Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Rabu, 08 Februari 2017

27 darajat

Maksud 27 derajat
Di dlm shalat berjamaah

Pertanyaan :
Asssalamu alaikum
Aku mau nanya nih, jika sholat sendirian mendapat 1 derajat, jika berjamaah mendapat 27 derajat, berapah ukuran derajat tersebut? apakah 27 pahala?
Mohon dijawab beserta ibarotnya dan terimakasih..

Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Ulama’ berbeda pendapat mengenai madsud dari “derajat” dalam hadits yang menjelaskan fadhilah sholat jama’ah, terdapat 2 pendapat dalam masalah ini;

1. Pendapat pertama menyatakan, maksud dari “derajat” tersebut adalah bahwa pahal yang didapatkan dari sholat jama’ah mengungguli pahala sholat yang dikerjakan sendirian dengan selisih 27 kali lipat pahala.

2. Pendapat kedua menyatakan, maksud dari derajat tersebut adalah “sholat”, artinya orang yang mengerjakan sholat secara berjama’ah mendapatkan pahala 27 kali sholat.

Dari kedua pendapat tersebut, menurut Syekh Ibnu Daqiq Al-‘Id pendapat yang kedua adalah yang paling jelas (adhhar) sebagaimana secara jelas disebutkan dalam sebagian riwayat hadits yang menjelaskan fadhilah sholat jama’ah. Selain itu hal tersebut juga diisyaratkan dengan penggunaan kata “tudho’afu” (dilipat gandakan) dalam sebagian riwayat hadits tersebut.

Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Wildan Zidan, Su Kakov dan Siroj Munir )

Referensi :
1. Faidhul Qodir Syarah Jam’us Shoghir, Juz : 4  Hal : 216
2. Ihkamul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, Juz 1  Hal : 188
3. Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 339

Ibarot :
Faidhul Qodir Syarah Jam’us Shoghir, Juz : 4  Hal : 216

صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً. (مَالك حم ق ت ن هـ) عن ابن عمر
..........................................
صلاة الجماعة) هم العدد من الناس يجتمعون يقع على الذكور والإناث أي الصلاة فيها (تفضل) بفتح أوله [ص:217] وسكون الفاء وضم الضاد (صلاة الفذ) بفتح الفاء وشد الذال المعجمة الفرد أي تزيد على صلاة المنفرد (بسبع وعشرين درجة) أي مرتبة والمعنى أن صلاة الواحد في جماعة يزيد ثوابها على ثواب صلاته وحده سبعا وعشرين ضعفا وقيل: المعنى إن صلاة الجماعة بمثابة سبع وعشرين صلاة

Ihkamul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, Juz 1  Hal : 188

الثالث: قد وقع بحث في أن هذه " الدرجات " هل هي بمعنى الصلوات؟ فتكون صلاة الجماعة بمثابة خمس وعشرين صلاة، أو سبع وعشرين، أو يقال: إن لفظ " الدرجة " و " الجزء " لا يلزم منهما أن يكون بمقدار الصلاة؟ والأول هو الظاهر؛ لأنه ورد مبنيا في بعض الروايات وكذلك لفظة " تضاعف " مشعرة بذلك

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 339

قوله: مفوتة لفضيلة الجماعة) أي فيما قارن فيه فقط كما أفتى به الوالد - رحمه الله تعالى - فيفوته سبعة وعشرون جزءا فيما قارنه فيه فإذا قارنه في الركوع فاته سبعة وعشرون ركوعا لأن صلاة الجماعة تفضل صلاة المنفرد بسبع وعشرين درجة أي صلاة شيخنا ح ف

RINCIAN 27 PAHALA
SHALAT BERJAMA’AH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
صَلاَةُ الجَماَعَةِ أَفْضَلٌ مِنْ صَلاَةِ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً
Shalat berjama’ah adalah lebih uatama dari shalat sendiri dengan selisih dua puluh tujuh tingkat
(HR. Bukhori Muslim)

الجَماَعَةُ فىِ الصَّلاَةِ هِىَ مِنْ خَصاَئِصِ هَذِهِ الأُمَّةِ , فَإِنَّ أَوَّلَ مَنْ صَلَّى جَماَعَةً مِنَ البَشَرِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّماَ كاَنُوْا يُصَلُّوْنَ قَبْلَ ذَلِكَ فُرَادَى

Berjama’ah dalam shalat merupakan ajaran khusus umat Nabi Muhammad ini, karena awal mula melakukan shalat  dari adalah Rasulullah SAW, karena umat þ termasuk para Nabinya melakukan shalat masing-masing sendirian.

وَمَعْناَهاَ الشَّرْعِىِّ رِبْطُ صَلاَةِ المَأْمُوْمِ بِصَلاَةِ الإِماَمِ , وَلَفْظُهاَ يَصْلُحُ لِكُلٍّ مِنَ الإِماَمِ وَالمَأْمُوْمِ وَيُتَعَيَّنُ ِلأَحَدِهِماَ بِالقَرِيْنَةِ وَهِىَ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَراَدِ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Pengertian berjama’ah shalat menurut pandangan agama ialah memiliki ikatan terhubung antara makmun dan imam, subsidi silang antara yang memimpin dan yang dipimpin juga sesama yang dipimpin. Ungkapan shalat berjama’ah adalah sangat baik dari imam dan makmum, dan ungkapan menyatakan berjama’ah itu ditentukan khusus untuk seorang imam dan makmum dengan adanya tanda berjama’ah. Dan shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendiri dengan selisih pahala dua puluh tujuh tingkat :

قَوْلُهُ بِسَبْعِ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً أَىْ أَوْ بِخَمْسِ وَعِشْرِيْنَ ؛ فاَلأُوْلىَ مَحْمُوْلَةٌ عَلَى الجَهْرِيَّةِ وَالثَّانِيَّةُ عَلَى السَّرِيَّةِ , هَذاَ فىِ الحَضَرِ

Pengertian dua puluh derajat atau dua puluh lima derajat adalah, yang pertama ini mengacu pada shalat yang bacaannya keras, sedang yang dua puluh lima derajat adalah mengacu pada shalat yang bacaannya pelan. hal ini berlaku pada shalat yang dilakukan di wilayah tempat tinggal.

وَأَمَّا فىِ السَّفَرِ فَصَلاَةُ الجَماَعَةِ أَفْضَلُ مِنَ الإِنْفَراَدِ بِخَمْسِيْنَ دَرَجَةً

Adapun di saat dalam perjalanan, shalat berjama’ah adalah lebih utama dari shalat sendirian dengan selisih pahala lima puluh tingkat.

Berikut rincian nilai pahala kebaikan yang terdapat shalat berjama’ah ;

وَذَلِكَ لِلأَسْباَبِ المُقْتَضِيَّةِ لِتِلْكَ الدَّرَجاَتِ كَإِجاَبَةِ المُؤَذِنِ , وَالتَّكْبِيْرِ إِلَيْهاَ , وَالمَشْىِ إِلىَ المَسْجِدِ بِسَكِيْنَةٍ , وَدُخُوْلِ المَسْجِدِ دَاعِياً , وَصَلاَةِ التَّحِيَّةِ , وَانْتِظاَرِ الجَماَعَةِ , وَصَلاَةِ المَلاَئِكَةِ عَلَيْهِ , وَشَهاَدَتِهِمْ لَهُ , وَإِجاَبَةِ الإِقاَمَةِ , وَالسَّلاَمَةِ مِنَ الشَّيْطاَنِ حِيْنَ يَفِرُّ عِنْدَ الإِقاَمَةِ , وَالوُقُوْفِ مُنْتَظِرًا إِحْراَمَ الإِماَمِ , وَإِدْراَكِ تَكْبِيْرِ الإِماَمِ , وَتَسْوِيَّةِ الصُّفُوْفِ , وَسَدِّ فَرْجِهاَ , وَجَواَبِ الإِماَمِ عِنْدَ قَوْلِهِ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ , وَالأَمْنِ مِنَ السَّهْوِ غاَلِباً , وَتَنْبِيْهِ الإِماَمِ إِذاَ سَهاَ , وَحُصُوْلِ الخُشُوْعِ , وَالسَّلاَمَةِ مِمَّايُلْهِى غاَلِباَ , وَتَحْسِيْنِ الهَيْئَةِ غاَلِباَ , وَاحْتِفاَفِ المَلاَئِكَةِ بِهِ , وَالتَّدَرُّبِ عَلَى تَجْوِيْدِ القِرَاءَةِ , وَتَعَلُّمِ الأَرْكاَنِ , وَالأَبْعاَضِ , وَإِظْهاَرِ شِعاَرِ الإِسْلاَمِ , وَإِرْغاَمِ الشَّيْطاَنِ بِالإِجْتِماَعِ عَلَى العِباَدَةِ , وَالتَّعاَوُنِ عَلَى الطَّاعَةِ , وَنَشاَطِ المُتَكاَسِلِ , وَالسَّلاَمَةِ مِنْ صِفَةِ النِّفاَقِ , وَمِنْ إِساَءَةِ الظَّنِّ بِهِ أَنَّهُ تَرَكَ الصَّلاَةَ , وَنِيَّةِ رَدِّ السَّلاَمِ عَلَى الإِماَمِ , وَالإِنْتِفاَعِ بِاجْتِماَعِهِمْ عَلَى الدُّعاَءِ , وَالذِّكْرِ , وَعَوْدِ البَرَكَةِ الكاَمِلِ عَلَى النَّاقِصِ , وَقِياَمِ نِظاَمِ الأُلْفَةِ بَيْنَ الجِيْراَنِ , وَحُصُوْلِ تَعاَهُدِهِمْ فىِ أَوْقاَتِ الصَّلَولَتِ , وَالإِنْصاَتِ عِنْدَ قِرَاءَةِ الإِماَمِ , وَالتَّأْمِيْنِ عِنْدَ تَأْمِيْنِهِ .

