Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Kamis, 23 Juli 2026

NAHDATUL ULAMA, MUHAMMADIYAH DAN HTI

NAHDLATUL ULAMA, MUHAMMADIYAH, DAN HIZBUT TAHRIR

Oleh: Pasukan Pembebasan

Tulisan ini mungkin sedikit panjang, tetapi sarat akan pelajaran. Penulis ingin berbagi kisah tentang tiga wadah umat Islam yang pernah membentuk dan mewarnai perjalanan hidup penulis, karena penulis sendiri pernah terlibat langsung di dalam ketiganya.

Penulis berasal dari sebuah kampung yang jauh dari perkotaan. Bahkan, semasa kecil, aliran listrik pun belum sampai di desa kami. Penulis masih sangat mengingat memori masa kecil yang indah tanpa teknologi dan media sosial seperti sekarang. Bersama anak-anak sebaya, penulis asyik bermain kejar-kejaran, petak umpet, bentengan, dan permainan tradisional lainnya.

Di masa itulah untuk kali pertamanya penulis mengenal Islam, tepatnya saat masuk sekolah dasar. Di sana, penulis diajari dasar-dasar agama seperti akidah akhlak, fikih, belajar mengaji, hingga tata cara salat.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah pihak yang paling berjasa bagi penulis pada masa itu, karena seluruh guru penulis merupakan kader NU dan sekolah tersebut berada di bawah naungan NU. 

Lulus dari sekolah dasar, penulis melanjutkan pendidikan dan sempat tinggal di pesantren NU. Selain memperdalam keilmuan Islam ala NU yang sangat menjunjung tinggi kemuliaan sanad, di sana penulis juga belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa jauh dari keluarga, keterampilan yang hingga kini sangat bermanfaat dalam membentuk karakter penulis.

Doa terbaik penulis panjatkan untuk guru-guru kami dan NU. Semoga segala amalan yang telah diajarkan kepada umat dibalas oleh Allah dengan sebaik-baiknya balasan, dan semoga setiap amal tersebut menjadi amal jariyah bagi para guru. Penulis tidak punya apa pun untuk membalas kebaikan yang terpancar dari wadah ini.

Lulus dari pesantren dan sekolah menengah, penulis melanjutkan pendidikan ke pesantren berikutnya dengan suasana yang jauh berbeda. Kali ini bukan lagi lingkungan NU, melainkan lebih condong ke Muhammadiyah, meski tidak berada langsung di bawah naungannya. 

Di sana, penulis banyak berkenalan dengan teman-teman baru dari luar kota bahkan luar pulau. Salah satu kisah yang paling unik adalah banyaknya teman penulis yang berasal dari wilayah timur Indonesia, tepatnya Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penulis masih ingat bagaimana mereka dengan bangganya menyebut daerah asal mereka, mulai dari Alor, Flores, Kupang, hingga Lembata. Meskipun gaya hidup kami berbeda, ikatan pertemanan tetap terjalin erat.

Di pesantren ini pula, penulis bertemu dengan seseorang yang nantinya akan menjadi pendamping hidup penulis. Ya, kami berasal dari pesantren yang sama meski dari kota yang berbeda. 

Penulis masih ingat, saat wisuda kelulusan, dia meraih peringkat pertama dan penulis pun berada di peringkat pertama. Kesamaan pencapaian itulah yang juga menumbuhkan rasa saling percaya hingga akhirnya kami melangkah ke jenjang pernikahan pada waktu yang tepat.

Singkat cerita, setelah lulus dari pesantren, penulis berencana melanjutkan kuliah. Penulis sempat mencoba mendaftar beasiswa di kampus NU, tepatnya di UIN Malang, namun belum berkesempatan mendapatkannya.

Akhirnya, penulis memutuskan untuk kuliah di dalam kota. Mengingat banyaknya relasi dari kalangan Muhammadiyah selama di pesantren sebelumnya, penulis pun memilih untuk berkuliah di kampus Muhammadiyah.

Di sinilah babak baru pengenalan penulis terhadap Muhammadiyah dimulai, sebuah kampus yang kelak mengenalkan penulis pada dunia pergerakan dan politik. 

Awalnya, penulis hanyalah mahasiswa pada umumnya: kuliah lalu pulang, kuliah lalu pulang (kupu-kupu orang bilang). Hingga pada pergantian semester, kampus mengadakan pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Entah apa yang ada di pikiran penulis waktu itu, tanpa berpikir panjang penulis langsung mendaftarkan diri.

Singkat cerita, proses pemilihan berlangsung dengan adu gagasan dan kampanye ide, hingga akhirnya penulis terpilih menjadi Presiden BEM di kampus Muhammadiyah tersebut.

Kisah pergerakan pertama penulis dimulai dari sini. Penulis mulai sering mengikuti aksi unjuk rasa, berdiskusi bersama presiden BEM dari kampus lain, hingga berinteraksi langsung dengan aparat keamanan baik kepolisian maupun TNI, hal yang kemudian menjadi makanan sehari-hari.

Kenangan paling membekas adalah saat aksi demonstrasi Omnibus Law. Bersama teman-teman pimpinan BEM lainnya, kami mampu menggerakkan ribuan massa. Target awal penulis sebenarnya hanya sekitar 500 orang, tetapi di luar dugaan, massa yang hadir mencapai ribuan. Kericuhan pun tak terhindarkan; fasilitas publik banyak yang mengalami kerusakan dan pembakaran.

Penulis bahkan sempat terkena gas air mata sebelum akhirnya dipersilakan masuk untuk berdiskusi langsung dengan perwakilan pemerintah setempat yang kami demo. 

Dari pengalaman ini, banyak hal yang penulis pelajari hingga membuat penulis termenung: sampai kapan penulis dan masyarakat harus terus berada dalam siklus seperti ini? Memilih pemimpin, pemimpin gagal, kita berdemonstrasi, memilih lagi, gagal lagi, demonstrasi lagi, begitu seterusnya.

Doa tulus juga penulis panjatkan untuk para guru, dosen, rekan-rekan, serta keluarga besar Muhammadiyah yang telah memberikan ruang belajar dan menempa penulis lewat dinamika kampus serta dunia pergerakan. Semoga setiap ilmu, kesempatan berproses, dan kebaikan yang telah diberikan menjadi amal jariyah serta dibalas dengan keberkahan yang berlimpah oleh Allah SWT.

Akhirnya, penulis memilih untuk rehat dan menepi sejenak dari dunia pergerakan. Penulis meninggalkan teman-teman BEM serta rekan-rekan aktivis yang membersamai perjalanan tersebut, yang kala itu banyak mengucapkan salam perpisahan karena mengetahui keputusan penulis.

Singkat cerita, penulis pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan, kampus baru, dan relasi baru. Sampai akhirnya, penulis kembali bersentuhan dengan Syabab Hizbut Tahrir. Sebenarnya, sejak kecil penulis sudah lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang akrab dengan Hizbut Tahrir.

Pertemuan kali ini terasa jauh berbeda dan sangat berkesan. Penulis mulai memahami apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Syabab Hizbut Tahrir. Sebab, sejujurnya, di masa kecil dulu penulis tidak begitu mengerti apa yang mereka diskusikan atau apa yang sedang diperjuangkan.

Ada satu cerita lucu ketika penulis mendebat orang tua kandung sendiri terkait isu tegaknya kembali khilafah. Dengan polosnya, penulis waktu itu membantah, "Katanya khilafah segera tegak kembali, tapi mana, kok tidak tegak-tegak?" Penulis sering tersenyum geli jika mengenang momen tersebut.

Secara garis besar, penulis benar-benar memahami dinamika politik berkat Hizbut Tahrir, karena memang bidang tersebut adalah spesialisasi mereka. 

Penulis mulai mengerti makna ideologi, memahami konsep demokrasi, sekularisme, kapitalisme, komunisme, serta sistem pemikiran lainnya, sehingga mampu melihat secara jernih mengapa sebuah negara bisa mengalami kerusakan.

Hal yang paling membekas adalah bagaimana penulis semakin memahami Islam sebagai sebuah akidah yang memancarkan aturan hidup. Penulis menjadi tahu dari mana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia, dan akan ke mana setelah kehidupan ini berakhir, termasuk memahami konsekuensi dari setiap perbuatan.

Semakin didalami, semakin penulis jatuh cinta pada Islam. Hingga pada titik di mana penulis merasa tidak bisa berhenti membicarakannya. Di mana pun, dengan siapa pun, dan kapan pun, penulis ingin dunia tahu tentang keindahan Islam. 

Bagi penulis, Islam adalah wujud cinta sang Pencipta kepada hamba-hamba-Nya, dan penulis ingin orang lain pun merasakan cinta yang sama.

Begitulah kurang lebih kisah perjalanan penulis bersama partai politik Islam ini. Setelah bertahun-tahun belajar dan mendalami politik Islam -yang kini menjadi disiplin ilmu yang dikuasai- penulis akhirnya memutuskan untuk bergabung sebagai anggota resmi Hizbut Tahrir.

Syukur alhamdulillah, penulis banyak memetik hikmah dari ketiga wadah tersebut.

Sangatlah jelas dan mendalam bahwa Nahdlatul Ulama perannya begitu besar dalam menjaga Islam dengan pesantrennya sebagai pemilik kemuliaan sanad keilmuan.

Muhammadiyah juga turut mencerdaskan umat melalui sekolah dan kampus-kampusnya sebagai pemilik pembaharuan. Sementara itu, Hizbut Tahrir hadir dan berfokus pada politik Islam.

Jadi, ketiganya memiliki porsi dan fokus yang saling melengkapi: NU sebagai pemilik kemuliaan sanad keilmuan, Muhammadiyah sebagai pemilik pembaharuan, dan Hizbut Tahrir pemilik kebangkitan politik Islam.

Perjuangan Hizbut Tahrir berfokus pada penyiapan payung sistem pemerintahan (negara), di mana nantinya peran NU dan Muhammadiyah akan jauh lebih ringan dan optimal karena diemban secara resmi oleh negara. 

Sangat mungkin pula kelak NU dan Muhammadiyah bersatu dan melebur ke dalam naungan sistem pemerintahan Islam tersebut, mengingat prestasi dan kontribusi besar mereka bagi kemajuan peradaban umat sebelum adanya negara.

Demikianlah kisah perjalanan penulis bersama ketiga wadah tersebut. Doa penulis, semoga guru-guru kami di ketiga wadah itu senantiasa mendapatkan berkah dari Allah, dilindungi, dan disiapkan istana termegah di surga. 

Doa khusus juga untuk NU, Muhammadiyah, dan Hizbut Tahrir; siapa pun kalian yang berada di dalamnya, semoga menjadi amal jariyah yang tak terhingga, serta menjadi wadah persatuan dan kebangkitan umat Islam.

Akhir kata, terima kasih Nahdlatul Ulama, terima kasih Muhammadiyah, dan terima kasih Hizbut Tahrir.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar