Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Minggu, 10 Mei 2026

SEDEKAN DAN SELAMATAN KEORANG MATI

SELAMETAN /SODAKOHAN UNTUK ORANG MATI ADALAH SUNAH NABI

عن سعد بن عبادة قال قلت يا رسول الله ان امي ماتت فاءتصدق عنها قال نعم قلت فاءي الصدقة افضل قال سقي الماء

Sa'd ibn `Ubadah berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal, haruskah aku memberikan sedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Sedekah apa yang terbaik?” Beliau menjawab, “Memberikan air.

NB: Mau Selametan 3,7,40,100 hari ke dst bebas.
Sebab Nabi Saw telah bersabda: 

انتم اعلم باءمر دنياكم 
Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian).
Kitab shohih Muslim ✍️
(Kitab shohih sunan nasa'i juz.1 hal.778.)

TERUSLAH BERBUAT BAIK MESKI BANYAK YANG TIDAK MENYUKAIMU

Teruslah Berbuat Baik Meski Banyak yang Tidak Menyukaimu 

Kebaikan dan keburukan merupakan dua perilaku yang sangat bertentangan satu sama lain. Kadang suatu kehidupan ada yang dominan kebaikannya ada juga yang dominan keburukannya. Begitupun kehidupan yang ada di masyarakat, ada yang baik ada juga yang buruk. 

Meski semua manusia memiliki kebaikan dan keburukan, akan tetapi lebih dominan yang mana ia berperilaku. Karena memang hidup tidak selalu berbanding lurus dengan firman Allah swt dan ajaran Rasulullah saw.  
 
Itulah kenapa di muka bumi selalu diutus seorang Rasul dari satu generasi ke generasi lainnya, karena tidak semua manusia berprinsip dan berperilaku sesuai firman Allah dan ajaran Rasul-Nya. Atau bisa dikatakan menyimpang dan memiliki perangai yang buruk. 

Meski suatu kaum sudah dihadirkan seorang Rasul oleh Allah swt, tetap saja, tidak semuanya akan sepenuhnya beriman. Jika kita membaca sejarah para Nabi dan Rasul, sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw, kita akan selalu menjumpai kaum-kaum yang tetap membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya. 
 
Meski masih banyak yang membangkang, para Rasul senantiasa terus berdakwah, mengajarkan kebaikan dan tauhid hingga akhir hayatnya. Hal ini mengajarkan kepada kita yang hidup di dunia modern dengan berbagai problematika yang komplek, untuk selalu berdakwah, menyebarkan kebaikan kepada orang lain, meskipun akan banyak yang membenci dan mengolok-olok kita. 

Rasulullah saw saja, seorang Nabi, yang hidupnya dijaga dari dosa (ma’sum) serta tidak pernah dzalim terhadap keluarga, tetangganya dan teman-temannya, tetap memiliki pembenci dan penentang, tetap dimusuhi, apalagi umatnya yang sekarang, yang jelas-jelas tidak ma’sum sering melakukan kesalahan baik di sengaja ataupun tidak. Imam Syafi’i ra berkata

إِنَّكَ لا تَقْدِرُ تُرْضِي النَّاسَ كُلَّهُمْ فَأَصْلِحْ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، فَإِذَا أَصْلَحْتَ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، فَلا تُبَالِ بِالنَّاسِ “

Sesungguhnya kau takkan mampu membuat semua orang itu ridha. Maka dari itu, Perbaikilah apa yg ada diantara dirimu dengan Allâh Azza wa Jalla.
Apabila kau telah memperbaiki hubunganmu dengan Allah Azza wa Jalla, maka tidak usah lagi kau hiraukan ucapan manusia.

إنك لاتقدر أن ترضي الناس كلهم، فأصلح ما بينك وبين الله، ولاتبال بالناس.
 
“Sesungguhnya engkau tidak akan mampu membuat semua manusia senang, maka perbaikilah hubungan antara diri kita dengan Allah, dan jangan pedulikan apa kata manusia.”

Akan tetapi, memiliki kesalahan merupakan kewajaran, karena manusia memang Al-Insanu mahallul khota’ wa nisyan. “Manusia itu tempatnya salah dan lupa”. Meski selalu salah dan lupa, menebarkan kebaikan merupakan perintah dari Allah dan Rasul. Hidup di dunia mustahil tidak berseteru dan berbeda pendapat dengan orang lain, yang kadang menimbulkan kebencian.

Namun hidup janganlah mencari musuh, karena tidak dicaripun musuh itu ada. Bergaullah dengan baik, rangkullah mereka yang tersesat, maka niscaya kebaikan akan mulai bersinar. Karena sejatinya Allah swt menyukai orang yang berbuat baik. Sebagaimana dalam firman-Nya dalam Qur’an surat Al-Baqarah, ayat 195.
 
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ.
 
Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah: 195).
 
Berbuat baik juga merupakan timbal balik, atau memiliki hukum kausalitas, sebagaimana firman Allah swt surat Al-Isra:7, Ar-Rahman: 60, dan Al Zalzalah: 7-8,   yang artinya, 

{ إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ }
[Surat Al-Isra': ٧]

 “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”. (QS Al-Isra: 7).

 { هَلۡ جَزَاۤءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ }
[سُورَةُ الرَّحۡمَٰن: ٦٠]

 “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahman: 60).
 
{ فَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَیۡرࣰا یَرَهُۥ (٧) وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ (٨) }
[سُورَةُ الزَّلۡزَلَةِ: ٧-٨]

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al Zalzalah: 7-8).
 
Terkadang, manusia ragu untuk berbuat baik kepada sesama manusia karena masih memiliki perasaan untung dan rugi. 
Padahal kebaikan jika tidak bersinar waktu itu juga, maka akan bersinar suatu hari nanti.
 
Seperti Rasulullah saw yang mendakwahkan Islam di sekitar Jazirah Arab kala itu, dengan semangat dan sungguh-sungguh, maka buah dari dakwahnya yakni Islam hampir tersebar di seluruh penjuru dunia saat ini. 
 
Akan tetapi, sering terjadi di masyarakat, banyak kiai yang minder untuk berdakwah dan mengingatkan kebaikan kepada orang lain, karena mungkin anaknya, istrinya, dan saudaranya masih ada yang menyimpang dan bermaksiat juga. 
 
Ketika kiai berdakwah, mengingatkan anak tetangganya yang tidak shalat atau mabuk, kadang jawaban dari tetangga juga sangat menusuk, ngapain ngurusin anak orang, kalau anaknya atau keluarganya sendiri juga ahli maksiat. 
Jika mental kiai tersebut sangat lemah, dia akan berhenti berdakwah hingga akhir hayatnya. 
 
Padahal yang dicontohkan oleh Rasulullah tidak begitu, dakwah tetaplah dakwah, dan menebarkan kebaikan tidak pandang bulu. Jika kita membaca sejarah Nabi Muhammad ketika berdakwah, apakah semua keluarganya mengikuti Nabi? Jawabannya tidak. Karena masih ada pamannya, Abu Jahal dan istrinya yang menentang keponakannya. 
Ada juga pamannya yang lain, Abu Thalib, meski tidak memusuhi Nabi, akan tetapi enggan masuk Islam.
 
Dari cerita di atas, dapat kita simpulkan, apakah karena ada kerabatnya yang enggan masuk Islam, Nabi berhenti berdakwah. Tidak. Nabi tetap berdakwah tanpa menyerah, selalu mengingatkan keluarganya, tetangganya dan masyarakat Jazirah Arab untuk menjadi baik. 
Karena keimanan merupakan urusan Tuhan, sedangkan tugas manusia hanya menyampaikan kebenaran.  
 
Kita tidak boleh berhenti berdakwah dan pesimis dengan takdir, karena jiwa dan hati manusia selalu berubah-ubah. 
Hari ini membangkang, besok sadar, hari ini ahli maksiat, bulan esoknya menjadi ahli ibadah. 
Itulah rahasia Allah yang tidak akan pernah bisa terbaca oleh manusia. 
 
Sayyidina Umar bin Khattab ra, yang pada awalnya ingin memenggal leher Nabi, menjadi pelindung dari Nabi saw. 
Dan kisah Nabi Musa yang diasuh oleh Fir’aun yang zalim sejak bayi, ketika besar menentang Fir’aun. Itulah jalan takdir. 
 
Oleh karena itu, menjadi manusia, khususnya umat Muslim, umat Nabi Muhammad saw, tetaplah selalu berdakwah dan berdoa, karena kita tidak akan tahu, hati siapa yang akan dilunakkan Allah swt.
 


MENYEWA ORANG BACA AL.QUR'AN DI ATAS KUBURAN

MENYEWA ORANG BACA AL.QUR'AN DI ATAS KUBURAN 

Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya (Tuhfatul Muhtaj: 6 158) menyatakan kebolehan menyewa orang untuk membaca al-Quran.

«وَيَصِحُّ الِاسْتِئْجَارُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ» «أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ بِمِثْلِ مَا حَصَلَ مِنْ الْأَجْرِ لَهُ أَوْ بِغَيْرِهِ عَقِبَهَا عَيَّنَ زَمَانًا أَوْ مَكَانًا أَوْ لَا»

“Sah menyewa seseorang untuk membaca al-Quran di kuburan atau bersama doanya dengan kompensasi pahala yang akan diperoleh setelah membaca. Baik telah menentukan waktu dan tempatnya maupun tidak.
#wahabitobat

Sabtu, 09 Mei 2026

HAUL

التبارك باثار الصالحين
(شيخ القرطبي)
Mencari keberkahan peninggalan2 org sholeh
هذه اثارنا

Ikan sepat ikan gabus direndem diair tawar
Lebih cepet lebih bagus perut udah terasa lapar.

Pohon salam dipinggir sumur
Yang jawab salam panjang umur

Pohon salam depan rumah pakmarjuki
Yang jawab salam berkah milik rizqi
العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ، وَالْمَنْفَعَةُ بِالطَّاعَةِ. 
Ilmu diperoleh dengan mengaji, barakah diperoleh dengan mengabdi, (hidup) manfaat dengan mematuhinya.
“Rajab adalah bulan untuk menanam, Syakban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadan adalah bulan untuk memanen.” (Abu Bakr al-Warraq)
Imam Syafi’I dalam kitab Manaqib Imam Syafi’i, karya Al-Baihaqi (2/188), menyatakan bahwa ada tiga tanda yang menunjukkan bahwa seseorang adalah sosok yang hebat. 
Tanda pertama adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta. 
Imam Syafi’i menyatakan:
قال الإمام الشافعي (رحمه الله): جوهر المرء في ثلاثة أمور: -كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني.
 - كتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راضي.
 - كتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعّم .
Kesatu adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta. 
Imam Syafi’i menyatakan
كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني
Artinya:“Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta.”
Tanda kedua adalah kemampuannya menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira ia ridha. 
Imam Syafi’i menyatakan:
وكتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راض
Artinya:“Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha
Ketiga adalah kemampuannya menyembunyikan kesusahannya sehingga orang lain mengira ia selalu senang. 
Imam Syafi’i menyatakan:
وكتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعم
Artinya: “Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang.”
Kemampuan seperti itu juga dimiliki. 
Banyak orang mengenal Mbah Ngis sebagai perempuan yang ramah dan ceria.
memang tidak suka memperlihatkan kesedihan kepada sesama manusia, tetapi lebih suka mengadukan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya kepada Allah SWT. Kita 
dapat bermunajat atau berkeluh kesah kepada Sang Pencipta kapan saja menginginkannya terutama ketika di sekitarnya tak ada seorangpun.
#HikmahUlama
من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان
“Barangsiapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan.” (Tafsir Ruhul Bayan fi Tafsir al-Quran, Ismail Haqqi al-Hanafi, 5/264).
قال الإمام الشافعيُّ رحمهُ الله: "لَيْسَ العِلْمُ مَا حُفِظَ، إِنَّما العِلْمُ مَا نَفَعَ".
وقال ما تقرب إلى الله تعالى بشئ بعد الفرائض أفضل من طلب العلم
Artinya, “Imam As-Syafi’i berkata, ‘Tiada ibadah yang lebih utama setelah shalat wajib daripada menuntut ilmu.’” (An-Nawawi, Al-Majmu': 33)
Imam As-Syafi’i membagi malamnya menjadi tiga waktu. Sepertiga pertama digunakan untuk menulis. Sepertiga kedua dipakai untuk shalat sunnah. Sepertiga terakhir dimanfaatkan untuk istirahat malam.
من لا يحب العلم فلا خير فيه فلا يكن بينك وبينه معرفة ولا صداقة
Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyukai ilmu. Oleh karena itu janganlah engkau mengenal apalagi bersahabat dengannya
Sumber:
مقدمة كتاب المجموع شرح المهذب للشيرازي
وقال ما أفلح في العلم إلا من طلبه بالقلة
Artinya, “Imam As-Syafi’i berkata, ‘Tiada yang beruntung dalam menuntut ilmu kecuali orang yang mengejarnya secara total.’” (An-Nawawi, Al-Majmu': 33).
عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال : إن من الذنوب ما لا يكفره صوم، ولا صلاة، ويكفره عرق الجبين في الحرفة.
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa dihapuskan dengan puasa dan tidak juga shalat, yang bisa menghapuskannya hanyalah keringat di dahi karena bekerja keras." (HR. ath-Thabarani)
فَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَعَلُّمِ سَاعَةً ** تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُوْلَ حَياتِهِ
“Barangsiapa belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat ** Ia kan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Beliau juga mengutip maqolah dari Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani mengenai pentingnya suatu khidmah:
العلم يدرك بالتعلم والبركة لاتدرك الا بالخدمة.
“Ilmu bisa digali dimana-mana, tapi kalau barokah jangan diharapkan kalau santri tidak mau berkhidmah“ tambah beliau.
عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أََلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. يَقُوْلُ ابْنُ اۤدَمَ مَالِيْ مَالِيْ، قَالَ وَهَلْ لَكَ يَاابْنَ اۤدَمَ مِنْ مَالِكَ اِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ. (رواه مسلم)
Mu¯arrif bin Syu‘bah meriwayatkan dari ayahnya berkata, “Aku mendatangi Nabi saw, sedangkan beliau sedang membaca ayat ‘alhakumut-takatsur.” Lalu Nabi saw bersabda, “(Ada seorang) manusia mengatakan ‘hartaku-hartaku’.” Nabi saw bersabda lagi, “Wahai manusia, kamu tidaklah memiliki harta (yang kamu kumpulkan), melainkan apa yang kamu makan maka telah habis, apa yang kamu pakai maka telah lusuh, dan apa yang kamu sedekahkan maka telah berlalu.” (Riwayat Muslim);
يقول: (إنما له من ماله ثلاث: ما أكل فأفنى، أو لبس فأبلى، أو أعطى فأقنى)، وفي الرواية الأخرى: (وهل لك يابن آدم من مالك إلا ما أكلت فأفنيت، أو لبست فأبليت، أو تصدقت فأمضيت) فمالك ما اشتريت به طعاماً وأكلته وفني هذا الطعام، أو اشتريت به ثياباً ولبست هذه الثياب فخلقت وبليت، أو أخرجت الصدقة فنفعتك عند الله سبحانه وتعالى.
------------------------------------------------------------------------------
KUNCI BAHAGIA
سؤال: من أسعد الناس
الجواب: من أسعد الناس

Pertanyaan, ‘Siapakan manusia yang paling berbahagia?’
Jawaban, ‘Mereka yang membuat manusia bahagia (membahagiakan orang lain).’”
Seorang ulama besar dan juga salah satu Imam Mazhab yang 4 yakni Imam Asy-Syafi'i mengatakan,
خير الدنيا والآخرة في خمس خصال غنى النفس وكف الأذى وكسب الحلال ولباس التقوى والثقة بالله تعالى على كل حال
"Kebaikan dunia dan akherat terletak pada lima hal,
kaya hati, tidak mengganggu, penghasilan halal, hati yang tertutup pakaian takwa dan yakin dengan Allah dalam setiap kondisi"
(Bustanul Arifin karya An-Nawawi hlm 113, Dar al-Minhaj).
Imam Syafi`i mengatakan bahwa untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat ada lima jalan yang harus ditempuh, yaitu :
غِنَى النَّفْسِ, artinya kaya jiwa. Yang dimaksud dengan kaya jiwa disini ialah lapang dada dan berjiwa qana`ah. Qana`ah ialah menerima dan rida apa yang diberikan Allah, apakah itu berupa kesenangan ataupun berupa kesusahan yang menimpanya.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ ص.م. لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غَنَى النَّفْسِ. أخْرَجَهُ البخارى[6]  
            Artinya: Hadis dari Abi Hurairah dari Nabi saw, “Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta, tetapi yang dimaksud kaya itu ialah kaya jiwa. H.R.Bukhari.
.2.كَفُّ الأَذَى, yaitu mencegah diri dari menyakiti orang lain, baik itu menyakiti dalam bentuk maddiyan (kongkrit), seperti memukul ataupun merusak barang orang lain ataupun yang ma`nawiyan, seperti mencaci dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti jiwa orang lain. firman Allah swt:
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَااكْتَسَبُوا فَقَدِاحْتَمَلُوْا بُهْتَنًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا[7]
58. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
3. كَسْبُ الْحَلَالِ, bekerja untuk mendapatkan yang halal. Bekerja untuk mendapat yang halal merupakan suatu kewajiban. Pekerjaan yang halal akan akan mendatang hasil yang halal, sementara pekerjaaan yang haram akan mendatangkan hasil yang haram.
Dalam hal Nabi saw telah memperingatkan bahwa pada masa nanti manusia tidak akan memperdulikan apakah usahanya itu halal atau haram, yang penting dapat mengahasilkan uang.
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. قَالَ: يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبًالِى الْمَرْءُ مَاأَخَذَ مِنْهُ أَ مِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ
            Artinya: Bahwasanya Rasulullah saw bersabda:” Akan datang nanti kepada manusia suatu masa yang seseorang itu tidak akan memperdulikan apa yang telah ia ambil, apakah dari yang halal atau dari yang haram. H.R. Bukhari.
4.لِبَاسُ التَّقْوَى, pakaian taqwa. Yang dimaksud dengan :pakaian taqwa” ialah menghiasi diri dengan sikap taqwa kepada Allah swt, seperti iman, malu dan beramal salih.
Firman Allah swt:
يَابَنِى آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِى سَوْءَاتِكُمْ وَرِيْشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَالِكَ خَيْرٌ ذَالِكَ مِنْ ءَايَاتِ اللهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ [8]
26. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.
الثِّقَةُ بِاللهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ[5.9, percaya kepada Allah ta`ala atas semua keadaan. [9]Mempercayai dan meyakini bahwa seluruh masalah kehidupan manusia tidak terlepas dari Allah dan seorang hamba itu harus pasrah dan tawakkal kepada Allah setelah melalui usaha dan ikhtiar yang benar. Keyakinan kepada Allah contohnya ialah, yakin Allah akan mengabulkan doa, yakin Allah akan melepaskan dari segala macam bala, yakin Allah akan memberikan rezeki, yakin Allah akan menolong hambanya dari kekuasaan musuh, yakin Allah akan menunaikan janjinya dan yakin Allah akan memberikan pertolongan dalam berdakwah. [10]
dan peliharalah kami dari siksa neraka, yaitu memohon kepada Allah agar dijaga dari menuruti nafsu syahwat dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan dosa, yaitu dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiyat, menjauhi perbuatan-perbuatan tercela yang diharamkan serta melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan agama.
====================================
Kebahagiaan secara umum
Secara umum, kebahagiaan itu terdapat pada tiga perkara. 

Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan tanda tersebut, yaitu:
إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة
1. jika diberi kenikmatan, dia bersyukur,
2. jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar,
3. dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat),
maka tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).
Perincian apa itu kebahagiaan
Sebagian ulama menjelaskan lebih rinci, apa itu kebahagiaan dan tanda-tandanya.
 Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,
من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته
“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah:
1. dimudahkan ketaatan baginya,
2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,
3. berteman dengan orang-orang saleh,
4. baiknya akhlak kepada sesama manusia,
5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,
6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan
7. pandai menjaga waktu” (Al-I’tishom, 2 : 152).

دالاعتقاد التام في شيخه، يقول الشيخ عبد القادر الجيلاني: «من لم يعتقد في شيخه الكمال لا يفلح أبدا»
الموتى.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban.

Jumat, 08 Mei 2026

MESJID QUBA TITIK AWAL BANGUNAN PERADABAN ISLAM

MESJID QUBA TITIK AWAL BANGUNAN PERADABAN ISLAM

Perjalanan panjang hijrah Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah menuju Madinah menyusuri jalan-jalan berbatu dengan panas yang menyengat, membelah hamparan padang pasir. Beliau ditemani sahabat setia Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.
Sebuah perjalanan yang sarat tantangan, jebakan, dan ancaman. Musuh-musuh Islam terus mengintai, berusaha mencari celah untuk mencelakai bahkan membunuh beliau. Sungguh berat misi dakwah yang dipikul. Namun keteguhan iman dan kekuatan tekad beliau serta para sahabat mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada perjuangan yang benar-benar mudah dan nyaman. Setiap misi penegakan kebenaran pasti dipenuhi onak dan duri yang siap menjatuhkan mereka yang lemah jiwa.
Allah Ta’ala menggambarkan momen kritis ini dalam firman-Nya:
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ...
“Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya…”
(QS. At-Taubah: 40)
Hampir satu bulan perjalanan hijrah dilalui. Ketika beliau tiba di sekitar Madinah, dari sela-sela perbukitan dan jalan berbatu, sambutan hangat penduduk Madinah menyambut dengan penuh cinta dan haru. Lantunan nasyid menggema:
طلع البدر علينا من ثنية الوداع
وجب الشكر علينا ما دعا لله داع
“Telah terbit bulan purnama atas kami dari Tsaniyatul Wada’,
wajiblah kita bersyukur selama ada yang mengajak kepada Allah.”
Ketika sampai di daerah Quba, sekitar 6 km dari Masjid Nabawi saat ini, unta (bukan kuda) yang ditunggangi Rasulullah ﷺ diperebutkan oleh penduduk Madinah karena masing-masing berharap beliau singgah di rumah mereka. Namun beliau bersabda:
خلّوا سبيلها فإنها مأمورة
“Biarkan ia berjalan, karena sesungguhnya ia diperintah (oleh Allah).”
(HR. Ahmad)
Hingga akhirnya unta tersebut berhenti di sebuah kebun kurma di wilayah Quba. Di situlah berdiri Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam.
Allah mengabadikan kemuliaan masjid ini dalam Al-Qur’an:
لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ
“Sungguh masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak engkau shalat di dalamnya.”
(QS. At-Taubah: 108)
Rasulullah ﷺ tinggal beberapa hari di Quba dan selama itu beliau menginap di rumah Kulthum bin al-Hadm رضي الله عنه. Setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke pusat Madinah dan tinggal di rumah Abu Ayyub al-Ansari رضي الله عنه.
Keutamaan Masjid Quba sangat besar di sisi Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:
من تطهر في بيته ثم أتى مسجد قباء فصلى فيه صلاة كان له كأجر عمرة
“Barang siapa bersuci di rumahnya kemudian datang ke Masjid Quba lalu shalat di dalamnya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala umrah.”
(HR. Tirmidzi)

Hikmah dan Pelajaran

1.perencanaan Dakwah yang Matang
Sambutan hangat kaum Anshar bukan terjadi tiba-tiba, melainkan hasil dari strategi dakwah Rasulullah ﷺ sebelumnya dengan mengutus Mus'ab bin Umair رضي الله عنه sebagai duta Islam di Madinah.

3. Kharisma Kepemimpinan Nabi
Antusiasme masyarakat Madinah menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah sosok yang memiliki daya tarik ruhiyah dan akhlak yang tinggi, bukan sekadar pencitraan.

4. Semangat Pengorbanan
Kerelaan para sahabat menyerahkan harta dan tanah mereka untuk Islam menunjukkan hasil tarbiyah yang melahirkan jiwa pengorbanan (روح التضحية).

5.Prioritas Peradaban
Bangunan pertama yang didirikan Rasulullah ﷺ bukan rumah pribadi, melainkan masjid. Ini pesan besar bahwa pembangunan peradaban dimulai dari pondasi spiritual dan kebersamaan umat.

6. Memuliakan Sejarah sebagai Akar Peradaban
Apresiasi Rasulullah ﷺ terhadap Masjid Quba melalui pahala besar menunjukkan bahwa sejarah memiliki nilai strategis dalam membangun identitas dan kekuatan umat.

Fase Quba adalah bluefrint cetak biru atau pondasi bangunan peradaban Islam.

BENARKAH ORANG YANG SUDAH MATI BISA MENDO'AKAN KELUARGA YANG MASIH HIDUP ?...

BENARKAH ORANG YANG SUDAH MATI BISA MENDO'AKAN KELUARGA YANG MASIH HIDUP?
#WAHABI MATINYA BUDEG BIN TULI BORO"BISA MENDO'AKAN ✍️✔️
Hadits Musnad Ahmad

عن أنس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشايركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا وإن كان غير ذلك قالوا اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا. رواه أحمد 

Artinya: Dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sungguh amal kalian disampaikan kepada kerabat dan kawan yang telah mati. Jika amal baik, maka mereka bahagia. Jika tidak baik, maka mereka berdoa: Ya Allah jangan matikan mereka sebelum Engkau beri hidayah kepada mereka seperti Engkau memberi hidayah kepada kami. (HR Ahmad).Juz 20 hal.114
#ngajifiqih

MESJID QIBLATAIN SAKSI SEJARAH ADANYA HUKUM NASAKH DALAM ISLAM.

MESJID QIBLATAIN SAKSI SEJARAH ADANYA HUKUM NASAKH DALAM ISLAM.

Masjid Qiblatain artinya masjid dengan dua arah kiblat. Lokasinya sekitar 7 km dari pusat kota Madinah. Penamaan masjid ini berakar dari peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu perpindahan arah kiblat kaum muslimin pada tahun ke-2 Hijriah dari Masjid Al-Aqsa di Palestina menuju Ka'bah di Makkah.
Pada awalnya Rasulullah SAW dan para sahabat hampir selama 16 atau 17 bulan melaksanakan salat menghadap Baitul Maqdis. Namun seiring berjalannya waktu orang-orang Yahudi di Madinah sering mencemooh Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa ajaran Muhammad mengikuti kiblat Yahudi.
Mendengar celaan tersebut muncul keinginan di dalam hati Rasulullah SAW agar kiblat dipindahkan ke arah Ka’bah, kiblat Nabi Ibrahim AS. Akan tetapi beliau tidak berani memintanya secara langsung kepada Allah karena adab dan rasa malu beliau kepada Rabb-nya.
Allah Yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya kemudian menurunkan firman-Nya:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Artinya:
“Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” (QS. Al-Baqarah: 144)
Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW sedang melaksanakan salat Zuhur. Pada rakaat kedua beliau langsung berputar arah dari menghadap Baitul Maqdis menuju Ka’bah dan para sahabat pun mengikuti beliau.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
Artinya:
“Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Peristiwa besar inilah yang kemudian menjadi tonggak sejarah adanya hukum nasakh dalam syariat Islam.
Karena peristiwa tersebut masjid yang awalnya bernama Masjid Bani Salamah kemudian dikenal dengan nama Masjid Qiblatain. Sebagai penghormatan terhadap sejarah itu dahulu terdapat dua mihrab:
1. Mihrab pertama mengarah ke Baitul Maqdis sebagai simbol hukum yang mansukh (diganti).
2. Mihrab kedua mengarah ke Ka’bah sebagai simbol hukum naasikh (pengganti).

Ketika kiblat berubah orang-orang Yahudi semakin keras mencela Islam. Mereka mengatakan bahwa Tuhan yang disembah Muhammad berubah-ubah dan tidak memiliki pendirian. Maka Allah langsung menjawab tuduhan mereka dengan firman-Nya:
مَا نَنسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya, pasti Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106)

Dari sinilah lahir satu disiplin ilmu penting dalam syariat Islam yang disebut ilmu Nasakh wa Mansukh.
Pengertian Nasakh
Nasakh secara bahasa berarti menghapus, memindahkan, atau mengganti. Sedangkan secara istilah:
رفع حكم شرعي بدليل شرعي متأخر
Artinya:
“Menghapus atau mengganti hukum syariat dengan hukum syariat yang datang setelahnya.”
Rukun Nasakh
1. Naasikh → hukum yang datang kemudian sebagai pengganti.
2. Mansukh → hukum sebelumnya yang diganti.

Pembagian Nasakh
1. Nasakh Tilawah dan Hukumnya Sekaligus
Artinya bacaan ayat dan hukumnya sama-sama dihapus.
Di antara dalilnya adalah hadits Sayyidina Umar RA:
إِنَّ اللَّهَ بَعَثَ مُحَمَّدًا ﷺ بِالْحَقِّ، وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ، فَكَانَ مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ آيَةُ الرَّجْمِ، فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا، فَرَجَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad ﷺ dengan kebenaran dan menurunkan Al-Kitab kepadanya. Di antara yang Allah turunkan adalah ayat rajam. Kami membacanya, memahaminya dan menghafalnya. Rasulullah ﷺ melaksanakan hukum rajam dan kami pun melaksanakannya setelah beliau.” (HR. Sahih Muslim)

2. Nasakh Tilawah Duna al-Hukm
Bacaannya dihapus tetapi hukumnya tetap berlaku.
Contohnya adalah ayat rajam bagi pezina muhshan. Lafaz ayatnya tidak lagi dibaca dalam mushaf Al-Qur’an tetapi hukumnya tetap berlaku berdasarkan sunnah.
Rasulullah SAW bersabda:
خُذُوا عَنِّي، خُذُوا عَنِّي، قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا، الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ، وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ
Artinya:
“Ambillah dariku, ambillah dariku, sungguh Allah telah memberikan jalan bagi mereka; bujang dengan gadis dihukum seratus cambukan dan diasingkan setahun, sedangkan yang sudah menikah dengan yang sudah menikah dihukum seratus cambukan dan rajam.” (HR. Sahih Muslim)

3. Nasakh Hukum Duna Tilawah
Hukumnya dihapus tetapi bacaannya tetap ada dalam Al-Qur’an.
Contohnya adalah perubahan kewajiban menghadapi musuh:
Awalnya satu orang muslim diwajibkan menghadapi sepuluh orang kafir:
إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ (QS. Al-Anfal: 65)
Kemudian Allah meringankan menjadi satu melawan dua:
الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنكُمْ (QS. Al-Anfal: 66)
Contoh lain adalah tahapan pengharaman khamar:
Tahap pertama dijelaskan mudarat dan manfaatnya:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ (QS. Al-Baqarah: 219)
Tahap kedua dilarang mendekati salat dalam keadaan mabuk:
لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَىٰ (QS. An-Nisa: 43)
Tahap terakhir diharamkan secara total:
إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ (QS. Al-Ma’idah: 90)
Tentang hikmah bertahapnya syariat ini Sayyidah Aisyah RA berkata:
إِنَّمَا نَزَلَ أَوَّلَ مَا نَزَلَ مِنْهُ سُورَةٌ مِنَ الْمُفَصَّلِ فِيهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الإِسْلاَمِ نَزَلَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ، وَلَوْ نَزَلَ أَوَّلَ شَيْءٍ لاَ تَشْرَبُوا الْخَمْرَ، لَقَالُوا لاَ نَدَعُ الْخَمْرَ أَبَدًا
Artinya:
“Yang pertama kali turun adalah surat-surat pendek yang di dalamnya terdapat penyebutan surga dan neraka. Hingga ketika manusia telah mantap memeluk Islam turunlah hukum halal dan haram. Seandainya yang pertama turun adalah larangan khamar niscaya mereka akan berkata: kami tidak akan meninggalkan khamar selamanya.” (HR. Sahih Bukhari)

Hikmah Perpindahan Kiblat dan Adanya Nasakh

1. Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya walau tidak diucapkan.
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ
(QS. Al-Ahzab: 51)

2. Rasulullah SAW adalah manusia paling dicintai Allah sehingga banyak keinginan beliau dipenuhi Allah.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
(QS. Al-Qalam: 4)

3. Seluruh syariat Allah penuh hikmah untuk menolak kerusakan dan menghadirkan kemaslahatan.
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
(QS. Al-Baqarah: 185)

4. Allah mendidik manusia secara bertahap dan inilah metode tarbiyah ilahiyah yang sangat agung.

5. Awalnya kiblat menghadap Baitul Maqdis memberi isyarat bahwa risalah Nabi Muhammad SAW tersambung dengan risalah Nabi Ibrahim AS dan para nabi terdahulu.

6. Palestina dan Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan mulia dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Artinya:
“Tidak dianjurkan melakukan perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsa.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Karena itu Palestina bukan hanya persoalan politik tetapi bagian dari sejarah aqidah dan kemuliaan umat Islam.
Semoga Allah menjaga Masjid Al-Aqsa, memuliakan kaum muslimin, dan menguatkan kecintaan kita kepada syariat-Nya. Aamiin.