Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Minggu, 30 Agustus 2020

KETIKA KHUTBAH JUM'AH

Hukum Berbicara
Ketika Khutbah Jum’at

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Ketika menghadiri shalat Jum’at di masjid, tentu terdapat adab yang mesti diperhatikan. Di antara adab tersebut adalah diam ketika imam berkhutbah.

Berbagai Hadits yang Menunjukkan Larangan

Dalam hadits riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (shalat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela) ” (HR. Muslim no. 857)

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً وَالَّذِى يَقُولُ لَهُ أَنْصِتْ لَيْسَ لَهُ جُمُعَةٌ

“Barangsiapa yang berbicara pada saat imam khutbah Jum’at, maka ia seperti keledai yang memikul lembaran-lembaran (artinya: ibadahnya sia-sia, tidak ada manfaat, pen). Siapa yang diperintahkan untuk diam (lalu tidak diam), maka tidak ada Jum’at baginya (artinya: ibadah Jum’atnya tidak sempurna, pen).” (HR. Ahmad 1: 230. Hadits ini dho’if kata Syaikh Al Albani)

Dari Salman Al Farisi, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى

“Apabila seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak dan harum-haruman dari rumahnya kemudian ia keluar rumah, lantas ia tidak memisahkan di antara dua orang, kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan, dan ketika imam berkhutbah, ia pun diam, maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jum’at yang satu dan Jum’at lainnya.” (HR. Bukhari no. 883)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jum’at, ‘Diamlah, khotib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.”(HR. Bukhari no. 934 dan Muslim no. 851).

Kalam Ulama

An Nadhr bin Syumail berkata, “Laghowta bermakna luput dari pahala.” Ada pula ulama yang berpendapat, maksudnya adalah tidak mendapatkan keutamaan ibadah jum’at. Ulama lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah ibadah jum’atnya menjadi shalat Zhuhur biasa (Lihat Fathul Bari, 2: 414).

Ibnu Battol berkata, “Para ulama yang biasa memberi fatwa menyatakan wajibnya diam kala khutbah Jum’at.” (Syarh Al Bukhari, 4: 138, Asy Syamilah)

Yang dimaksudkan “tidak ada jum’at baginya” adalah tidak ada pahala sempurna seperti yang didapatkan oleh orang yang diam. Karena para fuqoha bersepakat bahwa shalat Jum’at orang yang berbicara itu sah, dan tidak perlu diganti dengan Zhuhur empat raka’at. (Lihat penjelasan Ibnu Battol dalam Syarh Al Bukhari, 4: 138, Asy Syamilah)

“Ngobrol” Ketika Imam Berkhutbah, Haram ataukah Makruh?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan larangan berbicara dengan berbagai macam bentuknya ketika imam berkhutbah.
Begitu juga dengan perkataan untuk menyuruh orang diam, padahal asalnya ingin melakukan amar ma’ruf (memerintahkan kebaikan), itu pun tetap disebut ‘laghwu’ (perkataan yang sia-sia). Jika seperti itu saja demikian, maka perkataan yang lainnya tentu jelas terlarang. Jika kita ingin beramar ma’ruf kala itu, maka cukuplah sambil diam dengan berisyarat yang membuat orang lain paham. Jika tidak bisa dipahami, cukup dengan sedikit perkataan dan tidak boleh lebih dari itu.

Mengenai hukum berbicara di sini apakah haram ataukah makruh, para ulama berbeda pendapat. Imam Syafi’i memiliki dua pendapat dalam hal ini. Al Qadhi berkata bahwa Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i serta kebanyakan berpendapat wajibnya diam saat khutbah. …

Dalam hadits disebutkan, “Ketika imam berkhutbah”. Ini menunjukkan bahwa wajibnya diam dan larangan berbicara adalah ketika imam berkhutbah saja. Inilah pendapat madzhab Syafi’i, Imam Malik dan mayoritas ulama. Berbeda dengan Abu Hanifah yang menyatakan wajib diam sampai imam keluar.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 138-139)

Memperingatkan Orang Lain Saat Khutbah Cukup dengan Isyarat

Sebagaimana kata Imam Nawawi rahimahullah di atas, “Jika kita ingin beramar ma’ruf kala itu, maka cukuplah sambil diam dengan berisyarat yang membuat orang lain paham. Jika tidak bisa dipahami, cukup dengan sedikit perkataan dan tidak boleh lebih dari itu.”

Pernyataan di atas didukung dengan hadits Anas bin Malik. Ia berkata, “Tatkala Rasulullahh shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di atas mimbar, berdirilah seseorang dan bertanya, “Kapan hari kiamat terjadi, wahai Nabi Allah?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diam, tidak mau menjawab. Para sahabat lalu berisyarat pada orang tadi untuk duduk, namun ia enggan.” (HR. Bukhari no. 6167, Ibnul Mundzir no. 1807, dan Ibnu Khuzaimah no. 1796).  Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat melakukan amar ma’ruf ketika imam berkhutbah hanya dengan isyarat.

Menjawab Salam Orang Lain Saat Khutbah

Termasuk dalam larangan adalah menjawab salam orang lain ketika imam berkhutbah.
Balasannya cukup dengan isyarat (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 589)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Menjawab salam saat khutbah tidaklah diperintahkan.
Bahkan kita hendaknya shalat tahiyyatul masjid, duduk dan tidak mengucapkan salam pada yang lain hingga selesai khutbah. Jika ada yang memberi salam padamu, maka cukuplah balas dengan isyarat sebagaimana halnya jika engkau diberi salam ketika shalat, yaitu membalasnya cukup dengan isyarat. …
Jika ada di antara saudaranya yang memberi salam sedangkan saat itu imam sedang berkhutbah, maka balaslah salamnya dengan isyarat, bisa dengan tangan atau kepalanya. Itu sudah cukup, alhamdulillah.” (Jawaban pertanyaan di website resmi Syaikh Ibnu Baz di sini)

Menjawab Salam Khotib

Jika imam mengucapkan salam ketika ia naik mimbar, hukum menjawabnya adalah fardhu kifayah (artinya: jika sebagian sudah mengucapkan, yang lain gugur kewajibannya).

Dalam kitab Al Inshof (4: 56, Asy Syamilah), salah satu kitab fikih madzhab Hambali disebutkan,

رَدُّ هَذَا السَّلَامِ وَكُلِّ سَلَامٍ مَشْرُوعٍ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الْجَمَاعَةِ الْمُسَلَّمِ عَلَيْهِمْ

“Menjawab salam imam (ketika ia masuk dan menghadap jama’ah) dan juga menjawab setiap salam adalah sesuatu yang diperintahkan dan hukumnya fardhu kifayah bagi para jama’ah kaum muslimin.”

Jika menjawab salam kala itu diperintahkan, maka jawabannya pun dengan suara jaher, dengan suara yang didengar oleh imam. Mula ‘Ali Al Qori berkata,

أن رد السلام من غير إسماع لا يقوم مقام الفرض

“Menjawab salam dan tidak terdengar (di telinga orang yang memberi salam), itu belum menggugurkan kewajiban.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobil, 13: 6, Asy Syamilah)

Menjawab Kumandang Adzan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ

“Jika kalian mendengar kumandang adzan dari muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan.” (HR. Muslim no. 384).

Dalam Syarhul Mumthi’, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin berkata, “Jika imam telah  memberi salam kepada jama’ah, ia disunnahkan duduk hingga selesai kumandang adzan. Ketika itu, hendaklah menjawab seruan muadzin (dengan mengucapkan yang semisal) karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian mendengar seruan muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan.” Hadits ini adalah umum. Jika imam berada di mimbar, hendaklah ia menjawab adzan, begitu pula makmum. Hendaklah mereka mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin kecuali pada lafazh ‘hayya ‘alash sholaah’ dan ‘hayya ‘alal falaah’, hendaklah mereka ucapkan ‘laa hawla wa laa quwwata illa billah’.”

Adapun menjawab adzan kala itu, cukup dengan suara lirih sebagaimana asal do’a dan dzikir adalah demikian. Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْل

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara.” (QS. Al A’rof: 205)

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’rof: 55)

Menjawab Shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari ‘Ali bin Abi Tholib, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

اَلْبَخِيْلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang pelit itu adalah orang yang ketika disebut namaku ia enggan bershalawat” (HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad 1: 201. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih).

Dalam Asnal Matholib salah satu fikih Syafi’iyah disebutkan, “Bagi yang mendengar khotib bershalawat, hendaklah ia mengeraskan suaranya ketika membalas shalawat tersebut.” Ulama Syafi’iyah lainnya menyatakan sunnah untuk diam dan tidak wajib menjawab shalawat.

Ulama Hambali menyatakan bolehnya menjawab shalawat ketika diucapkan, namun jawabnya dengan suara sirr (lirih) sebagaimana do’a.

Intinya, ada dua dalil dalam masalah ini yaitu dalil yang memerintahkan untuk menjawab shalawat dan dalil yang memerintahkan untuk diam saat imam berkhutbah. Jika kita kompromikan dua dalil tersebut, yang lebih afdhol adalah menjawab shalawat dengan suara sirr (lirih). (Lihat bahasan islamweb.net)

Menjawab Orang yang Bersin

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin ditanya, “Apa hukum menjawab salam dan menjawab bersin saat khutbah Jum’at? Apa juga hukum menyodorkan tangan pada orang yang ingin bersalaman ketika imam berkhutbah?”

Jawaban beliau rahimahullah, “Menjawab salam orang lain dan menjawab bersin saat imam berkhutbah tidak diperbolehkan, karena hal itu termasuk berbicara yang terlarang dan hukumnya haram.
Karena seorang muslim (yaitu jama’ah) tidaklah diperintahkan untuk mengucapkan salam kala itu. Dikarenakan salamnya tidak diperintahkan, maka demikian pula dengan balasannya.

Orang yang bersin pun tidak diperintahkan mengeraskan bacaan ‘alhamdulillah’ tatkala imam berkhutbah.
Oleh karenanya, ucapannya tidak perlu dibalas dengan ucapan ‘yarhamukallah’.

Sedangkan menyamput jabatan tangan orang yang ingin bersalaman, sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk membuat lalai. Kecuali jika dikhawatirkan terdapat mafsadat, maka ketika itu tidaklah mengapa menyambut sodoran tangannya, akan tetapi tidak boleh ditambah dengan obrolan. Dan jelaskan padanya setelah shalat bahwa pembicaraan saat khutbah itu haram. (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 16: 94, Asy Syamilah)

Berbicara dengan Khotib

Berbicara dengan khotib saat khutbah diperbolehkan jika ada hajat, baik ketika khotib memulai pembicaraan atau memulai bertanya, atau ketika menjawab pembicaraannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik, ia berkata,

أَتَى رَجُلٌ أَعْرَابِىٌّ مِنْ أَهْلِ الْبَدْوِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، هَلَكَتِ الْمَاشِيَةُ هَلَكَ

“Ada seorang Arab badui mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan saat itu beliau sedang berkhutbah Jum’at. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, hewan ternak pada binasa …” (HR. Bukhari no. 1029). Arab badui mengucapkan demikian karena hujan tidak kunjung berhenti setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta hujan lewat shalat istisqo’ sehingga hewan-hewan ternak pun mati. Ia meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya berdo’a agar hujan dihentikan.

Begitu pula dalam kisah Sulaik. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata,

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِىُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ « يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا – ثُمَّ قَالَ – إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ».

“Sulaik Al Ghothofani datang pada hari Jum’at dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Ia masuk dan langsung duduk. Beliau pun berkata pada Sulaik, “Wahai Sulaik, berdirilah dan kerjakan shalat dua raka’at (tahiyyatul masjid), persingkat shalatmu (agar bisa mendengar khutbah, pen).” Lantas beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menghadiri shalat Jum’at dan imam berkhutbah, tetaplah kerjakan shalat sunnah dua raka’at dan persingkatlah.” (HR. Bukhari no. 930 dan Muslim no. 875) (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 589).

Demikian bahasan rumaysho.com tentang berbagai masalah seputar obrolan atau pembicaraan saat imam berkhutbah Jum’at. Intinya, asal obrolan saat khutbah adalah haram kecuali jika ada hajat atau maslahat. Semoga bermanfaat.

Wallahu waliyyut taufiq

Kamis, 20 Agustus 2020

Kisah Pejuang Kemerdekaan Muhammad Toha

Muhammad Toha: Pelaku Suicide Mission Perang Mempertahankan Bandung By Arif Budi Setyawan on Nov 18, 2019 Bagi semua warga Bandung pasti mengenal nama Muhammad Toha. Dia adalah seorang pahlawan. Dia gugur bersama sahabatnya yang bernama Ramdhan dalam sebuah operasi penghancuran gudang senjata milik pasukan Sekutu pada tanggal 11 Juli 1946 di Dayeuhkolot. Pemerintah Bandung menghormatinya dengan memberi nama salah satu jalan di Bandung dengan namanya. Selain itu di daerah Dayeuhkolot, tepat di depan kolam bekas terjadinya ledakan, terdapat monumen Mohammad Toha untuk memperingati jasa dan keberaniannya. Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor, bernama Nariah. Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Muhammad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Toha mulai masuk Volk School (Sekolah Rakyat) pada usia 7 tahun hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah. Saat masa pendudukan Jepang, Toha mulai mengenal dunia militer dengan memasuki Seinendan. Sehari-hari Toha juga membantu kakeknya di Biro Sunda, kemudian bekerja di bengkel motor di Cikudapateuh. Selanjutnya, Toha belajar menjadi montir mobil dan bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga ia juga mampu bercakap dalam bahasa Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Toha terpanggil untuk bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), yang dipimpin oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Dalam laskar ini ia duduk sebagai Komandan Seksi I Bagian Penggempur. Pada hari operasi itu dilaksanakan, dikisahkan Toha menyusup mencari jalan untuk menghancurkan gudang, Ramdhan dan rekan lainnya mengalihkan perhatian penjaga demi mengamankan jalan bagi Toha sahabatnya. Satu tujuan mereka pasti, gudang mesiu dan persenjataan tentara Sekutu yang termasuk di dalamnya tentara Belanda (NICA) itu hancur rata dengan tanah. Gudang mesiu di selatan Bandung ini berada di daerah yang terbuka. Gudang besar dan tampak angker. Sulit dicapai karena dijaga ketat dan yang mendekati dapat terlihat dengan mudah oleh penjaganya. Isinya lebih dari seribu ton berbagai jenis persenjataan, granat, bom dan mesiu di dalamnya. Menghancurkannya adalah misi yang sangat sulit. Namun sangat diperlukan mengingat persenjataan di dalamnya adalah alat-alat perang yang mendukung penyerangan Tentara Sekutu terhadap rakyat dan semua yang mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia. Lewat gorong-gorong Toha menyusup, rekan ada yang sudah tertembak, lalu teman yang lain sigap mengalihkan perhatian tentara penjaga dengan menembak di tempat lain, agar perhatian teralihkan dari Toha. Toha berenang dari sungai Citarum, masuk lewat gorong-gorong. Akhirnya Toha berhasil masuk ke dalam gudang mesiu, mengunci diri di dalam, beserta beratus bom berjajar, granat dan senjata. Namun hatinya tak gentar, tekadnya sudah bulat. Ramdhan di luar sudah tewas tertembak sebagai pembuka jalan bagi Toha. Tanpa ragu-ragu ia ledakkan dinamit yang telah ia siapkan sebelumnya. Ledakan dahsyat pun terjadi. Tak tersisa dari bangunan kecuali lubang yang sangat besar yang segera terisi air dari sungai Citarum yang tak jauh dari sana. Yang menjadi catatan saya, Muhammad Toha melakukan aksi bunuh diri untuk menjaga hidup orang lain, bukan untuk memusnahkannya. Dengan mengorbankan jiwanya ia melindungi nyawa ratusan ribu rakyat Bandung. Ia memeluk kematian dengan mengunci diri di gudang mesiu musuh yang akan membunuh saudara-saudara setanah airnya. Bukan memeluk kematian dengan membawa saudara setanah air untuk ikut ke alam baka. Dengan kematiannya, nyawa ratusan ribu orang terjaga. Ia melakukan Suicide Mission demi melawan penindas dan melindungi saudara-saudaranya dari penindasan. Dan ia tetap bernilai bahkan setelah berpuluh-puluh tahun setelah kematiannya.

Senin, 17 Agustus 2020

Surah Al-fatihah prmbuka dan penutup Doa 2


Islam datang ke Indonesia tidak melalui perang, tetapi melalui penyebaran ilmu dengan penyampaian yang santun dan dengan sentuhan hati dari para pembawanya yang arif sehingga menjadi agama mayoritas.

Kekuatan imam para pemeluknya kala itu juga tidak bisa dipandang sepele. Melihat sejarah Indonesia yang dijajah oleh orang-orang non muslim ratusan tahun, seharusnya Islam tidak menjadi agama mayoritas di Indonesia, tetapi nyatanya tidak.

Hal ini bisa menjadi gambaran dari kekuatan Islam dan Iman para pemeluknya kala itu. Sementara negara-negara lain, selain Indonesia yang terjajah, sebagian kecil atau separuh penduduknya, atau bahkan sebagian banyak penduduknya akan berganti agamanya seperti agama penjajahnya.

Islam yang datang ke Indonesia – dibawa oleh ulama’-ulama’ pada saat itu- adalah islam sejati, Islam yang rohmatallil alamin. Terbukti dari sifat dan sikap para pemeluknya yang santun, tidak sok pintar, tidak sok benar, tidak petentengan dan tidak takfiri. Sifat dan sikap itu tidak tumbuh begitu saja, tetapi jelas hasil dari didikan dan uswah para ulamanya.

Seiring dengan laju zaman dan kecanggihan media-media informasi, datang pemahaman-pemahaman baru tentang Islam yang sengaja disusupkan dan dipropagandakan untuk mencabik-cabik kerukunan dan ketenteraman umat Islam di Indonesia. Dengan dalih memurnikan ajaran Islam dan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah.

Mereka sengaja mengoyak kemapanan ajaran Islam yang sudah mengurat-saraf di Indonesia. Terbukti dari kebanyakan masalah-masalah yang sengaja mereka bidik dengan propaganda “bid’ah dan syirik” adalah masalah-masalah khilafiyah.

Baru-baru ini mereka membidik tradisi membuka dan menutup do’a atau membuka acara dengan surat Al-fatihah, memakai propaganda multi pakai yang biasa mereka lontarkan, yaitu “itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shollallohu Alaihi Wasallam dan para generasi salaf tidak pernah melakukan itu. Kalau seandainya itu baik tentu merekalah orang-orang pertama yang melakukannya”.

Ibnu Katsir Rohimahullah di dalam kitab Tafsirnya (juz 1, hlm. 106 dan 736) meriwayatkan hadits riwayat Muslim dan an-Nasa’i. Ibnu Abbas berkata, Pada suatu ketika Rasulullah Shollallohu Alaihi Wasallam beserta Jibril, tiba-tiba Jibril mendengar keganjilan di atasnya, lalu Jibril menengadah ke atas, lalu berkata, “Pintu ini telah terbuka dari langit. Padahal (selama ini) tak pernah terbuka sama sekali”.

Ibnu Abbas berkata lagi, “Kemudian turun seorang malaikat menghampiri Nabi , lalu berkata, “Aku datang membawa kebahagiaan berupa cahaya dua. Sungguh aku memberikan dua-duanya kepadamu. Padahal tak satupun pernah diberikan kepada nabi sebelummu, yaitu, fatihatul kitab dan beberapa akhiran dari surat al-Baqoroh. Dan tidak dibaca satu hurufpun dari dua surat itu kecuali aku berikan (pahala) nya”.

Hadits di atas adalah salah-satu dari sekian hadits yang menjelaskan betapa besar fadlilah dan istimewanya surat al-Fatihah, sebuah cahaya dan surat yang hanya di berikan kepada junjungan Nabi kita Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam.

Disebutkan di dalam Tafsir al-Qurthubi bahwa surat al-Fatihah ini, juga memiliki dua belas lagi nama-nama yang hebat dan indah yang kesemuanya merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu, Ash-sholah, Al-Hamd, Fatihatul Kitab, Ummul Kitab, Ummul Qur’an, Al-Matsaani, Al-Qur’anul Adzim, Asy-Syifa’, Ar-Ruqyah, Al-Asas, Al-Wafiyah dan Al-Kafiyah.

Memandang fadlilah dan keistimewaannya yang masyhur, juga familier dan mudahnya di hafal oleh masyarakat awam, kemudian surat ini yang dipilih menjadi pembuka do’a atau pembuka acara. Selain karena ngalap berkah juga tafaa’ul dengan al-Qur’an yang juga di buka dengan surat ini.

Oleh karenanyam ia disebut al-Fatihah (pembuka) dan Fatihatul Kitab (pembuka al-Qur’an).
Kemudian menutup do’a dengan menghadiahkan pahala bacaan surat al-Fatihah kepada baginda Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam.

Al Muhaddits Syekh Abdullah al-Ghumari dalam kitabnya Ar-Raddul Muhkam al-Matin, (hlm. 270), mengatakan, “Menurut saya boleh saja seseorang menghadiahkan bacaan Al-Qu’an atau yang lain kepada baginda Nabi SAW., meskipun beliau selalu mendapatkan pahala semua kebaikan yang dilakukan oleh umatnya, karena memang tidak ada yang melarang hal tersebut. Kalau para sahabat tidak melakukannya, hal ini tidak menunjukkan bahwa itu dilarang”.

Disebutkan di dalam al-Qur’an surat al-Hasyr, 7.
“Apa-apa yang Rasul membawanya kepada kamu maka ambillah dan apa-apa yang Rasul melarang kamu maka berhentilah (tinggalkanlah). Kalau tidak ada larangan dari Rasul Shollallohu Alaihi Wasallam, mengapa berhenti?.
Wallahua`lam.

Menutup doa dengan surah Al-fatihah 1

Bolehkah Menutup Doa dengan Membaca Surah Alfatihah?

Kebiasaan umat Muslim Nusantara setelah berdoa adalah mengakhiri doa tersebut dengan membaca surah Alfatihah.
Mereka berharap doa yang dipanjatkan bisa dikabulkan oleh Allah dengan wasilah bacaan surah Alfatihah.
Setiap selesai berdoa, baik setelah salat wajib atau lainnya, berdoa sendirian atau berjemaah, mereka selalu menutupnya dengan surah Alfatihah.

Bolehkah menutup doa dengan surah Alfatihah?

Disebutkan dalam kitab Shahih Shifati Shalatin Nabi Saw. bahwa menutup doa dengan surah Alfatihah sangat dianjurkan, bahkan termasuk amalan sunah yang disyariatkan. Hal ini dikarenakan surah Alfatihah merupakan surah paling agung dalam Alquran dan membacanya merupakan amal saleh. Bertawassul dengan amal saleh merupakan perkara yang di sepakati oleh para ulama.

من السنة ان يختم الداعي دعاءه بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ثم بقراءة سورة الفاتحة

“Termasuk bagian dari sunah adalah orang yang berdoa mengakhiri doanya dengan membaca salawat kepada Nabi Saw., kemudian membaca surah Alfatihah.”

Oleh karena itu, dianjurkan untuk menutup doa dengan surah Alfatihah sebagai wasilah dan perantara supaya doa yang dipanjatkan diterima oleh Allah. Para sahabat Nabi Saw. menjadikan surah Alfatihah sebagai wasilah dan perantara terpenuhinya kebutuhan dunia, termasuk untuk menyembuhkan penyakit.

Disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Alkhudri, dia berkisah;

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ : وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ. ثُمَّ قَالَ :خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

“Ada sekelompok sahabat Nabi Saw. berada dalam perjalanan, lalu melewati suatu kampung Arab.
Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu.
Penduduk kampung tersebut lantas berkata kepada sekolompok sahabat tersebut, ‘Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah (mengobati) karena pembesar kampung tersengat binatang atau terserang demam.’ Di antara para sahabat lantas berkata, ‘Iya ada.’
Lalu dia pun mendatangi pembesar tersebut dan dia meruqyahnya (mengobatinya) dengan membaca surat Alfatihah dan tak lama pembesar tersebut sembuh.
Lalu yang mengobati tadi diberikan seekor kambing, namun dia enggan menerimanya.
Dia berkata, ‘Saya mau melaporkan terlebih dahulu kepada Nabi Saw.
Lalu dia mendatangi Nabi Saw. dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau.
Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidaklah mengobati kecuali dengan membaca surat Alfatihah.’ Rasulullah Saw.
lantas tersenyum dan berkata, ‘Bagaimana engkau bisa tahu Alfatihah adalah ruqyah?.
Beliau pun bersabda, ‘Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.”

Hadis ini menjelaskan bahwa surah Alfatihah bisa dijadikan wasilah untuk mengobati, dan karena itu bisa juga dijadikan wasilah agar sebuah doa diterima Allah dengan membacanya setelah doa tersebut.
Allahu A'lam

Rabu, 12 Agustus 2020

HUKUM LOTRE DAN MEMBELI IKANNYA

Hukum Memancing Ikan di Kolam Pemancingan Yang Di Sewa Dan Membeli Hasilnya

Pertanyaan :
Banyak tetangga dan teman saya pergi mengail ikan di kolam pemancingan. Mereka datang lalu membayar sejumlah uang kepada pengelola pemancingan. Setelah membayar, sejumlah kilogram ikan dilepas ke dalam kolam. Mereka lalu mencari tempat duduk di sudut kolam untuk memancingnya.
Mohon penjelasan perihal ini.
Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Jawaban :

Penanya yang budiman,
Semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagian masyarakat mengisi waktunya untuk memancing ikan di kolam pemancingan atau di laut karena hobi, sekadar pengisi waktu akhir pekan, atau sebab lain.

Aktivitas mengail atau memancing ikan pada dasarnya boleh saja. Tetapi aktivitas mengail ikan di kolam pemancingan bergantung pada akad pemancing dan pengelola pemancingan.
Pasalnya, transaksi pemancing dan pengelola pemancingan di lapangan terdiri atas sejumlah bentuk akad.

Salah satu bentuk akad yang dilarang adalah sewa kolam pemancingan untuk diambil ikannya.

Pertanyaan yang mengemuka saat itu adalah, “Kalau menyewa tambak (balong) untuk mengambil ikannya dengan memancing atau menjaring, si penyewa kadang-kadang mendapat ikan banyak dan kadang-kadang tidak mendapat. Apakah menyewanya itu sah atau tidak?”

Jawabsn , “Tidak sah menyewanya.
Uang sewanya pun tidak halal karena barang itu tidak boleh menjadi hak milik dengan akad sewa.”

وَخَرَجَ بِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ لِاسْتِيْفَاءِ عَيْنٍ مَا تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاؤُهَا أَيِ اسْتِئْجَارُ مَنْفَعَةٍ تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاءَ عَيْنٍ كَاسْتِئْجَارِ الشَّاةِ لِلَبَنِهَا وَبِرْكَةٍ لِسَمَكِهَا وَشُمْعَةٍ لِوُقُوْدِهَا وَبُسْتَانٍ لِثَمْرَتِهِ فَكُلُّ ذَلِكَ لاَ يَصِحُّ. وَهَذَا مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى وَيَقَعُ كَثِيْرًا.

Artinya, “Dan dengan kalimat, ‘Tanpa berkonsekuensi mengambil barang’ tidak termasuk pemakaian manfaat barang sewaan yang berkonsekuensi mengambil barangnya, seperti menyewa kambing untuk diperah susunya, kolam untuk diambil ikannya, lilin untuk dinyalakan dan kebun untuk dipetik buahnya. Semua itu tidak sah. Hal seperti ini termasuk fitnah yang sudah mewabah dan banyak terjadi,” (Lihat Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin,jilid III, halaman 114).

Umumnya praktik yang terjadi di lapangan adalah pembayaran ikan sekian kilogram oleh pemancing kepada pengelola kolam pemancingan. Ikan tersebut kemudian dilepas dikolam untuk dipancing di mana pemancing yang membeli ikan tersebut tidak sendirian karena ada pemancing lain di kolam tersebut.

Dengan praktik demikian, para pemancing itu tidak menentu dalam mendapatkan hasil tersebut.
Bisa jadi mereka mendapatkan sedikit, mungkin juga mendapatkan ikan lebih banyak dari yang mereka beli di samping ketidakjelasan ikan milik siapa yang mereka dapatkan.
Praktik seperti ini mengandung gharar (sejenis transaksi produk gelap sifat, rupa, jumlahnya).
(Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 198 dan 202).

Adapun praktik lain yang terjadi di lapangan adalah pemancing mendatangi kolam pemancingan, lalu mengail ikan. Setelah selesai, hasil pancingannya ditimbang untuk mengetahui bobotnya dan kemudian dibayarkan sesuai dengan jumlah kilogram ikan tersebut. Praktik seperti ini dibolehkan karena tidak lain adalah praktik jual-beli.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca

SEDANGKAN HUKUM MEMBELI
IKAN HASIL MANCING JUDI, BOLEHKAH?

Pertanyaan :
Bagai mana hukumnya membeli ikan dari hasil mancing lotre halal gak?

Jawaban:
Memancing ikan jika dijadikan ajang untuk berjudi maka perbuatan ini haram hukumnya. Keharaman judi sudah maklum berdasarkan nash baik al-Quran maupun hadits, di antaranya adalah firman Allah :

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90).

Adapun apa yang anda tanyakan, jika ikan yang didapatkan dari hasil judi itu dijual, apakah anda diperbolehkan membelinya dan apakah ikannya halal? Maka menurut kami, jika anda tidak ikut berjudi, namun hanya membeli ikan dari kawan atau orang yang berjudi tersebut in syaAllah tidak mengapa dan ikan tersebut halal dimakan. Akan tetapi anda sudah mengetahui bahwa perbuatan tersebut adalah mungkar sehingga ada kewajiban bagi anda untuk berusaha menasehati dan mendakwahi mereka agar tidak melakukan judi.

:عن أبي سعيد الخدري قال: سمعت رسول الله صل الله عليه وسلم يقول
من رأى منكم منكرا، فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

Dari Abu Sa’id Al-Khudri , saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka tolaklah dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Wallahu A'lamu Bishowabi.
Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalaamu Alaikum....



Selasa, 11 Agustus 2020

Pasangan Di Surga

Pasangan Di Surga

Allah Ta’ala menyebutkan kenikmatan ahlul jannah bagi kaum laki-laki dengan memberikan iming-iming Hurul ‘Ain (bidadari yang bermata jeli) dan istri-istri yang cantik. Hal itu tidak disebutkan untuk wanita sebagaimana laki-laki. Barangkali karena itulah banyak diantara wanita yang bertanya-tanya tentang ganjaran dan kenikmatan apa yang akan mereka dapat di jannah.

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan segala keindahan dan kesenangan yang ada di jannah berupa makanan, pemandangan yang indah, tempat tinggal, ataupun pakaian, maka hal itu bukanlah monopoli laki-laki saja. Kenikmatan jannah berlaku umum, baik laki-laki dan wanita selama mereka bertaqwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya ,

 “ Disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Tidak diragukan lagi bahwa ganjaran dihari kiamat itu untuk laki-laki maupun perempuan. Ini didasarkan pada pernyataan Allah Ta’ala dalam ayat-ayat berikut ini.

“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan “. (QS. Ali Imron: 195)

 “ Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa: 124)

 “ Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yasin: 56)

 “ Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. (QS. Az Zuhruf: 70)

Perlui diketahui, keadaan seorang wanita di dunia tidak akan luput dari kemungkinan-kemungkinan berikut;

1. Dia meninggal sebelum menikah.

Allah Ta’ala akan menikahkan wanita ini di jannah dengan seorang laki-laki di dunia. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ما في الجنّة أعزب

“Di jannah tidak ada yang hidup membujang.” (HR. Muslim no. 2834)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Apabila seorang wanita belum menikah di dunia, maka Allah Ta’ala akan menikahkannya dengan seseorang yang menyenangkan pandangannya. Karena kenikmatan di jannah tidak hanya monopoli laki-laki, namun bagi laki-laki dan juga wanita. Sedangkan diantara bentuk nikmat adalah menikah. (Al Majmu’ Ats Tsamin 1/175)

2. Dia meninggal setelah dithalak (cerai) dan belum menikah lagi. Ataupun dia telah menikah, namun dirinya masuk jannah sedangkan suaminya tidak

Untuk keadaan kedua wanita ini, Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Seorang wanita apabila menjadi penghuni jannah sedangkan ia belum menikah di dunia, atau suaminya bukan termasuk ahli jannah, maka ketika dia masuk jannah akan dinikahkan dengan laki-laki dari penghuni jannah yang belum pernah menikah.”  (Al Majmu’ Ats Tsamin 1/173)

3. Dia meninggal setelah menikah. Maka suaminya di dunia adalah suaminya di jannah.

4. Dia tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal. Artinya dia menjanda hingga akhir hayat. Maka suaminya di dunia itulah yang akan menjadi suaminya di jannah

5. Dia menikah lagi setelah suaminya meninggal. Maka suaminya di jannah adalah orang yang terakhir kali menjadi suaminya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

المرأة لاخر ازواجها

“ Seorang wanita (di jannah) adalah istri bagi suaminya yang terakhir di dunia.” (Silsilatul Ahadits As-Shahihah, Al-Bani. 1281 )

Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada istrinya, “ jika kamu ingin menjadi istriku di jannah, maka janganlah engkau menikah sepeninggalku, karena sesungguhnya wanita di jannah adalah bagi suaminya yang terakhir di dunia.” Karenanya pula Allah Ta’ala mengharamkan atas istri-istri Nabi untuk menikah sepeninggal Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di jannah pula.

Syaikh Ibnu Jibrin berkata, “ disebutkan juga dalam hadits bahwa wanita yang hidup di jannah mempunyai kelebihan melebihi bidadari disebabkan karena amal shalehnya dan ketaatan yang ia kerjakan di dunia. Oleh karena itu wanita yang beriman akan masuk seperti halnya laki-laki yang beriman. Jika seorang wanita memiliki beberapa suami (maksudnya pisah kemudian menikah dengan laki-laki lain) dan dia masuk ke jannah bersama mereka, maka ia akan memilih di antara mereka, dan akan memilih seseorang yang memiliki watak dan sikap yang paling baik.( lihat. Wanita bertanya  Islam menjawab, kumpulan fatwa-fatwa Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Ibnu Jibrin. Hal.38-39 ).

Itulah keadaan mereka di dunia, sedangkan di jannah masing-masing akan mendapatkan bagian menurut keadaan mereka di dunia.

Senin, 03 Agustus 2020

TIGA PERKARA JAMIN BAHAGIA

Tiga Perkara Menjamin Kebahagiaan Dunia Akhirat

الخطبة الأولى

الحمد لله نحمد ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهدي الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليما كثيرا،  أما بعد

أيُّها الناس، إن الله سبحانه وتعالى خلق الخلق، فمنهم مؤمن ومنهم كافر: (فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ* فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ* خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتْ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ* وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتْ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ).

عباد الله، إن الشقاوة والسعادة لهما أسباب من قبل العبد، فالشقاوة سببها الكفر بالله عز وجل والمعاصي والسيئات التي لا يتوب منها صاحبها، وأما السعادة فهي بسبب الأعمال الصالحة وتقوى الله سبحانه وتعالى:

لعمرك ما السعادة جمع مال **** ولكن التقي هو السعيد
وتقوى الله خير الزّاد ذخراً **** وعند الله للأتقى مزيدُ
عباد الله، ثلاث خصال من وفق لهن نال السعادة في الدنيا والآخرة، وهي من: إذا أعطي شكر وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، هذه الثلاث هن أنواع السعادة:
فأما الأولى: إذا أعطي شكر: إذا أنعم الله عليه بنعمة شكر الله عليها، واستعان بها على طاعة الله سبحانه وتعالى، وأثنى بها على الله ظاهرا وباطنا، واعترف أنها من الله لا بحوله ولا بقوته، فأركان الشكر هذه الثلاثة:
1- تحدث بها ظاهرا.
2- والاعتراف بها باطنا.
3- وصرفها في طاعة مسديها وموليها.
هكذا تكون النعمة منحة من الله سبحانه وتعالى، وأما من لم يشكر فإن الله توعده بالعذاب الشديد: (وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ)، والشكر ليس باللسان فقط؛ ولكنه باللسان وبالقلب وبالأفعال في طاعة الله: (اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْراً وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِي الشَّكُورُ).
وأما الخصلة الثانية: إذا أبتلي صبر: الله جل وعلا قال: (وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ) فتنة يعني اختبار، نختبركم بالشر وبالخير فمن إذا أبتلي بالشر صبر وإذا أبتلي بالنعمة شكر فهذا هو السعيد، وأما من إذا أنعم عليه كفر النعمة وإذا أبتلي فإنه يجزع ويتسخط لقضاء الله وقدره فهذا هو الشقي، ولن يحصل على طائل؛ بل يحصل على ما هو أشد وأنكى - والعياذ بالله -، إذا انعم عليه شكر، ولا يبطر ولا يتكبر ولا يصرف هذه النعمة بالمعاصي والشهوات المحرمة والأسفار المحرمة للنزهة في بلاد الكفار والانخراط في سلك الفسقة والفجار فيكون مثلهم أو أخس منهم وأردى منهم، إن الكفار يسخرون من بعض المسلمين الذين يأتونهم ثم يظهرون من الكفر والفجور والفسق ما لا يفعله الكفار، ولا حول ولا قوة إلا بالله، بسبب أن النعمة فاضت عليهم، فلم يحسنوا التصرف فيها فتكون شقاءً عليهم، الخصلة الثانية: إذا أبتلي صبر، الله جل وعلا يبتلي عباده ليظهر الصابر من الذي يجزع ويتسخط قال سبحانه وتعالى: (وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ* الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ*) يفوضون الأمر إلى الله قال الله جل وعلا: (أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُهْتَدُونَ)، والله جل وعلا يبتلي عباده، أشد بلاءاً الأنبياء ثم الذين يلونهم، أشد الناس بلاءاً الأنبياء عليهم الصلاة والسلام، تقرؤون في كتاب الله ماذا جرى عليهم من الابتلاء والامتحان من المصائب؟ من أذى الكفار؟ أذية الكفار لهم حتى صبروا وظفروا: (أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمْ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ)، فالنصر مع الصبر، والفرج مع الكرب، ومع العسر يسرا، فهم لا يأسون مهما أشتد بهم البلاء والامتحان فإنهم يصبرون ثم تزول البلية وتعقبها النعمة والجزاء الحسن، نتيجة للصبر والاحتساب.
الثالثة: إذا أذنب استغفر: كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ، الإنسان معرض للخطأ ولكنه إن أصر عليه واستمر عليه وقنط من رحمة الله صار من الأشقياء - والعياذ بالله -، فإن تاب إلى الله عز وجل من ذنوبه غفر الله له وجزاه بالجزاء الحسن، نتيجة لاستغفاره: (وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ)، (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ* أُوْلَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ)، وَالتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ ، ولا يقنط الإنسان من رحمة الله ومغفرته مهما عمل؛ ولكنه يبادر بالتوبة: (قُلْ يَا عِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ* وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ) بهذا الشرط فمن تاب تاب الله عليه مهما كانت ذنوبه وخطاياه، التوبة تمحو الذنوب، تمحو ما قبلها من الذنوب، وتنقي العبد وتطهره إذا كانت توبة صادقة ليست باللسان فقط، فالتوبة لها شروط كما هو معلوم:
الشرط الأول: ترك الذنب، أما من يستغفر الله وهو مقيم على الذنب لا يتغير إنما يستغفر بلسانه فهذا ليس تائبا إلى الله عز وجل،؛ بل هو إلى السخرية أقرب، ترك الذنب هذا الشرط الأول.
الشرط الثاني: العزم ألا يعود عليه مدى الحياة، فإن كان في نيته أنه يعود إلى الذنوب مرة أخرى فهذا توبته مؤقتة، ولا تقبل عند الله سبحانه وتعالى، لابد أن يعلم الله من قلبه، أنه لا يعود إلى الذنوب، فإن علم من قلبه أنه سيعود إلى الذنوب فإن الله لا يغفر له، ولا يقبل توبته.
والشرط الرابع: إذا كان بينه وبين الناس مظالم أخطأ في حقهم أو أكل أموالهم، أو ظلمهم فلابد أن يرد المظالم إلى أهلها، وأن يطلب منهم المسامحة.
فهذه شروط التوبة فليست التوبة باللسان فقط، أي إذا أذنب استغفر.
وكذلك: (وَلَيْسَتْ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمْ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ) يؤخر التوبة إلى الغرغرة إلى أن ينزل به الموت ويعلم أنه مفارق للحياة حينئذ يتوب هذا لا تقبل توبته، إنما التوبة في حال الصحة وفي حال الحياة أما إذا يأس من الحياة فإنه لا تقبل توبته: إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ أي: ما لم تبلغ روحه الغرغرة، وإلا فكل الناس يتوبون عند الموت؛ ولكن لا تقبل توباتهم عند الموت وهذا من شروط التوبة أن تكون في وقت التوبة الذي تقبل فيه ولا تكون عند اليأس من الحياة، ومن الناس من يتساهل في المعاصي يقول سهلة المعاصي سهلة والله غفور رحيم، نعم إن الله غفور رحيم ولكنه غفور رحيم لمن؟ لمن تاب: (وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى) فهذا هو الذي يغفر الله له، أما من يمهل لنفسه ويقول أتوب بعدين أو يعتمد على الرجاء فقط ويقول الله غفور رحيم فهذا متعلق بالأماني الكاذبة التي لا تحقق له قبولا عند الله سبحانه وتعالى.

فمن اتصف بهذه الصفات فإنه هو السعيد: إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هذه الثلاث هي عنوان السعادة، أسأل الله أن يوفقنا وإياكم لهذه الصفات العظيمة، وأن يمُّن علينا وعليكم بالتوبة، وأن يمُّن علينا وعليكم بالمغفرة والقبول إنه سميع مجيب الدعاء، فلابد من هذه الأمور الثلاثة لتتحقق له السعادة، ليست السعادة بالمال والأولاد، ليست السعادة بالمُلك والرئاسة، ليست السعادة بالشهوات، إنما السعادة بتقوى الله سبحانه وتعالى، وفقنا الله وإياكم لتقواه، والعمل بما يرضاه، إنه قريب مجيب، أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

الخطبة الثانية:

الحمد لله على فضله وإحسانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليما كثيرا،     أما بعد:

أيها الناس، اتقوا الله وأطيعوه، وتوبوا إليه واستغفروه، من الناس من يعمل الكبائر يترك الصلاة، يمنع الزكاة، ينخرط في سبيل الملاحدة والعلمانيين ويقول: الإيمان بالقلب ليس هو الصلاة ليس هو العمل الإيمان بالقلب هذه مغالطة، الإيمان بالقلب وباللسان وبالأعمال، يقول أهل السنة والجماعة: الإيمان قول باللسان، واعتقاد بالقلب، وعمل بالجوارح، أما الذي يضيع الصلاة ويمنع الزكاة ويشكك في العقيدة فهؤلاء من الذين قال الله فيهم، قال الله عن أمثالهم ومن سبقهم إذا ألقوا في النار سألهم أهل الجنة: (مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ) ما هو السبب؟ (قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ* وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ* وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ* وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ* حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ* فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ) نسأل الله العافية ثلاثة جرائم:
(لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ) هذه جريمة تركوا ركنا من أركان الإسلام بعد الشهادتين.
(وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ) منعوا الزكاة.
(وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ) في العقيدة في أمور الدين وما أكثرهم اليوم الذين يخوضون في العقيدة ويشككون المسلمين في عقائدهم ويقولون: الإسلام ليس باللحية، ليس بالصلاة ليس بكذا وكذا، الإيمان بالقلب فقط نسأل الله العافية.
فعلى المسلم أن يتقي الله، وأن ينجو بنفسه قبل الفوات، وأن يدعو غيره إلا النجاة، وأن يصلح نفسه ثم يسعى في إصلاح غيره، يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر، ويدعو إلى الله على بصيرة: (وَالْعَصْرِ* إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ* إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ) هكذا المؤمن حقا، أسأل الله أن يجعلنا وإياكم من المؤمنين الصادقين.
ثم اعملوا عباد الله، أنَّ خير الحديث كتاب الله، وخير الهديَّ هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشرَّ الأمور مُحدثاتها، وكل بدعة ضلالة، وعليكم بالجماعة، فإنَّ يد الله على الجماعة، ومن شذَّ شذَّ في النار.
(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّم على نبيَّنا محمد، وارضَ اللَّهُمَّ عن خُلفائِه الراشدين، الأئمةِ المهديين، أبي بكرَ، وعمرَ، وعثمانَ، وعليٍّ، وعن الصحابة أجمعين وعن التابعين لهم  بإحسانٍ إلى يومِ الدين.

اللَّهُمَّ أعز الإسلام والمسلمين، اللَّهُمَّ أعز الإسلام والمسلمين، اللَّهُمَّ أعز الإسلام والمسلمين، ودمر أعداء الدين، ونصر عبادك الموحدين، يا حي يا قيوم يا سميع الدعاء، اللَّهُمَّ من أراد الإسلام والمسلمين بسوء فأشغله بنفسه، وردد كيده في نحره وجعل تدميره في تدبيره، اللَّهُمَّ أمنا في أوطاننا وأصلح سلطاننا وولي علينا خيارنا وكفنا شر شرارنا وقنا شر الفتن ما ظهر منها وما بطن، اللَّهُمَّ  كف عنا بأس الذين كفروا فأنت أشد بأسا وأشد تنكيلا، اللَّهُمَّ أردد كيدهم في نحورهم وكفنا شرورهم، اللَّهُمَّ أمنا في أوطاننا، اللَّهُمَّ أمنا في دورنا، اللَّهُمَّ  أصلح ولاة أمورنا، وجعلهم هداة مهتدين، اللَّهُمَّ أصلح ولي أمرنا وهده سبل السلام، اللَّهُمَّ أصلحه وأصلح به يا حي يا قيوم يا سميع الدعاء، اللَّهُمَّ أعنهم على الحق وبصرهم به، اللَّهُمَّ  كثر أنصارهم وأعوانهم على الحق يا رب العالمين، (رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ)، على الله توكلنا، (رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ* وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنْ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ).

عبادَ الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)، (وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فذكروا الله يذكركم، واشكُروه على نعمه يزِدْكم، ولذِكْرُ الله أكبرَ، والله يعلمُ ما تصنعون.