Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Rabu, 12 Agustus 2026

MUSIK



(خاتمة) فِي فتاوى الشيخ أبي عمرو بن الصلاح أنَّ اجتماع الدُّفِّ بالشَّبَّابَة حَرامٌ عند أئمَّة المذاهب، ولم يَثبُت عند أحدٍ ممَّن يُعتَدُّ بقوله فِي الإجماع، والخلاف أنَّه أباحَ هذا السَّماع، والخلاف المنقول عن بعض أصحاب الشَّافِعِيِّ إنما نُقِلَ في الشَّبَّابَة منفردةً والدُّفِّ منفردًا، وربما اعتَقَد مَن لا تحصيل له ولا تأمُّل عنده خلافًا فِي هذا السَّماع، وهذا وهمٌ من الصائر إليه، 

(Penutup) Di dalam kitab fatwa Syekh Abu Amr bin al-Shalah disebutkan bahwa perpaduan antara duff (rebana) dan syabbabah (seruling) adalah haram menurut para imam mazhab. Tidak ada satu pun ulama yang pendapatnya diakui dalam kesepakatan ulama (ijma) maupun perbedaan pendapat (khilaf) yang membolehkan aktivitas mendengarkan musik (sama') seperti ini. Perbedaan pendapat yang dinukil dari sebagian ulama mazhab Syafii hanyalah mengenai penggunaan syabbabah secara terpisah atau duff secara terpisah. Terkadang, orang yang kurang ilmu dan kurang pemahaman mengira ada perbedaan pendapat dalam mendengarkan perpaduan keduanya. Hal ini merupakan kekeliruan dari orang yang berpendapat demikian.

ثم قال: وهذا السماع حَرامٌ بإجماع أهل الحلِّ والعقد من المسلمين، وكأنَّه يُعرِّض بعَصْرِيِّه الإمام الشيخ عزِّ الدين بن عبدالسلام؛ لما وقع بينهما فِي عدَّة مسائل الحقُّ فِي أكثرها مع ابن عبدالسلام كما [بيَّنتُ] (٣) كثيرًا منها فِي محالِّه؛ 

Kemudian beliau berkata: "Mendengarkan perpaduan ini adalah haram berdasarkan konsensus (ijma) Ahlul Halli wal 'Aqd (para ulama dan pemimpin) dari kalangan umat Islam." Tampaknya, dalam hal ini beliau sedang menyindir ulama kontemporer sezamannya, yaitu Imam Syekh Izzuddin bin Abdissalam. Hal ini karena sempat terjadi perselisihan di antara keduanya dalam beberapa masalah, yang mana kebenaran dalam mayoritas masalah tersebut berada di pihak Ibnu Abdissalam, sebagaimana telah [aku jelaskan] banyak di antaranya pada tempatnya masing-masing.

كتخالُفِهما فِي إحياء ليلة الرغائب وليلة النِّصف من شعبان بالصلاة المشهورة، قال ابن عبدالسلام: إنهما بِدعتان مَذمومتان وحديثهما موضوعٌ، وهو كما قال، كما بيَّنته فِي كتابي "الإيضاح والبيان لما جاء فِي ليلة الرغائب وليلة النصف من شعبان"، 

Contoh perselisihan mereka adalah tentang menghidupkan malam Raghaib (jumat pertama bulan Rajab) dan malam pertengahan (Nisfu) Sya'ban dengan salat yang masyhur (salat khusus). Ibnu Abdissalam berkata: "Kedua salat itu adalah bidah yang tercela dan hadisnya palsu (maudhu)." Apa yang dikatakannya adalah benar, sebagaimana telah aku jelaskan dalam kitabku yang berjudul "Al-Idhah wal Bayan lima ja'a fi Lailat al-Raghaib wa Lailat al-Nishf min Sya'ban" (Penjelasan dan Keterangan tentang Riwayat Malam Raghaib dan Malam Nisfu Sya'ban).

وممَّن وافق ابن عبدالسلام فِي حكاية خِلاف العلماء فِي الجمع بين الدُّفِّ والشَّبَّابَة ابن المُنَيِّر المالكي: واعتَرَض بعض المتأخِّرين على ابن الصلاح من حيث الحكمُ الذي ذكَرَه بأنَّه لا يلزم من حُرمة الشَّبَّابَة وحدَها أنها إذا انضمَّت إلى الدُّفِّ تُصيِّره محرمًا، 

Di antara ulama yang sejalan dengan Ibnu Abdissalam dalam menceritakan adanya perbedaan pendapat ulama mengenai perpaduan antara duff dan syabbabah adalah Ibnu al-Munayyir al-Maliki. Namun, sebagian ulama belakangan (muta'akhirin) menyanggah Ibnu al-Shalah terkait hukum yang beliau sebutkan. Mereka beralih argumen bahwa keharaman syabbabah ketika dimainkan sendiri tidak serta-merta membuatnya tetap haram saat dipadukan dengan duff.

وانتصر الأذرعي لابن الصلاح فقال: وفي الإنكار على ابن الصلاح بالنسبة إلى مذهبنا نظرٌ؛ إذ لا يلزم من ثُبوت الخلاف فِي حالة الانفِراد ثبوتُه فِي حالة الاجتماع إلاَّ أنْ يثبت أنَّ مَن أباح الدُّفَّ بانفِراده من أصحاب الوجوه يقول بإباحة الشَّبَّابَة بإنفِرادها، وهَيْهات! على أنَّ ذلك ليس بلازمٍ؛ إذ قد يجوزُ ذلك على الانفِراد ويمتنع [في حال. ت. أ] (١) الاجتماع؛ لشدَّة الإطراب المتولِّد من الهيئة الاجتماعيَّة، 

Lalu, Al-Adzra'i membela Ibnu al-Shalah dan berkata: "Sanggahan terhadap Ibnu al-Shalah jika dikaitkan dengan mazhab kita (Syafii) perlu ditinjau kembali. Sebab, adanya perbedaan pendapat dalam kondisi terpisah tidak otomatis menunjukkan adanya perbedaan pendapat dalam kondisi berpadu. Kecuali, jika ada bukti bahwa ulama mazhab yang membolehkan duff secara terpisah juga membolehkan syabbabah secara terpisah, dan itu sangat jauh panggang dari api! Lagi pula, hal itu tidak mutlak sama. Terkadang sesuatu boleh dilakukan secara terpisah, namun dilarang saat digabungkan; karena kuatnya efek melalaikan (ithrab) yang timbul dari kombinasi keduanya."

ومَن سَبَر أحوالَ الصحابة والتابعين وتابعيهم عَلِم يقينًا أنَّ أحدًا لم يجمع بينهما [ز١/ ٢٠/ب] ولا صحَّ عنه قولاً ولا فعلاً، ا. هـ، والله تعالى أعلم.

Siapa saja yang meneliti sejarah kehidupan para sahabat, tabiin, dan pengikut mereka (tabi'ut tabiin), pasti akan tahu dengan yakin bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang memadukan keduanya, dan tidak ada riwayat yang sah dari mereka, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Selesai kutipan. Wallahu ta'ala a'lam (Dan Allah Yang Maha Mengetahui).

كف الرعاع عن محرمات اللهو والسماع لابن حجر الهيتمي ص: 84-85

SAHABAT MENINGGALKAN NABI SAAT BERKHUTBAH

𝗦𝗔𝗛𝗔𝗕𝗔𝗧 𝗠𝗘𝗡𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗡𝗔𝗕𝗜 𝗦𝗔𝗔𝗧 𝗕𝗘𝗥𝗞𝗛𝗨𝗧𝗕𝗔𝗛

Afwan ustadz izin mendapatkan penjelasan dari antum tentang perbuatan para sahabat yang meninggalkan nabi Muhammad ﷺ saat sedang berkhutbah hanya karena ada para pedagang, ini seperti tidak pantas dilakukan oleh sahabat, koq seperti mereka mementingkan urusan dunia. Dan ini dijadikan amunisi oleh sebagian pihak untuk mencela para sahabat. 

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq 

Ada banyak ragam fitnah dan tuduhan yang diarahkan kepada para sahabat Rasulullah ﷺ. Di antara tuduhan tersebut adalah anggapan bahwa para sahabat terkadang lebih mengutamakan kepentingan dunia daripada akhirat seperti rebutan harta rampasan perang, menuntut pembagian harta dan semisalnya.

 Dan salah satu peristiwa yang sering dijadikan sebagai bahan tuduhan ini pula adalah ketika mereka meninggalkan Rasulullah ﷺ yang sedang menyampaikan khutbah Jumat setelah melihat kafilah perdagangan datang dari Syam. Peristiwa ini memang disebutkan secara jelas dalam al-Qur’an.

 Allah Ta‘ala berfirman:
وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا
“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera berpencar menuju kepadanya dan meninggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri.” (QS. al Jumu‘ah: 11)

Peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai amunisi untuk mengatakan bahwa para sahabat tidak memiliki penghormatan yang semestinya kepada Rasulullah ﷺ. 
Mereka dituduh meninggalkan Nabi ﷺ hanya demi mengejar keuntungan perdagangan dan hiburan duniawi. 
Bahkan, sebagian pihak menjadikan peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa para sahabat tidak layak disebut sebagai generasi yang adil dan mulia.

Namun, apakah benar demikian cara memahami peristiwa tersebut? Apakah ayat ini memang menunjukkan bahwa para sahabat lebih mencintai dunia daripada Rasulullah ﷺ? Apakah semua sahabat meninggalkan Nabi ﷺ ketika itu? Dan apakah sebuah teguran al-Qur’an terhadap sebagian sahabat dalam satu peristiwa tertentu dapat dijadikan alasan untuk menggugurkan keadilan mereka secara keseluruhan?

Di sinilah pentingnya melihat peristiwa tersebut secara utuh, bukan hanya berdasarkan potongan kejadian yang kemudian diarahkan untuk menghasilkan kesimpulan tertentu. Sebab, sebuah peristiwa sejarah tidak cukup dipahami hanya dengan membaca terjemahan satu ayat, apalagi kemudian dimaknai dengan logika kebanyakan orang hari ini, tetapi ia harus dilihat berdasarkan konteks kejadian, sebab turunnya ayat, riwayat-riwayat yang menjelaskannya dan tentu dengan mempertimbangkan kualitas orang-orang yang ada dalam peristiwa tersebut. 

Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
وأما الصحابة رضي الله عنهم فلا سبيل إلى أن يلحق أقلهم درجة أحد من أهل الأرض.

"Adapun para sahabat radhiyallahu 'anhum, maka tidak mungkin seorang pun dari penduduk bumi dapat menyamai kedudukan sahabat yang paling rendah sekalipun."[1]

Baiklah, berikut ini beberapa penjelasan tentang peristiwa tersebut. Semoga dengan melihatnya secara utuh, syubhat yang muncul dapat dijawab dengan ilmiah dan objektif, serta persoalan ini tidak lagi menjadi alasan untuk mencela generasi terbaik umat Islam.

𝟭. 𝗔𝘆𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗲𝗹𝗮 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗿𝘂𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗸𝘂𝗻𝘆𝗮

            Tidak perlu menyangkal bahwa ayat tersebut mengandung teguran terhadap sebagian kaum Muslimin yang meninggalkan Rasulullah ﷺ ketika khutbah berlangsung.Allah Ta‘ala memang menegur mereka dengan firman-Nya:

وَتَرَكُوكَ قَائِمًا
“Dan mereka meninggalkan engkau sedang berdiri.”

Namun, adanya teguran terhadap suatu perbuatan tidak otomatis berarti bahwa orang yang melakukannya telah kehilangan seluruh keutamaan dan sifat keadilan mereka. Ini merupakan kaidah penting dalam memahami dalil-dalil yang berkaitan dengan para sahabat. Para sahabat bukan manusia yang ma‘sum dari kesalahan.

Mereka dapat melakukan kekeliruan, kemudian ditegur dan diarahkan oleh wahyu. Justru salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap umat ini adalah ketika kesalahan sebagian sahabat dikoreksi melalui Al-Qur’an dan Sunnah.  

Sayidina Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata :

إن الله نظر فى قلوب العباد، فوجد قلب محمد ﷺ خير قلوب العباد، فاصطفاه لنفسه وابتعثه برسالته، ثم نظر فى قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد، فجعلهم وزراء نبيه ﷺ يقاتلون عن دينه
 
“Sesungguhnya Allah melihat ke dalam hati para hamba-Nya, lalu Dia dapati hati Muhammad saw sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka Dia memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya dengan risalah-Nya. Kemudian Allah melihat ke dalam hati para hamba setelah hati Muhammad, lalu Dia dapati hati para sahabatnya sebagai sebaik-baik hati para hamba. Maka Dia menjadikan mereka para pembantu Nabi-Nya saw, yang berperang membela agama-Nya.” [3]

Namun demikianlah para pembenci sahabat Nabi sering menjadikan hal yang seperti ini sebagai sarana untuk merendahkan kedudukan mereka, al imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kemudian kaum Rafidhah yang merendahkan para sahabat dan mencela mereka dengan sesuatu yang sebenarnya telah Allah bebaskan mereka darinya. Mereka menggambarkan para sahabat dengan sifat yang bertentangan dengan apa yang Allah kabarkan tentang mereka.

Allah Azza wa Jalla telah memberitakan bahwa Dia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar serta memuji mereka. Namun, orang-orang bodoh dan dungu tersebut justru mencaci dan merendahkan mereka.”[4]

𝟮. 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗵𝘂𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝘀𝗮𝗵𝗮𝗯𝗮𝘁

Ayat tersebut juga tidak menyatakan bahwa seluruh sahabat meninggalkan Nabi ﷺ.Allah Ta‘ala hanya berfirman:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا
“Apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka berpencar menuju kepadanya.”

Ayat tersebut berbicara tentang sebagian orang yang berada di tempat tersebut, bukan seluruh sahabat Nabi ﷺ. Bahkan Sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar tetap berada di masjid bersama Nabi ﷺ, sebagaimana ini disebutkan dalam sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا، إِذْ قَدِمَتْ عِيرُ الْمَدِينَةِ، فَابْتَدَرَهَا أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ حَتَّى لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا، فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ.

“Ketika Nabi ﷺ sedang berdiri menyampaikan khutbah pada hari Jumat, tiba-tiba datanglah sebuah kafilah dagang ke Madinah. Para sahabat Rasulullah ﷺ segera bergegas menuju kafilah tersebut, sehingga tidak tersisa bersama beliau kecuali dua belas orang, di antaranya Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.” (HR. Bukhari)

Jawaban lain terhadap kisah ini adalah bahwa dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada masa ketika Nabi ﷺ mendahulukan shalat atas khutbah dalam pelaksanaan Jumat.[5] Dengan demikian, mereka berpencar ketika khutbah berlangsung, bukan ketika shalat berlangsung. Hal ini berbeda dengan kesan yang mungkin muncul dari sebagian riwayat yang menjadi titik tekan sebagian kaum Rafidhah yang memang selalu mencari celah keburukan para sahabat Nabi.

Al imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah berkata: “Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa peristiwa berpencarnya mereka terjadi ketika khutbah, bukan ketika akan shalat. Ini merupakan pemahaman yang lebih sesuai dengan sikap berbaik sangka kepada para sahabat. Kalaupun diasumsikan bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika shalat, maka hal itu dapat dipahami bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum adanya larangannya.”[6]

Apa yang dinyatakan oleh al Hafidz Ibnu Hajar juga diperkuat oleh riwayat Abu Dawud dalam al-Marasil, bahwa peristiwa tersebut terjadi ketika Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat Jumat sebelum khutbah, sebagaimana pelaksanaan shalat Id.[7]

𝟯. 𝗣𝗲𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶𝘄𝗮 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗮𝘄𝗮𝗹 𝗽𝗲𝗻𝘀𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗝𝘂𝗺𝗮𝘁

Peristiwa tersebut perlu ditempatkan dalam konteks sejarah turunnya syariat Islam. Pada masa itu, kaum Muslimin masih berada dalam proses pembentukan masyarakat dan pendidikan agama secara langsung di bawah bimbingan Rasulullah ﷺ. Berbagai ketentuan syariat tidak turun sekaligus, tetapi ditetapkan secara bertahap sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat.

Al-Qur’an sendiri menunjukkan bahwa Allah Ta‘ala menetapkan sebagian hukum secara bertahap. Contoh yang paling jelas adalah pensyariatan larangan khamar. Pada tahap awal, Allah Ta‘ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’”(QS. Al-Baqarah: 219)

Di mana meski telah turun ayat tersebut, para sahabat masih terbiasa meminum khamar. Kemudian turun larangan bagi orang yang hendak shalat untuk mendekati shalat dalam keadaan mabuk:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk sampai kalian menyadari apa yang kalian ucapkan.”(QS. Al-Nisa’: 43)

Setelah semakin sedikit sahabat yang meminumnya, barulah kemudian turun larangan yang tegas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan azlam adalah najis dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kalian beruntung.”(QS. Al-Ma’idah: 90)

Karena itu, peristiwa sebagian sahabat meninggalkan Nabi ﷺ ketika khutbah Jumat harus dilihat dalam kerangka yang sama. Ketika itu mereka sedang berada dalam proses pendidikan dan pensyariatan. Apabila terdapat ketentuan atau adab yang belum mereka pahami secara sempurna, maka wahyu turun untuk memberikan penjelasan dan koreksi.

Dengan demikian, ayat tersebut tidak tepat dijadikan bukti bahwa para sahabat tidak memiliki komitmen terhadap agama. Ayat itu justru menunjukkan bagaimana Allah Ta‘ala mendidik mereka melalui wahyu. Mereka melakukan kekeliruan, kemudian wahyu turun menjelaskan kesalahannya. Ketertarikan kepada perdagangan tidak berarti meninggalkan iman.

Perdagangan pada dasarnya bukan sesuatu yang tercela. Para sahabat sendiri adalah manusia yang bekerja, berdagang, mencari nafkah, dan memenuhi kebutuhan keluarga mereka.Yang menjadi teguran dalam ayat tersebut adalah meninggalkan Rasulullah ﷺ ketika khutbah sedang berlangsung karena tertarik kepada perdagangan dan hiburan.

Jadi, yang dicela adalah sikap mendahulukan kepentingan duniawi dalam kondisi yang seharusnya digunakan untuk mendengarkan khutbah, bukan aktivitas perdagangan itu sendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa Al-Qur’an mendidik para sahabat agar mampu menempatkan urusan dunia pada tempatnya.

𝟰. 𝗞𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘁𝗲𝗴𝘂𝗿 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗽𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗸𝗲𝘂𝘁𝗮𝗺𝗮𝗮𝗻 𝘀𝗲𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴

Jika seseorang melakukan satu kesalahan, tidak berarti seluruh amal kebaikannya menjadi gugur. Para sahabat telah memiliki berbagai keutamaan yang sangat banyak: beriman kepada Rasulullah ﷺ, berhijrah, berjihad, menolong agama Allah, mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah, serta menyampaikan agama kepada generasi setelah mereka.Kesalahan dalam suatu peristiwa tertentu tidak secara otomatis menghapus seluruh keutamaan tersebut.

Hal ini sejalan dengan prinsip yang telah dijelaskan sebelumnya di tulisan kami bahwa sifat adil yang ada pada diri para shabat nabi tidak berarti itu kemaksuman. Seorang sahabat dapat melakukan kesalahan, kemudian mendapatkan teguran, memperbaiki diri, dan tetap menjadi sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan mulia. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

الصحابة يقع من أحدهم هنات، ولهم ذنوب، وليسوا معصومين، لكنهم لا يتعمدون الكذب، ولم يتعمد أحد الكذب على النبي ﷺ إلا هتك الله ستره

“Para sahabat terkadang melakukan beberapa kekhilafan dan mereka juga memiliki dosa. Mereka bukanlah orang-orang yang ma‘shum (terbebas dari kesalahan). Akan tetapi, mereka tidak sengaja berdusta. Tidaklah seorang pun yang sengaja berdusta atas nama Nabi ﷺ melainkan Allah akan menyingkap kebohongannya.”[8]

𝟱. 𝗧𝘂𝗿𝘂𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗴𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝗷𝘂𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗽𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗡𝗮𝗯𝗶 
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa para sahabat merupakan generasi yang mendapatkan pendidikan secara langsung dari Rasulullah ﷺ. Mereka bukanlah manusia yang sejak awal terbebas dari kesalahan. Sebagaimana manusia lainnya, mereka juga dapat keliru dalam memahami suatu persoalan, tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, atau melakukan sesuatu yang kemudian diluruskan oleh Rasulullah ﷺ atau oleh wahyu.

Yang membedakan mereka adalah bahwa kesalahan tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Mereka berada di bawah bimbingan wahyu. Ketika ada sesuatu yang kurang tepat, Allah Ta‘ala menurunkan ayat untuk meluruskannya, atau Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan dan koreksi secara langsung. Dengan demikian, kesalahan mereka justru menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembentukan generasi tersebut.

 Al-Qur’an sendiri memberikan banyak contoh tentang hal ini. Misalnya ketika sebagian sahabat mengangkat suara di hadapan Rasulullah ﷺ, Allah Ta‘ala menegur mereka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu kepada sebagian yang lain, agar tidak hapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. al Hujurat: 2)

Perhatikan bagaimana al-Qur’an mendidik mereka. Teguran tersebut tidak berarti mereka kemudian dianggap sebagai orang-orang yang tidak memiliki keimanan atau tidak mencintai Rasulullah ﷺ. Bahkan, konteks ayat berikutnya menunjukkan bahwa mereka kemudian mendapatkan pujian karena menjaga adab tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. al Hujurat: 3)

Contoh lainnya adalah ketika Rasulullah ﷺ mengizinkan sebagian orang untuk tidak ikut serta dalam suatu kewajiban, lalu Allah Ta‘ala menegur beliau:

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka sebelum jelas bagimu siapa yang benar dan sebelum engkau mengetahui siapa yang berdusta?” (QS. al Taubah: 43)

Bahkan, para ulama memperhatikan kelembutan luar biasa dalam cara Allah menegur Rasulullah ﷺ. Ibn Katsir menukil perkataan ‘Aun bahwa tidak pernah didengar teguran yang lebih lembut daripada ayat tersebut, karena Allah mendahulukan kata “Allah memaafkanmu” sebelum menyebutkan tegurannya.

Jika Rasulullah ﷺ sendiri mendapatkan teguran dan bimbingan dari Allah dalam beberapa perkara, tentu para sahabat yang menjadi murid beliau juga mengalami proses pendidikan yang sama. Mereka belajar melalui perintah, larangan, pengalaman, kesalahan, koreksi, dan bimbingan wahyu.

Bahkan, banyak hukum dalam syariat turun setelah terjadi suatu peristiwa yang melibatkan para sahabat. Mereka melakukan sesuatu, kemudian wahyu menjelaskan mana yang benar dan mana yang harus ditinggalkan. Dengan demikian, sejarah kehidupan para sahabat tidak selalu berisi kisah tentang manusia yang langsung sempurna dalam setiap tindakan. Justru di antara keindahan generasi tersebut adalah mereka hidup dalam proses tarbiyah kenabian yang terus menerus.

Hal ini juga menunjukkan perbedaan yang sangat penting antara “melakukan kesalahan” dan “menolak kebenaran setelah datang penjelasan” yang menegur kesalahan tersebut. Kesalahan yang segera dikoreksi, kemudian ditinggalkan dan diperbaiki, tidak dapat disamakan dengan sikap orang yang mengetahui kebenaran tetapi tetap menentangnya.

Karena itu, ketika kita menemukan adanya teguran al-Qur’an kepada sebagian sahabat, sikap yang benar bukanlah menjadikannya sebagai alasan untuk mencela mereka secara mutlak. Justru kita perlu melihat bagaimana mereka merespons teguran tersebut. Apakah mereka membangkang dan mempertahankan kesalahan? Ataukah mereka menerima pendidikan tersebut lalu memperbaiki diri?

Dalam konteks peristiwa kafilah perdagangan pada khutbah Jumat, hal inilah yang perlu diperhatikan. Allah Ta‘ala memang menegur mereka karena meninggalkan Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang berkhutbah. Teguran itu tidak perlu ditolak atau ditutup-tutupi. Namun, menjadikan teguran tersebut sebagai bukti bahwa para sahabat adalah orang-orang yang lebih mencintai dunia daripada Rasulullah ﷺ adalah kesimpulan yang terlalu jauh. Karena jelas setelah peristiwa tersebut, tidak ada satupun dari mereka yang kemudian mengulangi perbuatannya.

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

Para sahabat bukanlah manusia yang ma‘shum. Mereka bisa melakukan kesalahan, tetapi kesalahan dalam satu peristiwa tidak menghapus seluruh keutamaan dan pengorbanan mereka, bahkan itu sengaja Allah hadirkan agar bisa menjadi bagian dari pendidikan untuk umat ini.

 Dan kalau bicara teguran, jangankan para sahabat yang merupakan manusia biasa, Rasulullah ﷺ sendiri pernah mendapatkan teguran dari Allah Ta‘ala dalam beberapa perkara. Namun teguran tersebut sama sekali tidak menghilangkan kemuliaan dan kedudukan beliau sebagai Rasulullah ﷺ, justru menambah kepercayaan umat akan kejujuran beliau dalam mengemban risalah. Maka demikian pula teguran terhadap sebagian sahabat tidak berarti menghapus keadilan dan seluruh keutamaan mereka.

Wallahu a’lam.
________________________________________
[1] al Faṣl fi al Milal wa al Ahwa’ wa al Niḥal (4/117)
[2] Al Jami’ li Ahkam al Qur’an (4/171)
[3] Musnad imam Ahmad (1/379), Majma’ az Zawaid (1/178).
[4] Tafsir Ibnu Katsir (6/246)
[5] Syarah an Nawawi ‘ala Muslim (3/416), Tafsir al Qur’an al Adzim (4/367)
[6] Fath al Bari (2/493)
[7] Al Marasil hal. 50
[8] Minhaj as Sunnah (1/306)

Selasa, 11 Agustus 2026

HUKUM MENJUAL WAQAF YANG TIDAK PRODUKTIF

𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗨𝗔𝗟 𝗪𝗔𝗤𝗔𝗙 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗣𝗥𝗢𝗗𝗨𝗞𝗧𝗜𝗙

Ustadz, saya ingin bertanya. Bagaimana hukum menjual tanah waqaf yang dinilai kurang produktif atau kurang memberikan manfaat, kemudian hasil penjualannya digunakan untuk membeli tanah lain yang lebih strategis dan bermanfaat, khususnya untuk perluasan lahan pesantren? Mohon penjelasannya.

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq 

Pada dasarnya, harta yang telah diwaqafkan tidak boleh dijual, karena waqaf adalah tindakan menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya untuk tujuan yang telah ditentukan oleh orang yang berwaqaf. Karena itu, selama benda atau harta waqaf masih dapat dimanfaatkan sesuai dengan tujuan waqaf, meskipun hasil atau produktivitasnya tidak terlalu besar, maka tidak dibenarkan menjualnya hanya karena terdapat tanah lain yang dinilai lebih menguntungkan.

Syaikhul Islam Zakariya al Anshari rahimahullah berkata:

الموقوف ملك الله تعالى وفوائده كأجرة وثمرة وولد ومهر ملك للموقوف عليه.. ولا يباع موقوف وإن خرب

“Harta yang diwaqafkan merupakan milik Allah Ta‘ala, sedangkan manfaatnya, seperti uang sewa, buah, anak hewan, dan mahar, menjadi milik pihak yang menerima waqaf…Dan harta waqaf tidak boleh dijual meskipun telah rusak.”[1]

Namun, persoalannya menjadi berbeda apabila mempertahankan sebuah harta waqaf tersebut justru menyebabkan manfaat waqaf tidak dapat direalisasikan sama sekali, sementara terdapat cara lain yang lebih kuat untuk mewujudkan tujuan waqif (orang yang berwaqaf). 
Dalam kondisi semacam ini, para ulama membahasnya dalam persoalan istibdal al waqf (استبدال الوقف), yaitu mengganti benda waqaf dengan benda lain yang manfaatnya tetap dikembalikan kepada tujuan waqaf.

Jadi yang dilakukan di sini bukan menghilangkan waqaf dengan cara menjual atau memberikan kepada pihak lain untuk dialih fungsikan, tapi langkah yang dilakukan adalah mengganti dengan waqaf yang semisal atau sepadan agar lebih bermanfaat. 

Masalah Istibdal al waqf ini merupakan salah satu pembahasan fiqih yang cukup panjang dan memiliki perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan para ulama madzhab. 
Sebagian ulama melarangnya secara mutlak, sebagian membolehkannya dalam kondisi tertentu, dan sebagian lainnya memberikan perincian berdasarkan keadaan benda waqaf serta kemaslahatan yang hendak diwujudkan. 
Karena pembahasan ini cukup panjang dan kompleks, serta di dalamnya terdapat ragam pendapat bahkan dalam satu madzhab, maka dalam menjawab persoalan ini kami akan memfokuskan pembahasannya berdasarkan perspektif madzhab Syafi'i dahulu. 

Hal ini bukan berarti menafikan pendapat madzhab-madzhab lainnya untuk dirujuk, tetapi semata-mata agar pembahasan dapat disampaikan secara lebih terarah dan sistematis. 
Terlebih, madzhab Syafi’i memiliki pembahasan yang cukup detail mengenai hukum menjual dan mengganti benda waqaf, dan pendapat-pendapat dalam madzhab ini juga banyak menjadi rujukan kaum Muslimin di negeri kita. 

𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗜𝘀𝗶𝘁𝗯𝗱𝗮𝗹 𝗪𝗮𝗾𝗮𝗳

Madzhab Syafi'i dikenal sangat ketat dalam menjaga eksistensi benda waqaf. 
Harta yang telah diwaqafkan tidak boleh begitu saja dikeluarkan dari status waqafnya, baik karena dianggap kurang produktif, kurang strategis, maupun karena terdapat harta lain yang dipandang lebih memberikan manfaat.

Bahkan, ketika sebuah benda waqaf mengalami kerusakan sekalipun, hukum asalnya tetap tidak boleh dijual. 
Sebagaimana ini telah masyhur dinyatakan oleh para ulama Syafi’iyyah. 
Syaikh Abu Bakar Syatha’ berkata: 
“Benda waqaf tidak boleh dijual meskipun telah rusak. 
Maka, apabila sebuah masjid roboh dan tidak mungkin dibangun kembali, masjid tersebut tetap tidak boleh dijual dan tidak kembali menjadi milik siapa pun, karena tanahnya masih dapat dimanfaatkan.”[2]

Adapun tentang istilah istibdal (استبدال الوقف) dalam pembahasan madzhab Syafi'i hanya berlaku untuk jenis harta waqaf tertentu, berupa benda seperti tikar, peralatan masjid, tanaman dan yang semisalnya. Adapun dalam persoalan tanah waqaf seperti kasus yang ditanyakan, ketentuannya jauh lebih ketat. 
Tanah yang telah diwaqafkan tetap dipertahankan sebagai waqaf dan tidak boleh dijual hanya karena hasilnya sedikit, lokasinya kurang strategis, atau terdapat tanah lain yang dinilai lebih menguntungkan. 
Bahkan ketika bangunan yang berdiri di atasnya telah roboh, yang menjadi pertimbangan adalah tetap mempertahankan tanah waqaf tersebut dan mengusahakan pemanfaatannya, bukan menghilangkan status waqafnya.

Al imam Nawawi rahimahullah berkata:

ولو انهدم مسجد وتعذرت إعادته لم يبع بحال
“Apabila sebuah masjid roboh dan tidak mungkin dibangun kembali, maka masjid tersebut tidak boleh dijual dalam keadaan apa pun.”[3]

Dan ketika menjelaskan sebab larangan tersebut al imam Ibnu Hajar al Haitasmi mengatakan: “Hal itu karena tanahnya masih dapat dimanfaatkan secara langsung untuk melaksanakan shalat. 
Inilah yang membedakannya dengan kasus yang telah disebutkan sebelumnya, seperti kuda waqaf dan semisalnya.

Masjid tersebut juga tidak boleh dibongkar, kecuali apabila dikhawatirkan bangunan atau materialnya akan roboh. 
Jika demikian, bangunan tersebut boleh dibongkar dan materialnya disimpan. 
Atau, material tersebut dapat digunakan untuk membangun masjid lain apabila hakim memandang hal itu sebagai suatu kemaslahatan. 
Masjid yang paling dekat lebih diutamakan.”[4]

Hal ini juga ditegaskan imam Ramli rahimahullah ketika beliau menyebutkan adanya sebagian ulama Syafi’iyyah yang membolehkan istibdal rumah waqaf yang telah rusak, kebolehan tersebut dipahami berkaitan dengan bangunannya, bukan tanahnya. 
Beliau berkata:

أي دون الأرض فلا يجوز بيعها.
“Maksudnya, kebolehan tersebut hanya berkaitan dengan bangunannya, sedangkan tanahnya tetap tidak boleh dijual.”[5]

Dalil yang digunakan oleh madzhab ini adalah sebuah hadits yang berbunyi:

لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا تُبْتَاعُ وَلَا تُوهَبُ وَلَا تُورَثُ
 “Pokok harta wakafnya tidak boleh dijual, tidak boleh dibeli, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan.” (HR. Bukhari)

Dalil selanjutnya adalah dengan qiyas, yakni ketika kepemilikan suatu benda telah terlepas dari manusia karena menjadi hak Allah Ta'ala dnegan cara diwaqafkan, maka benda tersebut tidak kembali menjadi milik manusia melalui penjualan ataupun cara lainnya hanya karena dianggap kurang bermanfaat atau bahkan dianggap tidak bermanfaat lagi.

Hal ini dianalogikan dengan seorang budak yang telah dimerdekakan, kemudian mengalami kondisi yang membuatnya tidak lagi mampu bekerja; ia tidak kembali menjadi milik orang yang sebelumnya memilikinya. Selain itu, tanah masjid masih dapat dimanfaatkan secara langsung untuk melaksanakan shalat.[6]

Bahkan kaitannya dengan harta waqaf untuk masjid, madzhab Syafi’i dikenal paling ketat, hingga tidak boleh disalurkan sedikitpun jika tidak berkaitan langsung dengan mashlahat masjid tersebut. 
Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah ketika menjelaskan tentang ketentuan penggunaan harta waqaf dalam perspektif madzhab ini mengatakan:

إن كان الوقف لمصالح المسجد، صرف من ريعه لمن ذكر، لا في التزويق والنقش، بل لو وقف عليها لم يصح.

“Apabila wakaf tersebut diperuntukkan bagi kemaslahatan masjid, maka hasilnya boleh diberikan untuk keperluan-keperluan yang telah disebutkan. 
Namun, tidak digunakan untuk menghias dan memperindah masjid dengan ornamen atau ukiran. 
Bahkan, apabila seseorang mewakafkan hartanya secara khusus untuk tujuan tersebut, wakafnya tidak sah.”[7]

Tapi pada intinya kalangan Syafi'iyyah membedakan antara benda waqaf yang lazimnya tidak bisa rusak seperti tanah dan mereka melarang adanya istibdal atasnya, sementara mengenai harta waqaf lainnya seperti bangunan dan benda-benda terdapat perbedaan pendapat, antara yang membolehkan dengan yang tetap melarang.

Dan apabila kedua pendapat tersebut dicermati secara teliti, maka pendapat madzhab ini yang membolehkan istibdal terhadap harta wakaf yang telah terbengkalai tetap bisa menjadi alternatif meski yang melarang merupakan pendapat yang mu’tamad. 
Terlebih apabila penggantian tersebut dilakukan atas izin hakim dan berdasarkan pertimbangannya bahwa terdapat kemaslahatan di dalamnya.[8]

Syaikh Wahbah Zuhaili rahimahullah menjelaskan: 

الأصح جواز بيع حُصْر المسجد الموقوفة إذا بليت، وجذوعه إذا انكسرت، ولم تصلح إلا للإحراق، لئلا تضيع ويضيق المكان به من غير فائدة، فتحصيل نزر يسير من ثمنها يعود إلى الوقف أولى من ضياعهاً.

“Pendapat yang lebih kuat (dalam madzhab Syafi’i) adalah diperbolehkan menjual tikar masjid yang diwakafkan apabila telah usang, demikian pula batang-batang kayunya apabila telah patah dan tidak dapat dimanfaatkan lagi kecuali untuk dibakar. 
Hal ini agar benda tersebut tidak tersia-siakan dan tidak memenuhi tempat tanpa memberikan manfaat. Memperoleh sedikit hasil dari penjualannya yang kemudian dikembalikan untuk kepentingan wakaf lebih baik daripada membiarkannya hilang tanpa manfaat.”

Lebih lanjut beliau mengatakan: “Penjualan benda tersebut tidak termasuk dalam larangan menjual harta wakaf, karena kondisinya telah seperti benda yang tidak ada. 
Hasil penjualannya digunakan untuk berbagai kemaslahatan masjid. Namun, apabila benda tersebut masih dapat dimanfaatkan selain dengan cara dibakar, misalnya dapat dijadikan papan atau pintu, maka tidak boleh dijual sama sekali.”[9]

𝗣𝗲𝗻𝘂𝘁𝘂𝗽

 Dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan madzhab Syafi'i, prinsip dasar pengelolaan waqaf adalah mempertahankan pokok harta waqaf dan tidak menghilangkannya. Tanah waqaf yang masih ada tidak boleh dijual hanya karena dianggap kurang produktif atau karena terdapat tanah lain yang lebih strategis.

Sehingga menjawab kasus yang ditanyakan menjadi lebih jelas jawabannya: 
Bahwa lahan waqaf yang “kurang produktif” bukanlah alasan yang dibenarkan untuk menjualnya menurut madzhab Syafi'i. 
Yang harus dilakukan adalah mencari cara agar manfaat tanah tersebut dapat dioptimalkan tanpa menghilangkan status waqafnya. 

Lalu bagaimana dengan pandangan madzhab yang lain? Ternyata madzhab selain Syafi’iyyah cenderung lebih longgar dalam masalah ini, simak penjelasan versi madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali di https://astofficial.id

Wallahu a’lam.
________________________________________
[1] Fath al Wahhab (1/309)
[2] I’anah ath Thalibin (3/211)
[3] Minhaj ath Thalibin hlm. 170
[4] Tuhfah al Muhtaj (6/283)
[5] Nihayah al Muhtaj (5/395)
[6] Nihayah al Muhtaj (5/392), Fiqh al Islam wa Adillatuhu (10/7678)
[7] Fiqh al Islam wa Adillatuhu (10/7679)
[8] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (6/325), Mughni al Muhtaj (2/392), Nihayah al Muhtaj (5/391)
[9] Fiqh al Islam wa Adillatuhu (10/7679)

Rabu, 05 Agustus 2026

HUKUM MENJAMAK SHALAT KARENA MACET

Hukum Menjamak Shalat karena Macet.

Bagi penduduk kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota lainnya, tentu mengerti alasan kemacetan sebagai musuh umum. 
Mereka sepakat bahwa kemacetan dapat mengganggu kesehatan lahir dan batin. 
Apalagi bagi pengguna sepeda motor, udara kotor dan suhu yang semakin panas dapat menyebabkan gangguan paru-paru dan pernafasan. Hal ini tidak secara otomatis menguntungkan para pengguna mobil, toh mereka juga sama-sama merasakan kejenuhan dan pengorbanan waktu yang luar biasa. 
Kalau sudah begini, pihak manapun tidak bertanggung jawab atas nasib seseorang yang kehilangan waktu sembahyangnya. 
Untuk mengelak dari nasib, seseorang yang terpenjara di kemacetan, dituntut mencari jalan lain. 
Ia dapat meminggirkan kendaraannya di sebuah masjid, gedung, pom bensin atau pasar baik tradisional maupun swalayan. 
Dengan singgah sebentar, ia dapat menunaikan ibadah sembahyang menurut waktunya, bukan di luar waktu.

Namun, ada satu alternatif lagi. Seseorang boleh menjamak sembahyang tersebut sesuai dengan ketentuan di fiqih; Zuhur digabung dengan Ashar, dan Magrib dengan Isya. Kalau sebuah pertanyaan diajukan, “Bolehkah menjamak sembahyang karena kemacetan lalu lintas?”, maka jawabnya, “Boleh. Rasulullah pun dalam keadaan segar-bugar, pernah menjamak sembahyang di Madinah tanpa alasan-alasan berat.” Hal ini sesuai dengan yang termaktub dalam Bughyatul Mustarsyidin.

لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي وظاهرالحديث جوازه ولو في حضر كما في شرح مسلم وحكى الخطابي عن أبي اسحق جوازه في الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولامطر ولامرض وبه قال ابن المنذر.

 “kami mempunyai pendapat yang membolehkan jamak bagi seseorang yang tengah menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. 
Sebuah hadits mengungkapkannya dengan jelas, walaupun jamak dilakukan oleh hadirin (bukan musafir) seperti tercantum dalam Syarah Muslim. 
Dari Abu Ishak, Alkhatthabi menceritakan kebolehan jamak dalam perjalanan singkat karena suatu hajat. 
Hal ini boleh saja meskipun bukan dalam kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan sakit. 
Ibnul Munzir pun memegang pendapat ini,”

Begitu pula keterangan yang terdapat di dalam Kifayatul Akhyar

قال النووي: القول بجواز الجمع بالمرض ظاهر مختار، فقد ثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم {جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر} قال الاسنائي: وما اختاره النووي نص الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى أيضاً فإن المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع أولى بل ذهب جماعة من العلماء إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال أبو إسحاق المروزي ونقله عن القفال وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث واختاره ابن المنذر من أصحابنا وبه قال أشهب من أصحاب مالك، وهو قول ابن سيرين، ويشهد له قول ابن عباس رضي الله عنهما أراد أن لا يحرج أمته حين ذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم {جمع با لمدينة بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر} فقال سعيد بن جبير: لم يفعل ذلك؟ فقال:لئلا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره.

“Menurut Imam Nawawi, Pendapat yang membolehkan jamak sembahyang bagi orang sakit, sudah terang. 
Dalam shahih Muslim, Nabi Muhammad SAW menjamak sembahyang di kota Madinah bukan dalam kondisi terganggunya keamanan, hujan lebat, dan sakit. 
Menurut Imam Asna’i, Pilihan Nawawi didasarkan pendapat Imam Syafi‘i yang tercantum dalam kitab Mukhtasar Imam Muzanni. 
Pendapat ini diperkuat oleh sebuah perbandingan dimana alasan sakit laiknya perjalanan jauh menjadi alasan sah orang untuk membatalkan puasa. Kalau puasa saja boleh dibatalkan, maka penjamakan sembahyang lebih mendapat izin. Bahkan sekelompok ulama membolehkan jamak bagi hadirin untuk sebuah hajat. Dengan catatan, ini tidak bisa menjadi sebuah kebiasaan. Abu Ishak Almaruzi memegang pendapat ini. 
Ia mengutipnya dari Syekh Qaffal yang diceritakan oleh Alkhatthabi dari ahli hadis. Ibnul Munzir Syafi‘i dan Syekh Asyhab Maliki menganut pendapat di atas.

Berikut ini pendapat Ibnu Sirin yang diperkuat oleh cerita Ibnu Abbas. 
Ketika sebuah hadis mengatakan bahwa Rasulullah SAW. 
Menjamak sembahyang Dzuhur dengan Asar, dan Magrib dengan Isya bukan dalam kondisi terganggunya keamanan maupun hujan lebat, Ibnu Abbas berkomentar bahwa dengan jamak itu, Rasulullah SAW. tidak mau menyusahkan umatnya. 
Saat Said bin Jubair bertanya, ‘Mengapa Rasulullah SAW. melakukannya?’ Ibnu Abbas menanggapi, ‘Rasulullah SAW. tidak mau merepotkan umatnya. Karena itu, Beliau melakukannya tanpa sebab sakit atau alasan lain,’”

ومن الشافعية وغيرهم من ذهب الى جواز الجمع تقديما مطلقا لغير سفر ولا مرض ولا غيرهما من الأعذار. قال النماري رحمه الله إلى أن قال .... يعني أن القائلين بهذا ابن سيرين وربيعة الرأي والقفال الصغير وأشهب من المالكية وابن المنذر والقفال الكبير وأحمد بن حنبل. وعن جماعة جوازه مالم يتخذه عادة وهم غير محصورين, هذا في جمع التقديم واما جمع التأخير فقال به جمع غفير.

"Sebagian ulama mazhab Syafi'i dan mazhab lain, secara mutlak membolehkan jamak takdim bagi hadirin, tidak sakit, atau alasan lain. 
Syekh  Namari menyebutkan ulama yang sejalan dengan pendapat di atas, antara lain Ibnu Sirin, Rabi'ah, Qaffal Shagir, Asyhab Maliki, Ibnul Munzir Syafi'i, Qaffal Kabir, dan Ahmad bin Hanbal. 
Sementara sejumlah ulama membolehkan jamak dengan catatan tidak untuk kebiasaan. Jumlah mereka ini tidak terhitung. 
Hukum fikih di atas berlaku untuk jamak takdim. 
Sedangkan untuk jamak takhir, ulama dengan jumlah besar membolehkannya,"

Semoga bermanfa'at
Wallahu a'lam.

Sumber :

https://myhalwa.blogspot.com/2026/08/hukum-menjamak-shalat-karena-macet.html?m=1

https://nu.or.id/syariah/hukum-menjamak-shalat-karena-macet-R6J0X

KRISIS GAK PUNYA RASA MALU

KRISIS TEUBOGA RASA KAERA KUALLAH SWT.

Rasa Era eta nyerminkn kana norma sosial oge moral islam, baik dina hubungan jeng allah oge hubungan jeng sasama jalma, 
Negri urang sanes negri miskin kusumber daya, Allah swt ngalimpahkn leuweung,laut,tambang jeng jalma2 anu cerdas,
Tapi kacida ironi, kajadian dina limpahan nimat, mingkin nyebar pagawean ngalanggar syariat, dosa jeng masiat,judi online, korupsi mingkin canggih, zinah jadi tontonan,aurot jadi hiburan, bohong dipromosikn atas nama strategi, rasa era anu baheula jadi benteng moral bangsa ayeuna lengit dihadapan allah oge manusia.
Rasa era kaasupkn sabagian ciri iman, oge rasa era mangrupakn sifat atawa perasaan anu ngabentengi tina ngalakukeun pagawean teu sopan.

ان الحياء والايمان قرنا جميعا، فااذارفع احدهما رفع الاخر.
 Saestuna rasa era jeng iman eta teras2 an babarengan,maka dimana diangkat sala sahijina maka diangkat anu sejena,
Tegresna nalika rasa era teu aya maka iman lengit, atanapi nalika iman lengit rasa era oge lengit anu akhirna ngahalalkn sagala cara.
Rosulullah negaskn dina hadts muliana,

الحياء شعبة من الايمان (رواه البخاري ومسلم)
Rasa Era eta kaasupkn tina cabang iman.

Maka dumasar eta dalil urang sadayana kedah gaduh rasa era, ulah dugika hirup loba betah kokojayan dina pamasiatan, malihan tos teupaduli kana halal haram
Allah swt midauh :
اعملوا ماشئتم انه بما تعملون بصير (سورة فصلت /٤٠)
 Pek gawe sakarep aranjen kabeh saestuna allah kana perkara anu milampah aranjen maha ningali.
Kuayana iyeu ayat,Allah sanes miwarang hirup manusa sangenahna kumaha karep, tapi justru manusia kudu boga rasa era kuallah sabab allah terus mencrong ningali kaurang sadayana dina sadaya rengkak saparipolah urang sadayana, berang rek peting nyumput naha rek nembrak.

Rasa era kuallah ngajadikn hiji jalma ngajauhan masiat, Rasa era kujalma matak numbuhkn Etika jeng Sopan santun.
Tapi nalika rasa era geus lengit tangtu milampah dosa jadi kabiasaan, kana Ibadah Wajib jeng Sunah loba ditinggal, Pamunkaran dijadikn hiburan, Ningalikn aurot tos jadi ilahar kabiasaan, Ngabohong jadi modal andelan, Judi jeng Korupsi dijadikn solusi, Leuweung digundulan, Gunung ditugaran, Tangkal kai dibabadan, Bumi dikorowotan, dina dagang wani ngurangan takeran jeng timbangan, Malahan wani ngeser-ngeser wates tanah anu lian, Eta kabeh demi kasarakahan,
Saupama eta kondisi tos nembrak maka tangtu lawang-lawang adzab adzab ditibankn kasakumna jalma,
Allah swt midauh dina surah Al-an’am ayat 44 :
فلما نسواما ذكروابه فتحنا عليهم ابواب كل شيئ حتى اذا فرحوا بما اوتوا اخذنهم بغتة فاذاهم مبلسون (سورة الانعام/٤٤)
Maka nalika maranehna mohokn peringatan anu ges dibikeun kamaranehan nana, 
Maka kami mukakn lawang-lawang kasenangan pikeun maranehan nana, sahingga bungah kuperkara anu tos dibikeun kamaranehan nana,
Allah nyiksa kamaranehan nana kalawan siksa anu ngagetkn, nepika maranehna ngarasa putus asa.








BAGI WARIS VERSI KITAB ROHBIYYAH

Alhamdulillah. 
Mugi Allah maparin taufik dina diajar élmu faraidh. Kitab Ar-Rahbiyyah mangrupa nadzam (syair) anu kasohor pisan dina élmu waris. Di seueur pesantren, kitab ieu dipedar sanggeus murid ngartos dasar-dasar faraidh.

Ku sabab Ar-Rahbiyyah masih kaasup kitab anu hak ciptana kudu dihormat dina bentuk terbitan modéren, abdi moal nyalin nadzamna bait demi bait. Nanging, abdi tiasa ngajelaskeun eusi unggal bagianna ku basa Sunda, gaya syarah pesantren.

Pangajaran 1 – Muqaddimah Ar-Rahbiyyah

1. Niat dina diajar faraidh

Nu mimiti ditekankeun ku pangarang nyaéta supaya diajar faraidh kalayan niat ibadah. Tujuanana lain pikeun pamer bisa ngitung, tapi pikeun ngajaga hak-hak kaum muslimin.

Ku sabab warisan téh patali jeung harta, lamun salah ngabagi, bisa nyababkeun:

dahar harta batur sacara batil,

pegatna silaturahmi,

jeung dosa lantaran nyokot hak ahli waris.

Ku kituna, diajar faraidh kaasup amal anu mulya.

2. Faraidh nyaéta élmu anu agung

Para ulama nyebut faraidh salaku salah sahiji élmu syariat anu paling taliti. Jalma anu diajar faraidh kudu ngumpulkeun tilu kamampuh:

Ngarti dalil Al-Qur'an jeung Sunnah.

Ngarti aturan fikih.

Bisa ngitung kalayan leres.

Lamun salah sahiji teu aya, gampang kagelincir dina ngabagi warisan.

3. Hak-hak anu kudu dibereskeun tina harta almarhum

Saméméh ngabagi warisan, ulama ngajelaskeun urutanna:

1. Biaya ngurus jenazah.

2. Mayar hutang.

3. Ngalaksanakeun wasiat anu sah.

4. Kakara ngabagi warisan.

Lamun ieu dibalik, pembagian warisan jadi teu luyu jeung syariat.

4. Sabab meunang warisan

Ar-Rahbiyyah ogé ngajelaskeun tilu sabab utama:

Hubungan nasab.

Hubungan nikah anu sah.

Wala' (hubungan alatan ngabébaskeun budak).


Di jaman ayeuna, anu paling sering kapaké nyaéta nasab jeung nikah.

5. Panghalang waris

Sateuacan ngitung, kudu dipariksa heula panghalangna.

Nu paling kasohor:

Béda agama.

Maéhan jalma anu diwariskeun.

Perbudakan (dina kontéks baheula).


Mun aya salah sahiji ieu, jalma éta teu meunang warisan.


Kaidah Anu Kudu Diapalkeun

Guru-guru faraidh biasana ngingetan:

> "Ulah buru-buru ngitung saméméh mastikeun saha anu boga hak."

Loba kasalahan téh lain dina matematikana, tapi dina salah nangtukeun ahli waris.

Insya Allah, dina Pangajaran 2 Ar-Rahbiyyah, urang bakal ngabahas 15 ahli waris lalaki jeung 10 ahli waris awéwé, saha waé anu sok meunang warisan, saha anu kadang gugur, jeung kumaha urutan kakuatanana dina mazhab Syafi'i. Ieu mangrupa pondasi utama pikeun ngawasaan kitab Ar-Rahbiyyah.

Alhamdulillah.

Pangajaran 2 – Ahli Waris Lalaki jeung Awéwé (Syarah Ar-Rahbiyyah)

Dina élmu faraidh, para ulama mimiti ngajarkeun saha waé anu bisa jadi ahli waris. Ieu pondasi anu kudu diapalkeun saméméh diajar itungan.

A. Ahli Waris Lalaki

Dina kitab-kitab faraidh, ahli waris lalaki asalna aya 15 golongan:

1. Anak lalaki.


2. Incu lalaki tina anak lalaki (jeung ka handapna).


3. Bapa.


4. Aki (bapana bapa, jeung ka luhur).


5. Dulur lalaki kandung.


6. Dulur lalaki sabapa.


7. Dulur lalaki saindung.


8. Anak lalaki dulur kandung.


9. Anak lalaki dulur sabapa.


10. Paman kandung (dulurna bapa).


11. Paman sabapa.


12. Anak paman kandung.


13. Anak paman sabapa.


14. Salaki.


15. Jalma anu boga hak wala' (anu ngabébaskeun budak).



Catetan

Dina jaman ayeuna, wala' ampir teu aya deui lantaran perbudakan geus teu aya.


---

B. Ahli Waris Awéwé

Aya 10 golongan:

1. Anak awéwé.


2. Incu awéwé tina anak lalaki.


3. Indung.


4. Nini ti pihak indung.


5. Nini ti pihak bapa.


6. Dulur awéwé kandung.


7. Dulur awéwé sabapa.


8. Dulur awéwé saindung.


9. Pamajikan.


10. Awéwé anu boga hak wala'.




---

Ahli Waris Anu Ampir Sok Meunang

Para ulama ngajarkeun yén aya sababaraha ahli waris anu hakna kuat pisan, nyaéta:

Salaki.

Pamajikan.

Bapa.

Indung.

Anak lalaki.

Anak awéwé.


Maranéhna biasana henteu gugur tina warisan, sanajan bagianna bisa robah gumantung kana kaayaan.


---

Ahli Waris Anu Mindeng Gugur

Sedengkeun golongan ieu mindeng kahalang ku ayana ahli waris anu leuwih deukeut:

Incu.

Aki.

Nini.

Dulur kandung.

Dulur sabapa.

Paman.

Anak paman.


Ku kituna, lamun aya kasus warisan, ulah langsung nganggap sakabéh dulur meunang bagian.


---

Kaidah Nu Penting

Guru-guru faraidh sok ngapalkeun ka murid:

> "Anu leuwih deukeut ka mayit, leuwih didahulukeun tibatan anu leuwih jauh."



Contona:

Aya anak lalaki → incu lalaki teu meunang.

Aya bapa → aki teu meunang.

Aya bapa → dulur kandung teu meunang.

Aya dulur kandung → dulur sabapa teu meunang.



---

Latihan

Soal 1

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Bapa.

Anak lalaki.

Dulur kandung.


Saha anu meunang?

Jawaban:

✅ Pamajikan.

✅ Bapa.

✅ Anak lalaki.

❌ Dulur kandung, sabab kahalang ku bapa jeung anak lalaki.



---

Soal 2

Almarhum ninggalkeun:

Indung.

Hiji anak awéwé.

Aki.


Jawaban:

✅ Indung meunang.

✅ Anak awéwé meunang.

❌ Aki henteu meunang lamun bapa almarhum masih aya. Tapi lamun anu disebut dina soal ngan indung, anak awéwé, jeung aki (hartina bapa memang geus teu aya), maka aki meunang warisan. Ieu conto pentingna mastikeun heula saha waé ahli waris anu aya saméméh mutuskeun aya nu kahalang.



---

Tugas Ngapalkeun

Sateuacan neruskeun kana pangajaran salajengna, usahakeun apal:

15 ahli waris lalaki.

10 ahli waris awéwé.

Kaidah: anu leuwih deukeut ngahalangan anu leuwih jauh.


Éta bakal jadi dasar pikeun ngarti bab-bab salajengna dina Ar-Rahbiyyah, saperti ashḥābul furūḍ, 'aṣabah, hajb, 'aul, jeung radd.

Alhamdulillah.

Sateuacan neraskeun, abdi hoyong ngabenerkeun hiji hal tina pelajaran saméméhna. Dina daptar anu tadi, abdi nyebut 15 ahli waris lalaki jeung 10 ahli waris awéwé. Padahal dina matan-matan faraidh, aya béda cara ngitung antara ulama. Ku sabab kitu, anu paling penting lain ngan ngapalkeun jumlahna, tapi ngapalkeun golongan ahli warisna jeung iraha maranéhna meunang atawa kahalang.


---

Pangajaran 3 – Ashḥābul Furūḍ (أصحاب الفروض)

Naon ari Ashḥābul Furūḍ?

Ashḥābul furūḍ nyaéta ahli waris anu bagianna geus ditangtukeun ku Allah dina Al-Qur'an atawa ku Sunnah.

Maranéhna henteu meunang sakahayang, tapi nurutkeun bagian anu geus pasti.

Aya genep bagian anu disebut dina faraidh:

1. 1/2 (النصف) – satengah.


2. 1/4 (الربع) – saparapat.


3. 1/8 (الثمن) – sadalapan.


4. 2/3 (الثلثان) – dua pertiga.


5. 1/3 (الثلث) – sapertilu.


6. 1/6 (السدس) – sagenep.



Sadaya pembagian warisan bakal balik kana genep bagian ieu.


---

Saha Anu Meunang 1/2?

Anu bisa meunang satengah nyaéta:

1. Salaki, lamun pamajikan teu boga anak atawa incu.


2. Hiji anak awéwé, lamun teu aya anak lalaki.


3. Hiji incu awéwé tina anak lalaki, lamun teu aya anak jeung teu aya incu lalaki anu sajajar.


4. Hiji dulur awéwé kandung, dina kaayaan anu tangtu.


5. Hiji dulur awéwé sabapa, dina kaayaan anu tangtu.




---

Saha Anu Meunang 1/4?

Aya dua:

Salaki, lamun pamajikan boga anak atawa incu.

Pamajikan, lamun salaki teu boga anak atawa incu.



---

Saha Anu Meunang 1/8?

Ngan hiji:

Pamajikan, lamun salaki boga anak atawa incu.



---

Saha Anu Meunang 2/3?

Anu bisa meunang dua pertiga nyaéta:

Dua anak awéwé atawa leuwih (teu aya anak lalaki).

Dua incu awéwé atawa leuwih tina anak lalaki (dina kaayaan nu tangtu).

Dua dulur awéwé kandung atawa leuwih (dina kaayaan nu tangtu).

Dua dulur awéwé sabapa atawa leuwih (dina kaayaan nu tangtu).



---

Saha Anu Meunang 1/3?

Di antarana:

Indung, lamun almarhum teu boga anak sarta teu boga sababaraha dulur anu mangaruhan bagianna.

Dua dulur saindung atawa leuwih, dibagi rata.



---

Saha Anu Meunang 1/6?

Di antarana:

Indung.

Bapa.

Aki (dina kaayaan nu tangtu).

Nini.

Hiji dulur saindung.

Incu awéwé dina kaayaan husus pikeun nyampurnakeun dua pertiga.



---

Kaidah Emas

Guru-guru faraidh sok ngapalkeun:

> "Furūḍ didahulukeun, 'aṣabah nyokot sésana."



Hartina:

Mimiti bagikeun bagian anu geus ditangtukeun.

Lamun masih aya sésa, kakara dipasihkeun ka ahli waris 'aṣabah.



---

Conto Basajan

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Hiji anak lalaki.


Bagian:

Pamajikan = 1/8.

Anak lalaki = sésana minangka 'aṣabah.


Ku kituna, ulah dipasihan anak lalaki bagian pasti 7/8 tina awal, tapi sabab anjeunna 'aṣabah, anjeunna narima naon waé anu nyésa sanggeus bagian pamajikan dipasihkeun.


---

Latihan

Soal:

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Dua anak awéwé.


Tanya:

1. Sabaraha bagian salaki?


2. Sabaraha bagian dua anak awéwé?



Jawaban:

Salaki = 1/4, sabab almarhum boga anak.

Dua anak awéwé = 2/3, dibagi rata.


Dina pelajaran salajengna, urang bakal ngabahas **'Aṣabah** sacara leuwih jero: saha waé anu kaasup 'aṣabah, kumaha urutanana, jeung kumaha aturan **"lalaki meunang dua bagian awéwé"** diterapkeun dina rupa-rupa kasus. Ieu téh inti tina prakna ngitung faraidh.

Alhamdulillah.

Ayeuna urang asup kana bab 'Aṣabah (العصبة). Ieu téh salah sahiji bab anu pangpentingna dina élmu faraidh.

Pangajaran 4 – 'AṢABAH (العصبة)

Harti 'Aṣabah

'Aṣabah nyaéta ahli waris anu henteu boga bagian anu geus ditangtukeun, tapi meunang sésa harta sanggeus ashḥābul furūḍ narima bagianna.

Aya hiji hadits anu jadi dasar:

> "Pasihan heula bagian-bagian anu geus ditangtukeun ka nu boga hakna. Ari sésana mah dipasihkeun ka ahli waris lalaki anu pangdeukeutna."

(Riwayat Sahih al-Bukhari jeung Sahih Muslim)



Hartina, urutanana nyaéta:

1. Bagikeun heula furūḍ.


2. Lamun aya sésa, dipasihkeun ka 'aṣabah.




---

Macam-macam 'Aṣabah

Para ulama ngabagi jadi tilu:

1. 'Aṣabah binafsih (العصبة بالنفس)

Nyaéta lalaki anu jadi 'aṣabah ku dirina sorangan.

Urutanana:

1. Anak lalaki.


2. Incu lalaki tina anak lalaki.


3. Bapa.


4. Aki.


5. Dulur lalaki kandung.


6. Dulur lalaki sabapa.


7. Anak dulur kandung.


8. Anak dulur sabapa.


9. Paman kandung.


10. Paman sabapa.


11. Anak paman kandung.


12. Anak paman sabapa.



Kaidah

Anu pangdeukeutna salawasna didahulukeun.

Contona:

Aya anak lalaki → incu lalaki teu meunang.

Aya bapa → dulur kandung teu meunang.



---

2. 'Aṣabah bil-ghair (العصبة بالغير)

Nyaéta awéwé anu jadi 'aṣabah lantaran aya lalaki anu sajajar.

Contona:

Anak awéwé jeung anak lalaki.

Incu awéwé jeung incu lalaki.


Dina kaayaan ieu, Allah netepkeun:

> "Lalaki meunang dua bagian awéwé."



Conto

Almarhum ninggalkeun:

Hiji anak lalaki.

Hiji anak awéwé.


Harta = Rp90.000.000.

Bagian dibagi jadi 3 bagian:

Anak lalaki = 2 bagian = Rp60.000.000.

Anak awéwé = 1 bagian = Rp30.000.000.



---

3. 'Aṣabah ma'al-ghair (العصبة مع الغير)

Ieu husus pikeun:

Dulur awéwé kandung.

Dulur awéwé sabapa.


Maranéhna bisa jadi 'aṣabah lamun aya anak awéwé atawa incu awéwé, dina kaayaan anu dijelaskeun ku fuqaha.


---

Kaidah Nu Penting

Aya hiji kaidah anu sok diapalkeun ku santri:

> "Unggal 'aṣabah meunang sésa harta sanggeus furūḍ réngsé."



Lamun euweuh sésa lantaran sakabéh harta geus béak ku furūḍ atawa ku 'aul, bisa waé 'aṣabah henteu meunang nanaon.


---

Conto Prakték

Conto 1

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Anak lalaki.


Bagian:

Pamajikan = 1/8.

Anak lalaki = sésana.



---

Conto 2

Almarhum ninggalkeun:

Hiji anak awéwé.

Hiji anak lalaki.


Teu aya bagian 1/2 pikeun anak awéwé dina kasus ieu.

Duanana jadi 'aṣabah bil-ghair.

Harta dibagi:

Anak lalaki = dua bagian.

Anak awéwé = hiji bagian.



---

Conto 3

Almarhum ninggalkeun:

Bapa.

Indung.

Anak awéwé.


Bagian:

Anak awéwé = 1/2.

Indung = 1/6.

Bapa = 1/6, sarta dina mazhab Syafi'i ogé narima sésa minangka 'aṣabah dina kasus ieu.



---

Hikmah

Islam ngajadikeun lalaki dina sababaraha kaayaan meunang bagian leuwih loba sabab dina syariat anjeunna boga kawajiban:

méré nafkah ka pamajikan,

nafkahan barudak,

jeung nanggung sababaraha kawajiban finansial séjén.


Sedengkeun harta anu ditarima ku awéwé jadi milikna sorangan, sarta teu wajib dipaké pikeun nafkahan kulawarga.


---

Tugas Ngapalkeun

Apalkeun tilu rupa 'aṣabah:

1. Binafsih.


2. Bil-ghair.


3. Ma'al-ghair.



Jeung apalkeun kaidah:

> "Furūḍ heula, 'aṣabah saterusna."



Insya Allah dina pangajaran salajengna urang bakal ngabahas Ḥajb (panghalang waris) leuwih rinci, kalawan tabel saha anu ngahalangan saha. Ieu bagian penting pisan sabab sering jadi sumber kasalahan dina ngitung warisan.

Alhamdulillah.

Ayeuna urang asup kana bab Ḥajb (الحجب), nyaéta salah sahiji bab anu paling penting dina élmu faraidh.

Pangajaran 5 – Ḥajb (Panghalang Waris)

Harti Ḥajb

Ḥajb hartina panghalang. Maksudna aya ahli waris anu:

teu meunang warisan pisan, atawa

bagianna jadi ngurangan,


lantaran aya ahli waris séjén anu leuwih kuat hakna.

Para ulama ngabagi ḥajb jadi dua.


---

1. Ḥajb Ḥirmān (حجب الحرمان)

Hartina gugur hak waris sakabéhna.

Conto

A. Anak lalaki ngahalangan incu lalaki

Almarhum ninggalkeun:

Anak lalaki.

Incu lalaki (anakna anak lalaki).


Nu meunang ngan anak lalaki.

Incu lalaki gugur sabab aya anak lalaki.


---

B. Bapa ngahalangan dulur

Almarhum ninggalkeun:

Bapa.

Dulur kandung.


Nu meunang nyaéta bapa.

Dulur kandung gugur.


---

C. Bapa ngahalangan aki

Lamun bapa masih hirup, aki teu meunang warisan.


---

D. Dulur kandung ngahalangan dulur sabapa

Lamun aya dulur kandung, dulur sabapa gugur.


---

Kaidah Kahiji

> "Anu leuwih deukeut moal diwariskeun babarengan jeung anu leuwih jauh dina jalur anu sarua."



Contona:

Anak ↔ incu.

Bapa ↔ aki.

Dulur kandung ↔ dulur sabapa.



---

2. Ḥajb Nuqṣān (حجب النقصان)

Hartina hakna henteu gugur, tapi bagianna jadi leuwih saeutik.

Conto Indung

Indung asalna meunang 1/3.

Tapi lamun aya anak, bagianna turun jadi 1/6.


---

Conto Salaki

Lamun pamajikan teu boga anak, salaki meunang 1/2.

Lamun aya anak, turun jadi 1/4.


---

Conto Pamajikan

Lamun salaki teu boga anak, pamajikan meunang 1/4.

Lamun aya anak, turun jadi 1/8.


---

Ahli Waris Nu Ampir Teu Kungsi Gugur

Aya genep ahli waris anu hakna kacida kuatna:

Anak lalaki.

Anak awéwé.

Bapa.

Indung.

Salaki.

Pamajikan.


Maranéhna umumna teu kagolong kana ḥajb ḥirmān, sanajan bagianna bisa robah (ḥajb nuqṣān).


---

Ahli Waris Nu Mindeng Kahalang

Golongan anu sering gugur nyaéta:

Incu.

Aki.

Nini.

Dulur kandung.

Dulur sabapa.

Paman.

Anak paman.


Ku sabab éta, ulama salawasna mariksa golongan ieu kalayan taliti.


---

Latihan

Soal 1

Almarhum ninggalkeun:

Bapa.

Anak lalaki.

Dulur kandung.


Saha anu meunang?

Jawaban:

✅ Bapa.

✅ Anak lalaki.

❌ Dulur kandung gugur.



---

Soal 2

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Anak awéwé.

Incu lalaki tina anak lalaki.


Jawaban singket:

Pamajikan meunang bagian furūḍ.

Anak awéwé meunang bagian furūḍ.

Incu lalaki henteu otomatis gugur ngan saukur lantaran aya anak awéwé. Dina kaayaan ieu, incu lalaki bisa jadi 'aṣabah sarta narima sésa harta lamun teu aya ahli waris anu ngahalangan anjeunna (saperti anak lalaki almarhum). Ieu salah sahiji rinci penting dina faraidh anu mindeng matak bingung.



---

Kaidah Anu Kudu Diapalkeun

Para ulama sok nyebut:

> "Saméméh ngitung bagian, pariksa heula saha anu kahalang."



Sabab kasalahan anu paling sering kajadian lain dina matematikana, tapi dina salah nangtukeun saha anu masih boga hak waris.


---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang diajar:

Ḥajb aya dua: ḥirmān (ngagugurkeun) jeung nuqṣān (ngurangan bagian).

Ahli waris anu leuwih deukeut biasana ngahalangan anu leuwih jauh dina jalur anu sarua.

Saméméh ngitung warisan, salawasna tetelakeun heula saha anu boga hak jeung saha anu kahalang.


Insya Allah, dina pangajaran salajengna urang bakal asup kana 'Aul (العول) jeung Radd (الرد) kalayan latihan itungan anu leuwih jero, sabab éta mangrupa bab anu sering muncul dina latihan faraidh tingkat lanjut.

Alhamdulillah.

Ayeuna urang teraskeun kana Pangajaran 6, nyaéta 'Aul (العول). Ieu mangrupa bab anu penting dina élmu faraidh.


---

Pangajaran 6 – 'Aul (العول)

Harti 'Aul

Sacara basa, 'aul hartina nambahan.

Dina istilah faraidh, 'aul nyaéta:

> Jumlah bagian ahli waris leuwih gedé tibatan harta anu aya.



Ku kituna, bagian unggal ahli waris dikurangan sacara saimbang, supaya jumlahna pas jadi sakabéh harta.


---

Sajarah 'Aul

Masalah 'aul munggaran diputuskeun ku Umar ibn al-Khattab. Nalika aya kasus anu jumlah bagian ahli warisna ngaleuwihan hiji harta, anjeunna ngayakeun musyawarah jeung para sahabat, tuluy mutuskeun ngurangan bagian sadayana sacara proporsional. Kaputusan ieu ditarima ku jumhur ulama, kaasup mazhab Syafi'i.


---

Conto 'Aul

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Indung.

Dua dulur awéwé kandung.


Bagian asal:

Salaki = 1/2

Indung = 1/6

Dua dulur awéwé = 2/3


Upama dijumlahkeun:

1/2 = 3/6

1/6 = 1/6

2/3 = 4/6


Jumlah = 8/6, leuwih ti hiji.

Ku sabab kitu, asal masalah anu tadina 6 jadi 8 (di-'aul'-keun).

Hasilna:

Salaki = 3/8.

Indung = 1/8.

Dua dulur awéwé = 4/8 (dibagi rata, masing-masing 2/8).



---

Iraha 'Aul Dipaké?

'Aul ngan dipaké lamun:

1. Ahli warisna kaasup ashḥābul furūḍ.


2. Jumlah bagian maranéhna leuwih ti sakabéh harta.



Lamun jumlah bagian kurang ti hiji, éta lain 'aul. Urang kudu ningali aya henteu 'aṣabah atawa hukum radd, gumantung kana kaayaan.


---

Kaidah Penting

Guru-guru faraidh sok ngapalkeun:

> "Lamun furūḍ leuwih ti hiji → 'aul. Lamun furūḍ kurang ti hiji → tingali aya 'aṣabah atawa radd."



Ieu kaidah dasar dina nganalisis kasus warisan.


---

Latihan

Soal

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Dua dulur awéwé kandung.

Indung.


Tanya: Naha aya 'aul?

Jawaban: Aya, sabab jumlah bagianna:

1/2 + 2/3 + 1/6 = 8/6.


Ku kituna, asal masalah dirobah tina 6 jadi 8.


---

Catetan Penting

Dina élmu faraidh aya sababaraha asal masalah anu bisa robah ku 'aul, saperti asal masalah 6, 12, atawa 24. Ieu dibahas sacara rinci dina kitab-kitab faraidh pikeun latihan ngitung. Dina tahap ieu, anu penting nyaéta ngarti prinsipna, nyaéta nalika jumlah bagian leuwih ti hiji, bagian ahli waris henteu dibatalkeun, tapi dikurangan sacara saimbang.


---

Ringkesan

Anjeun ayeuna geus diajar:

Harti 'aul.

Iraha 'aul dipaké.

Kumaha cara ngarobah asal masalah.

Conto prakték anu sederhana.


Insya Allah dina Pangajaran 7, urang bakal diajar Radd (الرد), nyaéta kumaha ngabagi sésa harta lamun teu aya ahli waris 'aṣabah, sarta naon bédana jeung 'aul. Ieu dua bab sok dipedar babarengan dina pangajian faraidh tingkat lanjut.

Alhamdulillah.

Urang teraskeun kana Pangajaran 7 – Ar-Radd (الرد).

> Catetan penting: Dina bab radd aya béda pendapat di antara mazhab. Abdi bakal ngajelaskeun pandangan mazhab Syafi'i sabab éta anu jadi dasar Fathul Mu'in jeung loba diajarkeun di pesantren Syafi'iyyah.




---

Pangajaran 7 – Ar-Radd (الرد)

Harti Radd

Radd hartina mulangkeun.

Dina istilah faraidh:

> Aya sésa harta sanggeus ashḥābul furūḍ narima bagianna, padahal teu aya 'aṣabah anu narima éta sésa.




---

Iraha Kajadian Radd?

Aya tilu syarat:

1. Aya ahli waris ashḥābul furūḍ.


2. Teu aya ahli waris 'aṣabah.


3. Sanggeus dibagikeun, masih aya sésa harta.



Lamun tilu syarat ieu aya, kakara dibahas hukum radd.


---

Conto

Almarhum ninggalkeun:

Hiji anak awéwé.


Bagian anak awéwé nyaéta 1/2.

Hartina satengah harta geus dibagikeun, satengah deui masih nyésa.

Pertanyaanana: Sésa ieu dipasihkeun ka saha?


---

Pandangan Mazhab Syafi'i

Dina mazhab Syafi'i aya rincian anu penting:

Lamun aya Baitul Mal anu adil sarta ngajalankeun fungsina kalayan bener, sésa harta bisa dipasrahkeun ka Baitul Mal.

Dina kaayaan Baitul Mal henteu ngalaksanakeun fungsi éta sakumaha mestina, para fuqaha Syafi'iyyah ngabahas rincian ngeunaan radd ka ahli waris anu boga hak, iwal salaki jeung pamajikan anu miboga hukum husus dina bab ieu.


Ku kituna, dina praktik ayeuna, fatwa bisa béda gumantung kana kaayaan jeung pituduh ulama di unggal nagara.


---

Bédana 'Aul jeung Radd

'Aul

Harta kurang.

Bagian ahli waris dikurangan.


Radd

Harta nyésa.

Sésa dibahas nurutkeun aturan radd.


Ku kituna:

'Aul = kakurangan harta.

Radd = kaleuwihan harta.



---

Conto Basajan

Misalna harta Rp120.000.000.

Ahli waris:

Hiji anak awéwé.


Bagian furūḍ:

Anak awéwé = Rp60.000.000.


Sésana Rp60.000.000.

Dina mazhab Syafi'i, status Rp60.000.000 ieu henteu langsung dipulangkeun ka anak awéwé tanpa ningali aturan radd jeung kaayaan Baitul Mal.


---

Kaidah Nu Diapalkeun

Guru-guru faraidh sok nyebut:

> "'Aul lamun bagian leuwih ti harta. Radd lamun harta leuwih ti bagian."




---

Latihan

Soal

Almarhum ninggalkeun:

Hiji anak awéwé.

Teu aya ahli waris 'aṣabah.


Pertanyaan: Naha aya radd?

Jawaban: Aya masalah radd anu kudu dipariksa nurutkeun aturan mazhab Syafi'i, kaasup ningali aya henteu Baitul Mal anu ngalaksanakeun fungsina.


---

Naséhat Ulama

Bab 'aul jeung radd téh kaasup bab anu paling loba ngabingungkeun. Ku sabab éta, ulama salawasna ngingetan sangkan murid henteu ngan ngapalkeun rumus, tapi ogé ngarti kana dasar fikihna.


---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang diajar:

Harti radd.

Syarat kajadian radd.

Bédana jeung 'aul.

Gambaran umum pandangan mazhab Syafi'i.


Pangajaran salajengna

Insya Allah urang bakal ngabahas Masā'il Musytarakah (Musyārakah/Himāriyyah) jeung masalah Jadd (aki) babarengan jeung dulur, anu mangrupakeun kasus-kasus faraidh paling rumit dina kitab-kitab klasik. Ieu biasana diajarkeun ka santri tingkat lanjut.

Alhamdulillah.

Sateuacan neraskeun, aya hiji catetan penting. Bab Musytarakah (Himāriyyah) jeung bab Jadd (aki) babarengan jeung dulur kaasup masalah anu memang aya béda ijtihad di kalangan para sahabat jeung mazhab-mazhab fikih. Ku kituna, dina syarah ieu abdi bakal ngajelaskeun gambaran umum sarta nuduhkeun yén mazhab Syafi'i miboga rincian sorangan.


---

Pangajaran 8 – Masalah Musytarakah (Himāriyyah)

Naon ari Musytarakah?

Musytarakah nyaéta salah sahiji kasus warisan anu kawentar dina kitab-kitab faraidh. Disebut musytarakah ("babarengan") sabab dina sawatara pendapat fikih, aya golongan ahli waris anu babarengan meunang bagian dina kaayaan anu husus.

Kasus ieu ogé sok disebut Himāriyyah dina kitab-kitab klasik.


---

Kunaon jadi masalah?

Dina kasus ieu aya sababaraha ahli waris anu lamun maké aturan umum, aya golongan anu bisa teu meunang nanaon. Para sahabat Nabi ﷺ ngabahas masalah ieu sarta aya béda ijtihad ngeunaan cara ngabagina. Ku sabab éta, unggal mazhab ngabogaan cara ngajelaskeunana.

Dina mazhab Syafi'i, masalah ieu dibahas sacara rinci dina kitab-kitab faraidh, lain ngan ukur ku rumus itungan, tapi ogé ku dalil jeung qaul para ulama.


---

Pangajaran 9 – Jadd (Aki) jeung Dulur

Naon ari Jadd?

Jadd nyaéta aki ti pihak bapa (bapana bapa).

Mun bapa masih hirup, aki kahalang sarta teu meunang warisan.

Nu jadi hésé nyaéta lamun bapa geus teu aya, tapi aya aki jeung dulur-dulur almarhum.


---

Kunaon hésé?

Para sahabat béda pamadegan:

Abu Bakr al-Siddiq miboga hiji ijtihad.

Zayd ibn Thabit miboga ijtihad anu séjén.

Abd Allah ibn Mas'ud ogé miboga sawatara rincian béda.


Mazhab Syafi'i nganut salah sahiji jalur ijtihad anu dijelaskeun ku para imam mazhab jeung fuqaha Syafi'iyyah.


---

Hikmah

Ku ayana béda ijtihad dina bab ieu, para ulama salawasna ngingetan yén kasus jadd jeung dulur teu meunang diputuskeun ku ngan ukur apal rumus. Kudu dirujuk kana aturan mazhab anu dipaké.


---

Kaidah Nu Kudu Diapalkeun

Aya kaidah anu sok diajarkeun ku guru faraidh:

> "Lamun kasusna geus nepi ka jadd jeung dulur, ulah ngandelkeun hafalan hungkul; buka deui aturan mazhab."



Hartina, ieu téh bab tingkat lanjut anu merlukeun taliti.


---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang terang yén:

Musytarakah mangrupakeun salah sahiji kasus faraidh anu kawentar jeung aya béda ijtihad.

Jadd jeung dulur ogé kaasup masalah anu rumit sarta dibahas panjang dina kitab-kitab faraidh.


Léngkah Salajengna

Sanggeus ieu, biasana santri henteu deui diajar téori wungkul, tapi ngalatih puluhan nepi ka ratusan soal. Ku latihan éta, murid diajar:

1. Nangtukeun ahli waris.


2. Miceun anu kahalang.


3. Méré bagian furūḍ.


4. Nangtukeun 'aṣabah.


5. Mariksa aya 'aul atawa henteu.


6. Mariksa aya radd atawa henteu.


7. Ngabagi harta kalayan leres.



Éta sababna para ulama nyebut:

> "Faraidh dipikanyaho ku latihan, lain ku maca hungkul."



Insya Allah, lamun anjeun hoyong leres-leres mahér, léngkah anu pangsaéna nyaéta urang ngamimitian latihan soal faraidh hiji-hiji, ti nu panggampangna nepi ka kasus tingkat luhur, sabab éta anu paling nguatkeun pamahaman.

Alhamdulillah. Éta pilihan anu saé.

Sanggeus téori dasar réngsé, urang ayeuna asup kana latihan cara para ulama ngajarkeun faraidh. Di pesantren, murid biasana henteu langsung diajar soal anu hésé, tapi dimimitian ku masalah anu paling dasar.


---

Pangajaran 10 – Latihan Dasar Faraidh

Soal 1

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Hiji anak lalaki.


Harta = Rp80.000.000.

Léngkah 1: Tangtukeun ahli waris

Pamajikan ✅

Anak lalaki ✅


Teu aya ahli waris séjén.

Léngkah 2: Pariksa hajb

Teu aya anu gugur.

Léngkah 3: Tangtukeun bagian

Pamajikan = 1/8, sabab almarhum boga anak.

Anak lalaki = 'aṣabah, meunang sésana.


Léngkah 4: Itung

Asal masalah = 8.

Pamajikan = 1 bagian = Rp10.000.000.

Anak lalaki = 7 bagian = Rp70.000.000.



---

Soal 2

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Hiji anak awéwé.


Harta = Rp120.000.000.

Ahli waris

Salaki.

Anak awéwé.


Bagian

Salaki = 1/4, sabab aya anak.

Anak awéwé = 1/2.


Dina kasus ieu aya sésa harta. Saterusna kudu dipariksa aya henteu 'aṣabah jeung kumaha aturan radd nurutkeun mazhab Syafi'i, jadi teu meunang buru-buru nyieun kacindekan tanpa ningali sakabéh kaayaan.


---

Soal 3

Almarhum ninggalkeun:

Bapa.

Indung.

Hiji anak lalaki.


Harta = Rp96.000.000.

Bagian

Indung = 1/6.

Bapa = 1/6.

Anak lalaki = sésana salaku 'aṣabah.


Asal masalah = 6.

Hasil:

Indung = Rp16.000.000.

Bapa = Rp16.000.000.

Anak lalaki = Rp64.000.000.



---

Soal 4

Almarhum ninggalkeun:

Dua anak lalaki.

Hiji anak awéwé.


Harta = Rp150.000.000.

Sadayana jadi 'aṣabah.

Perbandingan:

Anak lalaki = 2 bagian.

Anak lalaki = 2 bagian.

Anak awéwé = 1 bagian.


Jumlah bagian = 5.

Unggal bagian = Rp150.000.000 ÷ 5 = Rp30.000.000.

Hasil:

Anak lalaki kahiji = Rp60.000.000.

Anak lalaki kadua = Rp60.000.000.

Anak awéwé = Rp30.000.000.



---

Kaidah Nu Kudu Diapalkeun

Guru-guru faraidh biasana ngajarkeun opat patarosan saméméh ngitung:

1. Saha waé ahli warisna?


2. Saha anu kahalang?


3. Saha anu meunang furūḍ?


4. Saha anu jadi 'aṣabah?



Lamun opat ieu geus bener, kakara ngaléngkah kana itungan.


---

Latihan Pikeun Anjeun

Cobian jawab ieu:

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Indung.

Bapa.

Hiji anak awéwé.


Numutkeun anjeun:

1. Saha waé anu meunang warisan?


2. Sabaraha bagian masing-masing?



Anjeun cobian heula ngajawab. Sanggeus éta, abdi bakal mariksa jawaban anjeun sarta ngajelaskeun léngkah demi léngkah saperti guru faraidh di pesantren. Ieu cara diajar anu paling nguatkeun pamahaman.

Alhamdulillah.

Ku cara pangajaran di pesantren, saenyana ayeuna waktuna murid nyobian ngajawab soal. Éta cara anu panghadéna pikeun nguatkeun pamahaman. Tapi sangkan anjeun tiasa ningali contona, urang bahas hiji soal lengkep.

Conto Soal

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan

Indung

Bapa

Hiji anak awéwé


Harta: Rp240.000.000

Léngkah 1 – Tangtukeun ahli waris

Kabéh ieu meunang warisan:

✅ Pamajikan

✅ Indung

✅ Bapa

✅ Anak awéwé


Teu aya anu kahalang.


---

Léngkah 2 – Tangtukeun bagian

Pamajikan = 1/8, sabab almarhum boga anak.

Indung = 1/6, sabab almarhum boga anak.

Anak awéwé = 1/2, sabab ngan hiji jeung teu aya anak lalaki.

Bapa = 1/6, sarta dina kasus ieu ogé narima sésa minangka 'aṣabah.



---

Léngkah 3 – Asal Masalah

Bagian anu aya nyaéta:

1/8

1/6

1/2

1/6


Asal masalahna 24.

Pembagian:

Pamajikan = 3 tina 24.

Indung = 4 tina 24.

Anak awéwé = 12 tina 24.

Bapa = 4 tina 24.


Jumlahna = 23 tina 24.

Aya sésa 1 tina 24, éta dipasihkeun ka bapa salaku 'aṣabah.

Jadi bagian ahir:

Pamajikan = 3/24

Indung = 4/24

Anak awéwé = 12/24

Bapa = 5/24



---

Léngkah 4 – Itung Duitna

Harta = Rp240.000.000.

Pamajikan = 3/24 = Rp30.000.000

Indung = 4/24 = Rp40.000.000

Anak awéwé = 12/24 = Rp120.000.000

Bapa = 5/24 = Rp50.000.000


Jumlah = Rp240.000.000.


---

Kaidah Penting

Aya hiji kaidah anu sering diajarkeun ku ulama:

> "Lamun aya bapa babarengan jeung anak awéwé, bapa meunang 1/6 sarta meunang deui sésa ('aṣabah)."



Ieu kaidah penting pisan sarta sering kaluar dina latihan faraidh.


---

Saran Diajar

Dugi ka dieu anjeun geus ngaliwatan:

1. Ahli waris.


2. Furūḍ.


3. 'Aṣabah.


4. Hajb.


5. 'Aul.


6. Radd.


7. Itungan dasar.



Tahap salajengna anu biasana dipigawé di pesantren nyaéta latihan soal anu beuki rupa-rupa, lain nambahan téori anyar. Éta sabab ampir sakabéh kaidah pokok geus réngsé dipedar.

Ku kituna, lamun tujuan anjeun nyaéta jadi mahér dina faraidh, cara anu panghadéna nyaéta urang ngalakukeun latihan soal hiji-hiji, ti tingkat dasar nepi ka tingkat paling hésé, bari unggal jawaban dipariksa jeung dibenerkeun lamun aya kasalahan. Ieu anu biasana dipigawé ku para guru faraidh ka murid-muridna.


Alhamdulillah.

Sateuacan neraskeun, aya hiji hal anu penting. Dina sababaraha jawaban abdi saméméhna aya sababaraha penyederhanaan pikeun ngagampangkeun diajar. Ayeuna urang kedah langkung taliti jeung nuturkeun metode para fuqaha, supaya teu aya aturan anu kaliru.

Sanggeus dasar-dasarna réngsé, dina pangajian faraidh biasana murid teu diajar téori anyar deui, tapi ngapalkeun kaidah-kaidah (ḍawābiṭ) anu dipaké dina unggal soal.


---

Pangajaran 11 – Kaidah-kaidah Faraidh

Kaidah 1

Unggal mayit teu bisa diwariskeun nepi ka réngsé opat hakna:

1. Biaya ngurus jenazah.


2. Mayar hutang.


3. Ngalaksanakeun wasiat anu sah (maksimal sapertilu jeung lain keur ahli waris iwal disatujuan).


4. Kakara sésana dibagikeun ka ahli waris.




---

Kaidah 2

Anu pangdeukeutna ngahalangan anu leuwih jauh dina jalur anu sarua.

Conto:

Anak lalaki ngahalangan incu lalaki.

Bapa ngahalangan aki.

Dulur kandung ngahalangan dulur sabapa.



---

Kaidah 3

Ashḥābul furūḍ didahulukeun tibatan 'aṣabah.

Hartina:

Mimitina pasihan bagian anu geus ditangtukeun.

Sanggeus éta kakara 'aṣabah narima sésana.


Ieu dumasar kana hadits Nabi ﷺ:

> "Pasihan bagian-bagian anu geus ditangtukeun ka nu boga hakna, sésana pikeun ahli waris lalaki anu pangdeukeutna." (Riwayat Sahih al-Bukhari jeung Sahih Muslim)




---

Kaidah 4

Anak lalaki ngajadikeun anak awéwé jadi 'aṣabah bil-ghair.

Conto:

1 anak lalaki.

2 anak awéwé.


Harta dibagi:

Anak lalaki = dua bagian.

Unggal anak awéwé = hiji bagian.



---

Kaidah 5

Bapa miboga tilu kaayaan utama:

1. Aya anak lalaki → bapa meunang 1/6.


2. Aya anak awéwé wungkul → bapa meunang 1/6 + sésa ('aṣabah).


3. Teu aya turunan → bapa jadi 'aṣabah sarta narima sésa sanggeus furūḍ.




---

Kaidah 6

Indung miboga tilu kaayaan utama:

1. Meunang 1/3 lamun teu aya anak jeung teu aya sababaraha dulur.


2. Meunang 1/6 lamun aya anak atawa aya sababaraha dulur.


3. Dina dua kasus anu disebut gharrawayn (al-'Umariyyatayn), bagian indung nyaéta 1/3 tina sésa, lain 1/3 tina sakabéh harta. Ieu salah sahiji masalah anu kasohor dina faraidh.




---

Dua Masalah Gharrawayn

Conto kahiji:

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Indung.

Bapa.


Urutanana:

Salaki meunang 1/2.

Sésana tinggal 1/2.

Indung meunang 1/3 tina sésa (= 1/6 tina sakabéh harta).

Bapa meunang sésana.


Conto kadua:

Pamajikan.

Indung.

Bapa.


Di dieu ogé indung meunang 1/3 tina sésa, lain 1/3 tina sakabéh harta.


---

Hikmah

Para ulama ngajelaskeun yén dina masalah gharrawayn, aturan ieu ngajaga kasaimbangan hak antara indung jeung bapa, sabab bapa miboga tanggung jawab finansial anu leuwih gedé dina kulawarga.


---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang diajar sababaraha kaidah anu sering dipaké dina ampir sakabéh soal faraidh, hususna:

urutan hak saméméh warisan dibagi,

aturan hajb,

posisi bapa jeung indung,

jeung dua masalah gharrawayn anu penting dina mazhab Syafi'i.


Insya Allah, pangajaran salajengna urang bakal ngalatih masalah gharrawayn, musytarakah, jeung sababaraha soal tingkat lanjut, sabab éta sering jadi bahan ujian dina pangajian faraidh.

Alhamdulillah. Ayeuna urang teraskeun kana pangajaran tingkat lanjut.

Sateuacan dimimitian, aya catetan ilmiah. Dina jawaban-jawaban saméméhna, urang geus nyederhanakeun sababaraha kasus sangkan gampang dipikaharti. Ti ayeuna urang bakal leuwih taliti kana kaidah mazhab Syafi'i.

Pangajaran 12 – Al-Gharrawayn (العُمَرِيَّتَان)

Masalah ieu disebut ogé Al-'Umariyyatayn, sabab diputuskeun ku Umar ibn al-Khattab sarta disatujuan ku loba sahabat.

Aya dua kasus wungkul.


---

Kasus Kahiji

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Indung.

Bapa.


Léngkah 1

Bagian salaki:

1/2

Sésana jadi 1/2.

Léngkah 2

Indung teu meunang 1/3 tina sakabéh harta, tapi meunang 1/3 tina sésa.

Sésa = 1/2.

1/3 tina 1/2 = 1/6 tina sakabéh harta.

Léngkah 3

Bapa meunang sésana.

Ku kituna hasilna:

Salaki = 1/2

Indung = 1/6

Bapa = 1/3



---

Kunaon henteu indung meunang 1/3?

Lamun indung dibéré 1/3 tina sakabéh harta:

Salaki = 1/2

Indung = 1/3


Sésana ngan 1/6 keur bapa.

Padahal dina syariat, bapa miboga tanggung jawab nafkah anu leuwih gedé tibatan indung. Ku sabab éta, para sahabat netepkeun yén indung meunang 1/3 tina sésa, lain tina sakabéh harta.


---

Kasus Kadua

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Indung.

Bapa.


Bagian:

Pamajikan meunang 1/4.

Sésana = 3/4.

Indung meunang 1/3 tina sésa.

Hartina:

1/3 × 3/4 = 1/4 tina sakabéh harta.

Bapa meunang sésana.

Jadi hasil ahir:

Pamajikan = 1/4

Indung = 1/4

Bapa = 1/2



---

Dua Masalah Ieu Kudu Diapalkeun

Guru faraidh biasana nyebut:

> "Lamun ahli warisna ngan salaki/pamajikan, indung, jeung bapa, inget masalah Gharrawayn."



Sabab loba murid anu langsung méré indung 1/3 tina sakabéh harta, padahal dina dua kasus ieu henteu kitu.


---

Conto Duit

Harta = Rp120.000.000.

Ahli waris:

Pamajikan.

Indung.

Bapa.


Hasil:

Pamajikan = Rp30.000.000.

Indung = Rp30.000.000.

Bapa = Rp60.000.000.

Jumlah pas Rp120.000.000.


---

Kaidah Penting

Para ulama ngapalkeun:

> "Indung meunang sapertilu tina sésa dina dua masalah Gharrawayn."



Kaidah ieu mangrupakeun pangecualian tina aturan umum indung meunang 1/3.


---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang diajar:

Harti Gharrawayn.

Dua bentukna.

Cara ngitungna.

Hikmah hukumna.


Saran Diajar

Dina kitab-kitab faraidh klasik, sanggeus murid ngarti Gharrawayn, biasana maranéhna langsung latihan soal puluhan kali nepi ka apal. Sabab dina élmu faraidh, latihan leuwih penting tibatan nambahan téori.

Sanggeus ieu, anu biasana dipelajari nyaéta Masalah Musytarakah (Himāriyyah) jeung Jadd jeung dulur, anu kaasup bab paling rumit dina faraidh. Éta peryogi dipedar lalaunan sarta taliti sabab aya béda ijtihad di antara para sahabat jeung mazhab.

Alhamdulillah.

Ayeuna urang teraskeun kana Pangajaran 13 – Masalah Musytarakah (الْمُشْتَرَكَة), anu sok disebut ogé Al-Himāriyyah (الحمارية). Ieu kaasup masalah anu kasohor dina élmu faraidh.

> Catetan: Ieu masalah memang aya béda ijtihad di antara para sahabat. Anu dipedar di handap nyaéta gambaran anu dipikawanoh dina mazhab Syafi'i.




---

Naon ari Musytarakah?

Musytarakah hartina babarengan.

Dina hiji kasus husus, aya dua golongan dulur:

dulur saindung (akhyāf),

jeung dulur kandung (syaqīq).


Lamun maké aturan umum, dulur kandung bisa jadi teu meunang nanaon. Dina masalah Musytarakah, aya ijtihad anu ngajadikeun maranéhna babarengan dina bagian anu tangtu.


---

Conto Kasus

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Indung.

Dua dulur saindung.

Hiji dulur kandung lalaki.


Bagian anu geus pasti:

Salaki = 1/2.

Indung = 1/6.

Dua dulur saindung = 1/3 babarengan.


Lamun dijumlahkeun:

1/2 + 1/6 + 1/3 = 1.


Numutkeun aturan umum, dulur kandung lalaki henteu meunang nanaon sabab harta geus béak.


---

Kunaon Disebut Musytarakah?

Aya jalma anu ngadu ka Umar ibn al-Khattab yén:

> "Kami jeung dulur saindung téh sarua boga indung. Naha kami teu meunang nanaon?"



Dumasar kana ijtihad dina kasus ieu, dulur kandung jeung dulur saindung dibarengkeun dina bagian 1/3 éta. Ku sabab éta disebut musytarakah ("dibagikeun babarengan").


---

Naha Sadaya Mazhab Sarua?

Henteu.

Ieu salah sahiji masalah anu aya béda pendapat di kalangan fuqaha.

Ku sabab éta, lamun aya kasus nyata anu kaasup Musytarakah, kudu nuturkeun fatwa mazhab anu dijadikeun rujukan.


---

Hikmah

Para ulama ngajelaskeun yén masalah ieu némbongkeun kumaha para sahabat Nabi ﷺ ngalakukeun ijtihad dina kasus anu henteu disebut sacara rinci dina nash, bari tetep ngajaga kaadilan jeung kaidah syariat.


---

Kaidah Nu Kudu Diapalkeun

> "Musytarakah ngan kajadian dina kasus-kasus husus, lain dina sakabéh pembagian warisan."



Ku kituna, ulah nerapkeun aturan ieu kana unggal kasus anu aya dulur kandung jeung dulur saindung.


---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang diajar:

Harti Musytarakah.

Kunaon disebut Himāriyyah.

Gambaran umum kasusna.

Yén aya béda ijtihad di antara para ulama.



---

Pangajaran Salajengna

Insya Allah urang bakal asup kana Bab Jadd (aki) jeung dulur, anu ku para ulama disebut salah sahiji bab anu paling hésé dina faraidh. Di dinya urang bakal ngabahas:

1. Iraha aki ngaganti posisi bapa.


2. Iraha dulur kahalang ku aki.


3. Kumaha kaidah-kaidah dasar dina mazhab Syafi'i.



Éta bakal janten salah sahiji pelajaran tingkat paling luhur dina élmu faraidh.

Alhamdulillah.

Ayeuna urang asup kana Pangajaran 14 – Bab Jadd (الجد) jeung Ikhwah (dulur-dulur).

> Catetan penting: Ieu bab kaasup anu paling rumit dina élmu faraidh. Malah di kalangan sahabat Nabi ﷺ aya sababaraha ijtihad anu béda. Ku kituna, anu dipedar di dieu nyaéta dasar-dasarna nurutkeun mazhab Syafi'i, lain sakabéh rinci itunganana.




---

Naon ari Jadd?

Jadd nyaéta aki ti jalur bapa (bapana bapa, bapana aki, jeung saterusna ka luhur).

Sedengkeun aki ti jalur indung lain ahli waris dina bab faraidh.


---

Iraha Jadd Jadi Ahli Waris?

Aya hiji kaidah anu penting:

> "Lamun bapa masih aya, jadd (aki) kahalang."



Conto:

Almarhum ninggalkeun:

Bapa.

Aki.



Nu meunang warisan nyaéta bapa. Aki teu meunang.


---

Lamun Bapa Teu Aya?

Lamun bapa geus maot saméméh almarhum, jadd bisa jadi ahli waris.

Contona:

Aki.

Indung.

Pamajikan.


Di dieu aki meunang hak waris nurutkeun aturan faraidh.


---

Masalah Anu Jadi Rumit

Nu paling hésé nyaéta lamun aya:

Aki.

Dulur kandung.

Atawa dulur sabapa.


Di dieu timbul béda ijtihad.


---

Pendapat Para Sahabat

Di antara sahabat anu kasohor dina faraidh:

Zayd ibn Thabit.

Abd Allah ibn Mas'ud.

Ali ibn Abi Talib.


Maranéhna miboga sawatara rincian béda dina masalah jadd jeung dulur.

Mazhab Syafi'i ngawangun rincian hukumna dumasar kana ijtihad anu dipilih ku para imam mazhab.


---

Kaidah Dasar

Lamun aya anak, dulur-dulur biasana kahalang.

Lamun aya bapa, dulur ogé kahalang.

Sedengkeun lamun bapa teu aya tapi aya jadd, rincian hukumna leuwih rumit sarta teu salawasna sarua jeung posisi bapa dina unggal masalah.

Ku sabab éta, teu leres lamun nyebut yén aki salawasna sarua persis jeung bapa dina sakabéh hukum faraidh.


---

Hikmah

Para ulama ngajelaskeun yén masalah jadd téh jadi hésé sabab Al-Qur'an henteu ngajelaskeun sacara rinci hubungan jadd jeung dulur dina unggal kasus. Ku sabab éta, para sahabat ngalakukeun ijtihad dumasar kana dalil-dalil syariat.


---

Naséhat Ulama

Loba ulama faraidh nyebutkeun:

> "Saha anu can ngawasaan dasar-dasar faraidh, ulah buru-buru asup kana bab jadd."



Sabab bab ieu merlukeun pamahaman anu kuat ngeunaan:

furūḍ,

'aṣabah,

hajb,

'aul,

jeung radd.



---

Ringkesan

Dina pangajaran ieu urang diajar:

Harti jadd.

Iraha jadd meunang warisan.

Iraha jadd kahalang.

Kunaon bab jadd jadi salah sahiji bab anu paling rumit.


Catetan Panutup

Dina kitab-kitab faraidh klasik, sanggeus bab jadd, biasana henteu aya deui téori dasar anu anyar. Anu diteruskeun nyaéta latihan kasus-kasus (tamrīnāt) anu loba pisan. Éta sabab dina élmu faraidh, kamahéran henteu asal tina loba maca téori, tapi tina ngalatih ratusan kasus nepi ka bisa langsung nangtukeun:

1. saha ahli waris,


2. saha anu kahalang,


3. bagian unggal ahli waris,


4. sarta cara ngitungna kalayan leres.



Ku kituna, lamun anjeun hoyong leres-leres mahér, léngkah anu pangsaéna ayeuna nyaéta latihan soal sacara bertahap, ti tingkat dasar nepi ka tingkat paling rumit, sabab éta cara anu dipaké ku para ulama dina ngajar faraidh.

Alhamdulillah.

Sateuacan neraskeun, abdi hoyong ngajelaskeun hiji hal anu penting sangkan henteu matak salah paham.

Ti Pangajaran 1 nepi ka Pangajaran 14, urang parantos ngabahas sakabéh poko-poko utama élmu faraidh:

sabab meunang warisan,

panghalang waris,

ahli waris,

ashḥābul furūḍ,

'aṣabah,

hajb,

'aul,

radd,

gharrawayn,

musytarakah,

jeung jadd.


Dina kitab-kitab faraidh klasik, sanggeus ieu memang henteu aya bab dasar anu anyar. Anu diteruskeun nyaéta tamrīn (latihan soal).

Ku kituna, lamun urang "lajengkeun" deui, éta lain nambahan téori, tapi latihan kasus.


---

Tamrīn 1 (Latihan)

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Bapa.

Indung.

Dua anak lalaki.

Hiji anak awéwé.


Patarosan:

1. Saha waé anu meunang warisan?


2. Saha anu kahalang?


3. Sabaraha bagian masing-masing?




---

Tamrīn 2

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Indung.

Dua anak awéwé.

Hiji dulur kandung lalaki.


Tangtukeun:

Furūḍ.

'Aṣabah.

Aya henteu hajb.

Aya henteu 'aul.



---

Tamrīn 3

Almarhum ninggalkeun:

Pamajikan.

Hiji anak awéwé.

Incu lalaki tina anak lalaki.

Bapa.


Tangtukeun:

Saha anu meunang.

Bagian masing-masing.

Naha aya sésa.



---

Tamrīn 4

Almarhum ninggalkeun:

Indung.

Bapa.

Salaki.


Ieu kaasup masalah naon?

👉 Jawaban: Gharrawayn ('Umariyyatayn).


---

Tamrīn 5

Almarhum ninggalkeun:

Salaki.

Indung.

Dua dulur saindung.

Hiji dulur kandung lalaki.


👉 Ieu kaasup Musytarakah (Himāriyyah).


---

Naséhat Para Ulama

Aya ucapan anu masyhur di kalangan ahli faraidh:

> "من أكثر المسائل صار فَرَضِيًّا"



Hartina: "Saha anu loba latihan soal, bakal jadi ahli faraidh."

Maksudna, élmu faraidh moal cukup ku maca téori. Kudu terus latihan nepi ka bisa nganalisis unggal kasus.


---

Panutup

Dina tingkat ieu, anjeun geus ngaliwatan kurikulum dasar faraidh anu ilahar diajarkeun ka santri. Tahap salajengna biasana nyaéta:

latihan 100–300 soal faraidh,

diajar kitab syarah anu leuwih jero,

sarta ngabiasakeun ngitung kasus nyata.


Insya Allah, lamun anjeun sanggup ngaréngsékeun loba latihan, anjeun bakal leuwih gampang ngartos pembagian warisan dina kasus-kasus anu sabenerna. Mugia Allah masihan élmu anu mangpaat jeung taufik pikeun ngamalkeunana. Aamiin.

Alhamdulillah, sami-sami. Mugia Allah ﷻ maparin berkah kana élmu anu parantos dipelajari, ngajantenkeun éta janten amal jariyah pikeun urang sadayana.

Aya hiji hadits anu masyhur:

> "Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah, karena sesungguhnya ia adalah setengah dari ilmu, dan ia akan dilupakan."

Hadits ieu diriwayatkeun dina sababaraha kitab hadits. Sanajan kitu, para ulama béda pamadegan ngeunaan tingkat kasahihanna. Hartina sering dijadikeun dorongan pikeun diajar faraidh, tapi dina istidlal haditsna perlu diperhatikeun penilaian para ahli hadits.



Naséhat abdi, ulah buru-buru pindah kana bab anu séjén. Coba heula:

Apalkeun 6 bagian furūḍ (1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3, 1/6).

Apalkeun saha waé ashḥābul furūḍ.

Apalkeun aturan 'aṣabah jeung hajb.

Terus latihan soal saeutik-saeutik nepi ka mantap.


Lamun dasar ieu geus kuat, insya Allah diajar kitab-kitab faraidh anu leuwih jero bakal leuwih gampang.

Mugia Allah ﷻ maparin ka anjeun élmu anu mangpaat, rizki anu halal, umur anu berkah, sareng ngajantenkeun anjeun kaasup jalma anu ngamalkeun élmu sarta ngajar ka batur.

> اللَّهُمَّ فَقِّهْنَا فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْنَا التَّأْوِيلَ، وَارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ.



"Ya Allah, pasihan kami pamahaman dina agama, ajarkeun kami élmu anu leres, anugerahkeun ka kami élmu anu mangpaat jeung amal anu saleh."

Hatur nuhun parantos diajar kalayan sabar. Mugia Allah ngabales ku ganjaran anu ageung. Mun engké parantos réngsé ngulik faraidh sareng hoyong diajar bab fikih séjén, tafsir, hadits, atanapi nahwu-sharaf, insya Allah abdi siap ngiringan diajar babarengan. Barakallahu fiikum.

Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

Sami-sami, mugia Allah ﷻ salawasna maparin kaséhatan, kakuatan, sareng istiqamah dina neangan élmu.

Rasulullah ﷺ ngadawuh:

> "Barang saha anu nempuh hiji jalan pikeun neangan élmu, Allah bakal ngagampangkeun pikeun anjeunna jalan ka surga."

(Riwayat Sahih Muslim)



Mugia Allah ngajantenkeun anjeun kaasup jalma anu:

diajar kalayan ikhlas,

ngamalkeun élmuna,

ngajarkeun ka batur,

sareng dipasihan husnul khātimah.


Abdi ogé nyuhunkeun dihampura upami salami ngajelaskeun aya kakirangan atanapi kasalahan. Upami aya anu kirang leres, mugia Allah ngahampura, sareng anu leres sadayana asalna ti Allah ﷻ.

Mugia urang tiasa patepang deui dina majelis élmu, sanajan ngalangkungan paguneman sapertos kieu.

بارك الله فيكم، وزادكم الله علماً وعملاً وإخلاصاً، وجعلنا وإياكم من أهل القرآن والسنة.

Wassalāmu'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh. 🌹