Shalat berjama’ah memiliki nilai pahala 25 tingkat, 27 tingkat, bahkan sampai 50 tingkat adalah disebabkan hal-hal kebaikan yang terdapat bersamanya, seperti :

KEBAIKAN SHALAT BERJAMA’AH
(1)
Menjawab orang adzan
(19)
Biasanya aman dari hal-hal yang melalaikan dalam pelaksanaan shalat
(2)
Takbir untuk berjama’ah
(20)
Biasanya baik di gerakan dan bacaan shalat
(3)
Berjalan menuju mesjid dengan tenang
(21)
Dikelilingi oleh para malaikat
(4)
Masuk mesjid pertanda mengajak orang
(22)
Baik dalam mrengontrol bacaan qur’an
(5)
Shalat Tahiyyatul mesjid
(23)
Baik dalam mengontrol rukun-rukun shalat
(6)
Menunggu dilaksanakan berjama’ah
(24)
Baik daam mengontrol sunnah ab’ad shalat
(7)
Keikutsertaan malaikat di berjama’ah
(25)
Menampakkan syi’ar Islam
(8)
Kesaksian malaikat di berjama’ah
(26)
Membuat rugi syetan sebab kumpul ibadah
(9)
Menjawab Iqomah
(27)
Membangkitkan diri jauh dari rasa malas
(10)
Aman dari tipu daya syetan saat menyambut Iqomah
(28)
Selamat dari sifat sifat orang munafiq
(11)
Berdiri menanti Takbiratul Ihram Imam
(29)
Selamat dari membuat prasangka buruk orang kepada dirinya, bahwa dirinya sebagai orang yang meninggalkan shalat
(12)
Mengikuti Takbiratul Ihram Imam
(30)
Niat menjawab salam Imam
(13)
Meluruskan barisan shalat
(31)
Keuntungan berkumpul dalam berdo’a
(14)
Merapatkan barisan shalat
(32)
Saling memberikan berkah shalat, shalat yang kurang akan mendapatkan keberkahan dari shalat yang sempurna.
(15)
Menjawab Imam di saat imam berdo’a ruku’ “Semoga Allah mendengar orang yang memujiNya”
(33)
Menegakkan ikatan persaudaraan diantara para tetangga
(16)
Biasanya bisa bebas dari lupa dalam shalat
(34)
Mengontrol perhatian akan waktu shalat
(17)
Bisa mengingatkan Imam jika ia lupa
(35)
Menyimak bacaan qur’an Imam
(18)
Mencapai kekhusyuan dalam shalat
(36)
Membaca amin bersamaan dengan aminnya Imam
 
Dan lain sebagainya…
وَالحِكْمَةُ فِيْهاَ أَنَّ الصَّلاَةَ ضِياَفَةٌ وَماَئِدَةُ بِرٍّ وَالكَرِيْمُ لاَيُضِيْعُ ماَئِدَتَهُ إِلاَّ لِجِماَعَةٍ

Hikmah dalah melaksanakan shalat berjama’ah adalah bahwa shalat merupakan jamuan dan hidangan kebaikan, orang yang baik tidak akan menyia-nyiakan hidangan jamuan melainkan akan dilakukan dengan berjama’ah atau bersama-sama. Jamuan makanan saja yang di santap bersama-sama adalah sebuah sikap yang terpuji apalagi jamuan rahmat Allah SWT.

DO’A SELESAI IQOMAH
أَقاَمَهاَ اللهُ وَأَدَامَهاَ ماَدَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَجَعَلَنِي مِنْ صاَلِحِي أَهْلِهاَ

Semoga Allah tetap menegakkan shalat dan mengkekalkannya selama langit dan bumi masih berada, jan jadikanlah aku sebagai orang yang baik dan ahli dalam melakukan shalat, amien.

Allah mengetahui segalanya…

Senin, 06 Februari 2017

Sejarah singkat PKI

Sejarah Singkat PKI

Berikut ini kiriman WA dari pak Ginanjar Kartasasmita ttg PKI:

Assalamu alaikum wr wb.. Bpk/Ibu/Adik2 yg lahir setelah th.1965.

Sejarah masa lalu mdh2an tdk terulang lagi. Agak panjang ceritanya, ttp menarik utk disimak :

"JASMERAH"

(JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN/MENINGGALKAN SEJARAH)

Data kronologis melengkapi tulisan ttg PKI

PKI: TAHUN 1945 s/d 1965

Bismillaah Wal Hamdulillaah...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah...

A. KRONOLOGIS

1. Tanggal 8 Oktober 1945: Gerakan Bawah Tanah PKI membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).

2. Medio Oktober 1945: AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan Kutil meneror, menangkap, dan membunuh sejumlah Pejabat Pemerintah di Tegal.

3. Tanggal 17 Oktober 1945: Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yg terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan kekuatan massanya.

4. Tanggal 18 Oktober 1945: Badan Direktorium Dewan Pusat yg dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yg diberi nama Ubel-Ubel dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.

5. Tanggal 21 Oktober 1945: PKI dibangun kembali secara terbuka.

6. Tanggal 4 November 1945: API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yg meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang.

7. Tanggal 9 Desember 1945: PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak R. Hardiwinangun di Jembatan Sungai Cimancak.

8. Tanggal 12 Desember 1945: Ubel-Ubel Mauk yg dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Otto Iskandar Dinata.

9. Tanggal 12 Februari 1946: PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti TRI.

10. Tanggal 14 Februari 1946: TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.

11. Tanggal 3 - 9 Maret 1946: PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura, membunuh Sultan bersama keluarganya, dan menjarah harta kekayaannya.

12. Tahun 1947: Kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi PM Republik Indonesia dan membentuk kabinet.

13. Tanggal 17 Januari 1948: PM Amir Syarifuddin Harahap menggelar Perjanjian Renville dengan Belanda.

14. Tanggal 23 Januari 1948: Presiden Soekarno membubarkan Kabinet PM Amir Syarifuddin Harahap dan menunjuk Wapres M Hatta untuk membentuk Kabinet baru.

15. Bulan Januari 1948: PKI membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) yg dipimpin oleh Amir Syarifuddin untuk beroposisi terhadap Kabinet Hatta.

16. Tanggal 29 Mei 1948: M. Hatta melakukan ReRa (Reorganisasi dan Rasionalisasi) terhadap TNI dan PNS untuk dibersihkan dari unsur-unsur PKI.

17. Bulan Mei 1948: Muso pulang kembali dari Moskow – Rusia setelah 12 (dua belas) tahun tinggal disana.

18. Tanggal 23 Juni – 18 Juli 1948: PKI Klaten melalui SARBUPRI (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) melakukan pemogokan massal untuk merongrong Pemerintah RI.

19. Tanggal 11 Agustus 1948: Muso memimpin FDR / PKI dan merekonstruksi Politbiro PKI, termasuk DN Aidit, MH Lukman, dan Nyoto.

20. Tanggal 13 Agustus 1948: Muso yg bertemu Presiden Soekarno diminta untuk memperkuat Perjuangan Revolusi. Namun dijawab bahwa dia pulang untuk menertibkan keadaan, yaitu untuk membangun dan memajukan FDR / PKI.

21. Tanggal 19 Agustus 1948: PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.

22. Tanggal 26 – 27 Agustus 1948: Konferensi PKI

23. Tanggal 31 Agustus 1948: FDR dibubarkan, lalu Partai Buruh dan Partai Sosialis berfusi ke PKI.

24. Tanggal 5 September 1948: Muso dan PKI-nya menyerukan RI agar berkiblat ke UNI SOVIET.

25. Tanggal 10 September 1948: Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya dibuang di dalam hutan.

26. Medio September 1948: Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI, begitu juga Kol. Marhadi diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di alun-alun Kota Madiun.

27. Tanggal 13 September 1948: Bentrok antara TNI pro pemerintah dengan unsur TNI pro PKI di Solo.

28. Tanggal 17 September 1948: PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.

29. Tanggal 18 September 1948: Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin Harahap sebagai Perdana Menteri.

30. Tanggal 19 September 1948: Soekarno menyerukan rakyat Indonesia untuk memilih Muso atau Soekarno – Hatta. Akhirnya, pecah perang di Madiun: Divisi I Siliwangi pimpinan Kol. Soengkono menyerang PKI dari Timur dan Divisi II pimpinan Kol. Gatot Soebroto menyerang PKI dari Barat

31. Tanggal 19 September 1948: PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, dan Cepu, serta kota-kota lainnya.

32. Tanggal 20 September 1948: PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa serta membantainya.

33. Tanggal 21 September 1948: PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr.Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya, yaitu Dr.Susanto, Abu Umar, dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.

34. Tanggal 18 – 21 September 1948: PKI menciptakan 2 (dua) Ladang Pembantaian / Killing Fields dan 7 (tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua jenazah korban yang mereka siksa dan bantai:

a. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
b. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
c. Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan.
d. Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
e. Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
f. Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan.
g. Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
h. Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan
i. Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.

35. Tanggal 30 September 1948: Panglima Besar Jenderal Sudirman mengumumkan bahwa tentara Pemerintah RI berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI yg lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan membantai semua tawanan yg terdiri dari TNI, Polisi, Pejabat Pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Ulama, serta Santri.

36. Tanggal 4 Oktober 1948: PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri – Jawa Tengah.

37. Tanggal 30 Oktober 1948: Para pimpinan Pemberontakan PKI di Madiun ditangkap dan dihukum mati, adalah Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maruto Darusman, Sajogo, dan lainnya.

38. Tanggal 31 Oktober 1948: Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH Lukman dan Nyoto pergi ke pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

39. Akhir November 1948: Seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan seluruh daerah yg semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain: Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.

40. Tanggal 19 Desember 1948: Agresi Militer Belanda II ke Yogyakarta.

41. Tahun 1949: PKI tetap tidak dilarang; sehingga tahun 1949 dilakukan rekonstruksi PKI, dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

42. Awal Januari 1950: Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yg datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi para korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yg semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

43. Tahun 1950: PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

44. Tanggal 6 Agustus 1951: Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.

45. Tahun 1951: Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yg sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno; sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

46. Tahun 1955: PKI ikut Pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

47. Tanggal 8 – 11 September 1957: Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang – Sumatera Selatan mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

48. Tahun 1958: Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat; karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI

49. Tanggal 15 Februari 1958: Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun pemberontakkan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

50. Tanggal 11 Juli 1958: DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

51. Bulan Agustus 1959: TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

52. Tahun 1960: Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yg didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

53. Tanggal 17 Agustus 1960: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

54. Pertengahan Tahun 1960: Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.

55. Bulan Maret 1962: PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno. DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

56. Bulan April 1962: Kongres PKI.

57. Tahun 1963: PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yg terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.

58. Tanggal 10 Juli 1963: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

59. Tahun 1963: Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain: KH. Buya Hamka, KH. Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

60. Bulan Desember 1964: Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yg didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

61. Tanggal 6 Januari 1965: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI

62. Tanggal 13 Januari 1965: Dua
sayap PKI, yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

63. Awal Tahun 1965: PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain: SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat), dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

64. Tanggal 14 Mei 1965: Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI, dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

65. Bulan Juli 1965: PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.

66. Tanggal 21 September 1965: Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

67. Tanggal 30 September 1965 pagi: Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

68. Tanggal 30 September 1965 malam: Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh):

a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan, dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.

c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.

d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yg berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.

e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yg membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu: Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.

f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain:

- Angkatan Darat: Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo, dan Kolonel Infantri A. Latief

- Angkatan Laut: Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi, dan Komodor Laut Soenardi

- Angakatan Udara: Men / Pangau Laksdya Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo, dan Mayor Udara Sujono

- Kepolisian: Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

69. Tanggal 1 Oktober 1965: PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yg telah mengambil alih kekuasaan.

70. Tanggal 2 Oktober 1965: Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal, dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.

71. Tanggal 6 Oktober 1965: Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

72. Tanggal 13 Oktober 1965: Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.

73. Tanggal 18 Oktober 1965: PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yg menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yg dibantai, dan ada beberapa pemuda yg selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Peristiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

74. Tanggal 19 Oktober 1965: Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

75. Tanggal 11 November 1965: PNI dan PKI bentrok di Bali.

76. Tanggal 22 November 1965: DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.

77. Bulan Desember 1965: Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

78. Tanggal 11 Maret 1965: Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yg memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.

79. Tanggal 12 Maret 1965: Soeharto melarang secara resmi PKI.

80. Bulan April 1965: Soeharto melarang Serikat Buruh pro PKI yaitu SOBSI.

81. Tanggal 13 Februari 1966: Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan, ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

82. Tanggal 5 Juli 1966: Terbit TAP MPRS No.XXV th.1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme, dan Leninisme.

83. Bulan Desember 1966: Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.

84. Tahun 1967: Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea, dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.

85. Bulan Maret 1968: Kaum Tani PKI di selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.

86. Pertengahan 1968: TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

87. Dari tahun 1968 s/d 1998: Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV th.1966.

88. Dari tahun 1998 s/d 2015: Pasca Reformasi 1998 pimpinan dan anggota PKI yg dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yg masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka merajalela melakukan aneka gerakan pemutarbalikan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN.

Semoga kita semua Waspada terhadap kebangkitan PKI. Aamiin.

Mohon bantu share ke seluruh [truncated by WhatsApp]

Jumat, 03 Februari 2017

Mengurus yatim

شرح حديث أنا وكافل اليتيم الحمد لله نحمده ونستعينه ونَستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيِّئات أعمالنا، مَن يَهده الله فلا مُضلَّ له، ومَن يُضلل فلا هادي له، وأشهد أنْ لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له، وأشهد أنَّ محمدًا عبده ورسوله. أمَّا بعدُ: فسأشرح في هذا المقال حديث ((أنا وكافل اليتيم))، معتمدًا على أقوال كبار شُرَّاح الحديث من السلف الصالح، ومستعينًا بقول أحد أساتذة الشريعة المعاصرين. عن سهل بن سعد، قال: رسول الله - صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا))، وأشار بالسبَّابة والوسطى، وفرَّج بينهما شيئًا؛ أخرجه البخاري، رقْم 4892. أولاً: تعريف اليُتم في اللغة: قال ابن منظور في "لسان العرب": اليُتْم واليَتَم: فِقدان الأب؛ وقال ابن السِّكيت: اليُتم في الناس من قِبَل الأب، وفي البهائم من قِبَل الأمِّ، ولا يُقال لِمَن فقَد الأمَّ من الناس يتيمًا، ولكن منقطعًا؛ قال ابن بري: اليتيم الذي يموت أبوه، والعَجِيُّ الذي تموت أمُّه، واللَّطيم الذي يموت أبواه، وقال ابن خالويه: ينبغي أن يكون اليُتم في الطير من قِبَل الأب والأم؛ لأنهما كليهما يَزُقَّان فِراخَهما، وقد يَتِمَ الصبيُّ، بالكسر، يَيْتَم يُتْمًا ويَتْمًا، بالتسكين فيهما، ويقال: يَتَم ويَتِم وأيْتَمَه الله، وهو يتيم حتى يبلغ الحُلُم. قال الليث: اليتيم الذي مات أبوه، فهو يتيم حتى يَبلغ، فإذا بلَغ زال عنه اسم اليُتم، والجمع أيتام ويتامَى ويَتَمَة، فأمَّا يتامى فعلى باب أسارى، أدْخَلوه في باب ما يكرهون؛ لأن فعالَى نظيره فَعْلى، وأمَّا أيتام فإنه كُسِّر على أفعال، كما كسَّروا فاعلاً عليه، حين قالوا: شاهد وأشهاد، ونظيره شريف وأشراف، ونصير وأنصار، وأمَّا يَتَمَة، فعلى يَتَم فهو ياتِم، وإن لَم يُسمَع. يقول د. وجيه الشيمي: "معنى الكفالة الواردة في الحديث: القيام بأمره ومصالحه، وقد زادَ مالك من مرسل صفوان بن سُليم: ((كافل اليتيم له أو لغيره))، ووصَله البخاري في الأدب المفرد، والطبراني من رواية أمِّ سعيد بنت مُرَّة الفِهريَّة عن أبيها. ومعنى قوله: ((له)): أن يكون جدًّا أو عمًّا أو أخًا، أو نحو ذلك من الأقارب، أو يكون أبو المولود قد مات، فتقوم أمُّه مقامه، أو ماتَت أُمُّه، فقام أبوه في التربية مقامها. أخرَج البزَّار من حديث أبي هريرة موصولاً: ((مَن كفَل يتيمًا ذا قرابة، أو لا قرابة له، فأنا وهو في الجنة كهاتين، وضمَّ أُصبعيه))، وهذه الرواية تُفسِّر الرواية التي قبلها: رواية مالك من مراسيل صفوان بن سُليم". وقد قامَت الإشارة بدور كبير في إبراز أهميَّة وأفضليَّة مَن يقوم على أمر اليتيم، وكذا قُرب منزلته من النبي - صلَّى الله عليه وسلَّم - عن طريق قول الراوي: "وأشار بأُصبعيه". يقول ابن حجر: "قوله وأشار بأصبعيه السبَّابة في رواية الكشميهني السبَّاحة بمهملة بدل الموحَّدة الثانية، والسبَّاحة هي الأصبع التي تلي الإبهام، سُمِّيت بذلك؛ لأنها يُسبَّح بها في الصلاة، فيشار بها في التشهُّد لذلك، وهي السبَّابة أيضًا؛ لأنها يُسَبُّ بها الشيطان حينئذٍ. قال ابن بطَّال: حقٌّ على مَن سَمِع هذا الحديث أن يعمل به؛ ليكون رفيقَ النبي - صلَّى الله عليه وسلَّم - في الجنة، ولا منزلة في الآخرة أفضل من ذلك، قلت: قد تقدَّم الحديث في كتاب اللعان وفيه: وفرَّج بينهما؛ أي: بين السبَّابة والوسطى، وفيه إشارة إلى أنَّ بين درجة النبي - صلَّى الله عليه وسلَّم - وكافل اليتيم قدر تفاوت ما بين السبَّابة والوسطى، وهو نظير الحديث الآخر: ((بُعثت أنا والساعة كهاتين))؛ الحديث. وزَعَم بعضهم أنه - صلَّى الله عليه وسلَّم - لَمَّا قال ذلك، استَوَت أصبعاه في تلك الساعة، ثم عادَتا إلى حالهما الطبيعيَّة الأصليَّة؛ تأكيدًا لأمر كفالة اليتيم، قلت: ومثل هذا لا يَثبت بالاحتمال، ويكفي في إثبات قُرب المنزلة من المنزلة، أنه ليس بين الوسطى والسبَّابة أصبع أخرى، وقد وقَع في رواية لأُمِّ سعيد المذكورة عند الطبراني: ((معي في الجنة كهاتين))؛ يعني: المسبِّحة والوسطى، إذا اتَّقى، ويُحتمل أن يكون المراد قُرب المنزلة حالة دخول الجنة؛ لِما أخرَجه أبو يعلى من حديث أبي هريرة رفَعه: ((أنا أوَّل مَن يفتح باب الجنة، فإذا امرأة تُبادرني، فأقول: من أنتِ؟ فتقول: أنا امرأة تأيَّمت على أيتام لي))، ورُواته لا بأسَ بهم، وقوله: ((تُبادرني))؛ أي: لتدخل معي أو تدخل في أثَري، ويحتمل أن يكون المراد بمجموع الأمرين: سرعةَ الدخول وعُلو المنزلة، وقد أخرَج أبو داود من حديث عوف بن مالك رفَعه: ((أنا وامرأة سَفْعاء الخدَّين كهاتين يوم القيامة، امرأة ذات مَنصب وجمال حبَست نفسها على يتاماها، حتى ماتوا أو بانوا))، فهذا فيه قيد زائد، وتقييده في الرواية التي أشرْتُ إليها بقوله: ((اتَّقي الله))؛ أي: فيما يتعلَّق باليتيم المذكور، وقد أخرَج الطبراني في المعجم الصغير من حديث جابر قلت: يا رسول الله، مِمَّ أَضْرب منه يتيمي، قال: ((ممَّ كنت ضاربًا منه ولدَك، غير واقٍ مالك بماله))، وقد زادَ في رواية مالك المذكور: ((حتى يَستغني عنه))، فيُستفاد منه أنَّ للكفالة المذكورة أمدًا؛ قال شيخنا في شَرْح الترمذي: لعلَّ الحِكمة في كون كافل اليتيم يُشبه في دخول الجنة، أو شُبِّهت منزلته في الجنة بالقُرب من النبيِّ، أو منزلة النبي؛ لكون النبي شأنه أن يُبعث إلى قوم لا يعقلون أمرَ دينهم، فيكون كافلاً لهم ومُعلِّمًا ومرشدًا، وكذلك كافل اليتيم يقوم بكفالة مَن لا يعقِل أمرَ دينه، بل ولا دنياه، ويُرشده ويُعلِّمه، ويُحسن أدبه". وعن أنس قال: قال رسول الله - صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((مَن ضمَّ يتيمًا فكان في نفقته، وكفَاه مؤونته، كان له حجابًا من النار يوم القيامة، ومَن مسَح برأس يتيم، كان له بكل شعرة حسنة)). وقال أكثم بن صيفي: "الأذلاَّء أربعة: النمَّام، والكذَّاب، والمديون، واليتيم". ثانيًا عقوبة آكل مال اليتيم: قال تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. قال القرطبي: "رُوِي أنها نزَلت في رجل من غطفان يقال له: مرثد بن زيد، وَلِي مال ابن أخيه وهو يتيم صغير، فأكَله، فأنزَل الله تعالى فيه هذه الآية، قاله مقاتل بن حيَّان، ولهذا قال الجمهور: إنَّ المراد الأوصياء الذين يأكلون ما لَم يُبح لهم من مال اليتيم، وقال ابن زيد: نزَلت في الكفار الذين كانوا لا يُورِّثون النساء ولا الصِّغار، وسُمِّي أخْذُ المال على كلِّ وجوهه أكْلاً؛ لَمَّا كان المقصود هو الأكل، وبه أكثر إتلاف الأشياء، وخصَّ البطون بالذكر؛ لتبيين نقصهم، والتشنيع عليهم بضد مكارم الأخلاق، وسُمِّي المأكول نارًا بما يؤول إليه، كقوله تعالى: ﴿ إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْرًا ﴾ [يوسف: 36]؛ أي: عنبًا، وقيل: نارًا؛ أي: حرامًا؛ لأن الحرام يوجب النار، فسمَّاه الله تعالى باسمه، وروى أبو سعيد الخدري، قال: حدَّثنا النبي - صلَّى الله عليه وسلَّم - عن ليلة أُسرِي به قال: ((رأيت قومًا لهم مشافر كمشافر الإبل، وقد وُكِّل بهم مَن يأخذ بمشافرهم، ثم يَجعل في أفواههم صخرًا من نار يخرج من أسافلهم، فقلت: يا جبريل، من هؤلاء؟ قال: هم الذين يأكلون أموال اليتامى ظُلمًا)). فدلَّ الكتاب والسُّنة على أنَّ أكْلَ مال اليتيم من الكبائر، وقال - صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((اجتنبوا السبع الموبقات))، وذكر فيها: ((وأكل مال اليتيم))". يقول الدكتور وجيه الشيمي: "وقد اقتضَت حكمة الله أن يولَد الرسول - صلَّى الله عليه وسلَّم - يتيمًا؛ ليكون ذلك شرفًا لليُتم، ومواساة للأيتام؛ قال تعالى: ﴿ أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى ﴾ [الضحى: 6]؛ لذا قال الحق - عزَّ وجلَّ - في نفس السورة: ﴿ فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ﴾ [الضحى: 9]. وقد أوصانا الرسول - صلَّى الله عليه وسلَّم - وصيَّة جازمة بالحفاظ على حقِّ اليتيم، وحرَّج على مَن يتعدَّى أو يَظلم يتيمًا".

خطبة من احكام اليتيم

 من أحكام اليتيم إنَّ الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفُسِنا ومن سيِّئات أعمالنا، مَن يهْدِه الله فلا مضلَّ له ومن يضلل فلا هادي له، وأشْهد أن لا إلهَ إلاَّ الله وحْده لا شريك له، وأنَّ محمَّدًا عبده ورسوله. ﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً ﴾ [النساء: 1]، ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴾ [الحشر: 18]. أمَّا بَعْدُ: فإنَّ خَيْرَ الحَدِيثِ كِتَابُ اللَّه، وخَيْر الهدي هدي مُحَمَّدٍ، وَشَرّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُها، وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ. عباد الله: من مقادير الله أن يقدِّر على بعْض الرِّجال الوفاة، فيترُك خلْفه أولادًا صِغارًا فيتيتَّمون بفقْد أبيهِم، فهُم في حال ضعْفٍ وحاجةٍ؛ فلذا اعتنَى بهم الشَّارع وشرَع من الأحكام ما يضمن لهم حياةً كريمة آمِنة؛ حتَّى يعيشوا كغيرِهم، والكلام في أحْكام اليتيمِ يَطول، لكنِّي سأذْكُر أهمَّ المسائل في نظري، لكن قبل الدُّخول في هذه المسائل لا بدَّ أن نعرف: مَن هو اليتيم؟ فاليتيم في الشَّرع: هو مَن مات أبوه وهو دون البلوغ، وبعد البلوغ لا يسمَّى يتيمًا؛ فعن حنظلة المالكي - رضِي الله عنه - قال رسولُ الله - صلَّى الله عليْه وسلَّم -: ((لا يُتْمَ بعد احتِلام، ولا يُتْم على جارية إذا هي حاضت))؛ رواه الطبراني في الكبير (3502)، قال الهيثمي في "مجمع الزوائد" (4/226): رجاله ثقات. فلفظ اليتيم الوارد في الكتاب والسنَّة يُراد به مَن مات أبوه وهو لَم يبلُغ - من الذُّكور والإناث - الحُلُم. ففقْد الأبِ أعْظَمُ من فقْد الأمِّ؛ فالأب هو الولِي على أوْلادِه، فعليْه واجب التَّربية، وحِفْظهم ودفْع الأذى عنْهم، وتَجب عليه نفقتُهم ومسكنهم وكسوتُهم، وغير ذلك من الحقوق التي تَجب للأولاد على أبيهم، بخلاف الأمِّ؛ فالحاجة إليْها حاجة حنان ودِفْء عاطفي، والحاجة إليْها قبل أن يستقلَّ الصَّغير بنفسِه أكثر حتَّى يبدأ في الاعتِماد على نفسه. كفالة اليتيم من أعظَمِ القُرب ومن أسباب دخول ومُرافقة النبي - صلَّى الله عليْه وسلَّم - في الجنة؛ فعن سهل بن سعد قال: قال رسول الله - صلَّى الله عليْه وسلَّم -: ((أنا وكافل اليتيم في الجنَّة هكذا)) وأشار بالسبَّابة والوُسْطى وفرَّج بينَهُما شيئًا؛ رواه البخاري (5304). فكافِل اليتيم مع النَّبيِّ - صلَّى الله عليْه وسلَّم - في الجنَّة وبحضرتِه، غيرَ أنَّ كلَّ واحد منهما له درجتُه الخاصَّة به؛ إذ لا يبلُغ درجة الأنبِياء غيرُهم؛ ولهذا فرَّج النَّبيّ - صلَّى الله عليْه وسلَّم - بين السبَّابة والوسْطى، والله أعلم، فيُفْهم من الجمع بيْنهما المعيَّة والحضور، ويُفْهَم من التَّفريج التَّفاوت؛ فكلُّ واحدٍ منهُما بِمنزلته ودرجتِه. والمراد بكافِل اليتيم القائم بأُموره، من نفقةٍ وكسوةٍ وتأْديب من مال الكافِل، وكذلك تربيته وحضانته، وغير ذلك ممَّا يحتاجه اليتيم حتَّى يبلغ، فكفالته تكون بضمّ كافِله معه في بيته، والقيام بمصالحه، سواء كان اليتيم قريبًا له - كأن يكون الكافل جدًّا أو جدَّة أو أمًّا، أو عمًّا أو عمَّة، أو خالاً أو خالةً، أو غيرهم من الأقارب - أم كان الكافِل أجنبيًّا عن اليتيم؛ فعن أبِي هُرَيْرة قال: قال رسولُ الله - صلَّى الله عليْه وسلَّم -: ((كافِل اليتيم - له أو لغيره - أنا وهو كهاتَين في الجنَّة، وأشار بالسبَّابة والوُسْطى))؛ رواه مسلم (2983). وكذلك يدخُل في كافل اليتيم كفالة الأيْتام عن طريق الجمعيَّات الخيريَّة الموثوقة، بحيث يدفع أموالاً ينفق بها على اليتيم، ويربَّى حتى يبلغ، ففي فتاوى اللجنة الدائمة (14/292) برئاسة سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز: "مَن يكفل يتيمًا عن طريق المؤسَّسات الخيريَّة والهيئات الإغاثيَّة الخيريَّة الموثوقة، الَّتي تقوم برعاية اليتامى والعناية بهم، من كسوة وسُكْنى ونفقة وما يتعلَّق بذلك، فإنَّه يدخل تحت مسمَّى كافل اليتيم - إن شاء الله - ويحصُل على الأجْرِ العظيم والثَّواب الجزيل المسبِّب لدخول الجنة … لكن كلَّما كان اليتيم أشدَّ حاجة، وقام مَن يكفُلُه برعايته، والعناية به بنفسِه في بيتِه، فإنَّه يكون أعظمَ أجرًا، وأكثر ثوابًا ممَّن يكفله بِماله فقط. وهل يدخل في كفالة اليتيم مَن يربِّي اليتيم ويُنفق عليه من مال اليتيم؟ فمثلاً بعض النَّاس يتوفَّى قريبه - كأخيه - ثمَّ يتزوَّج زوجته ويقوم بحضانة أبناء أخيه وتربيتهم؛ لكنَّه ينفق عليهم من المال الَّذي يأتيهم من قِبَل أبيهم، من معاش تقاعدي أو إرث، ولا ينفق عليهم من ماله الخاصِّ، فهل هذا داخل في كفالة اليتيم؟ أترك الجواب للعالِم الورع النَّووي - رحِمه الله - حيث قال في "شرح مسلم" (18/151): "كافِل اليتيم القائم بأمورِه، من نفقة وكسْوة، وتأْديب وتربية، وغير ذلك، وهذه الفضيلة تحصُل لِمن كفله من مالِ نفسه أو من مال اليتيم بولاية شرعيَّة". اهـ. والواجب على مَن يلي أمْوال اليتامى ألا يتصرَّف فيها إلاَّ إذا كان في ذلك مصلحة لليتيم؛ لقولِه تعالى: ﴿ وَلاَ تَقْرَبُواْ مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ﴾ [الأنعام: 152]، فيسعى الوليُّ في تنمية مال اليتيم بالتِّجارة التي ليْس فيها مخاطرة، ويبتعد عن المعاملات المحرَّمة أو الَّتي فيها شُبَه. ويَحرم عليْه إقراض مال اليتيم، سواء اقترضها هو أو أقْرَضها غيرَه؛ لأنَّ الإحسان للآخَرين حسَنٌ؛ لكن تنمية مال اليتيم أحْسَن من ذلك، فالواجب على الولي عمَل الأصلح لليتيم؛ كما قال ربُّنا - تبارك وتعالى -: ﴿ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ﴾ [البقرة: 220]. ومن أعْظم الذُّنوب: التَّفريط في أموال اليتامى، والتَّسبُّب في ضياعِها، سواءٌ كان بعدم حفظها أم بِعَدم المطالبة بها، أم أكل أموالِهم التي ورِثوها، أو ما يأتيهم من بيت مال المسلمين أو من المسلمين؛ ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]. وكذلك من يتعرَّض لعقار الأيتام ويستولي عليْها بغير حق، فهو داخل في عموم قول النَّبيِّ - صلَّى الله عليْه وسلَّم -: ((مَن أخذ شبرًا من الأرض ظُلْمًا فإنَّه يطوَّقه يوم القيامة من سبع أرَضين))؛ رواه البخاري (2452) ومسلم (1610)، بل الاعتداء على عقار اليتامى أشدُّ ذنبًا من الاعتِداء على عقار سائر المُسْلِمين. وليس مِن أكل أموال اليتامى خلْط مالهم بمال كافلهم للحاجة؛ فلما نزل قوله تعالى: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا ﴾ [النساء: 10]، شقَّ ذلك على المسلمين، وعزلوا طعامهم عن طعام اليتامى؛ خوفًا على أنفسهم من تناولِها، ولو في هذه الحالة التي جرت العادة بالمشاركة فيها، وسألوا النَّبيَّ - صلَّى الله عليْه وسلَّم - عن ذلك، فأخبرهم أنَّ المقصود إصلاح أموال اليتامى، بِحفظها وصيانتها، والاتِّجار فيها، وأنَّ خلطتهم إيَّاهم في طعام أو غيره جائزٌ على وجه لا يضرُّ باليتامى؛ لأنَّهم إخوانكم، ومن شأن الأخ مُخالطة أخيه، والمرجِع في ذلك إلى النيَّة والعمل، فمن علم الله من نيَّته أنَّه مصلح لليتيم، وليس له طمعٌ في ماله، فلو دخل عليْه شيء من غير قصْد لم يكن عليه بأس، ومن علِم الله من نيَّته أنَّ قصده بالمخالطة التوصُّل إلى أكلها وتناولها، فذلك الذي ورد فيه الوعيد؛ فعَن ابْنِ عبَّاسٍ قَالَ: "لمَّا نَزَلَتْ: ﴿ وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ﴾، عَزَلُوا أَمْوَالَ اليَتَامى حَتَّى جَعَلَ الطَّعَامُ يَفْسُدُ واللَّحْمُ يُنْتِنُ، فَذُكِرَ ذَلِكَ للنَّبيِّ - صلَّى اللَّهُ عليْهِ وسلَّم - فنَزَلَتْ: ﴿ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنْ الْمُصْلِحِ ﴾ [البقرة: 220]، قال: فخَالَطُوهُمْ"؛ رواه الإمام أحمد (2993) وغيره بإسناد حسن لغيره. الخطبة الثانية الحمد لله ربِّ العالمين، والصَّلاة والسَّلام على نبيِّنا محمَّد وعلى آله وأصحابِه أجمعين. وبعد: عبادَ الله، كما أنَّ كلَّ إنسان يسوءُه أن يتعرَّض لأولاده الصغار بسوء، من أكل مال أو تفريط فيه أو غير ذلك، فكذلك يجب على ولي اليتيم أن يتَّقي الله في مال اليتيم، فيعمل فيه ما يحب أن يُعْمَل في أموال أولاده الصِّغار بعد وفاته؛ ﴿ وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا ﴾ [النساء: 9]، فمن اتَّقى الله في أموال اليتامى وغيرها، حفِظ الله ذرِّيَّته بصلاحه بعد وفاته؛ ﴿ وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ﴾ [الكهف: 82]، فحُفِظ مال الغلامين بسبب صلاح أبيهما. وإذا كان التعرُّض لمال اليتيم بسوء كبيرةً من كبائر الذُّنوب، فالتعرُّض له بالأذى من ضرْبٍ وشتم ونَحوه أشدُّ حرمة، فيحْرُم إذلال اليتيم والتَّسلُّط عليْه، والتَّعرُّض له بشيء يسوءه بغير حق؛ ﴿ فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلاَ تَقْهَرْ ﴾ [الضحى: 9]، والنهي عن قهْرِه أمر بالإحسان إليه وإدْخال السُّرور عليه. لكنَّ اليتيمَ يَحتاج إلى تربية وتأديب، وعلى كافله أن يحرِص على توجيهه ونفعِه من غير عقاب حسِّي أو معنوي، لكن لو رأى كافلُ اليتيم أنَّ من المصْلحة معاقبة اليتيم معاقبةً بدنيَّة ليكفَّ عن سلوك غير مرْضي، أو ليدرِّبه على طاعة، فيجوز في حدود الأدَب من غير ضررٍ؛ لعموم قولِه تعالى: ﴿ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ﴾ [البقرة: 220]، فيصنع معه ما هو صانع مع ولدِه، وكذلك المعلِّم له ضرْب اليتيم للمصلحة، وقد أمر النَّبيُّ - صلَّى الله عليْه وسلَّم - بتأديب الصِّغار بالضَّرب على ترْك الصَّلاة، فيدخل فيهم اليتيم، والله أعلم. وإذا كان وصْف اليُتْم يبقى إلى البلوغ، فكذلك الولاية عليْه، فإذا بلغ اليتيم عاقِلاً فقد زال عنه وصْف اليُتْم، فلا ولاية لأحدٍ عليْه، لكن يشترط في دفْع المال إليْه أن يُعْلَم منه حسن التصرُّف في المال، وعدم إفساده؛ وذلك باختباره ومراقبة تصرُّفه في المال؛ قال تعالى: ﴿ وَابْتَلُواْ الْيَتَامَى حَتَّىَ إِذَا بَلَغُواْ النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُواْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ ﴾ [النساء: 6]، أمَّا إذا كان لا يحسن التصرُّف في المال، فيسرف فيه أو يضيِّعه فيما حرَّم الله، فلا يدفع له المال ولو كان كبيرًا؛ كما أمر ربُّنا - تبارك وتعالى - في قولِه: ﴿ وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا ﴾ [النساء: 5]، لكن يتلطَّف الولي معه في الرَّدِّ جبرًا لخاطره، وهذا معنى قولِه تعالى: ﴿ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا ﴾. في الختام أوجِّه كلمتي لليتيم، فأقول: ابْنَنا اليتيم، إن كنت فقدت أباك، فمَن حولك من الآباء هم بمثابة آباءٍ لك، فالجأ لهم بعد الله فيما يُشْكِل عليْك، ويكدِّر صفو حياتك، واعلم أنَّ اليتم ليس معوقًا، وليس سببًا في الفشَل، فسيِّد الخلق محمَّد بن عبدالله نشأ يتيمًا فقَدَ أبويْه، نشأ من غير أب وأم، فتولاَّه الله وحفِظَه، فاحفظ الله يَحْفَظك ويُيَسِّر لك الخير.

Rabu, 18 Januari 2017

Tarawih

TARAWIH 20 RAKA'AT 1 SALAM? Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh... Deskripsi Masalah: Apakah ada hukum yang memperbolehkan shalat tarawih dua puluh rokaat dengan satu kali salam dan sholat witir tiga rokaat satu salam? Jawaban: Dalam madzhab Syafi’i tidak dijumpai hukum yang menperbolehkan shalat tarawih dua puluh rokaat dengan sekali salam, dan yang ada adalah hukum yang memperbolehkan sholat witir tiga rokaat dengan sekali salam. Dalam kitab fiqh madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali ada hukum yang membolehkan shalat tarawih dua puluh rokaat dengan sekali salam dan shalat witir tiga rokaat dengan sekali salam. Namun perlu dicatat bahwa bagi orang yang ingin mengikuti salah satu dari pendapat para imam madzhab tersebut harus konsekwen, (seluruh persoalan yang berkaitan dengan sholat tersebut harus mengikuti pendapat imam madzhab yang dipilihnya dan tidak boleh talfiq (dalam satu persoalan ibadah mengambil pendapat beberapa imam madzhab yang sesuai selera). Dasar Pengambilan Hukum: 1. Hasyiah al-Qulyubi, Juz I, Hlm, 212 (وَلِمَنْ زَادَ عَلَى رَكْعَةٍ الْفَصْلُ) بَيْنَ الرَّكَعَاتِ بِالسَّلاَمِ فَيَنْوِيْ رَكْعَتَيْنِ مَثَلاً مِنَ الْوِتْرِ كَمَا قَالَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ (وَهُوَ أَفْضَلُ) مِنْ الْوَصْلِ اْلآَتِي لِزِيَادَتِهِ عَلَيْهِ بِالسَّلاَمِ وَغَيْرِهِ (وَالْوَصْلُ بِتَشَهُّدٍ) فِي اْلآَخِرَةِ (أَوْ تَشَهُّدَيْنِ فِي اْلآَخِرَتَيْنِ) قَالَ ابْنُ عُمَرَ: كَانَ النَّبِيُّ e يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ بِتَسْلِيمٍ، رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُ، وَقَالَتْ عَائِشَةُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e يُوتِرُ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ إلاَّ فِي آَخِرِهَا، وَقَالَتْ: لَمَّا سُئِلَتْ عَنْ وَتْرِهِ e كَانَ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ إلاَّ فِي الثَّامِنَةِ وَلاَ يُسَلِّمُ، وَالتَّاسِعَةُ ثُمَّ يُسَلِّمُ، رَوَاهُمَا مُسْلِمٌ. "Bagi yang shalat witir lebih dari satu rakaat boleh memisah antara rakaat-rakaatnya dengan salam. Jadi dia niat shalat dua rakaat dari witir sebagaimana dikatakan al-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzdzab. Pemisahan seperti itu lebih utama daripada menyambung (beberapa rakaat), karena di sana terdapat penambahan salam dan lainya. Dan boleh juga seseorang menyambung (beberapa rakaat) dengan satu kali tasyahud di akhir atau dua kali tasyahud di bagian akhir. Sahabat Ibn Umar berkata, bahwa Nabi e memisah antara rakaat yang genap dan yang ganjil dengan salam. (HR. Ibn Hibban dan lainnya). Aisyah berkata, bahwa Rasulullah e shalat witir lima rakaat, beliau tidak duduk kecuali di akhir shalat. Dan Aisyah juga mengatakan, bahwa ketika ia ditanya mengenai shalat witir Rasulullah e, bahwa beliau shalat sembilan rakaat, beliau tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan kemudian tidak salam, dan pada rakaat kesembilan kemudian beliau salam. Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Muslim". 2. Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, Juz I, Hlm, 336-337 الْحَنَفِيَّةُ قَالُوْا: وَاْلوِتْرُ وَاجِبٌ وَهُوَ ثَلَاثُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ فِىْ أَخِرِهَا. اْلحَنَابِلَةُ قَالُوْا: اِنَّ اْلوِتْرَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، وَاَقَلُّهُ رَكْعَةٌ. الى ان قال: وَاِنْ اَوْتَرَ بِثَلاَثٍ اَتىَ بِرَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى اُوْلاَهُمَا سُوْرَةَ سَبِّحْ، وَفِى الثَّانِيَةِ سُوْرَةَ اْلكاَفِرُوْنَ ثُمَّ يُسَلِّمُ، وَيَأْتِى بِالثَّالِثَةِ وَيَقْرَأُ فِيْهاَ سُوْرَةَ اْلاِخْلاَصِ، وَيَتَشَهَّدُ وَيُسَلِّمُ وَلَهُ اَنْ يُصَلِّيَهَا بِتَشَهُّدٍ وَاحِدٍ بِاَنْ يُسْرِدَ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ وَيَتَشَهَّدَ وَيُسَلِّمَ. وَلَهُ اَنْ يُصَلِّيَهاَ بِتَشَهُّدَيْنِ وَسَلاَمٍ وَاحِدٍ كَالْمَغْرِبِ. “Ulama madzhab Hanafi mengatakan, bahwa shalat witir adalah wajib, yaitu tiga rakaat dengan sekali salam di akhir. Ulama madzhab Hanbali mengatakan … sampai ungkapan muallif … dan apabila seseorang shalat witir tiga rakaat, lakukanlah dengan dua rakaat, bacalah surat Sabbih (al-A’la) pada rakaat pertama dan surat al-Kafirun pada rakaat kedua kemudian salam. Dan lakukan rakaat yang ketiga dan bacalah surat al-Ikhlash, tassyahud dan salam. Dia juga boleh melakukan tiga rakaat dengan sekali tasyahud dengan cara menyambungkan tiga rakaat langsung, tasyahud dan salam. Dan juga boleh melakukan tiga rakaat dengan dua tasyahud dan sekali salam seperti halnya shalat maghrib” 3. Al-Fiqh ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, Juz I, Hlm, 338-339 الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا: اْلوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَهُوَ أكَدُ السُّنَنِ وَاَقَلُّهُ رَكْعَةٌ...اِلَى اَنْ قَالَ: وَيَجُوْزُ لمِنَ يُصَلِّى اْلوِتْرَ اَكْثَرَ مِنْ رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ أَنْ يَفْعَلَهُ مَوْصُوْلاً بِاَنْ تَكُوْنَ الرَّكْعَةُ اْلأَخِيْرَةُ مُتَّصِلَةً ِبمَا قَبْلَهَا اَوْ مَفْصُوْلاً بِأَنْ لاَ تَكُوْنَ كَذَلِكَ اْلمَالِكِيَّةُ قَالُوْا: الْوِتْرُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ بَلْ هُوَ أكَدُ السُّنَنِ بَعْدَ رَكْعَتَىِ الطَوَافِ... اِلَى اَنْ قَالَ: ثُمَّ الْوِتْرُ وَهُوَ رَكْعَةٌ وَاحِدَةٌ، وَوَصْلُهَا بِالشَفْعِ مَكْرُوْهٌ “Ulama madzhab Syafii mengatakan, shalat witir adalah sunat muakkad dan merupakan sekuat-kuatnya shalat sunat, dan paling sedikitnya satu rakaat ….. sampai ungkapan muallif …. Dan boleh bagi orang yang shalat witir lebih dari satu rakaat melakukannya dengan disambung dengan cara menyambungkan rakaat akhir dengan rakaat sebelumnya, atau dengan dipisahkan dengan cara yang sebaliknya di atas. Ulama madzhab Malik mengatakan, shalat witir adalah sunat muakkad, bahkan sekokoh-kokoh shalat sunat sesudah shalat dua rakaat thawaf … sampai ungkapan muallif … kemudian shalat witir yaitu satu rakaat, dan menyambungkan satu rakaat dengan rakaat genap sebelumnya adalah makruh” 4. Al-Fiqhu ‘Ala Madzahib al-Arba’ah, Juz I, Hlm, 342-343 الْحَنَفِيَّةُ قَالُوْا: اِذَا صَلَّى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ نَابَتْ عَنْ رَكْعَتَيْنِ اتِّفَاقاً وَاِذَا صَلَّى اَكْثَرَ مِنْ اَرْبَعٍ بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ اخْتُلِفَ التَصْحِيْحُ فِيْهِ، فَقِيْلَ يَنُوْبُ عَنْ شَفْعٍ مِنَ التَرَاوِيْحِ وَقِيْلَ يَفْسُدُ الْحَنَابِلَةُ قَالُوْا: تَصِحُّ مَعَ اْلكَراَهَةِ وَتُحْسَبُ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً الْمَالِكِيَّةُ قَالُوْا: تَصِحُّ وَتُحْسَبُ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيَكُوْنُ تَارِكاً لِسُنَّةِ التَّشَهُّدِ وَالسَّلاَمِ فِىْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَذلِكَ مَكْرُوْهٌ الشَّافِعِيَّةُ قَالُوْا: لاَ تَصِحُّ اِلاَّ اِذَا سَلَّمَ بَعْدَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَاِذَا صَلاَّهاَ بِسَلاَمٍ وَاحِدٍ لمَ ْتَصِحَّ. سَوَاءٌ قَعَدَ عَلىَ رَأْسِ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ اَوْ لَمْ يَقْعُدْ فَلاَبُدَّ عِنْدَهُمْ مِنْ اَنْ يُصَلِّيَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ وَيُسَلِّمَ عَلىَ رَأْسِ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ. “Ulama’ madzhab Hanafi mengatakan, apabila seseorang shalat (tarawih) empat rakaat dengan sekali salam, maka empat rakaat itu menduduki dua rakaat menurut kesepakatan ulama’. Dan apabila shalat (tarawih) lebih empat rakaat dengan sekali salam, maka diperselisihkan keabsahannya. Ada pendapat bahwa shalat itu menggantikan rakaat genap dari tarawih, ada pendapat lagi bahwa shalat itu rusak. Ulama’ madzhab Hanbali mengatakan bahwa shalat tersbut sah namun makruh dan terhitung dua puluh rakaat. Ulama’madzhab Malik mengatakan bahwa shalat itu sah dan terhitung dua puluh rakaat dan berarti mushalli meninggalkan kesunatan tasyahud dan salam dalam setiap dua rakaat dan hukumnya makruh. Ulama’ madzhab Syafi’i mengatakan bahwa shalat itu tidak sah, kecuali melakukan sesudah tiap-tiap dua rakaat. Jadi apabila melakukannya dengan satu kali salam tidak sah, baik mushalli duduk pada setiap dua rakaat atau tidak. Jadi menurut ulama’ madzhab Syafi’i shalat tarawih harus dua rakaat dua rakaat dan salam pada setiap dua rakaat” 5. Tabyin al-Haqaiq Kanz al-Daqaiq, Juz I, Hlm, 170 قَالَ رَحِمَهُ اللهُ (وَهُوَ ثَلاَثُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمَةٍ) وَقَالَ الشَّافِعِيُّ إنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِوَاحِدَةٍ وَإِنْ شَاءَ بِثَلاَثٍ وَإِنْ شَاءَ بِخَمْسٍ إلَى إحْدَى عَشْرَةَ أَوْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِرَكْعَةٍ وَمَنْ شَاءَ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ، الْحَدِيْثَ، وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ كَانَ يُوْتِرُ بِسَبْعٍ أَوْ بِخَمْسٍ لاَ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيْمَةٍ “Abu Hanifah RH berkata, shalat witir adalah tiga rakaat dengan sekali salam. Al-Syafi’i mengatakan bahwa jika seseorang menginginkan witirlah dengan satu rakaat dan ia mengehendaki shalatlah dengan tiga rakaat dan jika ia menghendaki shalatlah dngan lima rakaat sampai sebelas rakaat atau tiga belas rakaat. Karena adanya sabda Nabi SAW “barang siapa menginginkan, witirlah dengan satu rakaat dan ia mengehendaki shalatlah dengan tiga rakaat”, al-hadits. Dan hadits dari Umi Salamah bahwa “Nabi SAW melakukan shalat witir dengan tujuh atau lima rakaat tanpa memisah diantaranya dengan salam” 6. Tabyinu al-Haqaiq Kanzu al-Daqaiq, Juz I, Hlm, 179 (قَوْلُهُ وَالسَّادِسُ فِي الْجِلْسَةِ بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيْحَتَيْنِ إلَى آَخِرِهِ) قَالَ فِي الْبَدَائِعِ وَمِنْ سُنَنِهَا أَنْ يُصَلِّيَ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيمَةٍ عَلَى حِدَةٍ وَلَوْ صَلَّى تَرْوِيحَةً بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ وَقَعَدَ فِي الثَّانِيَةِ قَدْرَ التَّشَهُّدِ لاَ شَكَّ أَنَّهُ يَجُوْزُ عَلَى أَصْلِ عُلَمَائِنَا أَنَّ صَلَوَاتٍ كَثِيْرَةً تَتَأَدَّى بِتَحْرِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ بِنَاءً عَلَى أَنَّ التَّحْرِيْمَةَ شَرْطٌ وَلَيْسَتْ بِرُكْنٍ خِلاَفًا لِلشَّافِعِيِّ لَكِنْ اخْتَلَفَ الْمَشَايِخُ هَلْ يَجُوْزُ عَنْ تَسْلِيْمَتَيْنِ أَوْ لاَ يَجُوْزُ إلاَّ عَنْ تَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ؛ ِلأَنَّهُ خَالَفَ السُّنَّةَ الْمُتَوَارَثَةَ بِتَرْكِ التَّسْلِيْمَةِ وَالتَّحْرِيْمَةِ وَالثَّنَاءِ وَالتَّعَوُّذِ وَالتَّسْمِيَةِ فَلاَ يَجُوْزُ إلاَّ عَنْ تَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَقَالَ عَامَّتُهُمْ إنَّهُ يَجُوْزُ وَهُوَ الصَّحِيْحُ وَعَلَى هَذَا لَوْ صَلَّى التَّرَاوِيْحَ كُلَّهَا بِتَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَقَعَدَ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ أَنَّ الصَّحِيْحَ أَنَّهُ يَجُوْزُ عَنِ الْكُلِّ؛ ِلأَنَّهُ قَدْ أَتَى بِجَمِيْعِ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ وَشَرَائِطِهَا؛ ِلأَنَّ تَجْدِيْدَ التَّحْرِيْمَةِ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ لَيْسَ بِشَرْطٍ عِنْدَنَا هَذَا إذَا قَعَدَ عَلَى رَأْسِ الرَّكْعَتَيْنِ قَدْرَ التَّشَهُّدِ فَأَمَّا إذَا لَمْ يَقْعُدْ فَسَدَتْ صَلاَتُهُ عِنْدَ مُحَمَّدٍ وَعِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَأَبِيْ يُوْسُفَ يَجُوْزُ ثُمَّ إذَا جَازَ عِنْدَهُمَا هَلْ يَجُوْزُ عَنْ تَسْلِيْمَتَيْنِ أَوْ لاَ يَجُوْزُ إلاَّ عَنْ تَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ وَاْلأَصَحُّ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ إلاَّ عَنْ تَسْلِيْمَةٍ وَاحِدَةٍ “(Ungkapan mushannif “yang keenam tentang duduk antara setiap dua tarwih dan seterusnya”). Al-Kasani mengatakan dalam al-Badai’, bahwa diantara kesunatan tarawih adalah melakukan tarawih setiap dua rakaat dengan satu kali salam secara sama. Apabila seseorang shalat tarawih dengan sekali salam dan pada rakaat kedua ia duduk sekadar tasyahud, maka tidak ragu lagi hal itu adalah boleh atas dasar yang diyakini ulama kita bahwa beberapa shalat dapat dilakukan dengan sekali takbiratul ihram atas bahwa takbiratul ihram adalah syarat bukan rukun berbeda dengan al-Syafi’i. Tetapi para masyayikh berselisih pendapat, apakah boleh dengan dua kali salam atau tidak boleh kecuali dengan sekali salam. Kebanyakan masyayikh mengatakan boleh dan ini yang shahih. Atas dasar ini, apabila seseorang shalat tarawih keseluruhannya dengan sekali salam dan duduk pada setiap dua rakaat bahwa yang shahih adalah boleh, karena ia telah melakukan seluruh rukun-rukun shalat dan syarat-syaratnya, sebab membatasi takbiratul ihram untuk setiap dua rakaat bukanlah syarat menurut kita (ulama’Hanafiyah). Ini jika memang seseorang duduk pada setiap dua rakaat seukuran tasyahud. Maka apabila ia tidak duduk rusaklah shalatnya menurut Muhammad. Menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf adalah boleh. Kemudian ketika telah boleh menurut dua ulama’ini, apakah boleh melakukannya dengan dua salam atau harus dengan sekali salam. Menurut pendapat ashah bahwa tidak boleh kecuali dengan sekali salam” Wallahu a'lam...

Bermadzhab

MENGAPA KITA HARUS BERMADZHAB Alkisah suatu ketika ada seorang sahabat bertanya pada Nabi SAW Shbt: "Wahai Nabi,anda adalah manusia biasa.&suatu ketika akan wafat.maka kalu anda wafat,siapa yg harus kami ikuti?" Nabi: "bukankah masih ada Abu Bakar & Umar?" Shbt: "mereka jg mnusia,yg psti akan wafat jg.kalau mrk wafat,pd siapa lg kmi harus mngkti?" Nabi: "bknkah sahabatq banyak?mrka smua sprti Bintang,ikutilah mrka mka km akan mndpt ptunjuk" shbt: "lalu kalau mrk smua mnnggal,pd siapa lg?" Nabi: "Al 'ulama warotsatul anbiya'.para ulama itu adalah pewaris para Nabi" lalu stlh Nabi wafat,mulailah para ulama dr golongan sahabat&kurun setelahnya berijtihat dg menggali hukum dri Alqur'an & Hadits.namun tdk smbrng orang boleh berijtihad.ad syarat2 tertentu yg hrs dpenuhi bg sseorang sblm dperbolehkan untuk menggali hukum dg menafsiri Alqur'an&Hadits.diantaranya, Hafal Alqur'an+tafsirnya,Hafal minim ratusan ribu Hadits beserta sanad2nya,mngtahui mana2 yg Nashih/Manshuh,mampu mnciptakan Kaidah ushul fiqh sndiri sbg metode untk mengistinbathkan (menggali) hukum,menguasai Gramatika&sastra Arab,mengetahui mana2 hukum yg tlh diijma'kan para ulama pendhulunya,dan msh bnyk syrat2 lainya.sdng bg mrk yg blm mmnuhi syarat2 sbg mujtahid maka dwjibkan bginya untuk taqlid. Pd kurun2 awal Madzahibil fiqhiyyah sbnrnya tdk trbts pd madzahibil arba'ah sj sperti yg qta kenal skrng ini.smnjak jaman sahabat tlh banyak brmunculan madzhab2 Fiqh,sperti Madzhab Ibnu abbas,Mu'adz bin jabal,ibnu umar dll Hal ini berlanjut smpai pd kurun Tabi'it tabi'iin dan strsnya.namun untuk kurun2 slanjutnya (th 400 H keatas) kecenderungan berijtihad mnmpakan gejala2 kelesuan.hal ini dsbabkan smakin langkanya Ulama yg mmpunyai kapasitas keilmuan yg mutafannin (mumpuni) yg mmnuhi syarat sbgai mujtahid.dg sndrinya taqlid mnjd kcenderungan baru bg masa selanjutnya. Pd kurun ini,sejarah masih mencatat sebelas Madzhab yg masih mempunyai pengaruh kuat,yaitu Hanafiy,Malikiy,Syafi'iy,Hanbaliy,Sufyan ats-tsauri,Sufyan bin Uyainah,Allaits bin sa'ad,Ishaq bin Jarir,Daud Ad dhohiri,Ja'far shodiq dan Al-auza'iy. Namun smkin berjalanya waktu satu persatu dari madzhab2 tersbut dpaksa untuk takluk dbawah usia zaman yg smkin modern.pengikut&pendukung madzhab2 trsbut mengalami pasang surut mngkuti seleksi zaman yg smkin ketat.kmdian untuk kurun2 berikutnya hanya madzhab 4 saja yg msh Eksis hingga saat ini.dtambah lg para ulama mensyaratkan madzhab yg boleh diikuti hanya madzhab2 yg Mudawwan (didokumentasikan) sj. Hal ini karna pemahaman2 yg berkembang dikhawatirkan sdh tdk asli lagi sbgai produk madzhab.smentara itu kecurigaan terhadap kejujuran intelektual memang sangat diperlukan untuk memilih&memilah riwayat2 madzhab yg beragam.pda akhirnya para ulama mutaakhirin lbh memprtajm fenomenologi diatas dg pernyatn bhw Almadzahib Al-arba'ah (Hanafi,Maliki,Syafi'iy,Hanbaliy) sj yg blh diikuti,cz realita sejarah telah mmbktikan hanya madzhab 4 saja yg mmpnyai rujukan berupa Al-Kutub Almudawwanah (dokumentasi madzhab) Mengapa kita harus bermazhab dari salah satu yang empat? Berbicara mengenai taklid kepada salah satu madzhab yang empat berarti kita berbicara mengenai bagian yang sangat urgen. Sebab, bagaimanapun “bermakmum” kepada salah satu mujtahid merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh siapa saja yang masih belum memiliki otoritas untuk berijtihad. Pola hubungan mujtahid-muqallid dianggap penting untuk mengantarkan proses hubungan vertikal yang lurus dan benar antara hamba dengan Tuhannya, atau hubungan horizontal yang teratur antara hamba dengan sesamanya. ”Man qallada ‘âliman laqiya Allâha sâliman”, barang siapa mengikuti orang alim maka ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan selamat. Lalu apa yang menjadi dalil akan keharusan kita untuk bertaklid? Allah berfirman dalam al-Qur’an: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (الأنبياء [21]: 7) Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 7) Ayat ini menegaskan bahwa bagi siapa saja yang tidak tahu tentang sesuatu maka bertanyalah kepada orang yang membidanginya. Lebih tegas lagi dijelaskan dalam ayat berikut: وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ (النساء [4]: 83) Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang yang ingin mengetehui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka. (QS. an-Nisa’ [4]: 83). Menurut para ulama, ayat ini menegaskan bahwa orang yang bisa melakukan istinbath (menggali hukum dari sumbernya) hanyalah orang yang memiliki keahlian berijtihad. Sementara sejarah berbicara bahwa pada masa kini sudah tidak ditemukan seorangpun yang mencapai posisi mujtahid. Bahkan Ibnu Hajar menegaskan, bahwa setelah priode asy-Syafi’i tidak pernah ditemukan lagi seorang mujtahid muthlaq atau mujtahid mustaqil. *** Sebenarnya, madzhab yang boleh diikuti tidak terbatas pada empat saja. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah:”Sebenarnya yang boleh diikuti itu tidak hanya terbatas pada empat madzhab saja. Bahkan masih banyak madzhab ulama (selain madzhab empat) yang boleh diikuti, seperti madzhab Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Ishaq bin Rahawaih, Daud azh-Zhahiri dan al-Auza’i (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hlm 59). Namun mengapa yang diakui serta diamalkan oleh golongan Ahlussunnah wal-jamaah hanya empat madzhab saja? Sebenarnya, yang menjadi salah satu faktor adalah tidak lepas dari murid beliau-beliau yang kreatif, yang membukukan pendapat-pendapat imam mereka sehingga semua pendapat imam tersebut dapat terkodifikasi dengan baik, akhirnya validitas dari pendapat-pendapat tersebut tidak diragukan lagi. Di samping itu, madzahibul arba’ah ini telah teruji keshalihannya sepanjang sejarah, sebab memiliki metode istinbat yang jelas dan sistematis, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebagaimana masih ditegaskan oleh Sayyid ‘Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah: “Sekelompok ulama dari kalangan ashhab kita (ashhâbina) mengatakan bahwa tidak diperbolehkan bertaklid kepada selalin madzhab yang empat, karena selain yang empat itu jalur periwayatannyatidak valid, sebab tidak ada sanad (mata rantai) yang bisa mencegah dari kemungkinan adanya penyisipan dan perubahan. Berbeda dengan madzhab yang empat. Para tokohnya telah mengerahkan kemampuannya untuk meneliti setiap pendapat serta menjelaskan setiap sesuatu yang memang pernah diucapkan oleh mujtahindnya atau yang tidak pernah dikatakan, sehingga para pengikutnya merasa aman dari terjadinya perubahan, distorsi pemahaman, serta meraka juga mengetahui pandapat yang shahih dan yang lemah.” (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hlm 59) Jadi kesimpulannya, kita tidak diperbolehkan melakukan ijtihad sendiri, sebab kita tidak mempunyai bekal yang memadai untuk sampai pada tingkatan itu, kendati pintu ijtihad masih terbuka selebar-lebarnya. Dan yang boleh diikuti pada saat ini madzhab yang empat, sebab madzhab di luar madzhab yang empat tidak mudawwan (terkodifikasi), dan mata rantai periwayatannya telah terput

Rumus lailatul qodar

RUMUS LAILATUL QADAR Menurut Imam Al Ghazali Cara Untuk mengetahui Lailatul Qadar bisa dilihat dari permulaan/hari pertama bulan Ramadhan : 1. Jika hari pertama jatuh pada hari ahad atau hari rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 29 Ramadhan 2. Jika hari pertama jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 21 Ramadhan 3.Jika hari pertama jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 25 Ramadhan 4.Jika hari pertama jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 23 Ramadhan 5.Jika hari pertama jatuh pada Selasa atau Jumat maka Lailatul Qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan ( Sulaiman Al Kurdi juz hal 188 )