Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Minggu, 26 April 2026

WAFAT TIDAK MENGUCAPKAN LAAILAAHA ILLALLAH

KEMATIAN DATANG TIBA TIBA

Kematian sering kali datang tiba-tiba, kondisi manusia saat meregang nyawa pun berbeda-beda, status kematiannya juga bisa berbeda apakah husnul khatimah (kematian yang baik) ataukah su’ul khatimah (kematian yang buruk). 
Salah satu tanda husnul khatimah yang lazim diketahui oleh banyak kaum muslimin adalah ketika seseorang yang hendak meninggal dunia itu mengucapkan kalimat syahadat atau kalimat Laa ilaha illallah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat ‘Laa ilaha illallah’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud, no. 3116. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Misykah Al-Mashabih, no. 1621)

Oleh karena itu pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita agar berusaha mentalqin dan menuntun orang yang hendak meninggal dunia dengan kalimat tersebut.

Akan tetapi sebagian orang meninggal namun tak sempat berucap Laa ilaha illallah, apakah itu menjadi tanda bahwa dia su’ul khatimah?

Perlu kita ketahui bahwa tanda-tanda husnul khatimah itu ada banyak dan tidak mesti semua tanda-tanda tersebut harus tampak pada orang yang wafat. Boleh jadi tampak satu tanda, tapi tidak tampak tanda yang lain. 
Seperti kematian di hari/malam Jumat kata Nabi merupakan tanda husnul khatimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur.” (HR. Ahmad, 10:87 dan Tirmidzi, no. 1074. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan hadits ini dha’if)

Tentu hadits ini tidak berkonsekuensi bahwa orang yang mati di selain hari/malam Jumat tidak akan selamat dari fitnah kubur atau mati suul khatimah. 
Sebaliknya belum tentu orang yang mati di hari/malam Jumat pasti husnul khatimah, betapa banyak orang kafir mati di hari itu!?

Husnul khatimah atau akhir yang baik adalah kematian dalam keadaan bertauhid dan taat kepada Allah di akhir hayatnya. Ketika dia konsekuen dengan kalimat Laa ilaha illallah yang pernah diucapkannya hingga dia mati, tidak menyekutukan Allah hingga akhir hayatnya, maka dia telah husnul khatimah.

Bahkan Nabi sendiri saat wafatnya tidak menutup hidupnya dengan kalimat Laa ilaha illallah. 
Tentu tak ada yang berani menuding Nabi wafat dalam kondisi su’ul khatimah. 
Lantas apa yang terakhir diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat wafat? Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَهُوَ صَحِيحٌ إِنَّهُ لَمْ يُقْبَضْ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخَيَّرُ فَلَمَّا نَزَلَ بِهِ وَرَأْسُهُ عَلَى فَخِذِي غُشِيَ عَلَيْهِ سَاعَةً ثُمَّ أَفَاقَ فَأَشْخَصَ بَصَرَهُ إِلَى السَّقْفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى قُلْتُ إِذًا لَا يَخْتَارُنَا وَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَدِيثُ الَّذِي كَانَ يُحَدِّثُنَا بِهِ قَالَتْ فَكَانَتْ تِلْكَ آخِرَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلُهُ اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ketika beliau sehat,
“Tak seorang Nabi pun diwafatkan selain diperlihatkan tempat tinggalnya di surga, kemudian ia disuruh memilih (untuk tetap hidup di dunia atau wafat).”
Tatkala beliau sakit dan kepalanya berada di pahaku, beliau pingsan beberapa saat, kemudian sadar dan membelalakkan pandangannya keatap, kemudian berujar,
“Ya Allah, kekasih yang tertinggi.”
Aku berkata dalam hati; Ini berarti beliau tidak lagi memilih untuk tetap bersama kami, dan Aisyah paham bahwa itu adalah ucapan yang beliau perdengarkan kepada kami. Lanjut Aisyah, itulah akhir ucapan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam katakan, yaitu; “Ya Allah, kekasih yang tertinggi.” (HR Bukhari, no. 4463 dan Muslim no. 2444)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah Ketika membawakan perkataan As-Suhaili, beliau berkata,

فائدة : قال السهيلي : الحكمة من اختتام كلام المصطفى ـ صلى الله عليه وسلم ـ بهذه الكلمة ( اللهم الرفيق الأعلى ) كونها تتضمن التوحيد والذكر بالقلب ، حتى يستفاد منه الرخصة لغيره أنه لا يشترط أن يكون الذكر باللسان ، لأن بعض الناس قد يمنعه من النطق مانع ، فلا يضره ، إذا كان قلبه عامرا بالذكر .

Faidah: As-Suhaili berkata, “Hikmah di balik kalimat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang wafatnya (Allahumma ar-rafiq al-a’la, Ya Allah, kekasih yang tertinggi) adalah karena kalimat tersebut mengandung tauhid dan dzikir (Laa ilaha illallah) dengan hati. Dari sini, dapat dipahami adanya keringanan bagi orang lain bahwa tidak disyaratkan dzikir tersebut harus diucapkan dengan lisan, karena terkadang ada penghalang bagi seseorang untuk mengucapkannya, dan hal tersebut tidak akan membahayakannya jika hatinya tetap dipenuhi dengan dzikir tersebut.” (Fathul Bari, 8/138)"

Allahu a'lam.

Sabtu, 25 April 2026

DOA UNTUK ORANG YANG SAFAR

Sebaik-baik bekal bagi orang yang akan bepergian adalah doa. Kita dianjurkan mendoakan mereka yang berpamitan untuk menempuh sebuah perjalanan demi hajat tertentu. Kepada orang yang akan pergi, kita dianjurkan mendoakan kebaikan untuknya baik lahir maupun batin.

Adapun berikut ini adalah doa yang dikutip Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar untuk orang yang akan pergi. 

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

Zawwadakallāhut taqwā, wa ghafara dzanbaka, wa yassara lakal khayra haytsumā kunta

Artinya, “Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu pada kebaikan di mana pun kamu berada,

Doa tersebut berasal dari hadits Nabi Muhammad riwayat Imam At-Tirmidzi yang mengisahkan salah seorang sahabat yang meminta diri kepada Nabi Muhammad saw sebelum bepergian:

وروينا في كتاب الترمذي، عن أنس رضي الله قال جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال يارسول الله، إني أريد سفرا فزودني، فقال زودك الله التقوى، قال زدني، قال وغفر ذنبك، قال زدني، قال ويسر لك الخير حيثما كنت قال الترمذي حديث حسن

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Kitab At-Tirmidzi dari sahabat Anas ra, ia bercerita, suatu hari seorang sahabat datang kepada Nabi Muhammad saw. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku hendak bepergian. Berilah aku bekal.’ ‘Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan,’ kata Rasul. ‘Tambahkan lagi,’ katanya. ‘Semoga Allah mengampuni dosamu,’ jawab Rasul. ‘Tambahkan lagi wahai Rasul.’ ‘Semoga memudahkanmu pada kebaikan di mana pun kamu berada,’ jawa Rasul. Imam At-Tirmidzi berkata, ‘Ini hadits hasan,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 187).

Takwa adalah sebaik-baik bekal sebagaimana keterangan Surat Al-Baqarah ayat 197. Tidak salah kalau Nabi Muhammad saw mendoakan ketakwaan untuk sahabat yang hendak pergi. 
Wallahu a’lam. 

HUKUM MENGONSUMSI JANGKRIK LARON DAN LEBAH

HUKUM MENGKONSUMSI JANGKRIK LARON DAN LEBAH

Hewan jangkrik termasuk dalam kategori hewan hasyarat. Sehingga hukum mengonsumsi jangkrik adalah haram, sebab dipandang sebagai hewan yang menjijikkan menurut orang Arab, hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:

 الصرصر - حيوان فيه شبه من الجراد ، قفاز يصيح صياحاً رقيقاً ، وأكثر صياحه بالليل ولذلك سمي صرار الليل ، وهو نوع من بنات وردان عري عن الأجنحة . وقيل : إنه الجدجد وقد تقدم أن الجوهري فسر الجدجد بصرار الليل ، ولا يعرف مكانه إلا بتتبع صوته ، وأمكنته المواضع الندية ، وألوانه مختلفة فمنه ما هو أسود ، ومنه ما هو أزرق ومنه ما هو أحمر ، وهو جندب الصحارى والفلوات وحكمه : تحريم الأكل لاستقذاره 

“Sharshar (jangkrik) adalah hewan yang menyerupai belalang, terkadang hewan tersebut bersuara dengan suara yang lirih. Seringkali hewan ini bersuara pada saat malam hari, karena hal tersebut maka hewan ini juga disebut dengan shurrarul laili. Hewan ini merupakan bagian dari jenis bintu wardan yang tidak memiliki sayap (yang bisa terbang). Hewan ini juga disebut judjud, seperti halnya yang dijelaskan pada pembahasan yang telah lalu bahwa Syekh al-Jauhari mengartikan judjud dengan hewan jangkrik. Keberadaan jangkrik tidak akan dapat diketahui kecuali dengan meneliti dari suaranya, hewan ini menyukai tempat-tempat yang basah. Warnanya berbeda-beda, ada yang berwarna hitam, biru dan merah. Hewan ini hampir sama dengan belalang yang sering ditemukan di hutan belantara. Hukum mengonsumsi hewan ini adalah haram karena dianggap hewan yang menjijikkan.” 
(Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz 2, hal. 86)

Laron atau rayap dalam istilah Arab dikenal dengan kata ardlah. 
Hukum mengonsumsi hewan ini adalah haram karena tergolong hewan yang menjijikkan. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Hayawan al-Kubra:

 الآرضة- دويبة صغيرة كنصف العدسة ، تأكل الخشب ، وهي التي يقال لها السرفة ، بالسين والراء المهملة والفاء . وهي دابة الأرض التي ذكرها الله تعالى في كتابه - ولما كان فعلها في الأرض أضيفت إليها . قال القزويني في الأشكال : إذا أتى على الأرضة سنة ، تنبت لها جناحان طويلان ، تطير بهما - ومن شأنها أنها تبني لنفسها بيتا حسنأ ، من عيدان تجمعها مثل غزل العنكبوت ، متخرطا من أسفله إلى أعلاه الحكم : يحرم أكلها لاستقذارها

“Ardlah (rayap/laron) adalah hewan kecil seukuran separuh dari biji ‘adas (sejenis kacang), pemakan kayu dikenal juga dengan nama sarfah, hewan ini adalah hewan merayap di bumi yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an. Hewan ini disebut dengan ardlah karena tingkah khasnya di tanah, maka namanya disandarkan pada tanah (ardl). Imam al-Qazwiny berkata dalam kitab al-Isykal, ‘Ketika ardlah memasuki umur 1 tahun, maka tumbuh dua sayap panjang yang ia gunakan untuk terbang. Sebagian karakternya, ia mampu membangun untuk dirinya sarang yang bagus dari potongan-potongan kayu yang ia kumpulkan, sebagaimana pintalan sarang laba-laba yang terkatung dari bawah ke atas. Hukum mengonsumsi hewan ardlah adalah haram karena hewan ini dianggap menjijikkan (menurut orang Arab).” 
(Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz I, hal. 35)

Mengenai hukum mengonsumsi lebah dewasa, Imam Ibnu Rusyd dalam kitab Bidâyatul Mujtahid (Kairo: Dar al-Hadits, 2004), juz III, hal. 20, menyebutkan: 

وَحَكَى أَبُو حَامِدٍ عَنِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ يُحَرِّمُ لَحْمَ الْحَيَوَانِ الْمَنْهِيِّ عَنْ قَتْلِهِ، قَالَ: كَ… وَالنَّحْلِ 

“Imam Abu Hamid (al-Ghazali) dari madzhab Syafi’i menceritakan bahwasanya diharamkan memakan daging hewan yang dilarang dibunuh, ia berkata: seperti … lebah.”

Ini juga terkait dengan hadits:

 حدثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن الزهري عن عبيد الله بن عبد الله بن عتبة عن ابن عباس قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قتل أربع من الدواب النملة والنحلة والهدهد والصرد.

 “Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar; dari Az-Zuhriy, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuh empat macam hewan: semut, lebah, burung hudhud, dan burung shurad.” 
(Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Ahmad 1/332).

Sedangkan untuk masalah mengonsumsi larva lebah (yang masih disarang bareng madu), Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Sullamunnajat (Surabaya: Al-Hidayah, tt), hal. 7, menjelaskan:

 فرع - ما كانت فى بيت العسل أخياف فابتـداؤها بيض النحـل ثم صارت دودا مع الروح ثم ماتت ثم صارت نحلا تطير فهى فى الطور الأول حلال وفى الطور الذى بعـده حرام كما قـرره بعضـهم

 ”{Cabangan Masalah} ِApa yang terdapat di dalam sarang lebah, maka awalnya ia adalah telur, kemudian menjadi ulat, kemudian mati dan menjadi lebah yang bias terbang. Pada bentuknya yang awal ia halal, dan pada bentuk yang selanjutnya ia haram sebagaimana telah ditetapkan oleh sebagian ulama.” Namun demikian, halalnya enthung lebah tersebut adalah jika susah dipisahkan dari madu dan tidak dimakan sendirian, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad Salamah al-Qulyubi dalam Hasyiyah al-Qulyubi (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz IV, hal. 241: 

وكذا الدود المتولدمن طعام كخل وفاكهة إذا أكل معه ميتا يحل في الأصح لعسر تمييزه بخلاف أكله منفردا 

 “Demikian pula dengan ulat yang lahir dari makanan seperti cuka atau buah-buahan, jika ia dimakan berbarengan dengan makanan tersebut dalam kondisi mati, maka hukumnya halal menurut qaul ashah karena sulit untuk membedakannya, berbeda hukumnya jika dimakan terpisah.” 

Dari ta’bir-ta’bir yang ada bisa disimpulkan bahwasanya haram hukumnya memakan lebah yang sudah dewasa, sedangkan memakan larva lebah hukumnya halal jika termakan bersamaan dengan memakan madu atau sarang madu, dan jika dimakan terpisah maka hukumnya haram.

Rabu, 22 April 2026

STATUS AIR MUTANAJIS KENA BADAN/ BAJU

Pertanyaan simpel tapi butuh jawaban ilmiah supaya lebih yakin dan tidak ragu dalam hal ini

Pertanyaan:
Status air mutanajjis jika mengenai pakaian/badan kita membuat pakaian/badan jadi najis pak ?

Pembahasan:

Dijelaskan oleh Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya:

قَوْلُهُ: (مَاءٌ نَجِسٌ) لَيْسَ الْمُرَادُ: نَجِسَ الْعَيْنِ، بَلِ الْمُرَادُ: الَّذِي عَرَضَتْ لَهُ النَّجَاسَةُ؛
كَمَا أَشَارَ إِلَيْهِ الشَّارِحُ بِقَوْلِهِ: (أَيْ: مُتَنَجِّسٌ) فَشَبَّهَ الْمُصَنِّفُ الْمُتَنَجِّسَ بِالنَّجِسِ بِجَامِعِ حُرْمَةِ اسْتِعْمَالِ كُلٍّ فِي طُهْرٍ أَوْ شُرْبِ آدَمِيٍّ، بِخِلَافِ بَهِيمَةٍ أَوْ إِطْفَاءِ نَارٍ أَوْ سَقْيِ أَشْجَارٍ أَوْ زَرْعٍ، وَاسْتَعَارَ اسْمَ الْمُشَبَّهِ بِهِ لِلْمُشَبَّهِ عَلَى طَرِيقِ الِاسْتِعَارَةِ التَّصْرِيحِيَّةِ

“Perkataannya: (ماء نجس), yang dimaksud bukanlah najis ‘ain (yakni najis pada zatnya), tetapi yang dimaksud adalah sesuatu yang telah terkena najasah (yakni air yang kemasukan najis).

Sebagaimana diisyaratkan oleh pensyarah dengan ucapannya: (أي: متنجس), maka mushannif menyerupakan mutanajjis dengan najis karena adanya kesamaan (jāmi‘), yaitu haramnya menggunakan masing-masing dari keduanya dalam bersuci atau untuk diminum oleh manusia.

Berbeda halnya jika digunakan untuk hewan ternak, atau untuk memadamkan api, atau untuk menyiram pepohonan dan tanaman.

Dan mushannif menggunakan (meminjam) nama musyabbah bih (yaitu “najis”) untuk musyabbah (yaitu mutanajjis) dengan jalan isti‘ārah taṣrīḥiyyah (استعارة تصريحية), yaitu menyebut lafazh yang dipinjam secara langsung.”
(Al-Bajuri, juz 1, hlm. 194)

Sehingga dari sini dapat kita simpulkan:
Air mutanajjis itu dihukumi najis, bukan karena zatnya najis, tetapi karena kemasukan najis.

Lalu apakah jika mengenai badan/pakaian juga ikut najis?

Jawabannya: iya.

Karena air mutanajjis hukumnya sama seperti zat najis dalam hal penularan hukum.
Sehingga jika mengenai badan atau pakaian, maka menjadi najis.

Dan cara mensucikannya adalah dengan membasuh (mengalirkan air suci) sampai hilang sifat najisnya:
- rasa
- warna
- bau

Kesimpulan:

Air mutanajjis bukan najis ‘ain,
namun tetap dihukumi najis.

➡️ Jika mengenai badan/pakaian → menjadi najis
➡️ Wajib disucikan sebagaimana najis lainnya

Kalau ada yang mau nambahin atau punya referensi lain, monggo… kita saling melengkapi.
‎📖 Referensi:
Hasyiah al-Bajuri,
‎karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri, Juz 1, hlm. 194.

Selasa, 21 April 2026

15 Perkara Mengundang Bencana

أسرع طريقة للتحقق من صحة الأحاديث
تحقق من صحة الحديث بسهولة
  

الموسوعة القرآنية
ترتيب حسب الصحة

إذا فَعلت أمَّتي خمسَ عشرةَ خصلةً حلَّ بها البلاءُ إذا كانَ المغنمُ دُوَلًا والأمانَةُ مغنمًا والزَّكاةُ مغرمًا وأطاعَ الرَّجلُ زوجتَهُ وعقَّ أمَّهُ وبرَّ صديقَهُ وجفا أباهُ وارتفعتِ الأصواتُ في المساجدِ وكانَ زعيمُ القومِ أرذَلُهم وأُكرِمَ الرَّجلُ مخافَةَ شَرِّهِ وشُرِبتِ الخمورُ ولُبِسَ الحريرُ واتُّخِذَتِ القيْناتُ والمعازِفُ ولَعنَ آخِرُ هذهِ الأمَّةِ أوَّلَها فليرتَقِبوا عندَ ذلكَ ريحًا حمراءَ أو خسْفًا أو مسخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:السيوطي المصدر:الجامع الصغير الجزء أو الصفحة:769 حكم المحدث:ضعيف.
Jika bangsaku melakukan lima belas dosa, maka malapetaka akan menimpanya : 
Ketika rampasan perang dibagikan antar bangsa, Kepercayaan dianggap sebagai sumber keuntungan, 
Dan zakat (sedekah wajib) dianggap sebagai beban; 
Ketika seorang pria taat kepada istrinya 
Dan durhaka kepada ibunya, Menghormati temannya dan berbuat jahat kepada ayahnya; Ketika suara-suara keras terdengar di masjid-masjid; Ketika pemimpin rakyat adalah orang yang paling hina di antara mereka; 
Ketika seseorang dihormati karena takut akan kejahatannya; Ketika anggur diminum 
Dan sutra dikenakan; 
Ketika penyanyi wanita dan alat musik digunakan; 
Dan ketika generasi-generasi terakhir bangsa ini mengutuk generasi-generasi sebelumnya, maka hendaklah mereka mengharapkan angin merah, anak rusa, atau transformasi.

Narator: Ali ibn Abi Talib
Narator: Al-Suyuti. Sumber: Al-Jami' al-Saghir.
Bagian atau halaman: 769 putusan.
Narator: lemah.

إذا فعَلتْ أُمَّتي خَمْسَ عَشْرةَ خَصْلةً، حَلَّ بها البلاءُ: إذا كان المَغنَمُ دُولًا، والأمانةُ مَغنَمًا، والزكاةُ مَغرَمًا، وأطاع الرَّجُلُ زَوْجتَه وعَقَّ أمَّه وبَرَّ صديقَه وجفَا أباه، وارتفَعتِ الأصواتُ في المساجدِ، وكان زعيمُ القومِ أرذَلَهم، وأُكرِمَ الرَّجُلُ مخافةَ شَرِّه، وشُرِبتِ الخمورُ، ولُبِس الحريرُ، واتُّخِذتِ القَيْناتُ والمعازفُ، ولعَن آخِرُ هذه الأُمَّةِ أوَّلَها؛ فَلْيَرتقبوا عند ذلك رِيحًا حمراءَ، أو خَسْفًا، أو مَسْخًا.
الراوي:علي المحدث:الصنعاني المصدر:التنوير شرح الجامع الصغير الجزء أو الصفحة:2/154 حكم المحدث:من رواية فرج بن فضالة قال البرقاني: سألت الدارقطني عنه فقال: باطل قلت: من جهة الفرج قال: نعم

إذا فَعَلَتْ أمتي خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً حَلَّ بها البلاءُ : إذا كان المَغْنَمُ دُوَلًا، والأمانةُ مَغْنَمًا، والزكاةُ مَغْرَمًا، وأطاع الرجلُ زوجتَهُ، وعَقَّ أُمَّهُ، وبَرَّ صديقَهُ، وجَفَا أباهُ، وارتفعتِ الأصواتُ في المساجدِ، وكان زعيمُ القومِ أَرْذَلَهم، وأُكْرِمَ الرجلُ مَخافةَ شَرِّهِ، وشُرِبَتِ الخُمورُ، ولُبِسَ الحريرُ، واتُّخِذَتِ القَيْناتُ والمعازفُ، ولَعَن آخِرُ هذه الأمةِ أَوَّلَها، فلْيَتَرَقَّبُوا عند ذلك رِيحًا حَمْراءَ أو خَسْفًا ومَسْخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:الألباني المصدر:السلسلة الضعيفة الجزء أو الصفحة:1170 حكم المحدث:إسناده ضعيف

إذا فعلتْ أمتي خمسَ عشرةَ خَصلةً، حلَّ بها البلاءُ فقيل وما هنَّ يا رسولَ اللهِ؟ قال: إذا كان المَغنمُ دُولًا، والأمانةُ مَغنمًا، والزكاةُ مغرمًا، وأطاعَ الرجلُ زوجتَه، وعقَّ أمَّه، وبرَّ صديقَه، وجفا أباه، وارتفعتِ الأصواتُ في المساجدِ، وكان زعيمُ القومِ أرذَلَهُم، وأُكرِمَ الرجلُ مخافةَ شَرِّه، وشُربتِ الخمورُ، ولُبسَ الحريرُ، واتخِذتِ القيناتُ والمعازفُ، ولَعن آخرُ هذه الأمةِ أولَها، فليرتقبوا عند ذلك ريحًا حمراءَ أو خسفًا ومَسخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:ابن باز المصدر:التحفة الكريمة الجزء أو الصفحة:77 حكم المحدث:إسناده ضعيف
إذا فعلتْ أمَّتي خمسَ عشرةَ خَصلةً، حلَّ بها البلاءُ فقيل وما هنَّ يا رسولَ اللهِ؟ قال: إذا كان المغنمُ دولًا، والأمانةُ مغنمًا، والزكاةُ مغرمًا، وأطاع الرجلُ زوجتَه، وعقَّ أمَّه، وبرَّ صديقَه، وجفا أباه وارتفعتِ الأصواتُ في المساجدِ، وكان زعيمُ القومِ أرذلَهم، وأُكرِمَ الرجلُ مخافةَ شرِّه، وشرِبت الخمورُ، ولبِس الحريرُ، واتخذتِ القيناتُ والمعازفُ، ولعن آخرُ هذه الأمةِ أوَّلَها، فليرتقبوا عند ذلك ريحًا حمراءَ أو خسفًا ومسخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:ابن باز المصدر:مجموع فتاوى ابن باز الجزء أو الصفحة:26/243 حكم المحدث:إسناده ضعيف

إذا فَعلَتْ أمتي خمسَ عشْرَةَ خَصْلَةً حلَّ بها البلاءُ، فقِيلَ وما هي يا رسولَ اللهِ؟ قال إذا كانَ المَغْنَمُ دُوُلًا ،والأمانةُ مَغْنَمًا، والزكاةُ مَغْرَمًا، وأطاعَ الرجلُ زوجتَه وعقَ أمَّه ،وبرَّ صديقَه وجفا أباه ،وارتفعَتْ الأصواتُ في المساجدِ، وكان زعيمُ القومِ أَرْذَلَهم، وأُكْرمَ الرجلُ مخافةَ شرِّه، وشُرِبَتْ الخمورُ ولُبِسَ الحريرُ ،واتُخِذَتْ القِيانُ والمعازفُ، ولَعَنَ آخرُ هذه الأمةِ أولَها ،فلْيرتقبوا عندَ ذلك رِيحًا حمراءَ، أو خَسْفًا أومَسْخًا.
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:الألباني المصدر:ضعيف الترمذي الجزء أو الصفحة:2210 حكم المحدث:ضعيف
إذا عَمِلَتْ أُمتي خمسَ عشرةَ خَصلةً حلَّ بِهَا البلاءُ
الراوي:- المحدث:ابن القيسراني المصدر:معرفة التذكرة الجزء أو الصفحة:93 حكم المحدث:فيه فرج بن فضالة وهو ضعيف قال ابن مهدي أحاديثه عن يحيى بن سعيد منكرة
إذا عمِلت أمَّتي خمسَ عشرةَ خَصلةً حلَّ بها البلاءُ
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:صلاح الدين العلائي المصدر:تحفة التحصيل الجزء أو الصفحة:284 حكم المحدث:ضعيف

إذا فعلت أمتي خمسَ عشرةَ خَصلةً ؛ حلَّ بها البلاءُ ؛ وعَدَّ هذه الخصالَ، ولم يذكُر تعلمَ لغيرِ دينٍ، وقال : وبرَّ صديقَه، وجفا أباهُ، وقال : وشُربتِ الخمرُ، ولُبس الحريرُ .
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:الألباني المصدر:هداية الرواة الجزء أو الصفحة:5379 حكم المحدث:إسناده ضعيف

إذا عملَتْ أمتي خمسَ عشرةَ خَصلةً حلَّ بها البلاءُ إذا كان الفيءُ دُوَلًا والأمانةُ مغنمًا . . .
الراوي:[علي بن أبي طالب] المحدث:الذهبي المصدر:تلخيص العلل المتناهية الجزء أو الصفحة:312 حكم المحدث:غير محفوظ
إذا عمِلتْ أُمَّتي خمسةَ عشرةَ خَصلةً حلَّ بها البلاءُ
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:ابن رجب المصدر:شرح علل الترمذي الجزء أو الصفحة:2/612 حكم المحدث:[هذا] مما أنكر على فرج بن فضالة

إذا فعَلَتْ أُمَّتي خمسَ عشرَةَ خصْلَةٍ ، حلَّ بها البلاءُ : إذا كان المغنَمُ دُوَلًا ، والأمانَةُ مغنَمًا ، والزكاةُ مغرمًا ، و أطاع الرجلُ زوجتَهُ ، وعَقَّ أمَّهُ ، وبرَّ صديقَهُ ، وجفا أباه ، وارْتَفَعَتِ الأصواتُ في المساجِدِ ، وكان زعيمُ القومِ أرْذَلَهُم ، وأُكْرِمَ الرجُلُ مخافَةَ شَرِّهِ ، وشُرِبَتِ الخمورُ ، و لُبِسَ الحريرُ ، واتُّخِذَتِ القَيْناتُ والمعازِفُ ، ولعن آخرُ هذِهِ الأمةِ أوَّلَها ، فليرتَقِبُوا عندَ ذلِكَ ريحًا حمراءَ ، أو خسْفًا ، أو مسْخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:الألباني المصدر:ضعيف الجامع الجزء أو الصفحة:608 حكم المحدث:ضعيف

إذا فعلتْ أُمَّتي خمسَ عشْرةَ خِصلةً ؛ حلَّ بها البلاءُ قيل : ماهنَّ يا رسولَ اللهِ ؟ قال : إذا كان المَغنمُ دُوَلًا ، والأمانةُ مَغنمًا ، والزَّكاةُ مَغرمًا ، وأطاعَ الرَّجلُ زَوجتَهُ ، وعقَّ أُمَّهُ ، وبرَّ صديقَهُ ، وجفا أباهُ ، وارتفعَتِ الأصواتُ في المساجدِ ، وكان زعيمُ القَومِ أرذلَهم ، وأُكرِمَ الرَّجلُ مَخافةَ شرِّهِ ، وشُرِبَتِ الخمورُ ، ولُبِسَ الحريرُ ، واتُخِذَتِ القَيْناتُ والمَعازفُ ، ولَعنَ آخرُ هذهِ الأُمَّةِ أولَها ؛ فلْيرتقِبوا عندَ ذلكَ ريحًا حمراءَ ، أو خَسفًا ومَسخًا .
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:الألباني المصدر:ضعيف الترغيب الجزء أو الصفحة:1407 حكم المحدث:ضعيف

إذا فعلَتْ أُمَّتي خمسَ عشرةَ خصلةً ، فقد حلَّ بها البلاءُ قيلَ : وما هيَ يا رسولَ اللهِ ؟ قال : إذا كان المَغنمُ دُوَلًا ، وإذا كانتِ الأمانةُ مَغنمًا ، والزَّكاةُ مَغرمًا ، وأطاعَ الرَّجلُ زَوجتَهُ ، وعقَّ أُمَّهُ ، وبرَّ صديقَهُ ، وجفا أباهُ ، وارتفعَتِ الأصواتُ في المساجدِ ، وكان زعيمُ القَومِ أرذلَهُم ، وأُكرِمَ الرَّجلُ مَخافةَ شرِّهِ ، وشُرِبَتِ الخمرُ ، ولُبِسَ الحريرُ ، واتُخِذَتِ القَيْناتُ والمَعازفُ ، ولَعنَ آخرُ هذهِ الأُمَّةِ أولَها ، فلْيرتقِبوا عندَ ذلكَ ريحًا حمراءَ ، أو خَسفًا أو مَسخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:الألباني المصدر:ضعيف الترغيب الجزء أو الصفحة:1773 حكم المحدث:ضعيف جداً

إذا عمِلتْ أمَّتي خمسَ عشرةَ خَصلةً حلَّ بها البلاءُ قيل وما هن يا رسولَ اللهِ قال إذا كان المغنَمُ دولًا والأمانةُ مغنَمًا والزكاةُ مغرمًا وأطاع الرجلُ زوجتَه وعقَّ والدتَه وبرَّ صديقَه وجفا أباه وارتفعتِ الأصواتُ في المساجدِ وكان زعيمُ القومِ أرذلَهم وأُكرِمَ الناسُ مخافةَ شرِّهم وشُربتِ الخمرُ ولُبس الحريرُ واتُّخذتِ القَيناتُ والمعازفُ ولعن آخرُ هذه الأمةِ أولَها فلْيرتقِبوا عند ذلك ريحًا حمراءَ وخسفًا ومسخًا
الراوي:علي بن أبي طالب المحدث:ابن حبان المصدر:المجروحين الجزء أو الصفحة:2/208 حكم المحدث:[فيه] فرج بن فضالة يقلب الأسانيد ويلزق المتون الواهية بالأسانيد الصحيحة لا يحل الاحتجاج به
عرض المزيد من النتائج عبر موقع الدرر السنية
التحقق من الأحاديث يعتمد في البحث على موقع الدرر السنية ولا نملك أي حقوق للمحتوى"

15 Keistimewaan PUASA

15 Keistimewaan Puasa Melebihi Ibadah Lainnya.

Keistimewaan ibadah puasa banyak disebutkan melebihi ibadah-ibadah lainnya. Salah satu hadits yang menjelaskan kelebihan puasa dibanding ibadah lainnya adalah hadits qudsi berikut.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ.

Artinya: Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.

Hadits qudsi tersebut menyatakan bahwa ibadah puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah swt. Kata “untuk-Ku” adalah bentuk penyandaran ibadah puasa kepada Allah swt yang menunjukkan betapa puasa merupakan ibadah yang memiliki kedudukan lebih dibanding ibadah lainnya.

Dalam hadits itu disebutkan, “karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya”. Tentu kita menjadi bertanya, bukankah semua ibadah itu akan dibalas oleh Allah swt? Lalu mengapa dalam hadits di atas seolah hanya puasa yang langsung dibalas oleh-Nya? Bagaimana dengan ibadah-ibadah lainnya?

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan hadits tersebut.  Mengapa puasa memiliki keistimewaan di sisi Allah swt dibanding amal ibadah lainnya?...

Pertama, puasa adalah ibadah yang tidak bisa terjerumus dalam riya (pamer). Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw: 

ليس في الصيام رياء 

Artinya: Pada puasa tidak ada sifat riya (pamer). 

Puasa merupakan ibadah yang bersifat abstrak. Ibadah puasa tidak memiliki gerakan yang bisa membedakan antara orang yang sedang berpuasa dengan yang tidak. 

Sebagai contoh, ada dua orang sedang berjalan, apakah kita bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang tidak? Tentu sulit. Berbeda dengan ibadah lainnya. Seperti shalat, haji, zakat dan lainnya, yang membutuhkan gerakan tertentu.

Antara orang yang sedang shalat dengan yang tidak, bisa kita bedakan dengan mudah, karena shalat bisa dilihat dengan gerakan yang bisa membedakan mana yang sedang shalat dan mana yang bukan. Antara orang yang sedang melaksanakan haji dengan yang tidak juga demikian, karena haji memiliki gerakan yang bisa membedakan antara mana yang sedang haji dan mana yang bukan.

Kedua, puasa mampu melumpuhkan setan. 
Saat sedang berpuasa, maka kita akan menahan diri untuk tidak makan dan minum sampai waktu maghrib tiba. Ketika makanan dan minuman tidak masuk dalam tubuh, maka nafsu (syahwat) dalam diri akan terkendali. Sementara nafsu (syahwat) merupakan pintu masuk utama bagi setan untuk menjerumuskan manusia dalam lembah maksiat.


Rasulullah saw pernah bersabda: 


 إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ

Artinya: Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah anak Adam, maka persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa).

Ketiga, pahala puasa lebih besar dibanding ibadah lainnya. Menurut Al-Qurtubi, setiap amal ibadah sudah ditentukan besar pahala yang diperoleh, mulai dari dilipatkan 10 kali, 700 kali, dan sampai yang Allah kehendaki. Lain halnya dengan puasa, pahalanya tidak memiliki ketentuan khusus, hanya Allah yang tahu. 

Hal ini senada dengan hadis berikut:


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ 

Artinya: Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Keempat, pahala melihat Allah swt. Dalam kitab Durrah an-Nashihin (halaman 13), Syekh Utsman Syakir dengan mengutip pernyataan Abul Hasan menjelaskan, bahwa semua amal ibadah akan mendapatkan balasan berupa surga. Berbeda dengan puasa, pahalanya adalah bersua langsung dengan Allah swt di akhirat nanti, tanpa ada penghalang apapun. 

Tentunya kita semua sangat menginginkan ini, karena  melihat Allah swt di akhirat merupakan kenikmatan yang paling tinggi, lebih nikmat dari mendapat surga seisinya. 

5. Doa diqobul

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 2408 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar. Lihat catatan kaki Zaadul Ma’ad, 2: 50).

Juga ada hadits,

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin ‘Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perowi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhari. Hadits ini dikuatkan dengan hadits sebelumnya yang telah disebutkan. Lihat catatan kaki Zaadul Ma’ad, 2: 49-50).

6. PERISAI

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ


Artinya: Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa’ (HR Bukhari dan Muslim).

  
 عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ : يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ . (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada kami,“Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tangga, hendaknya dia menikah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya.”
(HR.Bukhori Muslim)

7. Bulan Sosial atau Empati

ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع

“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)

Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,

وهو شهر المواساة.

“Ramadan adalah bulan empati.”

Dengan menahan diri dari perkataan kasar dan tindakan emosional, puasa membantu seseorang untuk lebih tenang, sabar, dan berakhlak baik, sehingga membentuk karakter Muslim yang kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير

“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]

8. Memberi Syafa'at

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910]

Para ulama mendefinisikan syafa’at:

ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ

“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”


Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)

9. Masuk Sorga dari pintu khusus/ Babu Royyaan


Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

10. Kifarat Dosa

 
 اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَاُن إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاةٌ مَا بَيْنَهُنَّ إذَاجْتَنَبَ اْلكَبَائِرَ

Artinya: Jarak antara shalat lima waktu, shalat Jumat dengan Jumat berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-­dosa yang ada di antaranya, apabila tidak melakukan dosa besar (HR Muslim).

11. Ditambah lima keistimewaan

هو حديث يُروى عن النبي ﷺ، ونصّه الكامل:

«أُعْطِيَتْ أُمَّتِي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِي:
أَمَّا وَاحِدَةٌ: فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ، وَمَنْ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا.
وَأَمَّا الثَّانِيَةُ: فَإِنَّ خُلُوفَ أَفْوَاهِهِمْ حِينَ يُمْسُونَ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ.
وَأَمَّا الثَّالِثَةُ: فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَسْتَغْفِرُ لَهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ.
وَأَمَّا الرَّابِعَةُ: فَإِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ جَنَّتَهُ فَيَقُولُ: اسْتَعِدِّي وَتَزَيَّنِي لِعِبَادِي، يُوشِكُ أَنْ يَسْتَرِيحُوا مِنْ تَعَبِ الدُّنْيَا إِلَى دَارِي وَكَرَامَتِي.
وَأَمَّا الْخَامِسَةُ: فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ غَفَرَ لَهُمْ جَمِيعًا».
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَهِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ».

📌 حكم الحديث:
هذا الحديث رواه أحمد بن حنبل في المسند، كما رواه البزار والبيهقي، وقد ضعَّفه عدد من أهل العلم، ومنهم الألباني، لضعف في سنده.

Itulah Lima belas keistimewaan puasa Ramadhan dibanding ibadah lainnya. 
Semoga dengan mengetahui keistimewaan ini kita menjadi lebih khusyuk dalam menjalan ibadah puasa Ramadhan, berikut melaksanakan berbagai amaliah di bulan mulia ini.
 
MAKNA HURUF .صوم

## 1️⃣ صِدْقُ الْقَوْلِ (Shidqul Qaul) – Berkata Jujur

### 📖 Dalil:

Dalam Surah Al-Ahzab ayat 70:

> **يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا**
> “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Ayat ini memerintahkan kaum mukmin untuk berkata benar (*qaulan sadīdan*), yang merupakan bentuk dari **ṣidq (kejujuran)** dalam ucapan.

## 2️⃣ وَرَع (Wara’) – Berhati-hati dalam Agama

Kata *wara’* secara lafaz tidak disebut langsung dalam Al-Qur’an, tetapi maknanya tercermin dalam perintah menjauhi dosa dan perkara syubhat.

📖 Definisi dalam Bahasa Arab:

الوَرَعُ: تَرْكُ ما يَضُرُّ في الآخِرَةِ، وَاجْتِنابُ الشُّبُهاتِ خَوْفًا مِنَ الوُقوعِ في الحَرامِ.

Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dapat membahayakan (agama) di akhirat dan menjauhi perkara-perkara syubhat karena takut terjatuh ke dalam yang haram.

Definisi lain:

الوَرَعُ: الكَفُّ عَنِ المَحارِمِ وَالتَّحَرُّزُ مِنَ الشُّبُهاتِ.

Artinya:
Wara’ adalah menahan diri dari hal-hal yang haram dan berhati-hati dari perkara yang meragukan.

### 📖 Dalil:

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:

> **يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ**
> “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”

Sikap menjauhi yang haram dan syubhat inilah yang disebut **wara’**.

### 📖 Dalil Hadis:

Hadis riwayat Muhammad ﷺ dalam Shahih Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim:

> “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat… Barang siapa menjaga diri dari yang syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”

Ini adalah dasar utama konsep **wara’**.

## 3️⃣ مُتَّقِينَ (Muttaqīn) – Orang-orang Bertakwa

### 📖 Dalil:

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:

> **ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ**
> “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”


Semoga bermanfaat.

Allahu subhaanahu wata'ala A'lam

15 Keistimewaan PUASA

15 Keistimewaan Puasa Melebihi Ibadah Lainnya.

Keistimewaan ibadah puasa banyak disebutkan melebihi ibadah-ibadah lainnya. Salah satu hadits yang menjelaskan kelebihan puasa dibanding ibadah lainnya adalah hadits qudsi berikut.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ.

Artinya: Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.

Hadits qudsi tersebut menyatakan bahwa ibadah puasa memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah swt. Kata “untuk-Ku” adalah bentuk penyandaran ibadah puasa kepada Allah swt yang menunjukkan betapa puasa merupakan ibadah yang memiliki kedudukan lebih dibanding ibadah lainnya.

Dalam hadits itu disebutkan, “karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya”. Tentu kita menjadi bertanya, bukankah semua ibadah itu akan dibalas oleh Allah swt? Lalu mengapa dalam hadits di atas seolah hanya puasa yang langsung dibalas oleh-Nya? Bagaimana dengan ibadah-ibadah lainnya?

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan hadits tersebut.  Mengapa puasa memiliki keistimewaan di sisi Allah swt dibanding amal ibadah lainnya?...

Pertama, puasa adalah ibadah yang tidak bisa terjerumus dalam riya (pamer). Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw: 

ليس في الصيام رياء 

Artinya: Pada puasa tidak ada sifat riya (pamer). 

Puasa merupakan ibadah yang bersifat abstrak. Ibadah puasa tidak memiliki gerakan yang bisa membedakan antara orang yang sedang berpuasa dengan yang tidak. 

Sebagai contoh, ada dua orang sedang berjalan, apakah kita bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang tidak? Tentu sulit. Berbeda dengan ibadah lainnya. Seperti shalat, haji, zakat dan lainnya, yang membutuhkan gerakan tertentu.

Antara orang yang sedang shalat dengan yang tidak, bisa kita bedakan dengan mudah, karena shalat bisa dilihat dengan gerakan yang bisa membedakan mana yang sedang shalat dan mana yang bukan. Antara orang yang sedang melaksanakan haji dengan yang tidak juga demikian, karena haji memiliki gerakan yang bisa membedakan antara mana yang sedang haji dan mana yang bukan.

Kedua, puasa mampu melumpuhkan setan. 
Saat sedang berpuasa, maka kita akan menahan diri untuk tidak makan dan minum sampai waktu maghrib tiba. Ketika makanan dan minuman tidak masuk dalam tubuh, maka nafsu (syahwat) dalam diri akan terkendali. Sementara nafsu (syahwat) merupakan pintu masuk utama bagi setan untuk menjerumuskan manusia dalam lembah maksiat.


Rasulullah saw pernah bersabda: 


 إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ

Artinya: Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah anak Adam, maka persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa).

Ketiga, pahala puasa lebih besar dibanding ibadah lainnya. Menurut Al-Qurtubi, setiap amal ibadah sudah ditentukan besar pahala yang diperoleh, mulai dari dilipatkan 10 kali, 700 kali, dan sampai yang Allah kehendaki. Lain halnya dengan puasa, pahalanya tidak memiliki ketentuan khusus, hanya Allah yang tahu. 

Hal ini senada dengan hadis berikut:


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ 

Artinya: Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Keempat, pahala melihat Allah swt. Dalam kitab Durrah an-Nashihin (halaman 13), Syekh Utsman Syakir dengan mengutip pernyataan Abul Hasan menjelaskan, bahwa semua amal ibadah akan mendapatkan balasan berupa surga. Berbeda dengan puasa, pahalanya adalah bersua langsung dengan Allah swt di akhirat nanti, tanpa ada penghalang apapun. 

Tentunya kita semua sangat menginginkan ini, karena  melihat Allah swt di akhirat merupakan kenikmatan yang paling tinggi, lebih nikmat dari mendapat surga seisinya. 

5. Doa diqobul

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ »

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) do’a pemimpin yang adil, (2) do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 2408 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar. Lihat catatan kaki Zaadul Ma’ad, 2: 50).

Juga ada hadits,

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ »

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah no. 1753. Dalam sanadnya terdapat Ishaq bin ‘Ubaidillah. Ibnu Hibban memasukkan perowi ini dalam perowi tsiqoh. Perowi lainnya sesuai syarat Bukhari. Hadits ini dikuatkan dengan hadits sebelumnya yang telah disebutkan. Lihat catatan kaki Zaadul Ma’ad, 2: 49-50).

6. PERISAI

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ


Artinya: Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa’ (HR Bukhari dan Muslim).

  
 عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ : يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ , فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ . (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada kami,“Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menafkahi biaya rumah tangga, hendaknya dia menikah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya.”
(HR.Bukhori Muslim)

7. Bulan Sosial atau Empati

ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع

“Agar orang yang kaya dapat merasakan lapar, sehingga ia tidak lupa kepada orang yang lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)

Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam hadis dari Salman yang dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ulama untuk menjelaskan Ramadan, yang mana disebutkan,

وهو شهر المواساة.

“Ramadan adalah bulan empati.”

Dengan menahan diri dari perkataan kasar dan tindakan emosional, puasa membantu seseorang untuk lebih tenang, sabar, dan berakhlak baik, sehingga membentuk karakter Muslim yang kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi berbagai ujian hidup.

فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير

“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan yang diberkahi, yakni Ramadan, bahwa terdapat banyak hadis yang menunjukkan betapa pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan amal ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]

8. Memberi Syafa'at

ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ : ﺃَﻱْ ﺭَﺏِّ، ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﺑِﺎﻟﻨَّﻬَﺎﺭِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻭَﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ : ﻣَﻨَﻌْﺘُﻪُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ، ﻓَﺸَﻔِّﻌْﻨِﻲ ﻓِﻴﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻴُﺸَﻔَّﻌَﺎﻥِ

“Amalan puasa dan membaca Al-Qur’an akan memberi syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku menahannya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at kepadanya, maka keduanya pun diizinkan memberi syafa’at.” [HR. Ahmad, Shahih At-Targhib: 1429]

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Rajinlah membaca al-Quran, karena dia akan menjadi syafaat bagi penghafalnya di hari kiamat.” [HR. Muslim 1910]

Para ulama mendefinisikan syafa’at:

ﻓﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻫﻲ ﺍﻟﺘﻮﺳﻂ ﻟﻠﻐﻴﺮ ﻓﻲ ﺟﻠﺐ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻤﻀﺮﺓ

“Syafa’at adalah sebagai penengah/wasilah bagi yang lain untuk mendatangkan manfaat dan mencegah bahaya/madharat.”


Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang BAIK, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa’at yang BURUK, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.” (An-Nisaa’ :85)

9. Masuk Sorga dari pintu khusus/ Babu Royyaan


Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan“. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ »

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

10. Kifarat Dosa

 
 اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَاُن إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاةٌ مَا بَيْنَهُنَّ إذَاجْتَنَبَ اْلكَبَائِرَ

Artinya: Jarak antara shalat lima waktu, shalat Jumat dengan Jumat berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-­dosa yang ada di antaranya, apabila tidak melakukan dosa besar (HR Muslim).

11. Ditambah lima keistimewaan

هو حديث يُروى عن النبي ﷺ، ونصّه الكامل:

«أُعْطِيَتْ أُمَّتِي فِي شَهْرِ رَمَضَانَ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِي:
أَمَّا وَاحِدَةٌ: فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِمْ، وَمَنْ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ أَبَدًا.
وَأَمَّا الثَّانِيَةُ: فَإِنَّ خُلُوفَ أَفْوَاهِهِمْ حِينَ يُمْسُونَ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ.
وَأَمَّا الثَّالِثَةُ: فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَسْتَغْفِرُ لَهُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ.
وَأَمَّا الرَّابِعَةُ: فَإِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ جَنَّتَهُ فَيَقُولُ: اسْتَعِدِّي وَتَزَيَّنِي لِعِبَادِي، يُوشِكُ أَنْ يَسْتَرِيحُوا مِنْ تَعَبِ الدُّنْيَا إِلَى دَارِي وَكَرَامَتِي.
وَأَمَّا الْخَامِسَةُ: فَإِنَّهُ إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ غَفَرَ لَهُمْ جَمِيعًا».
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَهِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنَّ الْعَامِلَ إِنَّمَا يُوَفَّى أَجْرُهُ إِذَا قَضَى عَمَلَهُ».

📌 حكم الحديث:
هذا الحديث رواه أحمد بن حنبل في المسند، كما رواه البزار والبيهقي، وقد ضعَّفه عدد من أهل العلم، ومنهم الألباني، لضعف في سنده.

Itulah Lima belas keistimewaan puasa Ramadhan dibanding ibadah lainnya. 
Semoga dengan mengetahui keistimewaan ini kita menjadi lebih khusyuk dalam menjalan ibadah puasa Ramadhan, berikut melaksanakan berbagai amaliah di bulan mulia ini.
 
MAKNA HURUF .صوم

## 1️⃣ صِدْقُ الْقَوْلِ (Shidqul Qaul) – Berkata Jujur

### 📖 Dalil:

Dalam Surah Al-Ahzab ayat 70:

> **يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا**
> “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Ayat ini memerintahkan kaum mukmin untuk berkata benar (*qaulan sadīdan*), yang merupakan bentuk dari **ṣidq (kejujuran)** dalam ucapan.

## 2️⃣ وَرَع (Wara’) – Berhati-hati dalam Agama

Kata *wara’* secara lafaz tidak disebut langsung dalam Al-Qur’an, tetapi maknanya tercermin dalam perintah menjauhi dosa dan perkara syubhat.

📖 Definisi dalam Bahasa Arab:

الوَرَعُ: تَرْكُ ما يَضُرُّ في الآخِرَةِ، وَاجْتِنابُ الشُّبُهاتِ خَوْفًا مِنَ الوُقوعِ في الحَرامِ.

Wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang dapat membahayakan (agama) di akhirat dan menjauhi perkara-perkara syubhat karena takut terjatuh ke dalam yang haram.

Definisi lain:

الوَرَعُ: الكَفُّ عَنِ المَحارِمِ وَالتَّحَرُّزُ مِنَ الشُّبُهاتِ.

Artinya:
Wara’ adalah menahan diri dari hal-hal yang haram dan berhati-hati dari perkara yang meragukan.

### 📖 Dalil:

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:

> **يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ**
> “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”

Sikap menjauhi yang haram dan syubhat inilah yang disebut **wara’**.

### 📖 Dalil Hadis:

Hadis riwayat Muhammad ﷺ dalam Shahih Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim:

> “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat… Barang siapa menjaga diri dari yang syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”

Ini adalah dasar utama konsep **wara’**.

## 3️⃣ مُتَّقِينَ (Muttaqīn) – Orang-orang Bertakwa

### 📖 Dalil:

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:

> **ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ**
> “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”


Semoga bermanfaat.

Allahu subhaanahu wata'ala A'lam