Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Kamis, 26 Maret 2026

HALAL BIHALAL


HALAL BIHALAL
Siapakah K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang memberi ide cemerlang kepada Presiden Soekarno untuk mengatasi situasi kritis saat itu dengan mengadakan acara yang diberi nama halal Bihalal.

Kembali pada kata halal bihalal, secara tarkib (susunan kalimat) kata Halal pertama dalam kalimat halal bihalal bisa menjadi khabhar dari mubtada' yang dibuang dengan tafsiran: 

 هذا حلال بحلال  “hadza halal bihalalin” yang artinya ini adalah halal bihalal

Dalam gramer bahasa Arab boleh membuat khabar dari mubtada' yang dibuang sebagaimana disebutkan dalam bait kitab sastra, Alfiyah karya Ibnu Malik:  

وَ حَذْفُ مَا يُعْلَمُ جَائِزٌ كَمَا # تَقُولُ زَيْدٌ بَعْدَ مَنْ عِنْدَ كُمَا

 "Membuang mubtada’ atau khabar yang sudah ma’lum (diketahui) itu hukumnya jawaz (diperbolehkan) seperti kamu mengucapkan lafadz زَيْدٌ setelah pernyataan مَنْ عِنْدَ كُمَا (siapa disamping kalian berdua?)." 

Kemudian huruf jar ba' dalam kalimat bi-halal bisa berarti atau menunjukkan saling menukar atau saling mengganti (mu'awadhah). 
Artinya, kalimat halal bihalal dapat mengandung pengertian menukar yang halal (kebaikan) dengan yang halal juga (kebaikan) yang diwujudkan dengan kesungguhan saling bermaaf-maafan. 
Selanjutnya dalam pendekatan yang lain, kata halal dalam susunan halal bihalal, kalimat halal bisa menjadi mubtada' dengan sarat ditambahi al biar yang semula kata halal statusnya nakirah menjadi makrifat, mengingat mubtada' itu harus berupa isim makrifat. Maka susunan yang benar menjadi.

الحلال بحلال Alhalalu bihalalin. 
Tidak tepat jika disusun halal bihalal dengan bentuk nakirah. 
Karena secara kaidah ilmu nahwu belum terpenuhi sarat mubtada' berupa isim nakirah. 
Dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik bab mubtada' dan khobar disebutkan : 

وَلاَ يَجُوْزُ الابْتِدَا بِالْنَّكِرَهْ # مَا لَمْ تُفِدْ كَعِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَهْ

 "Tidak boleh menggunakan mubtada’ dengan isim nakirah selama itu tidak ada faidah".   

Matan kitab Alfiyah bait ke-25

فَارْفَعْ بِضَمٍّ وانْصِبَنْ فَتْحاً وَجُرّ……كَسْراً كَذِكْرُ اللهِ عَبْدَهُ يَسُرّ
واجْزِمْ بِتَسْكينٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ……يَنُوبُ نَحْوُ جَا أخُو بَنِي نَمِر

Alamat atau tanda i’rab yang asli ada 4;

-zhumah untuk tanda rafa’, contohnya;جاء زيد 

-fattah untuk tanda nasab, contohnya; رأيت زبد 

-kasrah untuk tanda jar,contohnya; مررت بزيد

-sukun untuk tanda jazam,contohnya; لم يضرب

  Adapun tanda [alamat i’rab] selain yang di atas, maka tanda tersebut dinamakan dengan alamat i’rab naib [penganti].

 Begitu besarnya makna ketentraman dan ketenangan dalam masyarakat dewasa ini, karena begitu banyak gejolak yang terjadi akhir-akhir ini yang dirasakan oleh masyarakat sendiri. Sesungguhnya apa yang menjadi harapan masyarakat ini adalah dapat dicapai atas usaha masyarakat itu sendiri. 
Ada beberapa yang dapat dilakukan hingga akhirnya di tengah-tengah masyarakat tercipta rasa tentram,aman,tenang, dan tentu akan semakin khusyu’ dan khidmat masyarakat dalam beribadat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar