SANKSI HUKUM ISLAM :Tema : ADIL DAN TERBAIK
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ ٥٠ (اَلْمَائِدَةُ)*
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:
*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ*
_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”_ *(QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).*
_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Penjara yang seharusnya menjadi tempat menjalani hukuman dan pembinaan, justru bisa berubah menjadi tempat hidup nyaman bagi narapidana yang mampu membayar. Ombudsman menemukan sepuluh sel mewah di Lapas Cibinong, lengkap dengan barang-barang mewah dan minuman keras, serta indikasi sel tersebut dikomersialkan. Seorang napi bahkan mengaku membayar untuk menempatinya. Kasus ini bukan yang pertama. Pada 2018 Ombudsman menemukan sel mewah yang dihuni Setya Novanto di Lapas Sukamiskin. Pada 2017, BNN juga menemukan fasilitas mewah di Lapas Cipinang yang ditempati narapidana narkoba Hariyanto Chandra, termasuk AC, wifi, laptop, ponsel, dan makanan khusus. Terpidana korupsi Gayus Tambunan bahkan diketahui beberapa kali keluar penjara hingga berlibur ke Bali.
Berulangnya kasus tersebut menunjukkan persoalan serius dalam sistem pemasyarakatan. Narapidana tertentu bukan hanya memperoleh fasilitas istimewa, tetapi dalam sejumlah kasus masih dapat menjalankan kejahatan dari balik penjara, termasuk bisnis narkoba. Di sisi lain, residivis terus bermunculan meski telah menjalani hukuman. Kondisi ini menunjukkan bahwa tujuan pemidanaan untuk memberikan efek jera dan mencegah pengulangan kejahatan masih menghadapi persoalan. Masalahnya bukan hanya pada sistem hukum pidana, tetapi juga integritas aparat. Pada 2016, Menkumham Yasonna Laoly mengakui bahwa salah satu persoalan pengelolaan lapas dan rutan adalah adanya petugas yang mudah menerima suap dari narapidana atau tahanan.
_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Jika hukum pidana ditujukan untuk mencegah kejahatan, melindungi masyarakat, sekaligus memberikan keadilan kepada korban, Islam memiliki sistem sanksi _(nizhaam al-’uqubaat)_ yang mengatur pelanggaran terhadap ketentuan Allah Swt. sesuai jenis kejahatannya. Rasulullah saw. Bersabda:
*إِنَّ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلَا تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوْهَا*
_“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka jangan kalian sia-siakan; menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian terjang; dan mengharamkan beberapa perkara, maka jangan kalian langgar”_ *(HR. ad-Daraquthni).*
Sanksi juga berfungsi melindungi jiwa, harta, dan kehormatan manusia. Allah Swt. berfirman:
*وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓــاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ*
_“Dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa”_ *(QS. al-Baqarah [2]: 179).*
Ada sejumlah keunggulan sistem hukuman atau sanksi dalam Islam dibandingkan dengan sistem pidana manapun di dunia:
*Pertama,* Sistem sanksi Islam berasal dari Allah Swt. yang Mahaadil, sehingga bersifat haq dan adil. Allah Swt. berfirman:
*اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ*
_“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?”_ *(QS. al-Mâidah [5]: 50).*
*Kedua,* Sistem sanksi dibangun di atas ketakwaan, sehingga seorang Muslim terdorong menjauhi kemaksiatan dan menerima hukuman sesuai syariah ketika melakukan kejahatan. Hal ini tercermin dari Maiz bin Malik al-Islami dan al-Ghamidiyah yang mendatangi Rasulullah saw. untuk meminta hukuman atas perzinaan yang mereka lakukan.
*Ketiga,* Sanksi yang tegas berfungsi sebagai zawaajir atau pencegah kejahatan, di antaranya sanksi bagi hirabah sebagaimana firman-Nya:
*اِنَّمَا جَزٰۤؤُا الَّذِيْنَ يُحَارِبُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَسْعَوْنَ فِى الْاَرْضِ فَسَادًا اَنْ يُّقَتَّلُوْٓا اَوْ يُصَلَّبُوْٓا اَوْ تُقَطَّعَ اَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ مِّنْ خِلَافٍ اَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْاَرْضِ ۗ ذٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِى الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ*
_“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal-balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian adalah sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia, sementara di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar”_ *(QS. al-Mâidah [5]: 33).*
Dan penetapan hukum qishaash bagi pembunuhan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178. Islam juga menetapkan sanksi bagi zina muhshan, homoseksual, dan korupsi sebagai bagian dari upaya mencegah kejahatan.
*Keempat,* Sanksi Islam memberikan rasa keadilan bagi korban dan keluarganya. Dalam kasus pembunuhan, keluarga korban diberi pilihan menuntut qishaash atau diyat, dengan ketentuan diyat sebesar 100 ekor unta, 40 di antaranya dalam keadaan bunting, atau senilai seribu dinar.
*Kelima,* Sanksi pidana syariah berfungsi sebagai jawaabir, yakni menghapus dosa pelaku setelah menjalani hukuman di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah setelah menjatuhkan sanksi rajam untuk perempuan dari Juhainah akibat perbuatan zina:
*لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَْةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ*
_”Sungguh, ia telah bertobat dengan tobat yang sekiranya dibagikan di antara tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya akan mencukupi mereka. Apakah engkau mendapati sesuatu yang lebih utama dari orang yang mempersembahkan dirinya untuk Allah?”_ *(HR. at-Tirmidzi)*
Sistem sanksi Islam juga bersifat praktis karena tidak semua kejahatan harus berujung pada pemenjaraan. Sejumlah tindak pidana seperti pencurian, zina, homoseksual, dan pembunuhan memiliki bentuk sanksi tertentu setelah putusan dijatuhkan. Dengan demikian, kebutuhan terhadap penjara dapat ditekan dan peluang kongkalikong antara petugas lapas dan terpidana dapat dipersempit. Pelaksanaan hukum juga menuntut ketakwaan dan integritas aparat penegak hukum agar sanksi diterapkan secara konsisten.
_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Wahai kaum Muslim! Hari ini kehormatan, harta bahkan jiwa Anda tidaklah aman dari kejahatan. Hukuman yang ditimpakan pun jauh dari rasa keadilan.
Bandingkan dengan sistem Islam. Tidak ada sistem sanksi atau hukuman yang adil dan terbaik kecuali sistem sanksi atau hukuman dalam Islam. Karena itu penerapan syariah Islam adalah sebuah kewajiban dan keniscayaan. Untuk itu dibutuhkan kepemimpinan Khilafah agar syariah Islam bisa diterapkan secara kaaffah. Yakinlah! Tidak ada aturan yang adil dan terbaik selain aturan Allah Swt. Andaikan aturan-aturan Allah Swt. diterapkan dalam sistem Khilafah, yang dijalankan oleh para pejabat dan aparatnya yang bertakwa, niscaya harta, kehormatan dan jiwa manusia akan terpelihara. _Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
*KHUTBAH KEDUA*
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.