Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Selasa, 26 Mei 2026

SEMUA BID'AH TERBANTAHKAN

RUNTUH SUDAH SLOGAN SEMUA BID'AH SESAT DI HADAPAN HR MUSLIM INI !

“Kalau Semua Bid’ah Sesat, Kenapa Nabi Diam Saat Sahabat Membuat Bacaan Iftitah Sendiri?”

Kaum yang paling sering berteriak “bid’ah… bid’ah… sesat!” biasanya langsung gugup ketika berhadapan dengan hadits shahih ini. 
Sebab hadits ini menghancurkan pola pikir sempit yang menganggap semua lafadz baru dalam ibadah otomatis haram dan sesat.

Padahal di zaman Nabi ﷺ sendiri, ada sahabat yang membuat bacaan baru dalam shalat dan Nabi bukan hanya tidak marah, bahkan memuji bacaan tersebut.

Perhatikan hadits shahih berikut:

> عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِي مَع رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ ِلله كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟
قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ
قَالَ: عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
قَالَ ابْنُ عُمَرَ: فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ

Artinya:

Dari Ibnu Umar رضي الله عنه, ia berkata:
“Ketika kami shalat bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba seorang laki-laki mengucapkan:

> اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ ِلله كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Rasulullah ﷺ lalu bertanya:
‘Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?’

Laki-laki itu menjawab:
‘Saya wahai Rasulullah.’

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

> عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ

‘Aku kagum terhadap bacaan itu. Pintu-pintu langit dibukakan karenanya.’

Ibnu Umar berkata:
‘Aku tidak pernah meninggalkan bacaan itu sejak mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan demikian.’”
(HR. Muslim)

Hadits Ini Sangat Menyakitkan Bagi Kelompok “Semua Bid’ah Sesat”

Kenapa?

Karena fakta hadits ini jelas:

Sahabat membuat lafadz baru dalam shalat.

Bacaan itu sebelumnya tidak diajarkan Nabi.

Nabi tidak berkata: “Ini bid’ah sesat.”

Nabi malah memuji dan mengaguminya.

Kalau logika sebagian orang benar bahwa semua tambahan lafadz dalam ibadah pasti sesat seharusnya Nabi langsung melarang sahabat tersebut.

Tetapi yang terjadi justru kebalikannya.

Ini menunjukkan bahwa tidak semua perkara baru dalam ibadah otomatis tercela. Selama isinya baik, tidak bertentangan dengan syariat, dan membawa kepada dzikir kepada Allah, maka bisa diterima.

Kenapa Saat Tahlil dan Shalawat Mereka Teriak Bid’ah?

Aneh sekali.

Saat ada dzikir bersama, tahlil, maulid, shalawat, doa berjamaah — langsung teriak:

> “Mana dalilnya?” “Tidak ada contoh Nabi!” “Bid’ah!”

Tetapi ketika disodorkan hadits shahih bahwa sahabat membuat sendiri bacaan dalam shalat lalu dipuji Nabi ﷺ, mereka mulai sibuk mencari-cari alasan.

Kadang jawabannya berubah jadi:

> “Itu karena Nabi masih hidup.”

Justru ini makin menghancurkan mereka sendiri. Sebab pengakuan itu berarti:

memang ada perkara baru dalam ibadah,

dan tidak semuanya langsung sesat.

Berarti slogan:

> “Semua yang tidak dicontohkan Nabi pasti sesat”

ternyata runtuh oleh hadits shahih Muslim sendiri.

Imam Nawawi Juga Menjelaskan Kebolehan Ini

Imam Imam An-Nawawi ketika mensyarahi hadits ini menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan bolehnya membuat dzikir yang baik selama tidak menyelisihi syariat.

Artinya, para ulama Ahlussunnah sejak dulu sudah memahami:

bid’ah tidak semuanya sesat,
ada perkara baru yang hasanah,
dan ada yang dhalalah.

Bukan seperti pola pikir kaku yang menganggap semua hal baru langsung neraka.

Tiga Pertanyaan yang Membuat Mereka Sulit Tidur

1. Kalau semua tambahan dalam ibadah sesat, kenapa Nabi ﷺ tidak mengingkari sahabat yang membuat bacaan iftitah sendiri?

2. Kenapa Nabi ﷺ justru memuji bacaan itu dan mengatakan pintu langit dibuka karenanya?

3. Kalau sahabat boleh membuat lafadz dzikir baru yang baik, atas dasar apa kalian mengharamkan seluruh amalan kaum muslimin seperti tahlil, maulid, dan shalawat?

Hadits shahih ini terlalu terang untuk ditolak.

Masalahnya bukan kurang dalil.

Masalahnya : ada yang sudah terlanjur membangun agama di atas slogan, bukan di atas pemahaman ulama dan keluasan sunnah Nabi ﷺ.
Allahu A'lam

Senin, 25 Mei 2026

𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗪𝗔𝗕 𝗧𝗨𝗗𝗨𝗛𝗔𝗡 𝗧𝗔𝗞𝗙𝗜𝗥𝗜 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗠𝗔𝗗𝗭𝗛𝗔𝗕 𝗔𝗦𝗬’𝗔𝗥𝗜

𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗪𝗔𝗕 𝗧𝗨𝗗𝗨𝗛𝗔𝗡 𝗧𝗔𝗞𝗙𝗜𝗥𝗜 𝗧𝗘𝗥𝗛𝗔𝗗𝗔𝗣 𝗠𝗔𝗗𝗭𝗛𝗔𝗕 𝗔𝗦𝗬’𝗔𝗥𝗜

Semoga Ust AST dan team senantiasa sehat selalu sekeluarga. Boleh menulis bantahan atas tulisan ini? Ini artikel yg diambil dari grup … di Telegram.

𝗔𝗤𝗜𝗗𝗔𝗛 𝗔𝗦𝗬’𝗔𝗥𝗜𝗬𝗬𝗔𝗛 𝗠𝗨𝗧𝗔’𝗔𝗞𝗛𝗜𝗥𝗜𝗡 𝗗𝗔𝗡 𝗛𝗨𝗞𝗨𝗠 𝗦𝗘𝗠𝗕𝗘𝗟𝗜𝗛𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗥𝗘𝗞𝗔

Permasalahan Asy’ariyyah bukan perkara baru. Ia muncul sejak abad ke-4 H ketika Ahlul Kalam mencampurkan aqidah Islam dengan ushul Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Salaf Ahlus Sunnah telah membantah dan menjelaskan hukum mereka dengan jelas. Makalah ini memaparkan aqidah Asy’ariyyah muta’akhirin, hukumnya, dan hukum sembelihan mereka menurut perkataan Imam salaf, tanpa kompromi.

𝟭. 𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗔𝘀𝘆’𝗮𝗿𝗶𝘆𝘆𝗮𝗵 𝗠𝘂𝘁𝗮’𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗶𝗻?
Asy’ariyyah muta’akhirin adalah kelompok yang menisbatkan diri kepada Abu Hasan Al-Asy’ari, padahal mereka menyelisihi aqidahnya di akhir hidupnya. Mereka dipimpin oleh:
1. Al-Baqillani 403 H
2. Abdul Malik Al-Juwaini 478 H  
3. Abu Hamid Al-Ghazali 505 H
4. Fakhruddin Ar-Razi 606 H
Pokok aqidah mereka :
a. Ta’thil Shifat Allah
Menafikan sifat yad, wajh, istiwa’, nuzul. Istiwa’ ditakwil istaula, yad ditakwil qudrah.  
Ini persis perkataan Jahm bin Shafwan dan Bisyir Al-Marisi.

b. Mengingkari Kalamullah 
Mereka berkata Al-Qur’an bukan kalam Allah yang didengar, tapi ma’na nafsani. Lafazhnya makhluk. Ini aqidah Jahmiyyah murni.

c. Mengingkari Uluw Allah 
Mereka berkata Allah tidak di atas, tidak di luar alam, tidak di dalam alam.  
Ini penyamaan Allah dengan ‘adam, dan penyelisihan nash mutawatir.

𝟮. 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗔𝘀𝘆’𝗮𝗿𝗶𝘆𝘆𝗮𝗵 𝗠𝘂𝘁𝗮’𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿𝗶𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗳

a. Imam Abul Fadl Umar bin Ibrahim al Harawi 425 H

"لا تحل ذبائح الأشعرية، لأنهم ليسوا بمسلمين، ولا بأهل كتاب، ولا يُثبتون في الأرض كتاب الله."  

"Sembelihan Asy’ariyyah tidak halal, karena mereka bukan muslim, bukan Ahli Kitab, dan tidak menetapkan Kitab Allah di muka bumi."

b. Imam Abu Nasr As Sijzi 444 H  

هؤلاء القوم خالفوا الكتاب والسنة وإجماع السلف في إثبات الصفات، ونفوا العلو والاستواء على العرش، وقالوا بقول الجهمية والمعتزلة. فمن قال بقولهم فقد وافق أهل البدع المكفرة 

"Kaum ini menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ salaf dalam menetapkan sifat. Mereka menafikan uluw dan istiwa’, dan berkata dengan perkataan Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Maka siapa yang berkata dengan perkataan mereka, dia telah sepakat dengan ahli bid’ah yang dikafirkan."

c. Imam Muwaffaquddin Ibn Qudamah Al-Maqdisi 620 H  

واعلم أن أهل البدع كلهم كفار عند السلف، ومنهم الأشعرية الذين ينفون الصفات ويقولون بخلق القرآن.

"Ketahuilah bahwa semua ahli bid’ah itu kafir di sisi salaf. Di antaranya Asy’ariyyah yang menafikan sifat dan berkata Al-Qur’an makhluk."

ما أحدثه الأشعرية من نفي الصفات وتأويلها هو عين قول المعتزلة والجهمية، فمن رضي به فهو منهم.

"Perkara baru yang dibuat Asy’ariyyah berupa penafian sifat dan ta’wilnya adalah persis perkataan Mu’tazilah dan Jahmiyyah. Maka siapa yang ridha dengannya, dia dari mereka."

𝟯. 𝗦𝗲𝗯𝗮𝗯 𝗠𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗗𝗶𝗸𝗮𝗳𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗳

Salaf tidak mengkafirkan karena nama "Asy’ari". Mereka mengkafirkan karena 3 perkara kufur akbar:
1. Ta’thil Shifat Allah 
Allah berfirman: 
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى 
Salaf memahami istiwa’ secara hakiki. Asy’ariyyah menakwilnya istaula. Ini mendustakan Allah.
2. Mengingkari Kalamullah  
Ijma’ salaf: Al-Qur’an kalamullah, bukan makhluk. Imam Ahmad berkata: "Barangsiapa berkata Al-Qur’an makhluk maka dia kafir."  

Asy’ariyyah berkata al Qur’an makhluk dalam lafazhnya.
3. Mengingkari Uluw Allah 
Allah berfirman: 
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء
Nabi ﷺ bertanya ke budak: "Aina Allah?" Jawab: "Fis Sama’". Nabi ﷺ bersabda: "A’tigha fa innaha mu’minah".  

Asy’ariyyah menolak ini dan berkata Allah tidak di arah.

𝟰. 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗦𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮

Qaidah salaf dalam sembelihan mubtadi’:
a. Jika bid’ahnya kufur akbar → sembelihannya haram.  
Contoh: Sembelihan Rafidhah yang mencela sahabat, Jahmiyyah yang mengingkari kalamullah, Asy’ariyyah muta’akhirin yang menafikan sifat. Al Khallal meriwayatkan dalam As Sunnah:   

"سئل الإمام أحمد عن ذبيحة الجهمية، فقال: لا تؤكل."  
"Imam Ahmad ditanya tentang sembelihan Jahmiyyah, beliau berkata: Tidak dimakan."

Karena Asy’ariyyah muta’akhirin adalah Jahmiyyah bungkus baru, maka hukumnya sama.

Minggu, 24 Mei 2026

RANGKAIAN IBADAH HAJI MENUJU TITIK NOL

MENUJU KE TITIK NOL

Inilah puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji; saat jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Padang Arafah dalam satu momentum agung yang sangat menentukan. Di tempat inilah Rasulullah ﷺ menegaskan :

عن عبد الرحمن بن يعمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ
«الْحَجُّ عَرَفَةُ»
“Haji itu adalah Arafah.”
(HR. Abu Dawud no. 1949, At-Tirmidzi no. 889, An-Nasa’i no. 3016)
Kata عرفة adalah isim ‘alam, nama sebuah tempat. Namun bila ditelisik dari asal katanya, ia diambil dari kata عَرَفَ yang berarti mengetahui, mengenal. Sedangkan عرفة sebelum dibakukan menjadi nama tempat, merupakan kalimah masdar yang bermakna perkenalan atau pengenalan.
Maka Arafah bukan sekadar nama hamparan padang pasir, tapi menjadi tempat manusia mengenal kembali siapa dirinya, dari mana asalnya, dan kepada siapa kelak akan kembali.
Secara sejarah, para ulama menuturkan bahwa di kawasan inilah Nabi Adam عليه السلام dan Sayyidah Hawa dipertemukan kembali setelah lama terpisah ketika Allah turunkan ke muka bumi. 
Setelah penyesalan panjang atas kekhilafan akibat bujuk rayu setan di surga, Allah mempertemukan kembali keduanya di bumi Arafah. Bukit Rahmah menjadi saksi bisu bertemunya nenek moyang umat manusia.

Dengan pakaian hanya dua helai kain ihram, semua berkumpul di hamparan yang sama :

Tidak ada perbedaan. 
Tidak ada kebesaran dunia. 
Tidak ada simbol pangkat dan jabatan.
Dan inilah saat ampunan Allah terbuka selebar-lebarnya.
Rasulullah ﷺ bersabda :

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله ﷺ قال:
«مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ»
“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibanding hari Arafah. Sungguh Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat.”
(HR. Muslim no. 1348)
Maka hendaknya saat wukuf di Arafah, seorang muslim melakukan muhasabah; menghitung amal perbuatan sejak baligh hingga hari ini.
Hadirkan rasa takut kepada Allah.
Gerakkan lisan dengan istighfar.
Bayangkan betapa dahsyatnya azab Allah bagi para pendosa agar rasa khauf mengunci jiwa.
Lalu hadirkan penyesalan yang tulus dengan deraian air mata taubat nasuha, sambil menumbuhkan raja’, harapan akan luasnya ampunan Allah.
Ucapkan berulang-ulang :

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Biarkan hati terguncang.
Biarkan jiwa makin tunduk.
Biarkan khusyuk tumbuh.
Dan semoga ampunan Allah menjadi hadiah terbesar kita di Arafah.
Arafah mengajarkan tentang asal muasal diri kita. Kita datang ke dunia tanpa tahu apa-apa, tanpa membawa apa-apa.
Allah berfirman :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
(Al-Qur'an Surah An-Nahl: 78)
Namun manusia sering lupa diri. Tumbuh sombong. Merasa paling hebat. Padahal segala sesuatu berada dalam genggaman Allah.
Allah mengingatkan :

أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?”
(Al-Qur'an Surah Al-Mursalat: 20)
Lalu apa yang hendak dibanggakan?
Semua yang melekat pada diri kita hanyalah pertolongan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda :

«مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ»
“Barang siapa merendahkan diri karena Allah, Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Di Arafah kita belajar makna kesetaraan.
Semua sama.
Miskin dan kaya.
Kampung dan kota.
Rakyat dan pejabat.
Panas yang sama.
Tanah yang sama.
Pakaian yang sama.
Lalu apa yang membedakan?
Allah menjawab :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(Surah Al-Hujurat: 13)
Arafah juga mengajarkan makna kembali.
Bahwa kelak kita pulang kepada Allah tanpa pakaian kebesaran.
Tanpa pangkat.
Tanpa kendaraan.
Tanpa rumah mewah.
Pakaian terbaik kita nanti hanyalah kain kafan.
Kendaraan termewah hanyalah keranda.
Rumah terakhir hanyalah liang kubur.
Lalu apa yang kita banggakan?
Allah berfirman :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(Surah Ash-Shu'ara: 88–89)
Seorang ulama ahli hikmah pernah menuturkan :

1. Manusia datang tanpa apa-apa
الإنسان يأتي بلا شيء
2. Manusia bergerak mencari sesuatu
ثم يسعى لأجل شيء
3. Manusia akan kembali tanpa membawa apa-apa
ويذهب بلا شيء

4. Manusia akan dihisab tentang segala sesuatu
ويحاسب من كل شيء
Arafah membimbing ruhani kita kembali ke titik nol.
Mereset jiwa.
Membersihkan tauhid.
Mengisi ulang baterai iman.
Agar ketundukan hanya kepada Allah semata.
Allah berfirman :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Surah Ar-Rum: 30)

Ada beberapa langkah yang harus kita pahami agar menjadi manusia paripurna :

1. Mengenal Allah (معرفة الله)
Imani, ikrarkan, dan amalkan tauhid kita:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Hadirkan Allah dalam jiwa hingga sadar:
الله غايتنا
Allah tujuan kami.

2. Mengenal Rasulullah ﷺ (معرفة الرسول)
Beliau suri teladan terbaik.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan terbaik bagimu.”
(Surah Al-Ahzab: 21)

3. Mengenal Islam (معرفة الإسلام)
Islam adalah jalan hidup yang sempurna.
Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.”
(Surah Ali 'Imran: 19)
Dan doa kita:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

4. Mengenal Al-Qur’an (معرفة القرآن)
Al-Qur’an adalah dustur ilahi.
Pedoman hidup.
Sumber ilmu.
Sumber hukum.
Petunjuk jalan.
Allah berfirman:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(Surah Al-Isra: 9)

Secara garis besar kita bisa menarik benang merah apa yg musti kita hayati dari Ritual arofahh 
• Arafah mengajarkan kita mengenal diri agar mengenal Allah.
• Arafah menghapus batas dunia dan menegakkan kesetaraan manusia.
• Arafah menumbuhkan takut dan harap dalam satu hati.
• Arafah mengingatkan bahwa hidup akan kembali kepada Allah.
• Arafah mengembalikan kita kepada fitrah asli.
• Arafah mendidik kita menuju titik nol—agar pulang dari tanah suci membawa hati baru, jiwa baru, dan tauhid yang lebih murni.
Semoga Allah menerima wukuf seluruh jamaah haji, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba yang pulang dari Arafah dengan hati yang bersih.
اللهم اجعلنا من عتقائك من النار يوم عرفة، واغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين. آمين يا رب العالمين.

SEMBELIHAN ORANG YANG TIDAK SHALAT

𝗦𝗘𝗠𝗕𝗘𝗟𝗜𝗛𝗔𝗡 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧

Afwan kyai izin bertanya, bagaimana hukum sembelihan orang yang tidak shalat? Baru-baru ini saya bergabung ke komunitas penyembelih hewan yang menyatakan bahwa jagal yang tidak shalat tidak sah sembelihannya. 

Kalau ada mereka yang mau memotong qurban harus dicegah karena menyebabkan Qurban orang tidak sah. Mohon penjelasannya.

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻

Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq 

Dalam hal ini ada bagian yang disepakati dan ada yang diperbedapendapatkan tentang hukum sembelihan seorang jagal yang meninggalkan shalat. Yang disepakati tidak sah dan tidak boleh dimakan sembelihannya adalah apabila ia meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban shalat. 

Orang seperti ini dihukumi kafir meskipun mengaku muslim dan jelas tertera di KTP-nya tertulis beragama Islam. Karena ulama sepakat berpendapat siapapun yang meninggalkan shalat lima waktu karena mengingkari pensyariatannya, maka ia kafir keluar dari Islam. Berkata al imam Ibnu Hajar al Haitami asy Syafi’i rahimahullah:

من ‌جحد ‌وجوب ‌الصلاة المكتوبة أي إحدى الخمس كفر لإنكار ما هو مجمع عليه معلوم من الدين بالضرورة

“Barang siapa mengingkari kewajiban shalat yang diwajibkan (yakni salah satu dari lima rukun Islam), maka ia kafir, karena ia mengingkari sesuatu yang telah disepakati secara ijma‘ sebagai pengetahuan pasti dalam agama.”[1]

Sedangkan untuk keadaan yang kedua, di mana seseorang meninggalkan shalat karena faktor maksiat, malas dan semisalnya, maka tidak dihukumi kafir oleh jumhur ulama. Ia masih muslim hanya telah melakukan satu dosa yang sangat besar. 

Dan untuk masalah hukum meninggalkan shalat ini silahkan simak bahasan khususnya di: https://astofficial.id/contents/515/hukum-meninggalkan-shalat-lima-waktu

𝗦𝘁𝗮𝘁𝘂𝘀 𝘀𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝗻

Orang yang meninggalkan shalat karena faktor maksiat ulama berbeda pendapat tentang status sembelihannya. Sebagian berpendapat tidak halal, sedangkan sebagian yang lain tetap menghalalkan. Berikut penjelasan masing-masing pendapat.

𝗔. 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹

Sembelihan seorang jagal yang tidak shalat menurut pendapat pertama ini dianggap tidak sah karena ia dihukumi sebagai orang kafir yang tidak halal sembelihannya. Al imam Khammi al Maliki rahimahullah berkata:

وقال في كتاب ابن حبيب: لا تؤكل ذبيحة الذي يدع الصلاة، ولا ذبيحة الذي يض: "لَيْسَ بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ إِلَاّ تَرْكُ الصَّلَاةِ، فَمَنْ تَرَكَ الصَّلاةَ يعها ويعرف بالتهاون بها؛ لأن رسول الله ﷺ قال فَقَدْ كَفَرَ

“Namun dalam kitab Ibnu Habib disebutkan: tidak boleh dimakan sembelihan orang yang meninggalkan shalat, dan tidak pula orang yang menyia-nyiakannya serta dikenal meremehkannya; karena Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Tidak ada antara seorang hamba dengan kekufuran kecuali meninggalkan shalat. Barang siapa meninggalkan shalat maka sungguh ia telah kafir.’”[2]

Pendapat kalangan ini juga bisa kita temukan dalam fatwa-fatwa kontemporer khususnya dari ulama Saudi yang secara tegas menyatakan ini. Berkata Syaikh bin Baz rahimahullah:

لا يجوز أكل ذبيحة تارك الصلاة في أصح قولي العلماء إذا كان مقرا بوجوبها، ولكنه يتساهل في تركها

“Tidak boleh memakan sembelihan orang yang meninggalkan shalat menurut pendapat yang paling sahih dari dua pendapat ulama, apabila ia mengakui kewajiban shalat namun meremehkan dan meninggalkannya.”[3]

Fatwa yang kurang lebih sama juga dinyatakan oleh lembaga fatwa dan unit riset Ilmiah pemerintah Kuwait yang menyatakan:

وتارك الصلاة نهائيا لا يجوز أن يذبح سواء الأضحية أو غير الأضحية، حتى ولا ذبيحة لحم ليست بنسك، ما ذبحت من أجل العبادة والتقرب إلى الله عز وجل، حتى ولا يذبح دجاجة ولا طائرا ولا غير ذلك

“Dan orang yang meninggalkan shalat secara total tidak boleh melakukan penyembelihan, baik penyembelihan qurban maupun selain qurban. Bahkan tidak boleh pula menyembelih hewan untuk diambil dagingnya yang bukan termasuk nusuk (ibadah sembelihan), baik yang disembelih untuk tujuan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla maupun selain itu. Bahkan ia tidak boleh menyembelih ayam, burung, ataupun yang lainnya.”[4]

𝗕. 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹

Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa sembelihan orang yang tidak shalat karena maksiat dianggap sah meskipun makruh. Hal ini selama ia tidak terang-terangan menyatakan kekafiran atau menampakkan sesuatu yang berupa ucapan dan perbuatan yang menjatuhkan kepada hukum kufur. Al imam as Subki rahimahullah dari kalangan Syafi’iyyah berkata:

فنحن نحكم لجميع عوام المسلمين بانهم مؤمنون مسلمون فى الظاهر ونحسن الظن بهم ونعتقد ان لهم نظرا واستدلالافى افعال الله وانهم يعرفونه سبحانه . والله اعلم بما فى قلوبهم وليس كل ما يحكم به على الناس باحكام المسلمين هو عين الايمان . فان الدار اذا كانت دار اسلام ووجدنا شخصا ليس معه عيار الكفار فان نأكل ذبيحته ونصلى خلفه ولو وجدناه ميتا لغسلناه ونصلى عليه وندفنه فى مقابر المسلمين

“Maka kami menghukumi seluruh kaum muslimin awam sebagai orang-orang yang beriman dan muslim secara lahiriah. Kami berbaik sangka kepada mereka dan meyakini bahwa mereka memiliki pemikiran dan penalaran terhadap perbuatan-perbuatan Allah serta mengenal Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Adapun Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Dan tidak setiap orang yang diperlakukan dengan hukum-hukum kaum muslimin berarti itulah hakikat iman yang sebenarnya.

Karena itu, apabila suatu negeri adalah negeri Islam dan kita mendapati seseorang yang tidak memiliki tanda-tanda orang kafir, maka kita memakan sembelihannya, shalat di belakangnya, dan apabila kita mendapatinya telah meninggal dunia maka kita memandikannya, menyalatinya, dan menguburkannya di pemakaman kaum muslimin.”[5]

Al imam Qarafi rahimahullah dari kalangan ulama madzhab Maliki berkata:

وأجاز مالك مرة أكل ذبيحة تارك الصلاة

“Dan Imam Malik pada suatu kesempatan membolehkan memakan sembelihan orang yang meninggalkan shalat.”[6]

Keterangan yang sama juga disebutkan dalam kitab-kitab dari madzhab Maliki yang lain, seperti redaksi berikut ini:

النصراني يذبح للمسلم بأمره اليهودي، ومنع أكل ذبيحة تارك الصلاة إنما يأتي على القول بكفره

“Seorang Nasrani boleh menyembelih untuk seorang muslim atas perintahnya, demikian pula seorang Yahudi. Adapun larangan memakan sembelihan orang yang meninggalkan shalat, maka hal itu hanya berlaku berdasarkan pendapat yang mengkafirkannya.”[7]

𝗞𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻

Sembelihan orang yang meninggalkan shalat adalah masalah khilafiyah di kalangan ulama. Jika ia meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, maka ulama sepakat sembelihannya tidak sah.

 Adapun jika ia meninggalkannya karena malas namun masih meyakini kewajibannya, maka sebagian ulama melarang sembelihannya dan jumhur ulama tetap menghalalkannya. 

Karena itu, tidak tepat bermudah-mudah menvonis dengan vonis tidak sah Qurban dalam masalah yang diperselisihkan, meskipun tentu memilih penyembelih yang menjaga shalat tetap lebih utama dan yang terbaik. 

Wallahu ‘alam.
__________

[1] Minhaj al Qawim hlm. 201
[2] At Tabshirah li Khammi (4/1533)
[3] Majmu’ Fatawa wa Maqalat Matnu’ah (10/272)
[4] Mausuah Shina’at al Halal (2/209)
[5] Tabaqat asy Syafi’iyyah (3/419)
[6] Syarh at Tafri’ (4/386)
[7] Lawami ad Durar fi Hatki Astar al Mukhtashar (5/12)

Jumat, 22 Mei 2026

FIDYAH

Pnjelasan tentang Fidyah Pengganti Shalat Orang Meninggal

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya mau tanya, mohon penjelasan tentang masalah fidyah shalat orang meninggal yang pernah meninggalkan shalat karena sakit secara rinci dan tata cara praktik pelaksanaannya?
 
Atas jawaban dan penjelasannya saya ucapakan terima kasih.
 
«وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين» (البقرة: 184)،

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
"لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَكِنْ يُطْعِمُ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ" (رواه ابن عباس)


Jawaban:
 
Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Terima kasih atas pertanyaan Saudara. 
Semoga Saudara senantiasa diberi keberkahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Aamiin.
 
Sebelumnya patut dipahami bahwa para ulama Syafi’iyah berbeda pendapat tentang shalat yang ditinggalkan oleh seseorang di masa hidup apakah dapat diqadha’i oleh orang lain atau tidak. 
 
>> Pendapat masyhur dalam mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa ibadah shalat mayit (orang yang sudah wafat) tidak dapat  diqadha’i oleh siapa pun, serta tidak dapat digantikan dengan pembayaran fidyah berupa menyedekahkan makanan pokok.
 
>> Pendapat lain mengatakan bahwa shalat yang ditinggalkan oleh mayit semasa hidup dapat diqadha’i. 

>> Dalam qaul qadim Imam As-Syafi’i berpandangan bahwa jika mayit meninggalkan harta warisan (tirkah) maka wajib bagi wali mayit (anak, saudara, dll) untuk mengqadha’i shalatnya. 

>> Sedangkan pendapat terakhir menyebutkan bahwa setiap shalat yang ditinggalkan oleh mayit digantikan dengan pembayaran fidyah (pemberian makanan pokok) kepada fakir miskin sebesar satu mud (0,6 kilogram atau ¾ liter) makanan pokok.
 
Perbedaan pendapat tentang hal ini dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:
 
(فائدة) من مات وعليه صلاة، فلا قضاء، ولا فدية. وفي قول - كجمع مجتهدين - أنها تقضى عنه، لخبر البخاري وغيره، ومن ثم اختاره جمع من أئمتنا، وفعل به السبكي عن بعض أقاربه، ونقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي - إن خلف تركه - أن يصلي عنه، كالصوم.
 
وفي وجه - عليه كثيرون من أصحابنا - أنه يطعم عن كل صلاة مدا. 
وقال المحب الطبري: يصل للميت كل عبادة تفعل عنه: واجبة أو مندوبة. 
وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة أن للانسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله.
 
“Faidah. Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki tanggungan shalat, ia tidak wajib mengqadha’ dan tidak membayar fidyah (atas shalat tersebut). 

Sedangkan menurut sebagian pendapat seperti sekelompok mujtahid shalat tersebut diqadha’i, berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dan lainnya. 

Pendapat ini juga dipilih oleh para imam mazhab kita (Syafi’i) dan Imam as-Subki melakukan hal ini pada sebagian kerabatnya. 

Imam Ibnu Burhan menukil dari qaul qadim bahwa wajib bagi wali untuk menshalati atas shalat yang mayit tinggalkan, jika memang mayit meninggalkan harta tirkah (warisan).  
 
Menurut pendapat lain, yang diikuti oleh banyak ulama mazhab Syafi’i bahwa wali memberi makan satu mud pada setiap shalat (yang ditinggalkan). 

Imam al-Muhib at-Thabari berpendapat bahwa setiap ibadah yang dilakukan untuk mayit bisa sampai padanya, baik berupa ibadah wajib ataupun ibadah sunnah. 
Dalam kitab Syarah al-Mukhtar dijelaskan : 
‘Mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah berpandangan bahwa seseorang bisa menjadikan pahala amal dan shalatnya untuk orang lain dan pahala tersebut bisa sampai padanya’” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 2, hal. 276)
 
Baca juga:
● Penjelasan Umum tentang Kafarat, Fidyah, dan Dam (1)
● Penjelasan Umum tentang Kafarat, Fidyah, dan Dam (2)
 
Salah satu ulama Syafi’iyah yang berpandangan bahwa shalat yang ditinggalkan oleh mayit dapat digantikan dengan memberi makanan satu mud adalah Imam al-Baghawi, seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:
 
{فرع} لو مات وعليه صلاة أو اعتكاف لم يفعلهما عنه وليه ولا يسقط عنه بالفدية صلاة ولا اعتكاف.
 
* هذا هو المشهور في المذهب والمعروف من نصوص الشافعي في الام وغيره 
ونقل البويطي عن الشافعي أنه قال في الاعتكاف يعتكف عنه وليه وفى وراية يطعم عنه. 
قال البغوي ولا يبعد تخريج هذا في الصلاة فيطعم عن كل صلاة مد.
 
“Jika seseorang meninggal dan ia memiliki tanggungan shalat atau i’tikaf yang belum ia lakukan, maka pihak wali mayit tidak dapat melakukan kedua ibadah tersebut atas ganti mayit, dan membayar fidyah pun tidak menggugugurkan tanggungan shalat dan i’tikaf mayit. 
Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i dan pandangan yang terkenal dalam nash Imam as-Syafi’i dalam kitab al-Um dan kitab yang lain. 
 
Imam al-Buwaithi menukil dari Imam as-Syafi’i bahwa beliau berpandangan tentang I’tikaf bisa digantikan oleh pihak wali, sedangkan dalam sebagian riwayat digantikan dengan memberi makanan (fidyah) atas ganti tanggungan i’tikaf mayit. Imam al-Baghawi berkata: ‘Tidak jauh untuk memberlakukan hal ini dalam shalat, maka pihak wali memberi makanan (fidyah) satu mud atas setiap shalat’” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 372).
 
Pandangan bahwa shalat mayit dapat digantikan dengan fidyah ini, sesuai dengan salah satu Hadits mauquf dari sahabat Ibnu ‘Abbas :
 
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ:
"لَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَكِنْ يُطْعِمُ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ"

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Tidak boleh seseorang mengerjakan shalat untuk orang lain, dan tidak boleh seseorang berpuasa untuk orang lain. Akan tetapi, ia boleh memberi makan sebagai gantinya, untuk setiap hari (puasa yang ditinggalkan) dengan satu mud gandum.”

Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan disebutkan dalam beberapa kitab:

Sunan al-Kubra karya an-Nasa’i (dalam باب الصيام)
Syarh Musykil al-Atsar oleh ath-Thahawi
Juga dibahas dalam al-Tamhid karya Ibn Abdil Barr
 
Selain dalam mazhab Syafi’i, penggantian shalat yang ditinggalkan oleh mayit dengan membayar fidyah juga merupakan pendapat yang mu’tabar dalam mazhab Hanafiyah. 

Namun dalam hal ini, para ulama Hanafiyah berpendapat bahwa shalat yang ditinggalkan oleh mayit dapat digantikan dengan pembayaran fidyah hanya ketika mayit mewasiatkan untuk pembayaran fidyah atas shalat yang ia tinggalkan. 

.قال رسول الله ﷺ:
«من مات وعليه صيام صام عنه وليه»
(متفق عليه)

Jika mayit tidak mewasiatkan tentang pembayaran fidyah ini, maka para ulama Hanafiyah tidak berpandangan bahwa pembayaran fidyah dapat menggantikan shalat yang ditinggalkan oleh mayit.
Kecuali menurut pandangan Muhammad bin Hasan yang mengatakan bahwa pembayaran fidyah tetap dapat mengganti atas shalat yang ditinggalkan oleh mayit, meskipun mayit tidak mewasiatkannya.
 
Pembayaran fidyah dalam mazhab Hanafi ini dapat memilih di antara dua komoditas, yaitu setengah sha’ (1,9 kilogram) gandum/tepung atau satu sha’ (3,8 kilogram) kurma atau anggur.
 
Namun wali mayit juga dapat mengeluarkan fidyah dengan bentuk nominal uang yang setara dengan harga salah satu dari dua pilihan pembayaran tersebut, sehingga secara umum dapat dipahami bahwa pembayaran fidyah menurut mazhab Hanafi ini relatif lebih besar takarannya jika dibandingkan pembayaran fidyah dalam mazhab Syafi’i.

Perincian tentang pandangan mazhab Hanafiyah dalam persoalan fidyah shalat ini, seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:
 
ذهب جمهور الفقهاء " المالكيّة والشّافعيّة والحنابلة " إلى أنّ الصّلاة لا تسقط عن الميّت بالإطعام. 
وذهب الحنفيّة إلى أنّه إذا مات المريض ولم يقدر على أداء الصّلاة بالإيماء برأسه لا يلزمه الإيصاء بها.
 
أمّا إذا كان قادراً على الصّلاة ولو بالإيماء وفاتته الصّلاة بغير عذر لزمه الإيصاء بالكفّارة عنها ، فيخرج عنه وليّه من ثلث التّركة لكلّ صلاة مفروضة ، وكذا الوتر لأنّه فرض عمليّ عند أبي حنيفة.
 
وقد ورد النّصّ في الصّيام ، وهو قوله صلى الله عليه وسلم : « ولكن يطعم عنه » والصّلاة كالصّيام باستحسان المشايخ لكونها أهمّ.
 
والصّحيح : اعتبار كلّ صلاة بصوم يوم ، فيكون على كلّ صلاة فدية ، وهي نصف صاع من برّ أو دقيقه أو سويقه ، أو صاع تمر أو زبيب أو شعير أو قيمته ، وهي أفضل لتنوّع حاجات الفقير. وإن لم يوص وتبرّع عنه وليّه أو أجنبيّ جاز إن شاء اللّه تعالى عند محمّد بن الحسن وحده لأنّه قال في تبرّع الوارث بالإطعام في الصّوم يجزيه إن شاء اللّه تعالى من غير جزم. وفي إيصائه به جزم الحنفيّة بالإجزاء
 
“Mayoritas ulama fiqih (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah) berpandangan bahwa shalat tidak gugur atas mayit dengan memberi makan  (pada orang lain). 

Sedangkan ulama mazhab Hanafiyah berpandangan bahwa ketika orang yang sakit meninggal, dan ia sebelumnya tidak mampu untuk melaksanakan shalat dengan berisyarat dengan kepalanya, maka ia tidak wajib untuk mewasiatkan tentang shalat yang tertinggal tersebut. 
 
Jika ia mampu untuk melakukan shalat, walaupun dengan berisyarat, dan shalatnya tidak ia laksanakan dengan tanpa adanya uzur, maka wajib baginya untuk mewasiatkan pembayaran kafarat (denda) atas shalat tersebut. 
Maka pihak wali mayit mengeluarkan harta dari sepertiga harta peninggalan mayit untuk setiap shalat fardhu yang ditinggalkan, begitu juga untuk shalat witir, sebab sahalat witir merupakan amaliah fardhu menurut imam Abu Hanifah.
 
Dalil nash yang menjelaskan tentang fidyah ini terdapat pada permasalahan puasa, yakni sabda Rasulullah: 
‘Tetapi (wajib) memberi makanan sebagai ganti dari puasa, sedangkan shalat sama persis dengan puasa atas jalan istihsan (anggapan baik) para masyayikh (ulama fiqih Hanafiyah), sebab shalat dipandang lebih penting.
 
Menurut qaul shahih, setiap shalat disamakan seperti puasa satu hari, maka setiap satu shalat wajib satu fidyah yakni setengah sha’ dari gandum atau tepung atau gandum kecil; atau satu sha’ dari kurma, anggur, jerawut, atau harga dari komoditas tersebut. 
Memberi fakir miskin nominal harga dari komoditas tersebut dipandang lebih utama, sebab beraneka ragamnya kebutuhan orang-orang fakir.
 
Jika mayit tidak mewasiatkan tentang shalat yang ia tinggalkan lalu pihak wali mayit atau orang lain ber-tabarru’ (lepas tanggung jawab) untuk membayarkan fidyah, maka hal tersebut insyaallah diperbolehkan hanya menurut pandangan Muhammad bin Hasan saja. 
Sebab beliau berpandangan bahwa tabarru’-nya wali untuk memberikan fidyah (makanan) atas puasa mayit adalah hal yang mencukupinya insyaallah dengan tanpa adanya kemantapan (bimbang). Sedangkan dalam permasalahan ketika mayit ini mewasiatkan tentang membayar fidyah, maka ulama Hanafiyah mantap untuk berpandangan mencukupi bagi ibadah (shalat atau puasa) mayit” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 25, hal. 83)
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembayaran fidyah merupakan salah satu dari pandangan para ulama tentang hal yang bisa menggantikan shalat yang telah ditinggalkan oleh mayit. 
Cara pembayaran fidyah jika berpijak pada mazhab Syafi’i adalah dengan memberi makanan pokok (beras) senilai satu mud (0,6 kilogram atau ¾ liter) kepada fakir miskin sebagai pengganti setiap satu shalat yang ditinggalkan oleh mayit. 
Sedangkan menurut mazhab Hanafiyah, pembayaran fidyah dapat berupa salah satu di antara dua pilihan, yakni setengah sha’ (1,9 kilogram) gandum atau tepung atau satu sha’ (3,8 kilogram) kurma atau anggur. 
Wali mayit (anak, saudara, dll) juga dapat mengeluarkan fidyah dengan bentuk nominal uang yang setara dengan harga salah satu dari dua pilihan pembayaran fidyah di atas.
 
Dua pendapat di atas sama-sama dapat diikuti dan diamalkan, tapi jika wali mayit merupakan penganut mazhab Syafi’i hendaknya konsisten untuk mengikuti pendapat dalam mazhab Syafi’i dalam hal pembayaran fidyah ini, agar tidak terjadi talfiq fil mazhab (pencampuradukan pendapat berbagai mazhab) dalam satu kasus hukum. 
Selain itu, wali mayit juga dapat memilih  pendapat lain tentang pengganti shalat yang ditinggalkan oleh mayit, misalkan dengan cara mengqadha’ setiap shalat yang ditinggalkan oleh mayit. 
Sebab persoalan ini sejak awal memang merupakan persoalan yang diperdebatkan di antara ulama. 

Wallahu a’lam.
 _____________________________

Ingin Membayar Fidyah, Berikut Lafal Niat yang Dibaca.

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Ramadhan, pada bulan tersebut tidak semua umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, seperti haidh pada wanita, orang tua renta, orang sakit parah, dan sebagainya. 

Atas dasar tidak melaksanakannya ibadah puasa tersebut seseorang diharuskan untuk menqadha puasa atau membayar fidyah sesuai yang ditentukan syariat Islam. Fidyah secara bahasa adalah tebusan. Menurut istilah syariat adalah denda yang wajib ditunaikan karena meninggalkan kewajiban atau melakukan larangan. 

Bagi orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti orang tua renta, orang sakit parah yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, dan lain sebagainya, mendapat keringanan untuk tidak melaksanakan puasa Ramadhan. 

Selain itu, mereka juga tidak wajib mengqadha di lain waktu. Sebagai gantinya, mereka harus membayar fidyah atau kafarat (denda). 
Syekh Ahmad bin Muhammad Abu al-Hasan al-Mahamili mengklasifikasi fidyah menjadi tiga bagian. 

Pertama, fidyah senilai satu mud. 
Kedua, fidyah senilai dua mud. Ketiga, fidyah dengan menyembelih dam (binatang) (Syekh Ahmad bin Muhammad Abu al-Hasan al-Mahamili, al-Lubab, hal 186).

Kadar dan jenis fidyah yang ditunaikan adalah satu mud makanan pokok untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia adalah beras. 

Ukuran mud bila dikonversikan ke dalam hitungan gram adalah 675 gram atau 6,75 ons. 
Hal ini berpijak pada hitungan yang masyhur, di antaranya disebutkan oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab al-Fiqih al-Islami wa Adillatuhu. Sementara menurut hitungan Syekh Ali Jumah dalam kitab al-Makayil wa al-Mawazin al-Syar’iyyah, satu mud adalah 510 gram atau 5,10 ons.

Telat Qadha Puasa hingga Ramadhan Tiba, Ini Hukumnya

Fidyah wajib diberikan kepada fakir atau miskin, tidak diperbolehkan untuk golongan mustahiq zakat yang lain, terlebih kepada orang kaya. Alokasi fidyah berbeda dengan zakat, karena nash Al-Qur’an dalam konteks fidyah hanya menyebut miskin “fa fidyatun tha‘âmu miskin” (QS al-Baqarah ayat 184). 

Sedangkan fakir dianalogikan dengan miskin dengan pola qiyas aulawi (qiyas yang lebih utama), sebab kondisi fakir lebih parah daripada miskin (Syekh Khothib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal 176). 
Fidyah adalah ibadah yang berkaitan dengan harta, sehingga disyaratkan niat dalam pelaksanaannya seperti zakat dan kafarat.

Disebutkan dalam himpunan fatwa Imam Muhammad al-Ramli:

(سئل) هل يلزم الشيخ الهرم إذا عجز عن الصوم وأخرج الفدية النية أم لا

Artinya: Imam al-Ramli ditanya, apakah orang tua renta yang lemah berpuasa dan mengeluarkan fidyah wajib niat atau tidak?

(فأجاب) بأنه تلزمه النية لأن الفدية عبادة مالية كالزكاة والكفارة فينوي بها الفدية لفطره.

Artinya: Imam al-Ramli menjawab bahwa ia wajib niat fidyah, sebab fidyah adalah ibadah harta seperti zakat dan kafarat, maka niatkanlah mengeluarkan fidyah karena tidak berpuasa Ramadhan (Syekh Muhammad al-Ramli, Fatawa al-Ramli, juz 2, hal 74).

Berikut lafal pembacaan niat dalam penunaian fidyah:

Niat fidyah puasa bagi orang sakit keras dan orang tua renta:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ لإِفْطَارِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى.

Artinya: Aku niat mengeluarkan fidyah ini karena berbuka puasa di bulan Ramadhan, fardhu karena Allah.

Niat fidyah bagi wanita hamil atau menyusui:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ إِفْطَارِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِلْخَوْفِ عَلَى وَلَدِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى.

Artinya: Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan berbuka puasa Ramadhan karena khawatir keselamatan anaku, fardhu karena Allah.

Niat fidyah puasa orang mati (dilakukan oleh wali/ahli waris):

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ صَوْمِ رَمَضَانِ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya: Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan puasa Ramadhan untuk Fulan bin Fulan (disebutkan nama mayitnya), fardhu karena Allah.

Niat fidyah karena terlambat mengqadha puasa Ramadhan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ تَأْخِيْرِ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Artinya: Aku niat mengeluarkan fidyah ini dari tanggungan keterlambatan mengqadha puasa Ramadhan, fardhu karena Allah.

Niat fidyah boleh dilakukan saat menyerahkan kepada fakir/miskin, saat memberikan kepada wakil atau setelah memisahkan beras yang hendak ditunaikan sebagai fidyah. Hal ini sebagaimana ketentuan dalam bab zakat.

Contoh niat yang bisa dipakai
Dalam hati (yang paling penting) :

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ (فُلَانٍ) لِلّٰهِ تَعَالَى.
Artinya:

“Saya niat mengeluarkan fidyah ini atas nama (fulan) karena Allah Ta’ala.”

Simple niat fidjah.

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Niat dalam hati,

“Saya niat bersedekah atas nama (nama orang) karena Allah Ta’ala.”

Atau jika ingin versi Arab sederhana:

نَوَيْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْ (فلان) لِلّٰهِ تَعَالَى
“Nawaitu an atashaddaqa ‘an (fulan) lillahi ta‘ala”

Artinya:

“Saya niat bersedekah atas nama (si fulan) karena Allah Ta’ala.”

Demikianlah penjelasan mengenai fidyah dan lafal bacaan niatnya. 
Semoga dapat menambah khazanah keislaman kita. 

Semoga bermanfa'at,,Aamiin
Allahu A'lam.

Rabu, 20 Mei 2026

HUKUM QURBAN DAN AQIQAH DISATUKAN

Ulama yang membolehkan penggabungan niat qurban dan aqiqah di antaranya adalah Imam Ar-Ramli dari mazhab Syafi’i. Berikut teks yang sering dijadikan rujukan:

 قالَ العلَّامةُ الرَّمْلِيُّ:
ولو نوى بالشاة المذبوحة الأضحيةَ والعقيقةَ حصلا
“Apabila seseorang berniat pada seekor kambing yang disembelih untuk qurban dan aqiqah sekaligus, maka keduanya tercapai.”
Keterangan ini disebut dalam:
Kitab Nihayah al-Muhtaj karya Imam Syamsuddin Ar-Ramli.
Dinukil juga dalam kitab Tausyikh
karya Syekh Nawawi al-Bantani.

Adapun teks lengkap perbedaan pendapat antara Ibnu Hajar dan Ar-Ramli adalah:

 قال ابن حجر:
.لو أراد بالشاة الواحدة الأضحية والعقيقة لم يكف

خلافًا للعلامة الرملي حيث قال:
.ولو نوى بالشاة المذبوحة الأضحية والعقيقة حصلا Artinya:
 “Ibnu Hajar berkata: Jika seseorang menghendaki satu kambing untuk qurban dan aqiqah sekaligus maka tidak mencukupi. Berbeda dengan Al-‘Allamah Ar-Ramli yang mengatakan: apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk qurban dan aqiqah, maka keduanya dapat terealisasi.”

Ada juga atsar dari kalangan tabi’in yang membolehkan:

قال الحسن البصري:
إذا ضحى عن الغلام أجزأت عنه من عقيقته
 “Jika seorang anak diqurbankan (disembelihkan qurban) maka itu mencukupi pula dari aqiqahnya.”

Yang dinukil sebagai pendapat:
Al-Hasan Al-Bashri
Muhammad bin Sirin
Qatadah serta sebagian ulama Hanafiyah.

Meski demikian, dalam mazhab Syafi’i sendiri, pendapat yang lebih kuat (mu‘tamad) umumnya tetap pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami yang tidak membolehkan penggabungan niat.

HUKUM MEMAKAN KANJUT DOMBA


Bahtsul Masail
Hukum Makan Testis Kambing

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Saya ingin menanyakan mengenai status hukum testis kambing. 
Sebab, menjelang Idul Adha yang lalu beredar di beberapa group WA postingan berupa gambar bagian-bagian hewan kurban yang haram dimakan. 
Salah satunya adalah testis. 
Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Bekasi)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa kambing adalah termasuk hewan yang boleh dipotong dan halal dagingnya. 
Tetapi kehalalan sembelihan kambing dengan catatan, misalnya cara menyembelihnya harus dengan ketentuan yang telah diatur oleh syara`.

Sampai di sini tidak ada persoalan berarti. 
Tetapi kemudian ternyata ditemukan persoalan, apakah semua hasil sembelihan kambing itu boleh untuk dimakan atau tidak, seperti misalnya testisnya?

Dalam konteks ini ternyata pandangan para ulama ahli fikih terbelah. 
Menurut pendapat ulama dari kalangan madzhab Hanafi, setidaknya ada tujuh bagian yang diharamkan dari hewan yang halal dimakan seperti kambing, yaitu darah yang mengalir, alam kelamin, dua testis, kelamin betina, ghuddah, kemih, dan kandung empedu.

مَا يَحْرُمُ أَكْلُهُ مِنْ أَجْزَاءِ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُولُ سَبْعَةٌ : الدَّمُ الْمَسْفُوحُ وَالذَّكَرُ وَالْأُنْثَيَانِ وَالْقُبُلُ وَالْغُدَّةُ وَالْمَثَانَةُ وَالْمَرَارَةُ

Artinya, “Sesuatu yang haram dimakan dari bagian anggota tubuh hewan yang boleh dimakan ada tujuh, yaitu darah yang mengalir, alat kelamin, dua testis, kemaluan kambing betina, ghuddah, kemih (kandung kencing), dan kandung empedu,” (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Raddil Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 1421 H/2000 M, juz VI, halaman 311).

قَوْلُهُ وَالْغُدَّةُ) بِضَمِّ الْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ كُلُّ عُقْدَةٍ فِي الْجَسَدِ أَطَافَ بِهَا شَحْمٌ ، وَكُلُّ قِطْعَةٍ صُلْبَةٍ بَيْنَ الْعَصَبِ وَلَا تَكُونُ فِي الْبَطْنِ كَمَا فِي الْقَامُوسِ

Artinya, “Pernyataannya (pengarang); al-ghuddah, dengan diharakati dhammah huruf ghain-nya, maknanya adalah setiap gumpalan yang tumbuh di dalam tubuh yang diliputi oleh lemak atau setiap bagian yang keras yang terdapat di antara urat dan tidak berada dalam perut. 
Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Qamus (karya Fairuz Abadi, pent),” (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Raddil Mukhtar, Beirut, Darul Fikr, 1421 H/2000 M, juz VI, halaman 749).

Keharaman ketujuh bagian tubuh hewam boleh dimakan tersebut didasarkan pada hadits riwayat Mujahid yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak menyukai alat kelamin kambing, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kemih, kandung kencing, dan darah.

Menurut Al-Kasani, ketidaksukaan Rasulullah SAW dalam konteks ini maksudnya adalah makruh tahrim. 
Logika yang dibangun untuk sampai pada simpulan makruh tahrim adalah adalah bahwa dalam hadits tersebut mengumpulkan antara enam hal (yaitu alat kelamin, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kemid dan kandung kencing) dengan darah dalam ketidaksukaan (fil karahah), sedangkan darah yang mengalir itu sendiri diharamkan.

وَرُوِيَ عَنْ مُجَاهِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : كَرِهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الشَّاةِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَيَيْنِ وَالْقُبُلَ وَالْغُدَّةَ وَالْمَرَارَةَ وَالْمَثَانَةَ وَالدَّمَ فَالْمُرَادُ مِنْهُ كَرَاهَةُ التَّحْرِيمِ بِدَلِيلِ أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَ الْأَشْيَاءِ السِّتَّةِ وَبَيْنَ الدَّمِ فِي الْكَرَاهَةِ ، وَالدَّمُ الْمَسْفُوحُ مُحَرَّمٌ  

Artinya, “Diriwayatkan dari Mujahid RA bahwa ia berkata, Rasulullah tidak menyukai (kariha) kelamin kambing, dua testis, kemaluan kambing (betina), ghuddah, kandung empedu, kandung kencing, dan darah. Yang dimaksud tidak menyukai dalam konteks ini adalah makruh tahrim. Kecendrungan untuk memahami makruh di sini sebagai makruh tahrim karena terkumpulnya di antara enam hal dengan darah dalam hadits tersebut, sedangkan darah yang mengalir itu hukumnya adalah haram,” (Lihat ‘Alauddin Al-Kasani, Bada’ius Shana’i fi Tartibis Syara’i, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, 1982 M, juz V, halaman 61).

Namun menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab yang ditulis Muhyiddin Syarf An-Nawawi, hadits riwayat dari Mujahid di atas dianggap sebagai hadits yang lemah. Konsekuensinya hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

Lebih lanjut, ia mengemukakan pandangan Al-Khaththabi yang menyatakan bahwa sesuai dengan ijma’ atau konsensus para ulama bahwa darah adalah haram. 
Sedangkan keenam hal yang disebutkan bersama darah adalah dimakruhkan bukan diharamkan. 
Demikian yang kami pahami dipernyataannya berikut ini:

فَصْلٌ) عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ (كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يَكْرَهُ مِنَ الشَّاةِ سَبْعًا الدَّمَ وَالْمَرَارَ وَالذَّكَرَ وَالْاُنْثَيَيْنِ وَالْحَيَا وَالْغُدَّةَ وَالْمَثَانَةَ وَكَانَ أَعْجَبُ الشَّاةِ إِلَيْهِ مُقَدَّمَهَا) رَوَاهُ الْبَيْهَقِىُّ هَكَذَا مُرْسَلًا وَهُوَ ضَعِيفٌ قَالَ وَرُوِىَ مَوْصُولًا بِذْكْرِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَهُوَ حَدِيثٌ قَالَ وَلَا يَصِحُّ وَصْلُهُ قَالَ الْخَطَّابِىُّ اَلدَّمُ حَرَامٌ بِالْاِجْمَاعِ وَعَامَّةُ الْمَذْكُورَاتِ مَعَهُ مَكْرُوهَةٌ غَيْرُ مُحَرَّمَةٌ

Artinya, “(Fasal), diriwayatkan dari Mujahid ia berkata, ‘Rasulullah SAW tidak menyukai tujuh bagian dari kambing yaitu darah, kandung kemih, alat kelamin, dua testis, kemaluan, ghuddah, kandung kencing. Dan bagian kambing yang paling disukai Rasulullah saw adalah hasta dan bahunya’. Demikianlah hadits ini diriwayakan Al-Baihaqi secara mursal dan masuk kategori hadits dha’if. 
Al-Baihaqi berkata, ada juga yang diriwayatkan secara maushul (bersambung sanadnya atau muttashil) dengan menyebutkan Ibnu Abbas RA yaitu sebuah hadits...namun sayangnya kebersambungan tersebut tidak bisa diterima. 
Al-Khaththabi berpendapat bahwa darah itu haram sesuai dengan ijma’ para ulama, sedangkan semua yang disebutkan bersama darah dalam hadits tersebut adalah dimakruhkan bukan diharamkan.”

Serupa dengan pandangan Al-Khaththabi adalah riwayat Ibnu Habib dari kalangan Madzhab Maliki, yang menyatakan testis hewan yang halal dimakan adalah tidak sampai dihukumi haram. Hal ini sebagaimana yang pahami dalam keterangan yang terdapat dalam kitab At-Taj wal Iklil sebagai berikut:

وَرَوَى ابْنُ حَبِيبٍ اسْتِثْقَالَ أَكْلِ عَشْرَةٍ دُونَ تَحْرِيمِ الْأُنْثَيَانِ وَالْعَسِيبُ وَالْغُدَّةُ....

Artinya, “Ibnu Habib meriwayatkan tentang menganggap beratnya (istitsqal) memakan sepuluh (bagian tubuh hewan yang halal) tetapi tidak diharamkan, yaitu dua testis, alat kelamin, ghuddah...”

Dari penjelasan yang kami kemukakan, setidaknya ada dua pandangan mengenai hukum testis kambing. 
Pertama, menyatakan haram seperti dikemukakan oleh para ulama dari kalangan madzhab Hanafi. 
Sedangkan pendapat kedua menyatakan tidak haram, seperti yang dikemukakan Al-Khaththabi ulama dari kalangan Madzhab Syafi’i dan riwayat Ibnu Habib dari kalangan ulama Madzhab Maliki.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga dapat dipahami dengan baik. Perbedaan pendapat ini dapat diterima serta disikapi dengan baik. 
Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.