التبارك باثار الصالحين
(شيخ القرطبي)
Mencari keberkahan peninggalan2 org sholeh
هذه اثارنا
Ikan sepat ikan gabus direndem diair tawar
Lebih cepet lebih bagus perut udah terasa lapar.
Pohon salam dipinggir sumur
Yang jawab salam panjang umur
Pohon salam depan rumah pakmarjuki
Yang jawab salam berkah milik rizqi
العِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْبَرَكَةُ بِالْخِدْمَةِ، وَالْمَنْفَعَةُ بِالطَّاعَةِ.
Ilmu diperoleh dengan mengaji, barakah diperoleh dengan mengabdi, (hidup) manfaat dengan mematuhinya.
“Rajab adalah bulan untuk menanam, Syakban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadan adalah bulan untuk memanen.” (Abu Bakr al-Warraq)
Imam Syafi’I dalam kitab Manaqib Imam Syafi’i, karya Al-Baihaqi (2/188), menyatakan bahwa ada tiga tanda yang menunjukkan bahwa seseorang adalah sosok yang hebat.
Tanda pertama adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta.
Imam Syafi’i menyatakan:
قال الإمام الشافعي (رحمه الله): جوهر المرء في ثلاثة أمور: -كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني.
- كتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راضي.
- كتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعّم .
Kesatu adalah kemampuannya menyembunyikan kefakiran, sehingga orang lain mengira orang itu berkecukupan karena tidak pernah meminta.
Imam Syafi’i menyatakan
كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني
Artinya:“Kemampuan menyembunyikan kemelaratan, sehingga orang lain menyangkamu berkecukupan karena kamu tidak pernah meminta.”
Tanda kedua adalah kemampuannya menyembunyikan amarah, sehingga orang lain mengira ia ridha.
Imam Syafi’i menyatakan:
وكتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راض
Artinya:“Kemampuan menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiramu merasa ridha
Ketiga adalah kemampuannya menyembunyikan kesusahannya sehingga orang lain mengira ia selalu senang.
Imam Syafi’i menyatakan:
وكتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنعم
Artinya: “Kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiramu selalu senang.”
Kemampuan seperti itu juga dimiliki.
Banyak orang mengenal Mbah Ngis sebagai perempuan yang ramah dan ceria.
memang tidak suka memperlihatkan kesedihan kepada sesama manusia, tetapi lebih suka mengadukan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya kepada Allah SWT. Kita
dapat bermunajat atau berkeluh kesah kepada Sang Pencipta kapan saja menginginkannya terutama ketika di sekitarnya tak ada seorangpun.
#HikmahUlama
من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان
“Barangsiapa yang tidak mempunyai guru, maka gurunya adalah setan.” (Tafsir Ruhul Bayan fi Tafsir al-Quran, Ismail Haqqi al-Hanafi, 5/264).
قال الإمام الشافعيُّ رحمهُ الله: "لَيْسَ العِلْمُ مَا حُفِظَ، إِنَّما العِلْمُ مَا نَفَعَ".
وقال ما تقرب إلى الله تعالى بشئ بعد الفرائض أفضل من طلب العلم
Artinya, “Imam As-Syafi’i berkata, ‘Tiada ibadah yang lebih utama setelah shalat wajib daripada menuntut ilmu.’” (An-Nawawi, Al-Majmu': 33)
Imam As-Syafi’i membagi malamnya menjadi tiga waktu. Sepertiga pertama digunakan untuk menulis. Sepertiga kedua dipakai untuk shalat sunnah. Sepertiga terakhir dimanfaatkan untuk istirahat malam.
من لا يحب العلم فلا خير فيه فلا يكن بينك وبينه معرفة ولا صداقة
Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyukai ilmu. Oleh karena itu janganlah engkau mengenal apalagi bersahabat dengannya
Sumber:
مقدمة كتاب المجموع شرح المهذب للشيرازي
وقال ما أفلح في العلم إلا من طلبه بالقلة
Artinya, “Imam As-Syafi’i berkata, ‘Tiada yang beruntung dalam menuntut ilmu kecuali orang yang mengejarnya secara total.’” (An-Nawawi, Al-Majmu': 33).
عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال : إن من الذنوب ما لا يكفره صوم، ولا صلاة، ويكفره عرق الجبين في الحرفة.
“Sesungguhnya di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak bisa dihapuskan dengan puasa dan tidak juga shalat, yang bisa menghapuskannya hanyalah keringat di dahi karena bekerja keras." (HR. ath-Thabarani)
فَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَعَلُّمِ سَاعَةً ** تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُوْلَ حَياتِهِ
“Barangsiapa belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat ** Ia kan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Beliau juga mengutip maqolah dari Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani mengenai pentingnya suatu khidmah:
العلم يدرك بالتعلم والبركة لاتدرك الا بالخدمة.
“Ilmu bisa digali dimana-mana, tapi kalau barokah jangan diharapkan kalau santri tidak mau berkhidmah“ tambah beliau.
عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ أََلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. يَقُوْلُ ابْنُ اۤدَمَ مَالِيْ مَالِيْ، قَالَ وَهَلْ لَكَ يَاابْنَ اۤدَمَ مِنْ مَالِكَ اِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ. (رواه مسلم)
Mu¯arrif bin Syu‘bah meriwayatkan dari ayahnya berkata, “Aku mendatangi Nabi saw, sedangkan beliau sedang membaca ayat ‘alhakumut-takatsur.” Lalu Nabi saw bersabda, “(Ada seorang) manusia mengatakan ‘hartaku-hartaku.” Nabi saw bersabda lagi, “Wahai manusia, kamu tidaklah memiliki harta (yang kamu kumpulkan), melainkan apa yang kamu makan maka telah habis, apa yang kamu pakai maka telah lusuh, dan apa yang kamu sedekahkan maka telah berlalu.” (Riwayat Muslim);
يقول: (إنما له من ماله ثلاث: ما أكل فأفنى، أو لبس فأبلى، أو أعطى فأقنى)، وفي الرواية الأخرى: (وهل لك يابن آدم من مالك إلا ما أكلت فأفنيت، أو لبست فأبليت، أو تصدقت فأمضيت) فمالك ما اشتريت به طعاماً وأكلته وفني هذا الطعام، أو اشتريت به ثياباً ولبست هذه الثياب فخلقت وبليت، أو أخرجت الصدقة فنفعتك عند الله سبحانه وتعالى.
------------------------------------------------------------------------------
KUNCI BAHAGIA
سؤال: من أسعد الناس
الجواب: من أسعد الناس
Pertanyaan, ‘Siapakan manusia yang paling berbahagia?’
Jawaban, ‘Mereka yang membuat manusia bahagia (membahagiakan orang lain).’”
Seorang ulama besar dan juga salah satu Imam Mazhab yang 4 yakni Imam Asy-Syafi'i mengatakan,
خير الدنيا والآخرة في خمس خصال غنى النفس وكف الأذى وكسب الحلال ولباس التقوى والثقة بالله تعالى على كل حال
"Kebaikan dunia dan akherat terletak pada lima hal,
kaya hati, tidak mengganggu, penghasilan halal, hati yang tertutup pakaian takwa dan yakin dengan Allah dalam setiap kondisi"
(Bustanul Arifin karya An-Nawawi hlm 113, Dar al-Minhaj).
Imam Syafi`i mengatakan bahwa untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat ada lima jalan yang harus ditempuh, yaitu :
غِنَى النَّفْسِ, artinya kaya jiwa. Yang dimaksud dengan kaya jiwa disini ialah lapang dada dan berjiwa qana`ah. Qana`ah ialah menerima dan rida apa yang diberikan Allah, apakah itu berupa kesenangan ataupun berupa kesusahan yang menimpanya.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ ص.م. لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غَنَى النَّفْسِ. أخْرَجَهُ البخارى[6]
Artinya: Hadis dari Abi Hurairah dari Nabi saw, “Bukanlah kaya itu dengan banyaknya harta, tetapi yang dimaksud kaya itu ialah kaya jiwa. H.R.Bukhari.
.2.كَفُّ الأَذَى, yaitu mencegah diri dari menyakiti orang lain, baik itu menyakiti dalam bentuk maddiyan (kongkrit), seperti memukul ataupun merusak barang orang lain ataupun yang ma`nawiyan, seperti mencaci dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti jiwa orang lain. firman Allah swt:
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَااكْتَسَبُوا فَقَدِاحْتَمَلُوْا بُهْتَنًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا[7]
58. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.
3. كَسْبُ الْحَلَالِ, bekerja untuk mendapatkan yang halal. Bekerja untuk mendapat yang halal merupakan suatu kewajiban. Pekerjaan yang halal akan akan mendatang hasil yang halal, sementara pekerjaaan yang haram akan mendatangkan hasil yang haram.
Dalam hal Nabi saw telah memperingatkan bahwa pada masa nanti manusia tidak akan memperdulikan apakah usahanya itu halal atau haram, yang penting dapat mengahasilkan uang.
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص.م. قَالَ: يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبًالِى الْمَرْءُ مَاأَخَذَ مِنْهُ أَ مِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ
Artinya: Bahwasanya Rasulullah saw bersabda:” Akan datang nanti kepada manusia suatu masa yang seseorang itu tidak akan memperdulikan apa yang telah ia ambil, apakah dari yang halal atau dari yang haram. H.R. Bukhari.
4.لِبَاسُ التَّقْوَى, pakaian taqwa. Yang dimaksud dengan :pakaian taqwa” ialah menghiasi diri dengan sikap taqwa kepada Allah swt, seperti iman, malu dan beramal salih.
Firman Allah swt:
يَابَنِى آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِى سَوْءَاتِكُمْ وَرِيْشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَالِكَ خَيْرٌ ذَالِكَ مِنْ ءَايَاتِ اللهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ [8]
26. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.
الثِّقَةُ بِاللهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ[5.9, percaya kepada Allah ta`ala atas semua keadaan. [9]Mempercayai dan meyakini bahwa seluruh masalah kehidupan manusia tidak terlepas dari Allah dan seorang hamba itu harus pasrah dan tawakkal kepada Allah setelah melalui usaha dan ikhtiar yang benar. Keyakinan kepada Allah contohnya ialah, yakin Allah akan mengabulkan doa, yakin Allah akan melepaskan dari segala macam bala, yakin Allah akan memberikan rezeki, yakin Allah akan menolong hambanya dari kekuasaan musuh, yakin Allah akan menunaikan janjinya dan yakin Allah akan memberikan pertolongan dalam berdakwah. [10]
dan peliharalah kami dari siksa neraka, yaitu memohon kepada Allah agar dijaga dari menuruti nafsu syahwat dan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan dosa, yaitu dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiyat, menjauhi perbuatan-perbuatan tercela yang diharamkan serta melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan agama.
====================================
Kebahagiaan secara umum
Secara umum, kebahagiaan itu terdapat pada tiga perkara.
Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan tanda tersebut, yaitu:
إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة
1. jika diberi kenikmatan, dia bersyukur,
2. jika diuji dengan ditimpa musibah, dia bersabar,
3. dan jika melakukan dosa, dia beristighfar (bertaubat),
maka tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan” (Matan Al-Qawa’idul Arba’).
Perincian apa itu kebahagiaan
Sebagian ulama menjelaskan lebih rinci, apa itu kebahagiaan dan tanda-tandanya.
Imam As-Syathiby rahimahullah menjelaskan,
من علامات السعادة على العبد : تيسير الطاعة عليه، وموافقة السنة في أفعاله، وصحبته لأهل الصلاح، وحسن أخلاقه مع الإخوان، وبذل معروفه للخلق، واهتمامه للمسلمين ، ومراعاته لأوقاته
“Di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba adalah:
1. dimudahkan ketaatan baginya,
2. perbuatan-perbuatannya (amalnya) sesuai dengan sunnah,
3. berteman dengan orang-orang saleh,
4. baiknya akhlak kepada sesama manusia,
5. menyebarkan kebaikan pada semua makhluk,
6. memberikan perhatian kepada kaum muslimin, dan
7. pandai menjaga waktu” (Al-I’tishom, 2 : 152).
دالاعتقاد التام في شيخه، يقول الشيخ عبد القادر الجيلاني: «من لم يعتقد في شيخه الكمال لا يفلح أبدا»
الموتى.
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها”
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban.