Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Rabu, 28 September 2016

PANDUAN WAKAF

Wakaf (waqaf) adalah salah satu dari jenis sedekah yang bertujuan untuk ibadah mendekatkan diri pada Allah. Wakaf termasuk ibadah yang dianjurkan oleh syariah dan menjadi salah satu jalan berbuat amal kebaikan dan mendapatkan pahala bagi yang beramal apabila dibarengi dengan niat yang baik dan tujuan yang benar.
DAFTAR ISI
Pengertian Wakaf Dasar
Hukum Dalil Wakaf
Hukum Melaksanakan
Wakaf Persyaratan
Wakaf Rukun Tata Cara Wakaf
Hukum Menukar Atau
Menjual Tanah Wakaf Masjid
Menarik Kembali Harta Waqaf

CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM PENGERTIAN DAN DEFINISI WAKAF

Pengeretian wakaf dalam madzhab Syafi'i adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tapi bendanya tetap dengan cara memanfaatkannya untuk kebaikan dengan niat ibadah pada Allah. Teks bahasa Arab menurut Imam Nawawi dalam Tahdzibul Asma wal Lughat 4/194 sbb: حبس مال يمكن الانتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته وتصرف منافعه إلى البر تقربا إلى الله تعالى
Dr. Muhammad Al-Ahmad Abu Al-Nur, mantan Menteri Wakaf Mesir Wakaf mendefinisikan wakaf sebagai harta atau tanah yang ditahan oleh pemiliknya sehingga dapat menghalang penggunaannya dengan dijual atau dibeli ataupun diberikan sebagai pemberian dengan syarat dibelanjakan faedahnya atau keuntungannya atau hasil kepada orang yang ditentukan oleh pewakaf (waqif).
DASAR HUKUM DAN DALIL WAKAF
Dalil-dalil yang menjadi dasar hukum atas boleh dan sunnahnya wakaf adalah sbb: - QS Ali Imron 3:92 لن تَنَالُوا البرَّ حتى تنفِقُوا ممَّا تُحِبُّونَ
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. -
Hadits sahih إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلاّ من ثلاثة : صدقة جارية ، أو علم ينتفع به ، أو ولد صالح يدعو له
Artinya: Apabila seorang anak Adam mati, maka putuslah amalnya kecuali tiga: sadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya. -
Hadits sahih riwayat Bukhari ما ترك رسول الله صلى الله عليه و سلم إلاّ بغلته البيضاء وسلاحه ، وأرضاً تركها صدقة Artinya: Rasulullah (saat meninggal) tidak meninggalkan (apa-apa) kecuali keledai putih, senjata dan tanah yang disedekahkan. - Hadits sahih riwayat Bukhari Muslim (muttafaq alaih) dari Ibnu Umar عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: أصاب عمر أرضا بخيبر فأتى النبي صلى الله عليه وسلم يستأمر فيها فقال: يارسول الله أصبت أرضا بخيبر لم أصب مضالا قط هو أنفس عندي منه فما تأمرني به. فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم, إن شْئت حبست أصلها وتصدقت بها فتصدق بها عمر, أنها لاتباع ولاتوهب ولاتورث. قال وتصدق بها فى الفقراء وفى القربى وفى الرقاب وفى سبيل الله وابن السبيل والضيف لاجناح على من وليها أن يأكل منها بالمعروف ويطعم غير متمول مالا(متفق عليه) واللفظ لمسلم وفي رواية للبخاري: تصدق بأصلها لايباع ولايوهب ولكن ينفق ثمره
Artinya Dari Ibnu Umar RA. berkata, bahwa sahabat Umar RA memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah untuk mohon petunjuk. Umar berkata: Ya Rasulullah! Saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah bersabda: bila kau suka, kau tahan tanah itu dan engkau shodaqohkan. Kemudian Umar melakukan shodaqah, tidak dijual, tidak diwarisi dan tidak juga dihibahkan. Berkata Ibnu Umar: Umar menyedekahkan kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara yang baik dengan tidak bermaksud menumpuk harta” (Muttafaq ‘Alaih)
susunan matan tersebut menurut riwayat Muslim.
Dalam riwayat al-Bukhari: Beliau sedekahkan pokoknya, tidak dijual dan tidak dihibahkan, tetapi diinfakkan hasilnya.
HUKUM BER-WAKAF
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa wakaf hukumnya boleh dan sunnah berdasarkan dalil Al-Quran dan hadits yang tersebut di atas. Baik dalil yang bersifat umum tentang anjuran bersedekah dan amal jariyah atau khusus terakait hadits tentang Umar bin Khatab yang mewakafkan tanahnya. PERSYARATAN WAKAF
Syarat yang harus terpenuhi pada unsur-unsur penting dalam wakaf
1. Orang yang mewakafkan (waqif). Syarat sahnya menjadi waqif adalah
(a) akil baligh;
(b) berakal sehat dan normal;
(c) sukarela (tidak terpaksa dan tidak ada yang memaksa);
(d) pemilik dari harta yang akan diwakafkan.
2. Harta atau benda yang diwakafkan (mauquf). Syarat sahnya mauquf adalah (a) harus berupa harta yang berharga atau ada nilainya;
(b) dapat dan boleh diambil manfaatnya (bukan barang haram seperti alkohol);
(c) dimiliki oleh waqif saat melakukan wakaf;
(d) diketahui keberadaan harta saat pelaksanaan wakaf. Mauquf atau harta yang diwakafkan boleh dalam bentuk
(a) harta tunai;
(b) tanah atau harta tak bergerak lain;
(c) saham;
(d) segalam macam harta bergerak yang dapat diambil manfaatnya;
(e) dapat dimanfaatkan secara terus menerus dalam arti tidak berupa benda yang mudah rusak seperti makanan; atau wakaf untuk anak dan kerabat dalam masalah wakaf keluarga.
3. Tujuan pemanfaatan harta wakaf (mauquf alaih) Syarat mauquf alaih atau tujuan wakaf adalah
(a) tidak untuk sesuatu yang diharamkan syariat;
(b) mengandung tujuan yang tidak terputus seperti wakaf untuk tujuan kebaikan seperti Al-Quran, orang fakir miskin, memberi makan, dan lain-lain. RUKUN TATA CARA WAKAF
Rukun yang harus ada saat transaksi wakaf berlangsung ada 4 (empat) yaitu: 1. Waqif atau orang yang mewakafkan.
2. Mauquf atau harta benda yang diwakafkan.
3. Mauquf alaih atau tujuan pemanfaatan harta wakaf.
4. Sighat atau lafadz atau kata terkait dengan harta dan tujuan wakaf.
HUKUM MENUKAR ATAU MENJUAL TANAH WAKAF MASJID
Menurut madzhab Syafi'i menukar tanah masjid wakaf tidak boleh dalam keadaan apapun. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, boleh menukar atau menjual barang wakaf dengan syarat tertentu. Berikut rinciannya:
Al-Bakri dalam Kitab I'anatut Thalibin hlm. 3/181 menyatakan: وَلاَ يَنْقُضُ الْمَسْجِدُ اَيِ الْمُنْهَدِمُ الْمُتَقَدِّمُ ذِكْرُهُ فِى قَوْلِهِ " فَلَوِ انْهَدَمَ مَسْجِدٌ " ، وَمِثْلُ الْمُنْهَدِمِ اَلْمُتَطِّلُ . ( وَالْحَاصِلُ ) اَنَّ هذَا الْمَسْجِدَ الَّذِى انْهَدَمَ اَىْ اَوْ تَعَطَّلَ بِتَعْطِيْلِ اَهْلِ الْبَلَدِ لَهُ كَمَا مَرَّ لاَ يُنْقَضُ اَىْ لاَ يُبْطَلُ بِنَاؤُهُ بِحَيْثُ يُتَمَّمُ هَدْمُهُ فِىْ صُوْرَةِ الْمَسْجِدِ الْمُنْهَدِمِ اَوْ يُهْدَمُ مِنْ اَصْلِهِ فِى صُوْرَةِ الْمُتَعَطَّلِ ؛ بَلْ يَبْقَى عَلَى حَالِهِ مِنَ الاِنْهِدَامِ اَوْ التَّعْطِيْلِ . وَذلِكَ لإِمْكَانِ الصَّلاَةِ فِيْهِ وَهُوَ بِهذِهِ الْحَالَةِ وَلإِمْكَانِ عَوْدِهِ كَمَا كَانَ . Artinya: Dan tidak boleh masjid dirusak. Artinya, masjid yang roboh yang telah disebutkan sebelumnya dalam ucapan mushannif (Al-Malibari penulis Fathul Muin) "Maka andaikata ada sebuah masjid yang roboh".
Masjid yang menganggur adalah seperti masjid yang roboh. Walhasil, sesungguhnya masjid yang telah roboh ini, artinya, atau telah menganggur sebab dianggurkan oleh penduduk desa tempat masjid tersebut berada sebagaimana keterangan yang telah lalu, maka masjid tersebut tidak boleh dirusak, artinya bangunannya tidak boleh dibatalkan dengan jalan disempurnakan penghancurannya dalam bentuk masjid yang roboh, atau dihancurkan mulai dari asalnya dalam bentuk masjid yang dianggurkan. Akan tetapi hukum masjid tersebut tetap dalam keadaannya sejak roboh atau menganggur. Yang demikian itu ialah karena masih mungkin melakukan shalat di masjid tersebut dalam keadaannya yang roboh ini dan masih mungkin mengembalikan bangunannya seperti sediakala". Pendapat Al-Bakri selaras dengan pendapat ulama mazhab Syafi'i yang lain. Abdullah bin Hijazi dalam Kitab Hasyiyah As Syarqawi hlm. 2/178 selain mengutip pendapat ulama Syafi'iyah juga menukil pendapat ulama mazhab Hanafi yang membolehkan dengan syarat tertentu: وَلاَ يَجُوْزُ اسْتِبْدَالُ الْمَوْقُوْفِ عِنْدَنَا وَاِنْ خَرَبَ ، خِلاَفًا لِلْحَنَفِيَّةِ . وَصُوْرَتُهُ عِنْدَهُ اَنْ يَكُوْنَ الْمَحَلُّ قَدْ آلَ اِلَى السُّقُوْطِ فَيُبْدَلُ بِمَحَلٍّ آخَرَ اَحْسَنَ مِنْهُ بَعْدَ حُكْمِ حَاكِمٍ يَرَى صِحَّتَهُ . Artinya: Tidak boleh menukarkan barang wakaf menurut madzhab kami (Syafi'i), walaupun sudah rusak. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang membolehkannya. Contoh kebolehan menurut pendapat mereka adalah apabila tempat yang diwakafkan itu benar-benar hampir longsor, kemudian ditukarkan dengan tempat lain yang lebih baik dari padanya, sesudah ditetapkan oleh Hakim yang melihat kebenarannya. Pendapat ulama mazhab Hanafi dalam soal ini dapat dilihat dari pernyataan Muhammad Amin bin Umar (Ibnu Abidin) seorang ulama mazhab Hanafi dalam Kitab Raddul Mukhtar hlm. 3/512: اَرَادَ اَهْلُ الْمَحَلَّةِ نَقْضَ الْمَسْجِدِ وَبِنَاءَهُ اَحْكَمَ مِنَ الاَوَّلِ ، إِنِ الْبَانِى مِنْ اَهْلَ الْمَحَلَّةِ لَهُمْ ذلِكَ ، وإِلاَّ فَلاَ .
Artinya: Penduduk suatu daerah ingin membongkar masjid dan membangunnya kembali dengan bangunan yang lebih kokoh dari yang pertama. Jika yang membangun kembali masjid tersebut adalah penduduk daerah tersebut, maka hukumnya boleh, dan jika tidak maka hukumnya tidak boleh". Pendapat senada juga terdapat dalam Kitab Syarhul Kabir 3/420: فَاِنْ تَعَطَّلَتْ مَنَافِعُهُ بِالْكُلِّيَّةِ كَدَارٍ اِنْهَدَمَتْ اَوْ اَرْضٍ خَرَبَتْ وَعَادَتْ مَوَاتًا لَمْ يُمْكِنْ عِمَارَتُهَا اَوْ مَسْجِدٍ اِنْتَقَلَ اَهْلُ الْقَرْيَةِ عَنْهُ وَصَارَ فِى مَوْضِعٍ لاَ يُصَلَّى فِيْهِ اَوْ ضَاقَ بِاَهْلِهِ وَلَمْ يُمْكِنْ تَوْسِيْعُهُ فِى مَوْضِعِهِ ، فَاِنْ اَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِهِ لِيُعَمَّرَ بَقِيَّتُهُ جَازَ بَيْعُ الْبَعْضِ وَاِنْ لَمْ يُمْكِنِ الإِنْتِفَاعُ بِشَيْءٍ مِنْهُ بِيْعَ جَمِيْعُهُ . Artinya: Jika manfaat dari wakat tersebut secara keseluruhan sudah tidak ada, seperti rumah yang telah roboh atau tanah yang telah rusak dan kembali menjadi tanah yang mati yang tidak mungkin memakmurkannya lagi, atau masjid yang penduduk desa dari masjid tersebut telah pindah; dan masjid tersebut menjadi masjid di tempat yang tidak dipergunakan untuk melakukan shalat, atau masjid tersebut sempit dan tidak dapat menapung para jama'ah dan tidak mungkin memperluasnya di tempat tersebut, ... jika mungkin menjual sebahagiannya untuk memakmurkan sisanya, maka boleh menjual sebahagian. Dan jika tidak mungkin memanfaatkannya sedikitpun, maka boleh menjual seluruhnya".
MENARIK KEMBALI HARTA WAQAF
Kalau waqaf sudah dilakukan, maka hukumnya haram menarik kembali harta yang diwakafkan.
Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual atau diwariskan karena sudah menjadi milik umat.
Berikut dalil dan rujukan referensinya: - Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir, hlm. 7/511 فإذا وقف شيئا زال ملكه عنه بنفس الوقف ولزم الوقف، فلا يجوز له الرجوع فيه بعد ذلك ولا التصرف فيه ببيع ولا هبة، ولا يجوز لأحد من ورثته التصرف فيه، وليس من شرطه لزوم القبض ولا حكم الحاكم
Artinya: Apabila seseorang mewakafkan sesuatu maka hilanglah kepemilikannya dari barang tersebut karena wakaf dan wajib wakaf. Maka tidak boleh baginya menarik kembali setelah itu dan tidak boleh menggunakannya dengan cara membeli atau hibah dan tidak boleh bagi seorang pun dari ahli warisnya untuk menggunakannya.
Tidak termasuk syarat wakaf adanya serah terima atau ketetapan hakim. - Al-Mausuah al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah hlm. 44/119-120 menyimpulkan pendapat berbagai mazhab sbb: اختلف الفقهاء في لزوم الوقف، فذهب جمهور الفقهاء المالكية والشافعية والحنابلة في المذهب وأبو يوسف ومحمد من الحنفية إلى أن الوقف متى صدر ممن هو أهل للتصرف مستكملا شرائطه أصبح لازماً، وانقطع حق الواقف في التصرف في العين الموقوفة بأي تصرف يخل بالمقصود من الوقف، فلا يباع ولا يوهب ولا يورث، وذلك لقول النبي صلى الله عليه وسلم لعمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه ـ: (تصدق بأصله، ولا يباع ولا يوهب ولا يورث)، ولأن الوقف تبرع يمنع البيع والهبة والميراث فلزم بمجرد صدور الصيغة من الواقف كالعتق، ويفارق الهبة فإنها تمليك مطلق، والوقف تحبيس الأصل وتسبيل المنفعة، فهو بالعتق أشبه ، فإلحاقه به أولى. وعند أبي حنيفة : الوقف جائز غير لازم وللواقف الرجوع فيه حال حياته مع الكراهة، ويورث عنه، وإنما يلزم الوقف عنده بأحد أمرين: أن يحكم به القاضي، أو يخرجه مخرج الوصية، ولكن الفتوى عند الحنفية على قول أبي يوسف ومحمد وهو اللزوم، قال ابن عابدين نقلا عن "الفتح": والحق ترجيح قول عامة العلماء بلزومه؛ لأن الأحاديث والآثار متضافرة على ذلك، واستمر عمل الصحابة والتابعين ومن بعدهم على ذلك ، فترجح قولهما" وفي رواية عن الإمام أحمد أن الوقف لا يلزم إلا بالقبض وإخراج الواقف له عن يده؛ لأنه تبرع بمال لم يخرجه عن المالية، فلم يلزم بمجرد اللفظ كالهبة والوصية Artinya: Ulama fiqih berbeda pendapat soal ketetapan wakaf. Jumhur ulama dari mazhab Maliki, Syafi'i, Hanbali (dalam pendapat yang kuat), Abu Yusuf, Muhammad dari mazhab Hanafi berpendapat bahwa wakaf apabila dilakukan oleh ahli tasharuf (akil baligh) dan sempurna syaratnya maka menjadi ketetapan. Dan terputus hak yang mewakafkan (al-waqif) dalam menggunakan harta yang diwakafkan dengan penggunaan yang merusak maksud dari wakaf. Dalam arti harta tersebut tidak boleh dijual, diberikan dan diwariskan. Berdasarkan pada sabda Nabi pada Umar bin Khattab, "Sedekahkan pokoknya, tidak boleh dijual, diberikan, diwariskan). Dan karena wakaf itu ibadah yang mencegah dijual, dihibahkan dan diwariskan. Maka wakaf menjadi tetap dan sah dengan keluarnya shighat atau ucapan wakaf dari yang mewakafkan (waqif) sebagaimana memerdekakan budak. Ini berbeda dengan hibah karena hibah itu kepemilikan mutlak sedangkan wakaf itu menahan yang asal dan mengalirkan manfaat, maka lebih serupa dengan itiq (memerdekakan budak). Menganalogikan dengan itiq itu lebih utama. Menurut mazhab Hanafi, waqaf itu boleh dan tidak tetap (lazim). Waqif boleh menarik kembali saat ia hidup namun hukumnya makruh dan dapat diwariskan...

Selasa, 27 September 2016

Rekening tertua well of usman


Kisah Nyata: Rekening Atas Nama Usman bin Affan RA Masih Ada Hingga Ini

Sahabat Muda Saja'ah, ini adalah sebuah kisah nyata..

Mungkin tak pernah terbayang oleh siapa pun, bila ada satu bank di Saudi Arabia yang sampai saat ini menyimpan rekening atas nama USMAN BIN AFFAN.

Apa kisah sebenarnya di balik pembangunan hotel 'Usman bin Affan Ra' yang saat ini sedang di bangun dekat Masjid Nabawi?
Apakah ada anak cucu keturunan Usman saat ini yang membangunnya atas nama moyang mereka.

Penasaran?
Ikuti kisahnya berikut ini. Barangkali kita dapat mengambil pelajaran.

Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air jernih. Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi air sumurnya itu secara jual beli. Mengetahui hal itu, Usman bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah. Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.

Dengan semakin bertambahnya penduduk Muslim, kebutuhan akan air jernih pun kian meningkat. Karena itu, Usman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp. 5 M). Untuk kali ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.

Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Usman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.
Kebun wakaf Usman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani).

Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.

Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.

Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.
Dengan begitu 'kekayaan' Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.

Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Usman.
Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya, hotel 'Usman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan pengelola hotel ternama.

Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M). Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di 'rekening' Usman bin Affan.

Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan.
14. Masya Allah, saudaraku, itulah 'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.

Saudaraku hikmah lain dari kisah diatas betapa disiplinnya pihak pengelola wakaf pemerintah Arab saudi, tidak merubah wakaf seseorang meskipun pewakaf sudah meninggal ribuan tahun sebelumnya, bahkan hasil dari tanah wakaf tersebutpun tetap digunakan sesuai peruntukannya dan tetap atas nama pewakaf,..... Subhanallah.

Kamis, 22 September 2016

Memahami khilafiah & furuiyah dan bid'ah

"Khilafiyah, Furuiyah, Sunnah dan Bid'ah"

Dr. Amir Faishol Fath, MA
(Alumni Pondok Pesantren Al Amien Parenduan, Sumenep, Madura)

Korbankan persatuan umat demi fanatisme furuiyah adalah kebodohan atas agamanya.

Kaidah ushul fikih: laa inkara fil mukhtalaf fiihi (tidak boleh ada pengingkaran dalam khilafiyah).

Kaidah berikutnya: tidak ada paling benar dalam masalah khilafiyah furuiyah.

Kaidah berikutnya: tidak ada bid'ah dalam khilafiyah furuiyah. Menghakimi bid'ah terhadap khilafiyah furuiyah adalah kesalahan.

Bukan ikut sunnah jika yang hukumnya sunnah diwajibkan. Biarkan yang hukumnya sunnah tetap sunnah jangan diwajibkan.

Bid'ah terjadi hanya dalam wilayah ushul bukan wilayah khilafiyah. Seperti shalat subuh empat rakaat. Ini bid'ah. Baca qunut bukan bid'ah.

Cinta Nabi ushul. Maulidan adalah khilafiyah furuiyah. Maka yang salah yang tidak cinta Nabi dan yang menyerang khilafiyah.

Membaca lailaha illallah: ushul. Tahlilan: khilafiyah furuiyah. Yang salah yang tidak ucapkan lailaaha illalah dan yang serang khilafiyah.

Tidak ikut sunnah yang serang khilafiyah. Sebab Nabi biarkan sahabatnya berbeda pendapat dalam hal furuiyah.

Tidak ikut sunnah yang hanya ikut amalan nabi sekitar ritual saja. Sebab sunnah Nabi juga mengurus pasar, ekonomi dan negara.

Bukan seorang fakih, yang keluarkan hukum sesuatu adalah haram dan bid'ah dengan alasan Nabi tidak pernah kerjakan.

Khilafiyah terjadi karena tidak ada dalil khusus. Ini tugas fikh. Yang bukan fakih jangan ikut-ikutan. Biar tidak rancu.

Kekacauan terjadi karena adanya orang-orang yang bukan fakih ikut-ikutan ngurus fikih lalu merasa dirinya berhak tandingi Imam Syafii dan imam-imam lainnya.

Khilafiyah itu sudah dibahas oleh ulama. Masing-masing punya dalil. Kita tinggal ikut saja. Bukan menghakimi yang lain.

Memilih pemimpin: ushul. Gunakan demokrasi: furu'. Maka salah yang tidak mau pilih pemimpin karena alasan furu'.

Salah yang mengatakan: dari pada pilih pemimpin muslim yang korup mending pilih pemimpin kafir yang tidak korup.

Seharusnya mengatakan: ayo pilih pemimpin muslim yang bersih dari pada pemimpin kafir yang tidak bersih. Sungguh masih banyak muslim yang bersih.

Dzalim terhadap Nabi dan Islam yang sempitkan sunnah hanya sekitar ritual. Sementara mengurus negara tidak dianggap sunnah.

Sebaiknya jangan mengaku muslim jika serang Islam dan umat Islam. Apalagi bela kebatilan dan kesesatan.

Yang membuat umat Islam Indonesia tidak berdaya adalah munculnya orang-orang mengaku muslim tapi serang umat Islam dan bela kebatilan.*

Wallahu a'lamu

Zinah

Gaya cukur tidak boleh

Jual beli kridit