Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Selasa, 02 Juni 2026

Hukum Memandikan Jenazah oleh Orang yang Berhadats

Hukum Memandikan Jenazah oleh Orang yang Berhadats

1. Deskripsi Masalah
Dalam pelaksanaan pengurusan jenazah di tengah masyarakat, khususnya pada tahap memandikan jenazah, sering muncul kondisi di mana orang yang memandikan jenazah berada dalam keadaan hadats, baik hadats kecil seperti belum berwudhu, maupun hadats besar seperti junub dan haid. Keadaan ini kerap terjadi karena keterbatasan orang yang mampu atau berani memandikan jenazah, atau termasuk keluarga dari jenazah sehingga tidak memungkinkan untuk memilih orang lain.

Di sisi lain, sebagian masyarakat beranggapan bahwa orang yang berhadats tidak boleh memandikan jenazah, karena memandikan jenazah dianggap sebagai ibadah yang menuntut kesucian sebagaimana shalat. Akibatnya, timbul keraguan dan perbedaan sikap di masyarakat: ada yang tidak mau memandikan jenazah sebelum bersuci terlebih dahulu, dan ada pula yang tetap melakukannya karena menganggap tidak ada larangan yang jelas. Permasalahan ini menjadi penting untuk dikaji karena menyangkut sah atau tidaknya salah satu kewajiban fardu kifayah terhadap jenazah.

2. Pertanyaan
Bagaimana hukum orang yang memiliki hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar, memandikan jenazah? (Sail Ranting Tanjungsari)

3. Jawaban
Hukumnya mubah (boleh saja) karena bukan syarat sah memandikan jenazah.

تحفة المحتاج ج ٣ ص ١٨٤
( ويغسل الجنب والحائض ) ومثلهما النفساء ( الميت  بلا كراهة ) لأنهما طاهران وفيه تضعيف لما قاله المحاملي من حرمة حضورهما عند المحتضر ووجه بمنعهما لملائكة الرحمة لما في الخبر الصحيح{ أن الملائكة لا تدخل بيتا فيه جنب } إذ لو نظر لذلك لحرم تغسيلهما له أيضا ولا قائل به وتوهم فرق بين المحتضر والميت لا يجدي لاحتياج كل إلى حضور ملائكة الرحمة

حاشية الشرواني
( قول المتن بلا كراهة ) أي ولو مع وجود غيرهما ع ش قال البصري لكن يظهر أنه خلاف الأولى للحديث الآتي ا هـ

الموسوعة الفقهية جـ٣٩صـ٤١٣
ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذاغسلت

Tidak ada komentar:

Posting Komentar