Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Jumat, 07 November 2025

HUKUM MEMAKAN DAGING KURA KURA

Di Indonesia, kura-kura termasuk hewan yang dilindungi oleh negara. 
Karena itu, kura-kura tidak boleh dipelihara untuk diperdagangkan, juga tidak boleh dibunuh untuk dikonsumsi atau lainnya. 
Menurut para ulama, sebenarnya bagaimana hukum mengonsumsi daging kura-kura, apakah halal atau haram?

Menurut ulama Syafiiyah, mengonsumsi daging kura-kura, baik kura-kura laut maupun kura-kura darat, hukumnya adalah haram. 
Kura-kura tidak boleh dikonsumsi karena kura-kura termasuk jenis hewan yang bisa hidup di lautan dan daratan.


Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Taqiyuddin Abu Bakar Al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar berikut;

يحرم الضفدع و السرطان و السلحفاة على الراجح

Haram makan kodok, ketam dan kura-kura menurut pendapat yang unggul (di kalangan ulama Syafiiyah).

Dalam kitab Raudhatut Thalibin, Imam Nawawi memasukkan kura-kura sebagai bagian dari jenis yang bisa hidup di lautan dan daratan, seperti buaya, kodok dan lainnya. 
Karena itu, menurut pendapat yang paling shahih, mengonsumsi kura-kura hukumnya adalah haram. Beliau berkata sebagai berikut;

الضرب الثاني ما يعيش في الماء والبر أيضا..ويحرم التمساح على الصحيح والسلحفاة على الأصح

Bagian kedua adalah hewan yang hidup di air dan daratan juga. Maka buaya hukumnya adalah haram menurut pendapat yang shahih, dan kura-kura (juga haram) menurut pendapat yang lebih shahih.

Adapun menurut ulama Hanabilah dan ulama Malikiyah, kura-kura laut hukumnya halal dimakan namun dengan syarat harus disembelih terlebih dahulu. 
Sementara kura-kura darat, menurut ulama Hanabilah, adalah haram dimakan.

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba’ah;

و يحرم اكل السلحفاة برية كان او بحرية و هى المعروفة بالترسة لانها تعيش فى البر و البحر.الحنابلة و المالكية قالويحل اكل السلحفاة البحرية الترسة بعد ذبحها. اما السلحفاة البرية فالراجح عند حنابلة حرمتها

Haram makan kura-kura, baik kura-kura darat atau laut, yaitu yang dikenal dengan penyu, karena bisa hidup di darat dan laut. 
Ulama Hanabilah dan Malikiyah berkata bahwa halal makan kura-kura laut setelah disembelih. 
Adapun kura-kura darat, maka pendapat yang kuat di kalangan ulama Hanabilah adalah haram.
Semoga bermanfaat. 
Wallahu A'lam. 

PINTU MASUK SETAN KEHATI MANUSIA

18 Pintu Masuk Setan ke Hati Manusia, Muslim Wajib Tahu!

Setan pernah berjanji untuk selalu berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Terdapat beberapa pintu-pintu yang bisa dilalui setan untuk masuk ke dalam hati manusia yang berujung tergelincirnya seseorang pada perilaku maksiat dan dosa.
Dilansir dari detikHikmah, kata setan dalam bahasa Arab disebut dengan as-syaithan. Kata ini digunakan sebagai sebutan bagi makhluk halus karena kesombongan dan sifatnya yang selalu membangkang terhadap Allah SWT.

Dalam Al-Qur'an, setan juga disebutkan sebagai iblis. Selain itu, setan juga disebut dengan thaghut, sebagaimana dalam firman Allah surat An-Nisa Ayat 76:

الذِيْنَ اٰمَنُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ الطَّاغُوْتِ فَقَاتِلُوْٓا اَوْلِيَاۤءَ الشَّيْطٰنِ ۚ اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ ࣖ

Artinya: "Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah."

18 Cara Setan Masuk ke Hati Manusia, Termasuk Sikap Riya' dan Sombong
Asal Usul Setan
Dalam kitab Majmu' al Fatawa, Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa setan termasuk dari golongan jin. Mereka diciptakan oleh Allah SWT dari api.

Dalam kamus Mukhtaarush Shihaah dijelaskan, makna kata setan yaitu setiap makhluk yang melanggar aturan dan menyimpang. Makhluk yang menyimpang bisa disebut setan, baik ia berasal dari manusia, jin, maupun binatang.

Mengutip buku 'Mengapa Malaikat dan Setan di Rumah Kita?' oleh Abu Hudzaifah Ibrahim dan Muhammad ash-Shayim, terdapat dua pendapat yang menjelaskan asal kata setan. Pendapat pertama mengatakan bahwa kata setan diambil dari kata syathana yang bermakna sesuatu yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah SWT.

Sementara itu, pendapat kedua menjelaskan kebalikan dari pendapat yang pertama, yaitu kata tersebut diambil dari kata syaatha yasyithu, yang bermakna batal atau terbakar.

Setan adalah makhluk yang selalu menguntit manusia, menimbulkan waswas dalam hati, dan menyesatkan dengan syahwat yang menggiurkan. Sebagai umat muslim, kita harus senantiasa waspada terhadap tipu daya setan.

Hasil Penelitian Antropolog Asing terkait Fenomena Kuntilanak dan Tuyul
Pintu Masuk Setan ke Hati Manusia
Abu Hudzaifah Ibrahim dan Muhammad ash-Shayim menjelaskan, terdapat banyak pintu-pintu masuknya setan ke dalam hati manusia. Di antara pintu-pintu masuk setan ke dalam hati manusia adalah sebagai berikut:

1. Kemarahan atau kebencian. Marah adalah bara dari api neraka dan merupakan kesempatan bagi setan untuk mempengaruhi seseorang.

2. Jahl (kebodohan)

3. Cinta dunia (hubud dunya)

4. Panjang angan-angan yang akan menyebabkan kerasnya hati dan terpesona dengan kesenangan dunia.

5. Rakus dan tamak terhadap dunia yang akan melahirkan sifat tak pernah puas dan selalu ingin mendapatkan lebih.

6. Bakhil (pelit) yang merupakan pintu kebinasaan.

7. Sombong karena ia tidak sejalan dengan prinsip batin ibadah dan di dalamnya terdapat sifat bangga hati terhadap nikmat Allah yang telah didapatkan.

8. Senang pujian yang menjadi pintu ghurur (merasa super).

9. Riya (pamer amal kebaikan) yang menjadi pangkal kemunafikan.

10. Ujub (kagum pada kelebihan diri sendiri) dan pamer kelebihan.

11. Gelisah dan berkeluh kesah.

12. Berpendirian goyah dan cepat terpengaruh, tanda lemahnya iman.

13. Mengikuti hawa nafsu yang mendorong seseorang untuk menyerah dan tunduk kepada hawa nafsu.

14. Berburuk sangka yang menyebabkan hubungan antar manusia menjadi rusak dan menggoyahkan sendi pergaulan.

15. Menghina orang lain yang dapat membuat ladang bagi tumbuhnya kedengkian dan kebencian.

16. Menganggap remeh dosa yang menenggelamkan manusia dalam dosa, sedangkan terus-menerus melakukan dosa kecil adalah dosa besar.

17. Merasa aman dari kemurkaan Allah, yang menyebabkan manusia tergelincir dalam pemikiran yang dangkal dan tidak acuh terhadap konsekuensi segala perbuatannya.

18. Berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah. 
Hal itu adalah bencana yang paling besar, yang dengannya manusia akan terus bermaksiat kepada Rabbnya, dan membuat bumi menjadi terasa sempit baginya.

Cara Menghindari Setan
Jika seorang muslim telah membekali dirinya dengan keimanan yang kuat, ikhlas, dan betul-betul sesuai dengan garis yang telah ditetapkan Allah, maka setan tidak akan mampu menguasainya. Setan selalu punya cara untuk melakukan tipu daya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al Israa ayat 64 dan 65,

Surat Al-Isra Ayat 64

وَٱسْتَفْزِزْ مَنِ ٱسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا

Artinya: Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

Surat Al-Isra Ayat 65

إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَٰنٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا

Artinya: Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu (iblis) tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga".

Rasulullah SAW telah bersabda kepada Umar bin Khathab, "Sesungguhnya setan telah menjauh darimu, hai Umar!"

Sabda Rasulullah tersebut sejatinya tidak hanya ditujukan kepada Umar ra, melainkan kepada siapa pun yang memiliki kekuatan iman. Orang-orang yang memiliki kekuatan iman seperti yang digambarkan dalam hadits tersebut akan mampu mengalahkan setan, bahkan dapat lebih dari itu.

Agar dapat menghindari godaan setan, ada beberapa doa yang bisa dibaca seperti membaca kalimat A'uudzubillaah, membaca Ayat Kursi, Surat An-Nas, Surat Al-Falaq dan membaca surat Al-Baqarah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW menyatakan dalam sabdanya:

"Janganlah jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya rumah yang dibacakan surat al-Baqarah tidak akan dimasuki setan." (HR. Qurthubi).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW juga bersabda:

"Barang siapa yang membaca surat al-Baqarah di rumahnya pada malam hari, maka setan tidak akan memasuki rumah itu selama tiga malam." (HR. Muslim)

Rabu, 05 November 2025

NASEHAT KEMATIAN

Nasehat Kematian

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Hadirin shalat Jum’at yang semoga dalam naungan perlindungan Allah. 
Segala puji dan syukur mari kita haturkan ke hadirat Allah SwT, dimana karena kemurahan rahmatnya sehingga masih Allah limpahkan beragam nikmatnya kepada kita.

Kemudian, shalawat serta salam mari kita sanjungkan kepada Nabi agung Muhammad saw. 
Sosok yang telah mengenalkan kita dengan Islam sehingga kita bisa terbebas dari bahaya zaman jahiliyah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Berbicara perihal kematian maka sejatinya Allah telah memperingatkan dalam firmannya bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Ali-Imran: 185)

Maka tidak ada satupun makhluk hidup di alam semesta ini yang akan luput dari ancaman kematian. 
Kematian adalah pemutus kenikmatan dan kesengsaraan duniawi, jembatan menuju pertemuan mengahadap Pencipta. Kehormatan yang kita kejar, harta yang kita usahakan dan keluarga yang kita perjuangkan semuanya akan kita tinggalakan begitu kematian datang menjemput. 
Ia adalah suatu hal yang tidak dapat kita hindari ataupun kita hindari kedatangannya, Allah telah memberikan peringatan keras terkait hal ini dalam firmannya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (Al-A’raf: 34)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Maka rasulullah saw menyabdakan, bahwa ketika manusia meninggal dan hendak dihantarkan menuju peraduan terakhirnya, maka manusia akan terbagi menjadi 2 golongan pada saat itu.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ 
فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي 
وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Sa’id AL Maqbariy dari bapaknya bahwa dia mendengar dari Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika jenazah diletakkan lalu dibawa oleh para laki-laki di atas pundak mereka, maka jika jenazah tersebut termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka dia (jenazah tersebut) berkata; “Bersegeralah kalian (membawa aku). 
Dan jika ia bukan dari orang shalih, maka dia akan berkata; “Celaka, kemana mereka akan membawanya?. Suara jenazah itu akan didengar oleh setiap makhluq kecuali manusia dan seandainya manusia mendengarnya, tentu dia jatuh pingsan”. (HR: Bukhari)

Golongan pertama, diisi oleh orang-orang yang semasa hidupnya ia isi dengan ketaatan kepada Allah. 
Orang yang semasa hidupnya menjadikan dunia sebagai tempat untuk bersinggah dan akhirat sebagai tujuan akhir. 
Sehingga karena ia sadar bahwa dunia ini hanyalah sementara maka ia bekerja untuk dunia sebagaimana mestinya tanpa berlebih-lebihan, kemudian ia menjadkan akhirat sebagai finish dari semua perjalanannya, sehingga ia mengusakan yang terbaik supaya mendapatkan tempat terbaik juga di kehidupan akhirat. 
Maka tatkala maut menjemput dan jenazah akan dihantar menuju peraduan terakhir ia menyambutnya dengan hati yang tenang dan berbahagia. 
Kenapa?, karena ia sadar bahwa kuburannya adalah baabun min riyadhil jannah atau pintu menuju taman -taman surga.

Golongan kedua, adalah golongan yang diisi oleh orang-orang semasa hidupnya dipenuhi dengan melakukan hal-hal yang berbau kemaksiatan. 
Penuh dengan keingkaran akan nikmat Allah, lalai akan perintah dan larangan Allah. 
Maka tatkala kematian menjemput ia akan menghadapinya dengan dipenuhi ketakutan, kemudian ketika jenazahnya akan diangkut menuju tanah perkuburan maka akan menjadi lebih ketakutan sampai-sampai mengutuki keadaanya sendiri. Kenapa? Karena ia sadar bahwa liang kuburnya adalah pintu menuju pedihnya azab neraka. Orang-orang inilah yang allah firmankan dalam qur’an bahwa mereka akan memohon supaya dikembalikan ke duinia, digambarkan dalam surat Al-Mu’min ayat 99 mereka mengatakan

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). (QS. Al-Mu’minun: 99)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Untuk apakah mereka ingin dikembalikan? Apakah untuk menemui keluarga yang dicintai? Atau untuk perbendaharaan yang telah diusahakan? Atau jabatan yang diinginkan?. Tidak, nyatanya mereka ingin dikembalikan ke dunia dijelaskan dalam ayat selanjutnya.

لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ

agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. (QS. Al-Mu’minun: 100)

Mereka ingin dikembalikan hanya karena ingin memiliki kesempatan untuk melaksanakan amal shalih supaya terbebas dari pedihnya siksa akhirat. 
Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, tiada lagi kesempatan untuk mengulang ketika kehidupan sudah diputus oleh kematian.

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ  وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ الله ُمِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

Khutbah ke 2


اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَنَا وَاِيَّكُمْ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ وَاَدَّبَنَا بِالْقُرْاَنِ الْكَرِيْمِ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. َاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ

 فَيَا اَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلاَءِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْضَى عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُوءْمِنِيْنَ وَالْمُوءْمِنَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ ِانَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ ِاذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ِانَّكَ اَنْتَ   الْوَهَّاب. 
رَبِّى اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا. 

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَ خِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبّى اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُون وَالسَّلاَمُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

HUKUM MENGUBUR DUA JENAZAH BEDA KELAMIN SEKALIGUS

Hukum Mengubur Dua Jenazah Satu Liang Lahat

Hukum mengubur dua jenazah dalam satu liang lahat pada prinsipnya terlarang karena tidak sesuai dengan cara penguburan Islam, kecuali dalam kondisi darurat atau alasan yang dibenarkan. Misalnya ketiadaan lahan atau mayit yang sangat banyak dan tidak mungkin diurus satu persatu.

Sebagaimana penjelasan Syekh Muhammad bin Umar Al-Jawi rahimahullah berkata:

وَلَا يجوز جمع اثْنَيْنِ فِي قبر وَاحِد بل يفرد كل وَاحِد بِقَبْر وَقَالَ الْمَاوَرْدِيّ بِالْكَرَاهَةِ عِنْد اتِّحَاد الْجِنْس أَو الْمَحْرَمِيَّة أَو الزَّوْجِيَّة

"Tidak boleh menggabungkan dua mayit dalam satu kubur, tapi hendaknya satu kubur untuk satu orang. 
Al-Mawardi berkata bahwa makruh menyatukan jenis, mahram, dan pasangan suami istri. 
(Nihayatu az Zain, 1/163)

Dalam Hasyiyah Al-Jamal 2/203, Syeikh Sulaiman Al-Jamal rahimahullah menerangkan:

أما دواما بأن يفتح على الميت ويوضع عنده ميت آخر فيحرم، ولو مع اتحاد الجنس أو مع محرمية ونحوها هذا والمعتمد أن جمع اثنين بقبر حرام مطلقا ابتداء ودواما اتحد الجنس أو لا

"Adapun membuka kubur mayit lalu meletakkan mayit lain di situ secara permanen adalah haram. 
Walau sesama jenis, atau mahramnya, dan semisalnya. Inilah pendapat yang mu'tamad (pendapat resmi dalam mazhab Syafi'i), bahwa mengumpulkan dua mayit dalam satu kubur haram secara mutlak, baik dipermulaan saja atau terus menerus baik yg sesama jenis atau tidak."

Larangan ini, baik yang mengatakan haram atau makruh, telah final dan disepakati. 
Imam Ibnu al Haj rahimahullah berkata:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الْمَوْضِعَ الَّذِي يُدْفَنُ فِيهِ الْمُسْلِمُ : وَقْفٌ عَلَيْهِ ، مَا دَامَ شَيْءٌ مِنْهُ مَوْجُودًا فِيهِ ، حَتَّى يَفْنَى ، فَإِنْ فَنِيَ فَيَجُوزُ حِينَئِذٍ دَفْنُ غَيْرِهِ فِيهِ ، فَإِنْ بَقِيَ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ عِظَامِهِ فَالْحُرْمَةُ بَاقِيَةٌ لِجَمِيعِهِ ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُحْفَرَ عَنْهُ ، وَلَا يُدْفَنَ مَعَهُ غَيْرُهُ ، وَلَا يُكْشَفَ عَنْهُ اتفاق

Para ulama sepakat bahwa tempat dikuburkannya seorang muslim adalah tempatnya yang terakhir, selama masih ada bagian dari tubuhnya maka dia masih di situ, sampai dia fana (lenyap), jika mayat itu sudah tidak ada maka saat itu boleh bagi mayat lain di kubur di situ. Seandainya ada sisa tulangnya maka semua itu tetap dihormati, tidak boleh menggalinya dan menguburkan mayat lain bersamanya, dan tidak boleh dibongkar berdasarkan kesepakatan ulama. (Al Madkhal, Hal. 18)

Namun, jika kondisinya darurat, jumlah mayat sangat banyak dan tidak tertangani satu persatu, maka tidak apa-apa mereka dikubur satu lubang. 
Hal ini pernah dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 
Sendiri terhadap mayat para sahabat saat perang Uhud.

Jabir bin Abdillah radhiallahu 'anhu berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، ثُمَّ يَقُولُ: «أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ»، فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menggabungkan dua mayat yang terbunuh saat Uhud dalam satu kain, lalu Beliau bersabda: "Siapa di antara mereka yang lebih banyak hapal al-Qur'an", jika ditunjuk salah satunya maka dia didahulukan yang dimasukkan ke liang lahad. (HR Al-Bukhari No. 1343) Dari Hisyam bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

احْفِرُوا، وَأَوْسِعُوا، وَأَحْسِنُوا، وَادْفِنُوا الاِثْنَيْنِ وَالثَّلاَثَةَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ، وَقَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا "

Galilah lubang, buatlah yang luas, dan berbuat ihsanlah, kuburkanlah dua atau tiga orang di dalam satu kubur, dan dahulukan dalam penguburan yang paling banyak hafal Al-Qur'an." Syekh Abul Hasan Al-Mubarkafuri rahimahullah berkata tentang hadits ini: "Dalam hadits ini menunjukkan bolehnya menggabungkan sekelompok orang dalam satu kubur jika ada kebutuhan, sebagaimana realita dalam hadits ini. 
Tapi jika tidak ada kebutuhan maka itu makruh sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Syafi'i, dan Ahmad." Imam ash-Shan'ani rahimahullah juga mengatakan: "Bolehnya mengumpulkan sekelompok (mayat) dalam satu kubur, itu jk kondisi darurat. (Subulussalam, 1/547) 

Syekh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah mengatakan: (Kecuali darurat) ini terjadi karena banyaknya mayat sementara petugas yang menguburkan sedikit, dalam kondisi seperti ini tidak apa-apa menguburkan dua orang laki-laki atau tiga orang dalam satu kubur. 
Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Nabi terhadap syuhada Uhud ketika Beliau memerintahkan menguburkan dua orang laki-laki dalam satu kubur, dan bersabda: "Lihat, siapa di antara mereka yang paling banyak hafal Al-Qur'an maka dahulukan di liang lahad." Sebagian ulama berpendapat makruhnya menguburkan lebih dari dua orang, makruh tanzih. (Asy Syarh al Mumti’, 5/368) Demikian, maka menguburkan dalam satu kubur untuk sekumpulan mayat adalah dibolehkan apabila memang ada hajat atau kondisi darurat. Wallahu A'lam

Senin, 03 November 2025

KISAH ORANG SHOLEH/ULAMA DENGAN ANJING

Kisah Anjing dan Orang-orang Saleh Atau Ulama.

ANJING merupakan hewan yang sering dijumpai di sekitar kita. Sebagian penduduk bumi memeliharanya. 
Sebagian lagi tidak, terutama orang yang beragama. 
Mungkin mereka menjauhi hewan tersebut, karena merasa jijik dan memandang buruk terhadapnya karena mengandung najis.  

Tetapi ada juga beberapa kaum agamawan yang tetap memeliharanya karena banyak memberikan manfaat dalam kehidupan manusia, seperti untuk penjaga, pelacak dan hiasan rumah. 

Sebagian manusia ada yang membenci anjing, bahkan ada yang menyiksanya dengan melempari batu dan mengikat keempat kakinya kemudian menenggelamkannya di sungai, entah karena iseng, jengkel atau fanatik terhadap agama. 

Padahal, dalam Islam hanya diperintah untuk menjauhi hewan tersebut, dan apabila tersentuh cukup dibilas tujuh kali dengan air dan satu bilasan menggunakan tanah.  
Tidak ada dalil untuk menyiksa anjing karena najisnya apalagi sampai membunuhnya. 
 
Sebaliknya, secara empati dalam pandangan makhluk Allah, anjing tidak pernah menilai buruk teehadap manusia, terutama manusia yang bersalah dan berdosa seperti koruptor, Islam label KTP, mencuri dan pelaku dosa lainya.
 
Meski hewan anjing tetap menjadi polemik bagi manusia khususnya kaum agamawan (Islam), tetapi tidak bisa dipungkiri juga dalam sejarah umat manusia, ada beberapa kisah yang masyhur tentang  anjing yang ikut serta menghiasi hidup orang-orang saleh. 
 
Diceritakan dalam kitab Mauizhat al-Mukminin, halaman 240, suatu ketika Abdullah bin Ja’far melihat seorang budak yang memberikan sepotong roti kepada anjing. 
Setelah habis, roti ia lempar lagi pada si anjing, sampai tiga potong roti habis. 
 
‘‘Kau makan berapa potong sehari?’’ tanya Ibn Ja’far. ‘‘Seperti yang kau lihat tadi," jawab si budak. 
 
‘‘Kenapa kau berikan ke anjing semua?’’ 
 
‘‘Anjing ini datang dari tempat yang jauh dalam keadaan lapar. Aku membenci melihat diriku kenyang, sementara ia kelaparan.’’
 
Juga diceritakan didalam kitab Maulid al-Barzanjiy, kita menemukan bahwa kakek Nabi Muhammad Saw yang ke-5 bernama Kilab yang bermakna Anjing-anjing. 
Nabi sangat bangga menyebut dan mencantumkan nama kakeknya tersebut.
 
Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Banten dalam kitabnya Madarijus Su’ud Ila Ikhtisa al-Burud yang merupakan syarah kitab Maulid al-Barzanjiy, mengutip ahli sejarah,  nama Kilab adalah laqob yang masyhur. 
Julukan tersebut diberikan lantaran beliau sering berburu di hutan dengan membawa anjing buruan.
 
Syekh Muhammad bin Abdul Lathif mengutif perkataan Imam Ibnu Saad, seorang pakar sejarah pengarang kitab Thabaqat yang terdiri dari 15 jilid, menyebutkan bahwa  nama asli dari Kilab adalah al-Muhadzzab yang artinya orang pilihan.
 
Di Indonesia ada juga kisah seorang ulama Sufi bernama Mutamakkin dari Pati Jawa Tengah yang juga sangat fenomenal tentang kisah anjingnya. 
Dalam kitab Serat Cebolek yang disusun Yasadipura I, dalam rangka melatih jiwa dari hawa nafsu, ia menempuh berbagai cara. 
Diantaranya dengan mengurangi makan, minum dan tidur.
 
Puncaknya melakukan puasa 40 hari, dan malam pada hari ke-40 itu, ia meminta istrinya untuk menghidangkan makanan yang lezat di depannya dengan tubuh diikat erat di tiang rumah.
 
Setelah itu ia mengendalikan hawa nafsunya sekuat tenaga. Dan berhasil. Anehnya, saat nafsu dan syahwatnya keluar menjelma dua ekor anjing. Kedua anjing tersebut ingin masuk kembali, namun ia tolak. Yang membuat geger, Mbah Mutamakkin menamai kedua anjingnya tersebut dengan nama Abdul Qohar dan Qomaruddin.
 
Beliau pernah ditentang oleh para kiai di Kajen, karena memberi nama anjing dengan nama manusia dan konon salah satu nama ulama masyhur kala itu. 
Menurut beliau, manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya sama seperti anjing. 
 
Tidak hanya berhenti di situ kisah tentang anjing dan orang saleh. 
Nabi Muhammad Saw pernah bercerita tentang wanita tuna susila dan seekor anjing di zaman Bani Israil yang termaktub di dalam Hadits Bukhori, bahwasanya dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah Saw bersabda, ‘‘Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. 
 
Dia berkata, ‘‘Anjing ini hampir mati kehausan’’. (Melihat itu) si wanita  melepaskan sepatunya, lalu diikatkan dengan kerudungnya, lalu dia mengambil air untuk minum anjing tersebut. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari). 
 
KISAH ULAMA SUFI.

Ada juga yang lebih menarik lagi, yakni kisah sufi moderat, Syekh Abu Yazid Al-Busthomi. Suatu ketika beliau berjalan sendiri di malam hari. 
Lalu beliau melihat seekor anjing berjalan lurus ke arahnya. Ketika anjing itu menghampiri beliau, Abu Yazid mengangkat jubahnya khawatir tersentuh anjing yang katanya najis itu. Anjing itupun berhenti dan memandangnya. 
 
Entah bagaima Abu Yazid mendengar anjing itu berbicara kepadanya. ‘‘Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis kepadamu, kalaupun terkena najis, cukup dibilas tujuh kali dengan air dan tanah, maka najis ditubuhmu akan hilang. Tapi jika engkau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu lebih mulia, lalu menganggapku anjing yang hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walaupun engkau membasuhnya dengan tujuh samudera lautan’’. 
 
Mendengar itu, Abu Yazid tersentak dan meminta maaf kepada anjing tersebut. Sebagai tanda permohonan maafnya, Abu Yazid mengajak anjing untuk bersahabat dan berjalan bersamanya. Namun anjing tersebut menolak. 
 
‘‘Engkau tidak patut berjalan denganku, karena mereka yang memuliakanmu akan mencemooh dan melempariku dengan batu. 
Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku hina, padahal aku berserah diri kepada Sang Pencipta Wujud ini. Lihatlah aku tidak menyimpan dan membawa sebuah tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum.’’ 
 
Anjing memang seekor hewan namun mereka adalah makhluk Allah, jika kita menghina wujudnya, berarti kita juga menghina penciptanya. 
Dan yang boleh menghinanya hanya penciptanya saja. 

Wallahua’lam.

Minggu, 02 November 2025

IBADAH TEU LEPAS TINA DUA URUSAN

Assalaamu alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.


“SAFARI DAKWAH PERTAMA”

Kejemaah pengajian Pendopo Kota Sukabumi.


Tema : Mengatur waktu priotas ketaatan.


Teukenging hilap dzikir gunakn waktu sasaesaena dianggo dzikir nyebat jenengan allah swt, margi saupami didunia iyeu tos teu aya anu dzikir nyebat allah maka tangtu terjadi qiyamat,

Sanggem rosul dina hadits riwayat muslim,


عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "لاَ تَقُومُ السَّاعةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي الأَرْضِ: الله، الله". رواه مسلم.

Katampi tiannas RA, saestuna rosulullah saw, nyarios,

Moal terjadi qiyamat sahingga tos teu aya anu ngucapkn lafad allah allah dimuka bumi.


Rengkak saparipolah kedah pinuh kuibadah,diantawis ibadah nyaeta ngalaksanakeu kataatan, margi menurut imam al-ghojali dina kitab sirojuttholibin syarah minhajul abidin, yen ibadah teu leupas tina dua hal,

Hiji, Al-iqoomatu bitho’atillah (ngalaksanakn kataatan)

Kadua, Al-intihaau min ma’shiyatillah (Ngeureunan ma’shiyat)


Kataatan aya anu bentuk INDIVIDUAL aya oge anu bentuk SOSIAL saupami dibahasakn dina bahasa sanes nyaeta, MAHDHOH (Langsung kaallah) oge GHOIR MAHDHOH (Ketaatan/ibadah anu ngalangkungan hubungan sasama manusa,tapi tetep finisingna kaallah) 

Kukituna kahirupan manusia teu leupas tina dua hubungan,

Hablum minallah (hubungan sareng allah) sareng hablum minanaas (hubungan sasama manusa)

Nalika hiji jalma sae hubungan srg allah tapi sareung manusia awon,nebar kebencian,nganyerikeun hate batur dugika numpuk kasalahan dina dirina maka ibadahna moal aya tapakna jauh tanah kalangit kana ditarima,

Pikeun jalmi anu ibadah/ngalaksanakn kataatan kedah sae hablum minallahna oge hablum minannasna, ingsyaa allah ibadah sampurna oge ditarima.


Kaleubeutkn kataatan ngalaksanakn ibadah haji sareng umroh,malihan kajalmi anu parantos mampuh misti ngalaksanakn nana dauh kangjeng rosul dina kitab bughiyyah mustarsyidiin srg kitab anu sanesna,

من استطاع الى الحج ولم يحج فليمت ان شاء يهوديا او نصرانيا.

Saha jalma anu parantos mampuh ibadah haji oge umroh tapi teu ngalaksanakn ibadah haji/umroh maka maotna kantun milih jadi yahudi atanapi nashroni, naudzubillah.

 

Mumpung aya kesempatan dina sagala rupina enggal siapkn diri oge harta pikeun nohonan parentah haji/umroh,yaqin urang sadayana tiasa berangkat katanah suci pikeun ibadah haji atanapi umroh, 

Emutkn kusadayana asal mula urang sadaya teu daya teu upama oge tegaduh harta banda, tapi kuayana rohman srg rohiimna allah urang sadayana ngagaduhan sagala rupina,alhamdulillah,

Enggalan gunakn samemeh datang kaduhung anu teu aya tungtung hanjakal teu aya hinggana,hanas dunya dikumpul kumpul dibela bela, pekteh anu dibela bela ditinggalkn tiheula jadi rebutan ahli waris dipake kawin jeng mantan.


Bismillah pasti bisa,...

Allah manggil kasadayana jalmi kana ibadah haji sareung umroh ngalangkungan lisan nabi ibrohiim AS, khususna anu mampu, anu teumampu oge tangtos dimampukn kuallah,pikeun ibadah haji oge umroh.


“HARTA ANU DIGUNAKEUN PIKEUN IBADAH HAJI SAREUNG UMROH PASTI KUALLAH DIGANTI,MALIHAN DOSA OGE DIAMPUNI”


Bersambung Bag 2…..


Syukron.

Wassalaam.


Sabtu, 01 November 2025

7 WASIAT ROSULULLAH

7 Tujuh Wasiat Rasulullah
Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh imam-imam ahlul-hadits, di antaranya:
1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/159).
2. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/156, no. 1649), dan lafazh hadits ini miliknya.
3. Imam Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (no. 2041-al-Mawârid).
4. Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatu- Auliyâ` (I/214, no. 521).
5. Imam al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra (X/91).

Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166).


Abu Dzar Al Ghifari...

Antara nasihat beliau :

Terkandung 7 Wasiat penting Nabi pada Abu Dzar Al Ghifari…

Tujuh Wasiat Nabi saw

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ :

Abu Dzar radiallahu ‘anhu berkata: Kekasih ku sallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan aku melakukan tujuh perkara:

✔ Kemiskinan

أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ ، وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ ، ،

(1) Baginda menyuruh aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,

Doa Rasulullah

اللهم احيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكن
قال الترمذي حسن غريب
ضعفه ابن كثير

1. Aku menjenguk ke surga dan aku melihat kebanyakan penghuninya orang-orang fakir (miskin). Lalu aku menjenguk ke neraka dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Orang-orang fakir-miskin akan memasuki surga lima ratus tahun[1] sebelum orang-orang kaya memasukinya. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

3. Kesengsaraan yang paling sengsara ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat. (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab)

4. Balasan amal dari seorang miskin terhadap orang kaya ialah kesetiaan (keikhlasan) dan doa. (HR. Abu Dawud)

5. Kasihanilah tiga golongan orang yaitu orang kaya dalam kaumnya lalu melarat, seorang yang semula mulia (terhormat dalam kaumnya) lalu terhina, dan seorang 'alim yang dipermainkan (diperolok-olok) oleh orang-orang yang dungu dan jahil. (HR. Asysyihaab)

6. Hampir saja kemiskinan (kemiskinan jiwa dan hati) berubah menjadi kekufuran. (HR. Ath-Thabrani)

✔ Melihat Orang Bawah

وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي ، وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

(2) baginda menyuruh aku untuk melihat orang di bawah ku, dan tidak melihat orang di atas ku,

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

l Qurtubhi mengatakan, “Berlomba-lombalah di dunia dalam melakukan amalan shalih.” (At Tadzkiroh Lil Qurtubhi,  hal. 578)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala juga berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Inilah yang dilakukan oleh para salafush sholeh, mereka selalu berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana dapat dilihat dari perkataan mereka berikut ini yang disebutkan oleh Ibnu Rojab –rahimahullah-. Berikut sebagian perkatan mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan,

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

“Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.”
Sebagian salaf mengatakan,

لو أن رجلا سمع بأحد أطوع لله منه كان ينبغي له أن يحزنه ذلك

“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” (Latho-if Ma’arif, hal. 268)

✔ Silaturrahim

وَأَمَرَنِي أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ ،

(3) baginda menyuruh aku menyambung hubungan silaturahim walau mereka telah bersikap buruk kepada ku,

Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

Begitu pula firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [ar-Ra’d/13:25)

✔ Jangan Meminta2

وَأَمَرَنِي أَنْ لاَ أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا ،

(4) baginda menyuruh aku untuk tidak meminta apa-apa daripada orang lain,

Hadis Pertama

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا زَالَ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ.

“Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya”.[1]

Hadits Kedua
Diriwayatkan dari Hubsyi bin Junaadah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ.

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api” [2].

Hadits Ketiga
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َالْـمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِيْ أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ.

“Minta-minta itu merupakan cakaran, yang seseorang mencakar wajahnya dengannya, kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa, atau atas suatu hal atau perkara yang sangat perlu” [3]

Bolehnya kita meminta kepada penguasa, jika kita dalam kefakiran. Penguasa adalah orang yang memegang baitul maal harta kaum Muslimin. Seseorang yang mengalami kesulitan, boleh meminta kepada penguasa karena penguasalah yang bertanggung jawab atas semuanya.

Namun, tidak boleh sering meminta kepada penguasa. Hal ini berdasarkan hadits Hakiim bin Hizaam Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau memberiku. Kemudian aku minta lagi, dan Rasulullah memberiku. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا حَكِيْمُ، إِنَّ هَذَا الْـمَـالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُوْرِكَ لَهُ فِيْه ِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيْهِ ، وَكَانَ كَالَّذِيْ يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ. الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى.

“Wahai Hakiim! Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan berlapang hati, maka akan diberikan berkah padanya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi ia tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta)

✔ Berkata Benar

وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا ،

(5) baginda menyuruh aku untuk berkata yang benar walau ia pahit,

Al-Ahzab Ayat 70

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

70. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar

• Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ

Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong)

✔ Jangan Takut Kpd Pencela

وَأَمَرَنِي أَنْ لاَ أَخَافَ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ،

(6) baginda menyuruh aku untuk untuk tidak takut dicela oleh pencela ketika aku di jalan Allah,

Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang kita untuk takut kepada setan tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ  ١٧٥

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti kamu, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.”(Ali ‘Imran: 175)

 Al-Ma'idah Ayat 54

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.

✔ Mengulangi Sebutan Hauqalah

وَأَمَرَنِي أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ : لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ، فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ.

(7) baginda menyuruh aku untuk membanyakkan menyebut: Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Sesungguhnya kalimat tersebut merupakan harta karun yang ada di bawah arsy.

Dalam sebuah hadis menyebut daripada Abu Zar, beliau berkata: “Aku berjalan di belakang Rasulullah SAW, lalu Baginda berkata kepadaku: “Wahai Abu Zar, mahukah aku tunjukkan kepada kamu satu perbendaharaan daripada beberapa perbendaharaan syurga? Aku berkata: Mahu ya Rasulullah. Baginda bersabda: “La Haula wala Quwwata illa billah.”

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِالْجَنَّةِ أَوْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَإِلَّا بِاللَّهِ

"Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa), ucapkan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Sesungguhnya itu adalah salah satu kekayaan yang tersimpan di surga." Atau beliau mengatakan: "Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta simpanan di surga? Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Daripada Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Wahai Muaz, adakah kamu tahu tafsir (maksud) La haula wala quwwata illa billah? Muaz menjawab: Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah SAW bersabda: La haula (tiada daya) dari menghindari maksiat kepada Allah melainkan dengan kekuatan Allah, wala quwwata (tiada kekuatan) atas mentaati Allah melainkan dengan pertolongan Allah SWT. Kemudian Rasulullah SAW menepuk bahu Muaz dan Baginda bersabda: “Demikianlah yang diberitahu oleh kekasihku Jibril daripada Tuhan.”

[Musnad Ahmad, hadis no:21453 . Shaikh Syu’aib al-Arnouth berkata: Hadis sahih lighairihi. Sanadnya hasan disebabkan perawi bernama Salam Abu al-Munzir]