Lima Wasiat Nabi Adam pada Nabi Syits tentang Penyesalannya Terusir dari Surga
Nabi Adam as. berwasiat kepada salah satu putranya, yaitu Nabi Syits tentang lima hal (Lihat Kitab Mukasyafatul Qulub, Hal. 87). Beliau menyuruh agar wasiat ini juga disampaikan pada cucu-cucunya kelak.
Adapaun kelima wasiat tersebut adalah sebagai berikut,
Adam menasihati putranya, Seth, semoga kedamaian menyertai mereka berdua, dengan lima hal dan memerintahkannya untuk menasihati anak-anaknya setelahnya.
Pertama, katanya kepadanya, “Katakan kepada anak-anakmu agar jangan berpuas diri dengan dunia ini, karena aku berpuas diri dengan surga abadi, dan Allah mengusirku dari sana.”
Kedua, katakan kepada mereka agar jangan terpengaruh oleh keinginan istri mereka, karena aku menuruti keinginan istriku dan memakan buah pohon itu, dan aku menyesal.
Ketiga, katakan kepada mereka bahwa dalam setiap tindakan yang mereka rencanakan, pertimbangkanlah akibatnya, karena jika aku mempertimbangkan akibatnya, apa yang menimpaku tidak akan terjadi.
Keempat, jika hatimu terganggu oleh sesuatu, maka hindarilah itu, karena ketika aku memakan buah pohon itu, hatiku terganggu, dan aku tidak berbalik, dan aku menyesal.
Kelima, bermusyawarahlah dengan orang lain dalam hal-hal tertentu, karena jika aku bermusyawarah dengan para malaikat, apa yang menimpaku tidak akan terjadi.
Mujahid berkata bahwa Abdullah ibn Umar berkata kepadanya,
“Ketika kamu bangun, jangan memikirkan malam, dan ketika malam tiba, jangan memikirkan pagi. Manfaatkanlah hidupmu sebelum kematianmu dan kesehatanmu sebelum sakitmu, karena kamu tidak tahu apa namamu esok hari.”
Dan Nabi bersabda kepada para Sahabat-Nya: “Apakah kalian semua ingin masuk Surga?” Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kurangi harapan kalian dan sungguh-sungguhlah malu di hadapan Allah.” Mereka menjawab: “Kami semua malu di hadapan Allah Yang Maha Kuasa.” Beliau bersabda: “Itu bukanlah rasa malu yang sejati.
Rasa malu yang sejati di hadapan Allah Yang Maha Kuasa adalah mengingat kuburan dan pembusukan, dan menjaga perutmu dan isinya, serta kepalamu dan apa yang dipegangnya.
Siapa pun yang menginginkan kemuliaan Akhirat meninggalkan perhiasan dunia ini.
Itulah rasa malu yang sejati di hadapan Allah, dan melalui itu, seorang hamba memperoleh karunia Allah.” Beliau juga bersabda: “Langkah pertama menuju kesejahteraan umat ini adalah melalui asketisme dan keyakinan, dan langkah kedua menuju kehancurannya adalah melalui kekikiran dan harapan.
Dunia hanyalah senda gurau belaka. Dunia penuh tipu muslihat. Ia hanya panggung sandiwara.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hadid (57) : 20,
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.
Jadi, pergunakan sebaik mungkin umur yang dimiliki. Jangan selalu merasa tenang atas dosa yang dilalukan, sekecil apapun.
Kedua, jangan selalu ikuti kemauan istri kalian. Karena sebab mengikuti kemauan istriku dan memakan “buah khuld”, aku dihinggapi penyesalan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang tipu daya setan adalah lemah.
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطانِ كانَ ضَعِيفاً
"Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah." (QS. an-Nisa:76)
Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid berkata: "Yakni tipu daya setan dan orang-orang kafir yang mengikutinya adalah lemah ketika dihadapkan pada pertolongan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. "
Namun berbeda ketika Allah sebutkan tipu daya wanita,
إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya tipu daya wanita adalah besar." (QS. Yusuf:28)
Syaikh Prof. DR. Wahbah az-Zuhaili berkata; "Pelajaran dari ayat adalah tipu daya wanita itu besar dan memang seperti itu nyatanya. "
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar berkata; "Tipu muslihat kalian itu sangat besar wahai wanita, yaitu sangat licik dan mempengaruhi jiwa."
Banyak yang bisa selamat dan menghindari harta haram, judi, miras, narkoba, bohong, korupsi, membunuh, mencopet, bertengkar dan beragam maksiat lainnya. Namun sedikit sekali yang bisa selamat dari godaan dan fitnah wanita.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: "Hati-hati dengan fitnah dunia dan hati-hati dengan fitnah wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama kali yang menimpa Bani Israil adalah wanita" (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
"Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita." (HR. al-Bukhari)
Ketiga, sebelum bertindak, maka pikirkanlah dengan matang-matang akibat yang ditimbulkan. Andaikata aku berpikir akibat kelakuanku, maka pastinya aku tidak akan ditimpa musibah ini (dikeluarkan dari surga). Artinya, sebelum melakukan sesuatu, kita harus memikirkan akibatnya terlebih dahulu. Jika itu baik, maka lanjutkan. Jika tidak, maka urungkan. Karena penyesalan pasti datang di kemudian hari. Baik dalam urusan yang sepele, apalagi yang gede.
Keempat, ketika hati kalian amat cinta pada sesuatu (yang negatif), maka jauhilah. Karena ketika aku makan “buah khuldi”, hatiku memaksa untuk memakannya. Aku tidak mengabaikannya sehingga menyesal setelahnya. Artinya, jangan ikuti kata hati yang hanya menjerumuskan pada hal yang tidak diridloi oleh Allah Swt., atau yang disenangi oleh Rasulullah Saw., atau yang tidak direstui oleh Para Ulama.
Kelima, bermusyawarahlah dalam menentukan suatu perkara. Karena aku dulu tidak bermusyawarah terlebih dahulu dengan para malaikat sehingga aku ditimpa penyesalan. Artinya, mintalah pendapat orang lain terlebih dahulu sebelum memutuskan suatu perkara. Mintalah masukan atau saran dari keluarga, sahabat, guru, atau tokoh masyarakat. Baik dalam urusan yang nyata-nyata baik, apalagi yang masih samar. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali Imron (3) :159,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
Dalam ayat tersebut, nabi kita saja, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk bermusyawarah, apalagi kita umatnya yang memiliki serba kekurangan. Lebih patut lagi untuk bermusyawarah.
Oleh karena itu, resapi dan renungi wasiat Nabi Adam as. di atas. Lalu kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar