Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Selasa, 23 Juni 2026

KISAH SEBELUM HIJRAH

Sebelum hijrah ke Medina (dulu bernama Yatsrib), kaum muslimin di Mecca mengalami berbagai bentuk tekanan dan penderitaan dari kaum Quraisy. Beberapa di antaranya:

1. Penganiayaan fisik

Banyak muslim disiksa karena mempertahankan keimanan mereka.

Bilal ibn Rabah disiksa dengan ditindih batu besar di padang pasir yang panas.

Yasir ibn Amir dan keluarganya mengalami penyiksaan berat. Istrinya, Sumayyah bint Khayyat, menjadi syahidah pertama dalam Islam.

2. Tekanan sosial dan ekonomi

Kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan kaum muslimin.

Mereka dilarang berdagang, menikah, dan berinteraksi dengan masyarakat Quraisy selama beberapa tahun, sehingga mengalami kesulitan hidup.

3. Cemoohan dan penghinaan

Nabi Muhammad dan para pengikutnya diejek, dituduh penyair, tukang sihir, atau orang gila.

Dakwah Islam sering dihalangi dan ditentang.

4. Ancaman terhadap keselamatan jiwa

Beberapa muslim terpaksa hijrah lebih dahulu ke Ethiopia (Habasyah) untuk mencari perlindungan dari penganiayaan.

Kaum Quraisy bahkan merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad ﷺ.

5. Kehilangan perlindungan

Setelah wafatnya Abu Talib dan Khadijah bint Khuwaylid, tekanan terhadap Nabi semakin berat. Tahun itu dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan).

Karena tekanan yang terus meningkat dan adanya dukungan dari penduduk Yatsrib, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ dan kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Peristiwa hijrah ini kemudian menjadi awal penanggalan kalender Hijriah.

Jika yang dimaksud adalah tempat tujuan hijrah kaum muslimin pada masa awal Islam, ada dua tempat utama:

1. Habasyah (Abyssinia/Ethiopia)

Sebagian kaum muslimin hijrah ke Ethiopia untuk menghindari penyiksaan kaum Quraisy.

Hijrah ini terjadi dalam dua gelombang sebelum hijrah ke Madinah.

Mereka mendapat perlindungan dari Raja Najasyi.

2. Madinah (Yatsrib)

Nabi Muhammad dan sebagian besar kaum muslimin hijrah ke Medina pada tahun 622 M.

Hijrah inilah yang menjadi awal kalender Hijriah.

Jadi, secara umum terdapat dua tujuan hijrah utama sebelum Islam berkembang kuat: Habasyah dan Madinah. Namun jika yang dimaksud adalah hijrah yang menjadi awal kalender Hijriah, maka yang dimaksud khusus adalah hijrah dari Mecca ke Medina.

Ya, Rasulullah ﷺ pernah pergi ke Taif, tetapi peristiwa itu bukan hijrah, melainkan perjalanan dakwah.

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 620 M, setelah wafatnya Abu Talib dan Khadijah bint Khuwaylid. Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif untuk mengajak penduduknya memeluk Islam dan berharap mendapatkan perlindungan bagi dakwah.

Namun, penduduk Thaif menolak dakwah beliau. Bahkan sebagian pemuka mereka menghasut anak-anak dan orang-orang untuk mengejek dan melempari beliau dengan batu hingga beliau terluka. Setelah itu Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah.

Jadi urutannya:

Ke Thaif → perjalanan dakwah, bukan hijrah.

Ke Habasyah → sebagian sahabat berhijrah untuk mencari perlindungan.

Ke Madinah → hijrah besar Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin yang menjadi awal kalender Hijriah.

Karena itu, ketika pelajaran sejarah Islam menyebut "hijrah Rasulullah", yang dimaksud biasanya adalah hijrah dari Mecca ke Medina, bukan perjalanan ke Thaif.

Rasulullah ﷺ berhijrah dari Mecca ke Medina pada tahun 622 M (1 Hijriah).

Secara singkat kronologinya:

Kaum Quraisy berencana membunuh Nabi Muhammad ﷺ.

Atas perintah Allah, beliau keluar dari Makkah bersama Abu Bakr.

Mereka sempat bersembunyi di Ghar Thawr selama tiga hari.

Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Madinah.

Rasulullah ﷺ tiba di daerah Quba Mosque terlebih dahulu, kemudian masuk ke Madinah.

Peristiwa hijrah ini sangat penting sehingga pada masa Khalifah Umar ibn al-Khattab dijadikan sebagai awal penanggalan kalender Hijriah. Tanggal yang sering dikaitkan dengan awal tahun Hijriah adalah 1 Muharram 1 H, meskipun keberangkatan hijrah Rasulullah ﷺ sendiri terjadi pada bulan Safar dan kedatangan beliau di Madinah terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 1 H.

Ya, menurut pendapat yang paling banyak diajarkan dalam sejarah Islam, peristiwa Isra dan Mi'raj terjadi sekitar satu tahun sebelum hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah, yaitu sekitar tahun 621 M.

Isra dan Mi'raj adalah dua peristiwa yang terjadi dalam satu malam:

1. Isra: perjalanan Rasulullah ﷺ dari Mecca ke Al-Aqsa Mosque.

2. Mi'raj: perjalanan naik ke langit hingga menerima perintah salat lima waktu.

Peristiwa ini terjadi setelah masa yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ, termasuk wafatnya Khadijah bint Khuwaylid dan Abu Talib, serta penolakan dakwah di Taif.

Namun, perlu diketahui bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai tanggal dan tahun pastinya. Yang paling penting adalah bahwa Isra dan Mi'raj terjadi sebelum hijrah ke Madinah dan menjadi salah satu peristiwa besar yang menguatkan Rasulullah ﷺ sebelum fase baru dakwah di Madinah.

Ya, banyak buku Sirah Nabi menyebut bahwa Isra dan Mi'raj terjadi pada sekitar tahun ke-10 atau ke-11 setelah kenabian, yaitu setelah 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan) dan sebelum hijrah ke Madinah.

Urutan peristiwanya secara sederhana:

1. Tahun 1 kenabian: Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama.

2. Sekitar tahun ke-10 kenabian:

Wafatnya Khadijah bint Khuwaylid.

Wafatnya Abu Talib.

Perjalanan dakwah ke Taif.

3. Sekitar tahun ke-10 atau ke-11 kenabian:

Peristiwa Isra dan Mi'raj.

4. Tahun ke-13 kenabian (622 M):

Hijrah Rasulullah ﷺ ke Medina.

Jadi, jika yang Anda maksud adalah "sepuluh tahun sesudah kenabian", maka memang banyak riwayat menempatkan Isra dan Mi'raj sekitar tahun ke-10 kenabian, meskipun ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tahun pastinya. Yang disepakati adalah bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum hijrah ke Madinah.

Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun.

Jika hijrah ke Medina terjadi pada tahun ke-13 setelah kenabian, maka usia beliau saat hijrah adalah sekitar 53 tahun.

Urutannya:

Lahir: sekitar tahun 570 M.
Diangkat menjadi nabi: usia 40 tahun.
Hijrah ke Madinah: usia 53 tahun (tahun 622 M).
Wafat: usia 63 tahun.

Jadi, Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah pada usia sekitar 53 tahun.

Tujuan hijrah Rasulullah ﷺ dari Mecca ke Medina bukan untuk mencari kekayaan atau menghindari kesulitan semata, melainkan untuk menjalankan perintah Allah dan menyelamatkan dakwah Islam.

Beberapa tujuan hijrah adalah:

1. Menyelamatkan akidah kaum muslimin

Di Makkah, kaum muslimin mengalami tekanan dan penyiksaan dari kaum Quraisy.

Hijrah memberi mereka tempat yang lebih aman untuk beribadah.

2. Menjalankan perintah Allah

Hijrah dilakukan atas petunjuk dan perintah Allah kepada Rasulullah ﷺ.

3. Mengembangkan dakwah Islam

Penduduk Madinah telah menerima Islam dan siap membantu perjuangan Rasulullah ﷺ.

Di Madinah, dakwah dapat dilakukan dengan lebih leluasa.

4. Membangun masyarakat Islam

Setelah hijrah, Rasulullah ﷺ membangun Quba Mosque dan kemudian Al-Masjid an-Nabawi.

Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar serta membentuk tatanan masyarakat yang adil.

5. Mendirikan pusat pemerintahan Islam

Madinah menjadi pusat kehidupan umat Islam, tempat hukum Islam diterapkan dan masyarakat diatur secara terorganisasi.

Singkatnya, tujuan hijrah Rasulullah ﷺ adalah menyelamatkan umat Islam, menjalankan perintah Allah, dan membangun masyarakat Islam yang kuat di Madinah agar dakwah dapat berkembang dengan baik.

Sebelum Rasulullah ﷺ hijrah, Yatsrib (yang kemudian dikenal sebagai Medina) memiliki kondisi yang berbeda dengan Makkah.

1. Terjadi perselisihan antarsuku

Dua suku Arab terbesar di Yatsrib, yaitu Aws dan Khazraj, sering berperang dan bermusuhan selama bertahun-tahun. Salah satu perang terbesar adalah Perang Bu'ats yang menyebabkan banyak korban.

2. Ada komunitas Yahudi

Di Yatsrib juga tinggal beberapa kabilah Yahudi, seperti Banu Qaynuqa, Banu Nadir, dan Banu Qurayza. Mereka memiliki pengaruh dalam bidang perdagangan, pertanian, dan kehidupan sosial.

3. Masyarakat menginginkan perdamaian

Karena sering terjadi konflik, banyak penduduk Yatsrib menginginkan seorang pemimpin yang dapat mendamaikan berbagai kelompok dan menyatukan masyarakat.

4. Sebagian penduduk telah menerima Islam

Beberapa penduduk Yatsrib bertemu Rasulullah ﷺ di Makkah saat musim haji. Mereka menerima Islam dan kemudian mengajak penduduk lainnya masuk Islam. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat Aqabah.

5. Kota yang subur

Berbeda dengan Makkah yang gersang, Yatsrib memiliki banyak kebun kurma dan sumber air sehingga menjadi daerah pertanian yang cukup makmur.

Jadi, sebelum hijrah Rasulullah ﷺ, Yatsrib sedang mengalami konflik antarsuku, tetapi masyarakatnya menginginkan perdamaian dan sebagian sudah menerima Islam. Karena itu mereka mengundang Rasulullah ﷺ untuk datang dan menjadi pemimpin serta pendamai bagi mereka.

Baiat Aqabah terjadi sebelum hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah dan terbagi menjadi dua:

1. Baiat Aqabah Pertama (Aqabah Ula)

Terjadi pada tahun ke-12 kenabian (sekitar 621 M).

Diikuti oleh 12 orang dari Yatsrib, sebagian besar dari suku Khazraj.

Mereka berbaiat untuk beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, dan menaati Rasulullah ﷺ dalam kebaikan.

2. Baiat Aqabah Kedua (Aqabah Tsaniyah)

Terjadi pada tahun ke-13 kenabian (sekitar 622 M), setahun setelah baiat pertama.

Diikuti oleh 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib.

Mereka tidak hanya menyatakan keimanan, tetapi juga berjanji untuk melindungi Rasulullah ﷺ sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka sendiri.

Baiat inilah yang menjadi dasar persiapan hijrah kaum muslimin ke Medina.

Urutan Peristiwa

1. Tahun ke-10 kenabian: perjalanan ke Taif.

2. Sekitar tahun ke-10/11: Isra dan Mi'raj.

3. Tahun ke-12: Baiat Aqabah Pertama.

4. Tahun ke-13: Baiat Aqabah Kedua.

5. Tahun ke-13 kenabian (622 M): Hijrah Rasulullah ﷺ ke Medina.

Jadi, Baiat Aqabah Pertama terjadi pada tahun ke-12 kenabian dan Baiat Aqabah Kedua pada tahun ke-13 kenabian, tepat sebelum hijrah ke Madinah.

Tujuan Baiat Aqabah adalah untuk menjalin komitmen antara Rasulullah ﷺ dan penduduk Yatsrib serta mempersiapkan perkembangan Islam di sana.

Baiat Aqabah Pertama

Tujuannya:

Menyatakan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Berjanji meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa seperti syirik, mencuri, dan berzina.

Menjadi dasar penyebaran Islam di Yatsrib.

Setelah baiat ini, Rasulullah ﷺ mengutus Mus'ab ibn Umayr ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.

Baiat Aqabah Kedua

Tujuannya:

Menegaskan kesiapan penduduk Yatsrib untuk menerima Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin.

Berjanji melindungi Rasulullah ﷺ dari ancaman musuh.

Menjadi landasan bagi hijrah kaum muslimin ke Medina.

Mempersiapkan terbentuknya masyarakat Islam yang kuat di Madinah.

Jadi, Baiat Aqabah Pertama berfokus pada ikrar keimanan dan ketaatan kepada Islam, sedangkan Baiat Aqabah Kedua menambahkan komitmen untuk melindungi Rasulullah ﷺ dan mendukung hijrah ke Madinah. Baiat kedua inilah yang membuka jalan bagi hijrah dan berdirinya masyarakat Islam di Madinah.

Setelah hijrah ke Medina, kaum muslimin terbagi menjadi dua kelompok utama:

1. Muhajirin

Muhajirin adalah para sahabat yang berhijrah dari Mecca ke Madinah bersama atau mengikuti Rasulullah ﷺ.

Contohnya:

Abu Bakr

Umar ibn al-Khattab

Uthman ibn Affan

Ali ibn Abi Talib


Mereka meninggalkan rumah, harta, dan keluarga demi mempertahankan agama.

2. Anshar

Anshar adalah penduduk Madinah yang menerima Islam dan menolong Rasulullah ﷺ serta kaum Muhajirin.

Mereka berasal dari suku:

Aws

Khazraj


Mereka membantu Muhajirin dengan tempat tinggal, pekerjaan, dan perlindungan.

Status dan Kedudukan Mereka

Kedua kelompok ini memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Allah memuji mereka dalam Al-Qur'an karena:

Muhajirin berkorban meninggalkan kampung halaman demi agama.

Anshar dengan ikhlas menolong dan berbagi dengan saudara-saudara mereka.

Rasulullah ﷺ juga mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar agar mereka menjadi satu umat yang kuat dan saling membantu.

Jadi:

Muhajirin = kaum muslimin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Anshar = penduduk Madinah yang menolong dan mendukung kaum Muhajirin serta Rasulullah ﷺ. Mereka semua adalah sahabat Nabi yang memiliki kedudukan tinggi dalam sejarah Islam.

Tidak. Pada saat Baiat Aqabah Pertama dan Kedua, istilah Muhajirin dan Anshar belum digunakan seperti setelah hijrah.

Peserta Baiat Aqabah adalah penduduk Yatsrib yang datang menemui Rasulullah ﷺ di dekat Aqabah saat musim haji. Mereka kelak dikenal sebagai Anshar setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah.

Para sahabat dari Makkah yang kemudian disebut Muhajirin pada umumnya bukan peserta baiat karena baiat tersebut merupakan perjanjian antara Rasulullah ﷺ dan orang-orang Yatsrib.

Namun, beberapa sahabat dari Makkah hadir bersama Rasulullah ﷺ dalam pertemuan itu. Misalnya pada Baiat Aqabah Kedua, Abbas ibn Abd al-Muttalib (saat itu belum masuk Islam menurut riwayat yang masyhur) ikut mendampingi dan berbicara kepada rombongan Yatsrib. Akan tetapi, yang berbaiat adalah orang-orang Yatsrib.

Jadi:

Calon Anshar (penduduk Yatsrib) → ikut berbaiat.

Muhajirin (kaum muslimin Makkah) → umumnya tidak ikut berbaiat karena mereka bukan pihak yang membuat perjanjian tersebut.

Istilah Anshar dan Muhajirin baru benar-benar digunakan setelah peristiwa hijrah ke Madinah.

Benar. Baiat Aqabah terjadi sebelum hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah.

Urutannya secara sederhana:

1. Rasulullah ﷺ berdakwah di Makkah.

2. Beberapa penduduk Yatsrib masuk Islam.

3. Baiat Aqabah Pertama (tahun ke-12 kenabian).

4. Mus'ab ibn Umayr diutus ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.

5. Islam berkembang pesat di Yatsrib.

6. Baiat Aqabah Kedua (tahun ke-13 kenabian).

7. Kaum muslimin mulai berhijrah ke Medina.

8. Rasulullah ﷺ berhijrah ke Madinah pada tahun 622 M.

Jadi, Baiat Aqabah merupakan salah satu sebab dan persiapan penting sebelum hijrah. Melalui baiat tersebut, penduduk Yatsrib berjanji menerima, membantu, dan melindungi Rasulullah ﷺ serta kaum muslimin. Setelah ada jaminan keamanan dan dukungan dari mereka, barulah hijrah ke Madinah dilakukan.

Belum. Pada saat Baiat Aqabah Kedua, Rasulullah ﷺ masih berada di Makkah dan belum hijrah ke Madinah.

Urutannya adalah:

1. Baiat Aqabah Pertama (tahun ke-12 kenabian).

2. Mus'ab ibn Umayr diutus ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.

3. Baiat Aqabah Kedua (tahun ke-13 kenabian), dihadiri sekitar 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Yatsrib.

4. Setelah baiat kedua, Rasulullah ﷺ mengizinkan kaum muslimin Makkah untuk mulai berhijrah ke Medina secara bertahap.

5. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah ﷺ sendiri berhijrah bersama Abu Bakr.

Jadi, Baiat Aqabah Kedua justru terjadi sebagai persiapan menjelang hijrah, bukan setelah hijrah. Dalam baiat itu, penduduk Yatsrib berjanji untuk menerima dan melindungi Rasulullah ﷺ jika beliau datang ke kota mereka. Setelah ada janji perlindungan itulah, proses hijrah dimulai.

Sejarah penanggalan Hijriah bermula beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, yaitu pada masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab.

Sebelum Ada Kalender Hijriah

Pada masa Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr, orang Arab sudah mengenal nama-nama bulan:

Muharram

Safar

Rabiul Awal

Rabiul Akhir

Jumadil Ula

Jumadil Akhirah

Rajab

Syaban

Ramadan

Syawal

Zulkaidah

Zulhijah


Namun, mereka belum memiliki penomoran tahun yang baku. Suatu tahun biasanya disebut berdasarkan peristiwa penting, misalnya Tahun Gajah (tahun kelahiran Nabi ﷺ).

Munculnya Kebutuhan Kalender

Pada masa Khalifah Umar, wilayah Islam semakin luas dan surat-surat resmi banyak dikirim ke berbagai daerah.

Diceritakan bahwa seorang pejabat di Basra, yaitu Abu Musa al-Ash'ari, mengeluhkan bahwa surat dari Khalifah Umar sering mencantumkan bulan tetapi tidak mencantumkan tahun, sehingga menimbulkan kebingungan.

Karena itu, Umar mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan awal penanggalan Islam.

Usulan Awal Kalender

Dalam musyawarah muncul beberapa usulan:

1. Menghitung dari tahun kelahiran Nabi ﷺ.

2. Menghitung dari tahun diangkatnya Nabi ﷺ menjadi rasul.

3. Menghitung dari tahun wafatnya Nabi ﷺ.

4. Menghitung dari peristiwa hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah.

Akhirnya para sahabat memilih peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan karena hijrah merupakan titik pemisah yang jelas antara masa dakwah yang tertindas di Makkah dan terbentuknya masyarakat Islam di Madinah.

Mengapa Tahun 1 Dimulai dari Hijrah?

Peristiwa hijrah terjadi pada tahun 622 M.

Para sahabat menetapkan bahwa tahun terjadinya hijrah menjadi tahun 1 Hijriah (1 H).

Karena itu:

Tahun hijrah = 1 H
Tahun berikutnya = 2 H
dan seterusnya.

Mengapa Bulan Muharram Dijadikan Awal Tahun?

Meskipun Rasulullah ﷺ tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal, para sahabat menetapkan Muharram sebagai bulan pertama kalender Hijriah karena:

Muharram memang sudah dikenal sebagai bulan pertama dalam tradisi Arab.

Setelah musim haji di bulan Zulhijah, masyarakat biasanya memulai aktivitas dan perjalanan baru.

Tekad untuk hijrah mulai menguat setelah Baiat Aqabah Kedua yang terjadi menjelang Muharram.

Jadi:

Awal era kalender = peristiwa hijrah.
Awal bulan dalam kalender = Muharram.

Ciri Kalender Hijriah

Kalender Hijriah menggunakan peredaran bulan (kalender lunar):

Satu bulan = 29 atau 30 hari.
Satu tahun = sekitar 354 atau 355 hari.

Karena lebih pendek sekitar 10–11 hari dibanding kalender Masehi, bulan-bulan Hijriah terus bergeser terhadap musim.

Kesimpulan

Kalender Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar ibn al-Khattab sekitar tahun 17 H. Para sahabat bermusyawarah dan sepakat menjadikan hijrah Rasulullah ﷺ dari Mecca ke Medina sebagai awal perhitungan tahun Islam, sedangkan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama. Karena itulah kalender Islam disebut kalender Hijriah.

Benar. Kalender Hijriah tidak langsung dibuat pada saat peristiwa hijrah terjadi.

Peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ terjadi pada tahun 622 M (1 H), tetapi sistem penanggalan Hijriah baru ditetapkan sekitar 17 tahun kemudian, pada masa Khalifah Umar ibn al-Khattab.

Jadi ada perbedaan antara:

Peristiwa Hijrah → terjadi tahun 622 M.

Penetapan kalender Hijriah → dilakukan pada masa Umar sekitar tahun 17 H.

Ketika Umar dan para sahabat bermusyawarah untuk menentukan awal penanggalan Islam, mereka tidak memilih tahun kelahiran Nabi ﷺ, awal kenabian, atau wafat beliau. Mereka memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal perhitungan tahun karena hijrah menandai berdirinya masyarakat Islam dan negara Islam di Madinah.

Akibatnya, saat kalender itu ditetapkan, tahun-tahun yang sudah berlalu dihitung mundur dan diberi nomor:

Tahun hijrah = 1 H
Tahun berikutnya = 2 H
dan seterusnya hingga tahun berjalan saat itu.

Jadi, yang terjadi saat hijrah adalah peristiwanya, sedangkan penamaan dan penyusunan kalender Hijriah sebagai sistem resmi baru dilakukan kemudian pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a..

Ya. Setelah masa kekhalifahan Abu Bakr berakhir karena beliau wafat pada tahun 13 H, kepemimpinan dilanjutkan oleh Umar ibn al-Khattab.

Urutannya:

1. Rasulullah ﷺ wafat pada tahun 11 H.

2. Abu Bakar menjadi khalifah pertama (11–13 H).

3. Abu Bakar wafat pada tahun 13 H.

4. Umar bin Khattab menjadi khalifah kedua (13–23 H).

5. Pada masa Umar, sekitar tahun 17 H, kalender Hijriah ditetapkan sebagai kalender resmi pemerintahan Islam.

Jadi, benar bahwa penetapan kalender Hijriah terjadi setelah masa Abu Bakar, yaitu beberapa tahun setelah Umar menjadi khalifah. Saat itu wilayah Islam sudah luas dan administrasi pemerintahan memerlukan sistem penanggalan yang jelas dan seragam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar