hukum Memandikan Jenazah oleh Orang yang Berhadats

1. Deskripsi Masalah
Dalam pelaksanaan pengurusan jenazah di tengah masyarakat, khususnya pada tahap memandikan jenazah, sering muncul kondisi di mana orang yang memandikan jenazah berada dalam keadaan hadats, baik hadats kecil seperti belum berwudhu, maupun hadats besar seperti junub dan haid. Keadaan ini kerap terjadi karena keterbatasan orang yang mampu atau berani memandikan jenazah, atau termasuk keluarga dari jenazah sehingga tidak memungkinkan untuk memilih orang lain.

Di sisi lain, sebagian masyarakat beranggapan bahwa orang yang berhadats tidak boleh memandikan jenazah, karena memandikan jenazah dianggap sebagai ibadah yang menuntut kesucian sebagaimana shalat. Akibatnya, timbul keraguan dan perbedaan sikap di masyarakat: ada yang tidak mau memandikan jenazah sebelum bersuci terlebih dahulu, dan ada pula yang tetap melakukannya karena menganggap tidak ada larangan yang jelas. Permasalahan ini menjadi penting untuk dikaji karena menyangkut sah atau tidaknya salah satu kewajiban fardu kifayah terhadap jenazah.

2. Pertanyaan
Bagaimana hukum orang yang memiliki hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar, memandikan jenazah? (Sail Ranting Tanjungsari)

3. Jawaban
Hukumnya mubah (boleh saja) karena bukan syarat sah memandikan jenazah.

تحفة المحتاج ج ٣ ص ١٨٤
( ويغسل الجنب والحائض ) ومثلهما النفساء ( الميت  بلا كراهة ) لأنهما طاهران وفيه تضعيف لما قاله المحاملي من حرمة حضورهما عند المحتضر ووجه بمنعهما لملائكة الرحمة لما في الخبر الصحيح{ أن الملائكة لا تدخل بيتا فيه جنب } إذ لو نظر لذلك لحرم تغسيلهما له أيضا ولا قائل به وتوهم فرق بين المحتضر والميت لا يجدي لاحتياج كل إلى حضور ملائكة الرحمة

حاشية الشرواني
( قول المتن بلا كراهة ) أي ولو مع وجود غيرهما ع ش قال البصري لكن يظهر أنه خلاف الأولى للحديث الآتي ا هـ

الموسوعة الفقهية جـ٣٩صـ٤١٣
ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذاغسلت