Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Kamis, 30 April 2026

HUKUM MENCICIL ADUS

Mencicil Mandi Besar, Apakah Sah?

Keterbatasan air, hawa dingin, atau lainnya kadang menyebabkan seseorang merasa perlu tak menunda basuhan ke tubuh secara keseluruhan.

Sudah maklum bahwa mandi besar merupakan hal yang wajib dilakukan bagi orang yang junub atau memiliki hadats besar. Kewajiban dalam mandi besar ini salah satunya adalah membasuh seluruh badan secara merata.

Lazimnya seseorang dalam melaksanakan mandi besar adalah tidak akan menyudahi mandinya sebelum seluruh tubuhnya basah oleh siraman air dalam satu waktu yang sama. 
Namun jika ada orang yang ingin mencicil membasuh tubuhnya dalam mandi besar karena suatu hal, apakah diperbolehkan? Misalnya ketika tengah malam, ia membasuh kepala dan rambutnya saja, lalu ketika subuh ia menyempurnakan mandi dengan membasuh anggota tubuh yang lain dengan tanpa membasuh anggota yang sudah ia basuh tatkala tengah malam. Apakah cara mandi demikian dianggap sah sebagai mandi besar?

Dalam pembahasan thaharah (bersuci dari hadats), terdapat pembahasan khusus yang berkaitan dengan permasalahan mencicil mandi, yakni pembahasan tentang al-muwalah atau yang biasa diartikan dengan membasuh secara beriringan (berturut-turut, tanpa jeda lama, red). 
Al-Muwalah ini diartikan secara lengkap oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh:

الموالاة أو الولاء: هي متابعة أفعال الوضوء بحيث لا يقع بينها ما يعد فاصلا في العرف، أو هي المتابعة بغسل الأعضاء قبل جفاف السابق، مع الاعتدال مزاجا وزمانا ومكانا ومناخا

“al-Muwalah atau al-Wala’ adalah beriringannya membasuh anggota wudhu sekiranya di antara anggota tersebut tidak terjadi pemisah secara urf. 
Al-Muwalah dapat juga diartikan beriringannya membasuh anggota tubuh sebelum keringnya anggota yang sebelumnya telah dibasuh, besertaan keadaan, waktu, tempat dan iklim yang normal” (Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, juz 1, hal. 385).

Muwalah dalam mandi ataupun wudhu’ dalam mazhab Syafi’i memiliki ketentuan hukum yang sama, yakni sunnah. 
Dalam kitab al-Majmu’ ala syarh al-Muhadzab dijelaskan:

وَأَمَّا مُوَالَاةُ الْغُسْلِ فَالْمَذْهَبُ أَنَّهَا سُنَّةٌ وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُهَا فِي بَابِ صِفَةِ الْوُضُوءِ

“Adapun beriringan (muwalah) dalam mandi, menurut (pendapat yang kuat) mazhab Syafi’i adalah sunnah, penjelasan tentang ini telah dijelaskan dalam bab tentang sifat-sifat wudhu’” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 2, hal. 184).

Dasar kesunnahan muwalah dalam wudhu’ dan mandi besar ini berpijak pada salah satu hadits mauquf dari sahabat Ibnu ‘Umar:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ تَوَضَّأَ فِي السُّوقِ، فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، ثُمَّ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ بَعْدَ مَا جَفَّ وُضُوءُهُ وَصَلَّى

“Ibnu Umar berwudhu’ di pasar, ia membasuh dua tangan, wajah dan kedua lengannya sebanyak tiga kali, lalu masuk ke masjid dan mengusap dua selopnya setelah wudhu’nya kering, lalu ia shalat” (HR. Baihaqi).

Sedangkan ketika persoalan tentang muwalah ini disikapi dalam lintas mazhab, rupanya para ulama berbeda pendapat terkait status hukum muwalah dalam mandi besar. 
Mazhab Maliki berpandangan bahwa muwalah dalam mandi adalah hal yang wajib, sehingga jika seseorang membasuh anggota tubuhnya dalam mandi besar tidak dilakukan secara beriringan atau dilakukan secara dicicil, sekiranya dipisah dalam rentang waktu yang lama, maka wajib mengulang kembali basuhan mandi dari awal. 
Tiga mazhab yang lain berpandangan bahwa muwalah dalam mandi adalah hal yang disunnahkan. Namun menurut mazhab Hanbali, wajib mengulang kembali niat tatkala membasuh basuhan kedua, setelah mengeringnya basuhan pertama. 
Penjelasan demikian terangkum dalam kitab  al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الْمُوَالاَةِ هَل هِيَ مِنْ فَرَائِضِ الْغُسْل أَوْ مِنْ سُنَنِهِ؟ فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى سُنِّيَّةِ الْمُوَالاَةِ فِي غَسْل جَمِيعِ أَجْزَاءِ الْبَدَنِ لِفِعْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

وَنَصَّ الْحَنَابِلَةُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا فَاتَتِ الْمُوَالاَةُ قَبْل إِتْمَامِ الْغُسْل، بِأَنْ جَفَّ مَا غَسَلَهُ مِنْ بَدَنِهِ بِزَمَنٍ مُعْتَدِلٍ وَأَرَادَ أَنْ يُتِمَّ غُسْلَهُ - جَدَّدَ لإِتْمَامِهِ نِيَّةً وُجُوبًا، لاِنْقِطَاعِ النِّيَّةِ بِفَوَاتِ الْمُوَالاَةِ، فَيَقَعُ غَسْل مَا بَقِيَ بِدُونِ نِيَّةٍ.

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْمُوَالاَةَ مِنْ فَرَائِضِ الْغُسْل

“Para ulama fiqih berbeda pendapat mengenai beriringan (al-Muwalah) apakah merupakan bagian dari kewajiban mandi atau kesunnahan mandi? Mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali berpandangan tentang kesunnahan Muwalah dalam membasuh seluruh anggota badan, berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ulama Hanabilah menegaskan bahwa ketika muwalah tidak dilaksanakan oleh seseorang sebelum sempurnanya basuhan mandi, sekiranya anggota yang dibasuh menjadi kering sebab adanya jarak waktu yang normal dan ia ingin menyempurnakan basuhannya, maka ia wajib memperbarui niatnya pada saat menyempurnakan basuhannya, sebab terputusnya niat dengan tidak ber-muwalah, maka basuhan yang masih tersisa dianggap terlaksana tanpa adanya niat. 
Sedangkan menurut mazhab maliki, muwalah merupakan kewajiban mandi” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 31, hal. 210).

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mencicil mandi besar adalah hal yang diperbolehkan dan sah sebagai basuhan mandi besar menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i. 
Bahkan tetap sah meskipun sampai basuhan yang awal mengering pada saat melanjutkan basuhan pada anggota lain yang tersisa, sebab muwalah bukanlah kewajiban dalam mandi besar.

Meski begitu, sebaiknya seseorang menandai dengan seksama batas basuhan awal yang telah diniati sebagai mandi besar. 
Hal ini dimaksudkan agar tidak ada anggota tubuh yang tidak terbasuh oleh air pada saat menyempurnakan basuhan kedua karena basuhan awal sudah mengering. 
Jika seseorang ragu-ragu apakah bagian anggota tubuh telah dibasuh pada saat basuhan awal atau belum dibasuh, maka wajib untuk membasuh anggota tersebut. 
______________________________

ADUS BISA DICICIL
merupakan pendapat dalam mazhab Hanbali. 
Berikut penjelasan lengkapnya agar tidak disalahpahami.

# 📜 1. Teks Arab

> وَنَصَّ الْحَنَابِلَةُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا فَاتَتِ الْمُوَالاَةُ قَبْل إِتْمَامِ الْغُسْل، بِأَنْ جَفَّ مَا غَسَلَهُ مِنْ بَدَنِهِ بِزَمَنٍ مُعْتَدِلٍ وَأَرَادَ أَنْ يُتِمَّ غُسْلَهُ - جَدَّدَ لإِتْمَامِهِ نِيَّةً وُجُوبًا، لاِنْقِطَاعِ النِّيَّةِ بِفَوَاتِ الْمُوَالاَةِ، فَيَقَعُ غَسْل مَا بَقِيَ بِدُونِ نِيَّةٍ.

📚 **Referensi:**
Kitab *Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah*, jilid 31 hlm. 210 ([NU Online][1])

# 📖 2. Terjemahan

> “Mazhab Hanbali menegaskan bahwa jika muwalah (berurutan/berkesinambungan) terputus sebelum mandi selesai—yaitu bagian tubuh yang sudah dibasuh menjadi kering dalam waktu yang wajar—lalu ia ingin menyempurnakan mandinya, maka ia **wajib memperbarui niat** untuk menyempurnakannya.
> Karena niat terputus akibat hilangnya muwalah, maka basuhan yang tersisa dianggap terjadi tanpa niat.”

# 🧠 3. Penjelasan Makna

Ada 3 poin penting dari teks ini:

### 1. Apa itu **muwalah (الموالاة)**

👉 Muwalah = membasuh anggota tubuh **secara berurutan tanpa jeda lama**.

### 2. Jika mandi “terputus”

Misalnya:

* mandi sebagian badan
* berhenti lama sampai kering
* lalu lanjut lagi

👉 Dalam mazhab Hanbali:

* **niat awal dianggap terputus**
* harus **niat ulang** saat melanjutkan

### 3. Konsekuensi jika tidak niat ulang

👉 Sisa mandi:

* dianggap **tanpa niat**
* sehingga **tidak sah sebagai mandi wajib**

---

# ⚖️ 4. Perbandingan Pendapat Ulama

### 🔹 Mazhab Syafi’i, Hanafi, Hanbali

* Muwalah = **tidak wajib (sunnah)**
* Mandi boleh “dicicil”
* Tapi Hanbali: **harus niat ulang jika jeda lama** ([BincangSyariah][2])

### 🔹 Mazhab Maliki

* Muwalah = **WAJIB**
* Kalau terputus lama →
  ❌ harus **ulang dari awal** ([Liputan6][3])

# 🧾 5. Kesimpulan Hukum “mencicil mandi besar”

👉 Ada rincian:

### ✔ Menurut Syafi’i (yang banyak di Indonesia)

* **BOLEH**
* meski terpisah waktu
* bahkan jika sudah kering tetap sah ([NU Online][4])

### ✔ Menurut Hanbali

* **BOLEH dengan syarat**

  * kalau jeda lama → **niat ulang**

### ❌ Menurut Maliki

* **TIDAK BOLEH**
* harus sambung tanpa jeda

# 🔚 Kesimpulan Ringkas

* “Mencicil mandi besar” → **diperselisihkan**
* Pendapat kuat di Syafi’i: ✔ **sah**
* Hanbali: ✔ sah tapi **harus niat ulang**
* Maliki: ❌ tidak sah jika terputus lama

Wallahu a’lam.

Rabu, 29 April 2026

JEMA'AH HAJI BOLEH MIQOT IHROM DIHOTEL MAKKAH

Apakah boleh miqot haji bagi jemaah haji bisa dihotel.

Ya, boleh—dan memang itu yang dilakukan jemaah haji sekarang dalam kondisi tertentu.

Penjelasannya:

📍 Miqat haji di hotel (di Makkah)
Untuk jemaah haji yang sudah berada di Makkah (tinggal di hotel) menjelang puncak haji:

Mereka boleh berihram (niat haji) dari hotel masing-masing.

Ini karena status mereka dianggap seperti penduduk Makkah (mukimin). 

Jadi miqatnya mengikuti miqat orang Makkah, yaitu dari tempat tinggalnya (misalnya hotel). 

👉 Praktiknya:
Sebelum berangkat ke Arafah (8 Dzulhijjah), jemaah:

mandi, pakai ihram

lalu niat haji dari hotel

⚠️ Tapi perlu dibedakan
Jangan tertukar dengan kondisi lain:

Saat pertama masuk Makkah (umrah wajib haji)

Harus ambil miqat di tempat yang ditentukan (misalnya Bir Ali atau Yalamlam), bukan di hotel.

Saat haji (menuju Arafah)

Kalau sudah di Makkah → boleh miqat dari hotel

🧠 Kesimpulan
✔️ Boleh miqat di hotel → khusus untuk ihram haji bagi jemaah yang sudah tinggal di Makkah

❌ Tidak boleh sembarangan → untuk umrah atau saat belum masuk Makkah tetap harus di miqat yang ditentukan

Kalau mau, saya bisa jelaskan perbedaan miqat haji vs umrah biar makin jelas 👍


Dalil arab dan terjemahnya berikut referensinya

Berikut dalil (Arab), terjemah, dan referensi yang menjadi dasar bahwa orang yang sudah berada di Makkah (misalnya di hotel) boleh berihram haji dari tempat tinggalnya:

📜 1. Dalil Hadis (Arab)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda:

وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمُهَلُّهُ مِنْ أَهْلِهِ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا

📖 Terjemah
“Barang siapa berada di dalam batas miqat (lebih dekat ke Makkah), maka ia memulai ihram dari tempat tinggalnya, hingga penduduk Makkah berihram dari Makkah.” 

📚 Referensi
Hadis riwayat Sahih al-Bukhari 

Juga diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) 

🧠 Penjelasan Ulama
Dalam penjelasan para ulama disebutkan:

فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمُهَلُّهُ مِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ
“Barang siapa berada di dalam miqat, maka miqatnya dari tempat ia memulai.” 

Artinya:

Orang yang sudah di dalam wilayah miqat (termasuk Makkah)

Maka boleh berihram dari tempatnya (rumah/hotel)

✅ Kesimpulan Fikih
Jemaah haji yang sudah tinggal di Makkah (hotel)
➜ Miqatnya dari tempat tinggalnya (hotel)

Ini berdasarkan hadis shahih di atas

Karena mereka dihukumi seperti penduduk Makkah.


Dalil Kaul ulamanya
____________________

Berikut qaul (pendapat) para ulama yang secara tegas menjelaskan bahwa orang yang sudah berada di Makkah (termasuk tinggal di hotel) boleh berihram haji dari tempatnya:

📚 1. Qaul Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Dalam Syarh ‘Umdatul Fiqh disebutkan:

فَأَمَّا أَهْلُ مَكَّةَ: فَإِنَّهُمْ يُحْرِمُونَ بِالْحَجِّ مِنْ مَكَّةَ، كَمَا فِي الْحَدِيثِ: "حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا"

Terjemah:
“Adapun penduduk Makkah, maka mereka berihram haji dari Makkah, sebagaimana dalam hadis: ‘hingga penduduk Makkah berihram dari Makkah’.” 

➡️ Ini menunjukkan:

Miqat mereka adalah tempat mereka berada di Makkah (rumah/hotel)

📚 2. Qaul Jumhur Ulama (Mayoritas)
Dalam fatwa ulama disebutkan:

أَهْلُ مَكَّةَ يُحْرِمُونَ بِالْحَجِّ مِنْ دِيَارِهِمْ

Terjemah:
“Penduduk Makkah berihram haji dari tempat tinggal mereka.” 

➡️ Makna “di rumah mereka”:

Tidak harus di Ka’bah

Cukup dari tempat tinggal (termasuk hotel bagi jamaah)

📚 3. Qaul Al-Hafizh Ibnu Hajar (Syarah Hadis)
Beliau menjelaskan hadis:

لَا يَحْتَاجُونَ إِلَى الْخُرُوجِ إِلَى الْمِيقَاتِ، بَلْ يُحْرِمُونَ مِنْ مَكَّةَ

Terjemah:
“Mereka tidak perlu keluar ke miqat, tetapi berihram dari Makkah.” 

➡️ Artinya:

Tidak wajib ke Bir Ali / Yalamlam

Cukup dari dalam Makkah (hotel termasuk)

📚 4. Qaul Ulama Kontemporer (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)
Beliau berkata:

مَنْ كَانَ بِمَكَّةَ وَأَرَادَ الْحَجَّ يُحْرِمُ مِنْ مَوْضِعِهِ

Terjemah:
“Siapa yang berada di Makkah dan ingin haji, maka ia berihram dari tempatnya.” 

🧠 Kesimpulan Qaul Ulama
Semua ulama sepakat (ijma’ praktis):

✔️ Haji: dari dalam Makkah (rumah/hotel)

❌ Tidak perlu keluar ke miqat luar

Dasarnya:

Hadis “حتى أهل مكة يهلون منها”

Dipahami oleh para ulama sebagai:
➜ miqatnya = tempat tinggal

🔑 Inti Jawaban
👉 Jadi:

Jemaah haji yang sudah di Makkah

Tinggal di hotel
➡️ Boleh dan sah berihram dari hotel

Kalau mau, saya bisa tambahkan juga pendapat 4 mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali) biar lebih lengkap dan sistematis.


Bagai mana kalau mau umroh sesudah rangkaian haji boleh tidak miqot ihromnya dihotel

Jawaban singkatnya: ❌ tidak boleh miqat umrah dari hotel (dalam Makkah) setelah selesai haji.

Harus keluar dulu ke tanah halal (luar batas haram), baru ihram dari sana.

📜 Dalil & penjelasan ulama
1. Perintah Nabi ﷺ kepada Aisyah
Dalam hadis sahih disebutkan:

أَمَرَ النَّبِيُّ ﷺ عَائِشَةَ أَنْ تَعْتَمِرَ مِنَ التَّنْعِيمِ

Terjemah:
“Nabi ﷺ memerintahkan Aisyah untuk umrah dari Tan’im (luar tanah haram).” 

➡️ Kondisi Aisyah:

Sudah berada di Makkah

Ingin umrah

Tidak disuruh ihram dari Makkah, tapi disuruh keluar dulu

📚 2. Qaul ulama (ijma’)
Para ulama menjelaskan:

Penduduk Makkah berihram untuk umrah dari luar tanah haram seperti Tan’im 

Dan disebutkan juga:

Ulama 4 mazhab sepakat (ijma’)

Orang yang di Makkah jika ingin umrah → harus keluar ke tanah halal 

🧠 Kenapa tidak boleh dari hotel?
Karena:

Umrah harus menggabungkan:

Tanah halal (awal ihram)

Tanah haram (pelaksanaan thawaf & sa’i)

Kalau ihram dari hotel (masih داخل الحرم):
➡️ Tidak memenuhi syarat ini

📍 Praktik yang benar
Setelah selesai haji, kalau mau umrah lagi:

Keluar dari Makkah ke:

Tan’im (Masjid Aisyah) → paling dekat

Ji’ranah

Hudaibiyah

Di sana:

Pakai ihram

Niat umrah

Masuk kembali ke Makkah untuk umrah

✅ Kesimpulan
❌ Tidak sah miqat umrah dari hotel di Makkah

✔️ Harus keluar ke tanah halal (seperti Tan’im)

✔️ Ini berdasarkan:

Hadis Nabi ﷺ (kasus Aisyah)

Ijma’ ulama.


Kenapa haji boleh niat ihrom dihotel, ketika umroh tidak boleh.
____________________________

Pertanyaan ini bagus—dan memang sering bikin bingung.
Jawaban singkatnya:

👉 Karena aturan syariatnya berbeda (bukan sekadar logika), dan hikmahnya juga berbeda antara haji dan umrah.

Sekarang kita jelaskan dengan dalil + logika fiqihnya 👇

📌 1. Perbedaan hukum dasarnya
Para ulama menjelaskan:

Haji: boleh ihram dari dalam Makkah

Umrah: tidak boleh ihram dari dalam Makkah (harus keluar)

Disebutkan:

“Penduduk Mekah ihram dari Mekah hanya untuk haji…
Adapun umrah, maka harus keluar ke tanah halal.” 

📜 2. Kenapa haji boleh dari hotel?
Karena memang dalilnya langsung dari Nabi ﷺ:

حتى أهل مكة يهلون منها
“Penduduk Makkah berihram dari Makkah.”

➡️ Ini dipahami ulama:

Berlaku untuk haji (ifrad & qiran)

Jadi wajar jamaah di hotel → boleh langsung niat

📜 3. Kenapa umrah tidak boleh dari hotel?
Karena ada dalil khusus yang membatasinya:

👉 Kasus Aisyah رضي الله عنها
Nabi ﷺ tidak membolehkan beliau ihram dari Makkah, tapi:

أمرها أن تعتمر من التنعيم
“Beliau memerintahkan Aisyah umrah dari Tan’im.”

➡️ Padahal:

Aisyah sudah di Makkah

Tapi tetap disuruh keluar dulu

🧠 4. Hikmah (alasan fiqihnya)
Ini poin paling penting:

🔑 Umrah harus menggabungkan dua wilayah
Para ulama menjelaskan:

Ihram → dari tanah halal (luar haram)

Ibadah → di tanah haram (Makkah)

➡️ Jadi umrah itu:
menggabungkan halal + haram

Makanya:

Kalau mulai dari hotel (masih tanah haram) ❌ tidak sah menurut jumhur

🔑 Sedangkan haji berbeda
Haji itu rangkaiannya:

Makkah → Arafah → Muzdalifah → Mina

➡️ Artinya:

Sudah pasti keluar masuk wilayah

Tidak perlu “dipaksa” mulai dari luar

Dan memang syariat memberi keringanan:
➡️ boleh mulai dari dalam Makkah

📊 Ringkas biar jelas
Ibadah Miqat bagi yang di Makkah Kenapa
Haji Dari hotel / Makkah ✅ Ada dalil langsung
Umrah Harus keluar (Tan’im dll) ❌ Harus gabung halal + haram
🔥 Inti paling sederhana
Haji → fleksibel (boleh dari dalam Makkah)

Umrah → harus dari luar Makkah

Bukan karena lebih berat/ringan, tapi karena:
👉 memang beda aturan dari Nabi ﷺ


Kalau haji tamatu bolehkah niat ihromnya dihotel makkah
____________________________

✅ Jawaban tegasnya: YA, boleh.
Dalam haji tamattu’, niat ihram haji (yang kedua) boleh dilakukan dari hotel di Makkah.

📌 Penjelasan khusus haji tamattu’
Dalam haji tamattu’ urutannya:

Umrah dulu (dari miqat luar)

Tahallul (lepas ihram)

Tinggal di Makkah (hotel)

Tanggal 8 Dzulhijjah → niat ihram haji

➡️ Nah, pada poin ke-4 inilah pertanyaan Anda.

📍 Dalil & dasar hukumnya
📜 Hadis Nabi ﷺ
وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمُهَلُّهُ مِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

Artinya:
“Siapa yang berada di dalam miqat, maka ihramnya dari tempat ia memulai, bahkan penduduk Makkah dari Makkah.” 

📚 Penjelasan ulama
Orang yang sudah berada di Makkah (termasuk jamaah tamattu’)
➡️ dihukumi seperti penduduk Makkah (mukim)

Sehingga:

Miqat hajinya = dari tempat tinggalnya (hotel)

📍 Praktik nyata jamaah haji
Jamaah haji Indonesia juga melakukan ini:

Niat ihram haji langsung dari hotel di Makkah

Karena statusnya sudah seperti mukimin 

🧠 Kenapa boleh (khusus tamattu’)?
Karena:

Saat haji dimulai → Anda sudah berada di Makkah

Maka masuk dalam kaidah:
👉 “yang داخل miqat → ihram dari tempatnya”

➡️ Ini berlaku untuk:

Haji tamattu’

Haji ifrad

Haji qiran

⚠️ Jangan tertukar
Tahapan Miqat
Umrah (awal tamattu’) ❌ dari hotel → harus di miqat luar
Haji (tgl 8 Dzulhijjah) ✅ boleh dari hotel
✅ Kesimpulan
👉 Dalam haji tamattu’:

✔️ Niat ihram haji boleh dari hotel di Makkah

✔️ Sah dan sesuai sunnah

✔️ Diamalkan oleh ulama & jamaah haji.

Selasa, 28 April 2026

AIR LIYUR BURUNG WALET

AIR LIUR BURUNG WALET

Air liur / sarang burung walet apakah suci? 

Jawaban
Cairan yang merembes keluar dari tubuh setiap hewan yang suci, seperti keringat, air liur, air mata, maupun ingus, maka hukumnya adalah suci.

Referensi

[موهبة ذي الفضل ١/٤٦٢]
ومترشح كل حيوان طاهر كعرق ولعاب أى ودمع ومخاط فطاهرة. 

Artinya: "Cairan yang merembes keluar dari tubuh setiap hewan yang suci, seperti keringat, air liur, air mata, maupun ingus, maka hukumnya adalah suci".

[ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ - ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ ج ٥ ص ٧٢]
ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﺇﻥ ﻣﺎ ﺍﻧﻔﺼﻞ ﻋﻦ ﺑﺎﻃﻦ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﻭﺍﺳﺘﺤﺎﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺮﺷﺢ ﺭﺷﺤﺎ ﻛﺎﻟﻠﻌﺎﺏ ﻭﺍﻟﺪﻣﻊ ﻭﺍﻟﻌﺮﻕ ﻭﺍﻟﻤﺨﺎﻁ ، ﻓﻠﻪ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻤﺘﺮﺷﺢ ﻣﻨﻪ ، ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻧﺠﺴﺎ ﻓﻨﺠﺲ ، ﻭﺇﻻ ﻓﻄﺎﻫﺮ

Artinya: "Menurut ulama Syafi‘iyah, hukum cairan yang keluar dari dalam tubuh hewan dibedakan berdasarkan cara keluarnya:

Cairan yang hanya merembes keluar tanpa berkumpul dan berubah di dalam perut
   Ini seperti keringat, air liur, air mata, dan ingus. Cairan jenis ini disebut al-mutarasyyah. Hukumnya mengikuti hukum hewan yang mengeluarkan cairan tersebut.  
   - Jika hewannya suci dan halal dimakan, maka cairan yang keluar darinya juga suci.  
   - Jika hewannya najis, maka cairan yang keluar darinya juga najis".

#ngajifiqih #ngaji

HUKUM PINJAM UANG DIBANK

HUKUM PINJAM UANG DI BANK

Apa hukum nya pinjam uang di bank?

Jawaban
Boleh saja selama tidak ada unsur "riba". 
Ketentuan "riba" itu yang menentukan adalah aqadnya, bukan bank atau bunganya, yang penting tidak ada kesepakatan saat akad, untuk mengembalikan dengan ada kelebihan.

[إعانة الطالبين الجزء ٣ ص: ٥٣]
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا وجبر ضعفه مجيء معناه عن جمع من الصحابة ومنه القرض لمن يستأجر ملكه أي مثلا بأكثر من قيمته لأجل القرض إن وقع ذلك شرطا إذ هو حينئذ حرام إجماعا وإلا كره عندنا وحرام ثم كثير من العلماء قاله السبكي
(قوله جر نفع لمقرض) أي وحده أو مع مقترض كما في النهاية (قوله ففاسد) قال ع ش ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد اهـ والحكمة في الفساد أن موضوع القرض الإرفاق فإذا شرط فيه لنفسه حقا خرج عن موضوعه فمنع صحته . اهـ

Artinya: Adapun pinjaman dengan syarat mendatangkan manfaat bagi orang yang memberi pinjaman, maka hukumnya fasid, berdasarkan hadis: "Setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka ia adalah riba." 
Hadits ini diperkuat oleh maknanya yang datang dari sejumlah sahabat.

Termasuk dalam hal ini adalah pinjaman kepada orang yang menyewakan miliknya kepada pemberi pinjaman, misalnya dengan harga sewa yang lebih tinggi dari nilai sebenarnya, karena adanya pinjaman tersebut, jika hal itu dijadikan syarat. Jika demikian, maka hukumnya haram secara ijmak.

Jika tidak dijadikan syarat dalam akad, maka menurut kami hukumnya makruh. Namun menurut banyak ulama hukumnya haram. 
Pendapat ini disampaikan oleh as-Subki.

[Penjelasan perkataan: "mendatangkan manfaat bagi orang yang memberi pinjaman"]
Yakni manfaat itu hanya untuk pemberi pinjaman saja, atau untuk pemberi pinjaman beserta peminjam, sebagaimana disebutkan dalam an-Nihaayah.
[Penjelasan perkataan: "maka hukumnya fasid"]
Al-‘Alaamah asy-Syarwani berkata: Sudah dimaklumi bahwa letak kerusakan akad itu adalah ketika syarat tersebut dicantumkan dalam inti akad. 
Adapun jika keduanya saling bersepakat atas hal itu tanpa dicantumkan sebagai syarat dalam akad, maka akadnya tidak rusak.
Hikmah dari kerusakan akad tersebut adalah karena inti dari pinjaman adalah untuk memberi kemudahan dan pertolongan. 
Maka apabila dalam pinjaman itu disyaratkan adanya hak untuk dirinya sendiri, berarti pinjaman itu telah keluar dari tujuan aslinya, sehingga hal itu mencegah sahnya akad. Selesai.
(I'anah at-Tholibiin Juz 3 Hal 53)

Solusi:
Hukum meminjam uang di bank secara agama memang bertentangan dengan syariat kecuali bila tidak disebutkan adanya bunga dalam aqad meskipun itu tidak ada ijab qabul antara pihak Bank dan peminjam. 
Namun keberadaan Bank yang diperlakukan dalam rangka membangun taraf kehidupan masyarakat memang masih teramat diperlukan. 
Untuk menghindari terjadinya ribawi dalam perbankan terdapat beberapa solusi secara fiqh :

1.Hindari terjadi bunga dalam akad
2.Bila memungkinkan jalani akad dengan dua majlis
3.Bunga dijanjikan dengan cara nadzar atau hibah atau lainnya.

[إعانة الطالبين ج ٣ ص ٥٣]
( و ) جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض لقوله صلى الله عليه وسلم إن خياركم أحسنكم قضاء ولا يكره للمقرض أخذه كقبول هديته ولو في الربوي
والأوجه أن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية وأن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا أنه الذي عليه حلف ورجع فيه
( قوله ولو في الربوي ) غاية لعدم الكراهة
أي لا يكره أخذ الزائد ولو وقع القرض في الربوي كالنقد ( قوله والأوجه أن المقرض يملك الزائد إلخ ) أي ولو كان متميزا كأن اقترض دراهم فردها ومعها نحو سمن
( قوله من غير لفظ ) أي إيجاب وقبول
( قوله لأنه وقع تبعا ) علة لكون الزائد يملك من غير لفظ أي وإنما يملك كذلك لأنه تابع للشيء المقترض
( قوله وأيضا فهو ) أي الزائد
( وقوله يشبه الهدية ) أي وهي تملك من غير لفظ

Artinya: Dan diperbolehkan bagi orang yang memberi pinjaman untuk mendapatkan manfaat yang sampai kepadanya dari orang yang meminjam, seperti pengembalian yang lebih banyak secara jumlah atau sifat, atau yang lebih baik kualitasnya daripada barang yang buruk, tanpa adanya syarat dalam akad. 
Bahkan hal itu disunahkan bagi orang yang meminjam, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang." Dan tidak makruh bagi orang yang memberi pinjaman untuk mengambilnya, sebagaimana ia menerima hadiahnya, meskipun pinjaman tersebut pada barang ribawi.

Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa orang yang memberi pinjaman memiliki barang tambahan tersebut tanpa perlu adanya ucapan ijab dan kabul, karena barang tambahan itu terjadi sebagai pengikut. 
Juga karena hal itu menyerupai hadiah. 
Dan jika orang yang meminjam membayar lebih dari yang menjadi kewajibannya, lalu ia mengaku bahwa ia membayar itu karena menyangka bahwa itulah yang menjadi kewajibannya, maka ia boleh bersumpah dan mengambilnya kembali.

[Penjelasan perkataan: "walaupun pada barang ribawi"] 
Ini adalah batasan untuk tidak dimakruhkan.  
Artinya, tidak makruh mengambil tambahan tersebut meskipun pinjaman itu terjadi pada barang ribawi seperti mata uang.
[Penjelasan perkataan: "Pendapat yang lebih kuat bahwa orang yang memberi pinjaman memiliki tambahan tersebut, dst."]
Yakni meskipun barang tambahan itu terpisah, seperti seseorang meminjam dirham lalu ia mengembalikannya beserta sesuatu seperti minyak samin.
[Penjelasan perkataan: "tanpa perlu adanya ucapan"]
Maksudnya tanpa ijab dan kabul.
[Penjelasan perkataan: "karena hal itu terjadi sebagai pengikut"]
Ini adalah alasan mengapa barang tambahan dapat dimiliki tanpa ucapan. Yaitu, ia dapat dimiliki demikian karena ia merupakan sesuatu yang mengikuti barang yang dipinjam.
[Penjelasan perkataan: "juga karena hal itu"]
Yakni barang tambahan tersebut.
[Penjelasan perkataan: "menyerupai hadiah"]
Yakni hadiah itu dapat dimiliki tanpa perlu ucapan ijab dan kabul.
(I'anah at-Tholibiin Juz 3 Hal 53)

[غاية تلخيص المراد ص ١٢٩]
مسألة: اعطاء الربوي عند الاقتراض ولو للضرورة بحيث انه لو لم يعط لم يقرضه لا يدفع الاثم اذ له طريق الى حل اعطاء الزائد بطريق النذر او غيره من الاسباب المملكة لا سيما اذا قلنا بالمعتمد ان النذر لا يحتاج الى القبول لفظا.

Artinya: (Masalah): Memberikan tambahan berupa barang ribawi pada saat meminjam, meskipun dalam keadaan darurat, dengan ketentuan bahwa jika ia tidak memberikannya maka ia tidak akan diberi pinjaman, tidak dapat menghilangkan dosa. 
Sebab, sebenarnya masih ada jalan keluar yang halal untuk memberikan tambahan tersebut, yaitu melalui jalur nazar atau sebab-sebab lain yang dapat memindahkan kepemilikan. Terlebih lagi jika kita berpegang pada pendapat yang mu’tamad bahwa nazar tidak memerlukan penerimaan secara lisan.
(Ghooyah Talkhiish al-Muraad_ hal. 129)

[الأشباه والنظائر ج ١ ص ١٦٥]
الْمَبْحَثُ الثَّالِثُ الْعَادَةُ الْمُطَّرِدَةُ فِي نَاحِيَةٍ ، هَلْ تُنَزَّلُ عَادَتُهُمْ مَنْزِلَةَ الشَّرْطِ ، فِيهِ صُوَرٌ مِنْهَا : لَوْ جَرَتْ عَادَةُ قَوْمٍ بِقَطْعِ الْحِصْرِمِ قَبْلَ النُّضْجِ ، فَهَلْ تُنَزَّلُ عَادَتُهُمْ مَنْزِلَةَ الشَّرْطِ حَتَّى يَصِحَّ بَيْعُهُ مِنْ غَيْرِ شَرْطِ الْقَطْعِ .وَجْهَانِ ، أَصَحُّهُمَا : لَا وَقَالَ الْقَفَّالُ : نَعَمْ .وَمِنْهَا : لَوْ عَمَّ فِي النَّاسِ اعْتِيَادُ إبَاحَةِ مَنَافِعِ الرَّهْنِ لِلْمُرْتَهِنِ فَهَلْ يُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ شَرْطِهِ حَتَّى يَفْسُدَ الرَّهْنُ ، قَالَ الْجُمْهُورُ : لَا ، وَقَالَ الْقَفَّالُ : نَعَمْ .وَمِنْهَا : لَوْ جَرَتْ عَادَةُ الْمُقْتَرِضِ بِرَدِّ أَزْيَدَ مِمَّا اقْتَرَضَ ، فَهَلْ يُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ الشَّرْطِ ، فَيَحْرُمُ إقْرَاضُهُ وَجْهَانِ ، أَصَحُّهُمَا : لَا .

Artinya: 
Pembahasan Ketiga: Kebiasaan yang berlaku umum di suatu daerah, apakah kebiasaan tersebut disamakan kedudukannya dengan syarat?

Dalam hal ini ada beberapa contoh:
Pertama: Jika telah menjadi kebiasaan suatu kaum untuk memetik buah anggur yang masih mentah sebelum matang, apakah kebiasaan mereka itu disamakan dengan syarat, sehingga jual belinya sah meskipun tanpa disyaratkan harus dipetik?  
Ada dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih: Tidak. Sementara al-Qaffal berpendapat: Ya.

Kedua: Jika telah umum di kalangan masyarakat kebiasaan membolehkan pemanfaatan barang gadai oleh orang yang menerima gadai, apakah kebiasaan itu disamakan dengan syarat sehingga gadainya menjadi rusak?  
Jumhur ulama berpendapat: Tidak. Sementara al-Qaffal berpendapat: Ya.

Ketiga: Jika telah menjadi kebiasaan orang yang meminjam untuk mengembalikan lebih banyak dari yang ia pinjam, apakah kebiasaan itu disamakan dengan syarat sehingga meminjamkan kepadanya menjadi haram?  
Ada dua pendapat. Pendapat yang lebih sahih: Tidak.
(al-Asybah wa an-Nazhooir I/175)

والله أعلم بالصواب 

#ngajifiqih #muamalah#ulah eureunngaji

HUKUM MEMAMFAATKAN SAWAH GADAI

HUKUM MEMANFAATKAN SAWAH GADAI

DESKRIPSI MASALAH
Sudah menjadi kebiasaan dimasyarakat, kalo menggadai sawah. Maka sawah milik peminjam uang diberikan ke pemberi pinjaman dan di kelola pihak pemberi pinjaman semisal sampai kurung waktu 2 tahun/dijadikan jaminan istilahnya. 
Setelah hutang dilunasi baru sawah tersebut dikembalikan ke pemiliknya.

Pertanyaan
1. Bagaimana hukum praktek gadai demikian? 

Jawaban
Tafsil:
a. Jika diawal akad terjadi syarat untuk pemanfaatan sawah sebagai jaminan hutangnya (gadai), maka praktek gadai demikian tidak sah dan tidak diperbolehkan karena termasuk riba.

b. Jika tidak adanya syarat dalam akad namun sudah menjadi tradisi tentang pemanfaatan barang gadai (jaminan), maka terjadi khilaf diantara ulama:
- Menurut pendapat al-Jumhur (mayoritas ulama), boleh. 
- Menurut pendapat imam al- Qofal, tidak boleh.

CATATAN
1. Praktek peminjaman uang yang mengambil kemanfaatan seperti mengembalikan lebih dari nominal hutangnya atau mendapat kemanfaatan menggunakan barang yang dijadikan jaminan (gadai), maka termasuk riba yang diharomkan. 

2. Pada dasarnya hak milik manfaat barang gadaian dimiliki oleh pemilik barang, bukan pemberi hutang. 
Maka pemanfaatan barang gadaian oleh orang lain harus seizin pemiliknya.

3. Praktek yang aman dari permasalahan gadai sawah seperti dalam deskripsi diantaranya adalah:
- Pihak yang berhutang meminjamkan sawah ke pemberi hutang untuk dimanfaatkan (akad i'aroh) dan bukan atas nama jaminan karena telah meminjam uang. 
- Pihak yang berhutang sebelumnya bernazar ke pemberi hutang akan memberi kemanfaatan sawah jika memberinya hutang, praktek demikian sah menurut seikh at-Thombadawi. 

Referensi

١. إعانة الطالبين ج ٣ ص ٣٥٣
( و ) جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض…. وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا
( قوله ففاسد ) قال ع ش ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد

٢. [نووي الجاوي ,نهاية الزين ,ص ٢٤٢ ]
وَلَا يجوز قرض نقد أَو غَيره إِن اقْترن بِشَرْط جر نفع مقرض كرد زِيَادَة أورد جيد عَن رَدِيء لخَبر فضَالة بن عبيد رَضِي الله عَنهُ كل قرض جر مَنْفَعَة فَهُوَ رَبًّا أَي كل قرض شَرط فِيهِ مَا يجر إِلَى الْمقْرض مَنْفَعَة فَهُوَ رَبًّا فَإِن فعل ذَلِك فسد العقد حَيْثُ وَقع الشَّرْط فِي صلب العقد أما لَو توافقا على ذَلِك وَلم يَقع شَرط فِي العقد فَلَا فَسَاد وَمن شَرط الْمَنْفَعَة الْقَرْض لمن يسْتَأْجر ملكه أَي مثلا بِأَكْثَرَ من قِيمَته لأجل الْقَرْض إِن وَقع ذَلِك شرطا فِي صلب العقد إِذْ هُوَ حِينَئِذٍ حرَام إِجْمَاعًا وَإِلَّا كره عندنَا وَحرم عِنْد كثير من الْعلمَاء وَجَاز فِي الْقَرْض شَرط رهن وَشرط كَفِيل وَلَا بُد من تعيينهما وَشرط إِقْرَار أَو إِشْهَاد عِنْد حَاكم لِأَن هَذِه الْأُمُور توثقات لَا مَنَافِع زَائِدَة

٣. الأشباه والنظائر ج ١ ص ١٩٢
و منها : لو عم في الناس اعتياد إباحة منافع الرهن للمرتهن فهل ينزل منزلة شرطه حتى يفسد الرهن قال الجمهور : لا و قال القفال : نعم

٤. [مجموعة من المؤلفين، الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١٢٨/٧]
ب- انتفاع المرتهن بالمرهون:
علمنا أن عقد الرهن يُقصد به التوثق للدْين، وذلك بثبوت يد المرتهن على العين المرهونة، ليمكن بيعها واستيفاء الدَّيْن من قيمتها عند تعذّر وفائه على الراهن.
وعليه: فإن عقد الرهن لا يعني امتلاك المرتهن للعين المرهونة، ولا استباحته لمنفعة من منافعها، بل تبقى ملكية رقبتها ومنافعها للراهن، المالك الأصلي لها، وبالتالي: فليس للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة بدون إذن الراهن مطلقاً، فإذا فعل ذلك كان متعدِّياً وضامناً للمرهون.
وهل له أن ينتفع به إذا أذن له الراهن بذلك؟
ينبغي ان نفرِّق هنا بين أن يكون الإذن بالانتفاع لاحقاً لعقد الرهن وبعد تمامه ودون شرط له، وبين أن يكون مع العقد ومشروطاً فيه:
فإن كان مع العقد ومشروطاً فيه كان شرطاً فاسداً، ويفسد معه عقد الرهن على الأظهر، وذلك لأنه شرط يخالف مقتضى العقد، إذ مقتضى العقد التوثّق - كما علمت - لا استباحة المنفعة، وكذلك هو شرط فيه منفعة لأحد المتعاقِدَيْن وإضرار بالآخر، إذ به منفعة للمرتهن وإضرار بمصلحة الراهن.
ومقابل الأظهر: أن الشرط فاسد لا يُلتفت إليه، والعقد صحيح، وقول ضعيف.
وأما إذا لم يكن الانتفاع للمرتهن مشروطاً في العقد فهو جائز، ويملكه المرتهن، لأن الراهن مالك، وله أن يأذن بالتصرّف في ملكه بما لا يضيّع حقوق الآخرين فيه، وقد أذن له بذلك، وليس في ذلك تضييع لحقه في المرهون، لأنه بانتفاعه به لا يخرج من يده، ويبقى محتبساً عنده لحقه.

٥. [الرملي، شمس الدين، نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، ٢٤٤/٤]
(وَيَجُوزُ أَنْ) (يَسْتَعِيرَ شَيْئًا لِيَرْهَنَهُ) بِدَيْنِهِ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانَتْ الْعَارِيَّةُ ضِمْنًا كَمَا لَوْ قَالَ لِغَيْرِهِ: ارْهَنْ عَبْدَك عَلَى دَيْنِي 

٦. [البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٤٢١/٢]
وقال شيخ مشايخنا العلامة المحقق الطنبداوي، فيما إذا نذر المديون للدائن منفعة الارض المرهونة مدة بقاء الدين في ذمته: والذي رأيته لمتأخري أصحابنا اليمنيين ما هو صريح في الصحة، وممن أفتى بذلك شيخ الاسلام محمد بن حسين القماط والعلامة الحسين بن عبد الرحمن الاهدل. (والله أعلم).

#ngajifiqih #fikihmuamalah#ulaheureunngaji

HUKUM KRIDIT MOTOR BAJU DLL

HUKUM KREDIT MOTOR BAJU DLL

Apa hukumnya jual beli secara kredit yang mana beda dengan harga beli secara kontan, apa termasuk jual beli yang dilarang berdasarkan hadis nabi yang melarang menjual barang dengan dua harga?
Dan apa status denda jika telat angsuran?

Jawaban

Jual beli kredit dalam literatur fiqih dinamakan البيع بالتقسيط ,yang mana sudah disepakati oleh pembeli yaitu satu harga versi kredit. 
Sehingga tidak termasuk dari jual beli yang dilarang oleh Nabi.

Adapun adanya denda jika telat angsurannya, merupakan wujud menepati janji diawal akad yang wajib dilakukan menurut Imam Taqiyuddin as-Subki dari madzhab Syafi'iyah dan Madzab Malikiyah. 

Referensi

[Jua Akad Jual Beli dalam Satu Akad]

Dua akad jual beli dalam satu akad adalah ketika dalam satu redaksi akad disebutkan dua transaksi sekaligus. 

Contohnya:
1. Penjual berkata, “Saya jual rumah ini kepadamu dengan harga 1.000 secara tunai atau 2.000 secara kredit selama satu tahun.” Lalu pembeli menerima salah satu dari harga tunai atau kredit itu. 
2. Penjual berkata, “Saya jual mobil ini kepadamu seharga 1.000 dengan syarat kamu harus menjual rumahmu kepadaku seharga 2.000.”

Jenis jual beli seperti ini dilarang dan tidak sah. Alasannya:
- Pada contoh pertama, harga menjadi tidak jelas.
- Pada contoh kedua, akadnya digantungkan pada syarat yang belum pasti.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa-i dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِيْ بَيْعَةٍ.

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan dua transaksi dalam satu transaksi jual beli.” 
[HR. Tirmidzi dalam Kitab Jual Beli, Bab Larangan Dua Akad Jual Beli dalam Satu Akad, no. 1231. Juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Ahmad].

[Jual Beli Kredit]

Perlu dijelaskan bahwa jual beli secara kredit itu diperbolehkan dan sah hukumnya. 
Dengan syarat, dalam redaksi akadnya tidak disebutkan dua harga sekaligus seperti yang dijelaskan di atas. 
Jika dalam satu akad disebutkan dua harga, maka itu termasuk dua akad jual beli dalam satu akad yang hukumnya batal.

Adapun jika penjual dan pembeli sudah tawar-menawar harga terlebih dahulu, lalu pada akhirnya mereka sepakat untuk membeli secara kredit, dan akadnya dibuat atas dasar itu, maka akadnya sah. 
Tidak ada larangan dan tidak ada dosa di dalamnya. 
Walaupun pada saat tawar-menawar tadi sempat disebutkan harga tunainya, selama harga tunai itu tidak disebut lagi ketika akad dilakukan.
[Al-Fiqh Al-Manhaji ‘ala Mazhab Al-Imam Asy-Syafi‘i_, 6/37)

Referensi

[مجموعة من المؤلفين ,الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ,٦/٣٧]
بيعتان في بيعة: وهو أن يذكر في صيغة العقد عقدان في آن واحد، كأن يقول البائع: بعتك هذه الدار - مثلاً - بألف نقداً وبألفين تقسيطاً أو إلى سنة. فيقبل المشتري البيع بالنقد أو بالتقسيط. أو أن يقول: بعتك هذه السيارة - مثلاً بألف - على أن تبيعني دارك بألفين. فهذا النوع من البيوع منهيُّ عنه وباطل، للجهل بالثمن في الصورة الأولى، والتعليق على الشرط في الصورة الثانية.
روى أبو هريرة رضي الله عنه قال: " نهى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عن بّيْعَتَيْنِ في بَيْعَةٍ ".
(أخرجه الترمذي في البيوع، باب: ما جاء في النهي عن بيعتين في بيعه، رقم: 1231، كما أخرجه النسائي وأحمد).
البيع بالتقسيط
وبالمناسبة نبيِّن أن البيع بالتقسيط لا مانع منه وهو صحيح، شريطة أن لا يذكر في صيغة العقد السعران، كما سبق، فيكون بيعتين في بيعة، وهو باطل كما علمت. أما لو تساوم المتبايعان على السعر قبل إجراء العقد، ثم اتفقا في نهاية المساومة على البيع تقسيطاً، وعقد العقد على ذلك، فإن العقد صحيح، ولا حرمة فيه ولا إثم، حتى ولو ذكر السعر نقداً أثناء المساومة، طالما أنه لم يتعرض له أثناء إنشاء العقد.

Imam Nawawi menyatakan di dalam kitab Raudlatu al-Thalibin, bahwasannya jual kredit hukumnya adalah “boleh.”  

 أما لو قال بعتك بألف نقداً وبألفين نسيئة... فيصح العقد   

Artinya: “Andai ada seorang penjual berkata kepada seorang pembeli: “Aku jual ke kamu (suatu barang), bila kontan dengan 1.000 dirham, dan bila kredit sebesar 2.000 dirham, maka aqad jual beli seperti ini adalah sah.” 
(Abu Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Raudlatu al-Thâlibîn, Maktabah Kairo, Juz 3, hal 397)  

HUKUM MENEPATI JANJI

Kesepakatan ulama: Menepati janji dalam kebaikan adalah sesuatu yang dituntut.

Perbedaan pendapat ulama tentang hukumnya:

- Tiga mazhab - Syafii, Hanafi, Hambali: Hukumnya sunah atau dianjurkan, bukan wajib. 
Jika tidak ditepati, maka hukumnya makruh, dan kemakruhannya sangat berat. 
Ini pendapat mayoritas ulama.
- Imam Malik: Beliau membedakan dua jenis janji:
 1. Janji yang dikaitkan dengan suatu sebab: Contohnya "Jika kamu menikah, maka aku akan memberimu sekian". Janji seperti ini wajib dipenuhi.
 2. Janji mutlak tanpa sebab: Contohnya "Aku akan memberimu sekian". Janji seperti ini tidak wajib dipenuhi.
- Taqiyuddin As-Subki dari kalangan Syafiiyah: Beliau berpendapat bahwa menepati janji itu wajib secara mutlak. Pendapat ini juga beliau pilih dalam pembahasan jual beli 'uhdah.

Referensi

 ترشيح المستفيدين ص : ٢٦٣ دار الفكر
تتمة) أجمعوا على أن الوفاء بالوعد فى الخير مطلوب وهل هو مستحب أو واجب ذهب الثلاثة إلى الأول وأن فى تركه كراهة كراهة شديدة وعليه أكثر العلماء وقال مالك: أن اشتراط الوعد بسبب كقوله: تزوج ولك كذا ونحو ذلك وجب الوفاء به وإن كان الوعد مطلقا لم يجب إهـ رحمة. واختار وجوب الوفاء بالوعد من الشافعية تقى الدين السبكى كما مر ذلك فى البيع فى بيان بيع العهدة

والله أعلم بالصواب 

#ngajifiqih #tongeureunngaji #jualbelikredit

HUKUM MENGKONSUMSI TUPAI

HUKUM MENGKONSUMSI TUPAI

Apa hukumnya mengkonsumsi tupai?

Jawaban
Tupai dalam bahasa arab disebut as-Sinjab hewan ini menyerupai yarbu' (hewan seperti tikus yang berkaki panjang).
Kedua hewan ini halal di konsumsi.

Namun dalam fatwa MUI Bajing hukumnya Halal sedangkang Tupai Haram.

Referensi

[البكري الدمياطي، إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين، ٣٩٩/٢]
وثانيهما: كونه مأكولا - وهو من الحيوان البري: الانعام، والخيل، وبقر وحش، وحماره، وظبي، وضبع، وضب، وأرنب، وثعلب، وسنجاب، وكل لقاط للحب.
....
(قوله: وسنجاب) أي لأن العرب تستطيبه.
قال البجيرمي: وهو حيوان على حد اليربوع، يتخذ من جلده الفراء.اه.

Kedua: Hewan tersebut termasuk yang boleh dimakan dan termasuk hewan darat, yaitu: hewan ternak, kuda, banteng liar, keledai liar, rusa, dhobgh, biawak gurun (dhab), kelinci, tsal'ab, tupai, dan setiap burung pemakan biji-bijian.

(Keterangan penulis: "dan tupai") artinya karena orang Arab menganggapnya lezat.
Al-Bujayrami berkata: Hewan ini sejenis yerboa (hewan seperti tikus yang berkaki panjang), kulitnya dapat dijadikan bulu pakaian (fur).
Selesai.
[Al-Bakri Ad-Dimyathi, I‘anah At-Thalibin ‘ala Halli Alfazhi Fath Al-Mu‘in_, 2/399]

#ngajifiqih #tongeureunngaji