Berulang kali pertanyaan ini dilontarkan seolah-olah menjadi senjata pemungkas untuk meruntuhkan amaliah Tahlilan.
"Kalau Tahlilan itu benar, saat Nabi Muhammad ﷺ wafat, siapa yang membacakan Tahlil?"
Sekilas terdengar kritis.
Sekilas terdengar cerdas.
Tetapi jika diteliti lebih dalam, pertanyaan ini justru menunjukkan kekeliruan berpikir yang sangat mendasar.
Wahai saudara-saudaraku...
Cobalah gunakan logika yang jernih.
Saat Rasulullah ﷺ wafat, syariat Islam telah sempurna.
Agama telah paripurna.
Dan yang lebih penting lagi, Tahlil dan doa untuk mayit dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar seorang hamba mendapatkan rahmat, ampunan, dan kelapangan di alam kuburnya.
Lalu bagaimana dengan Rasulullah ﷺ?
Beliau adalah manusia pilihan Allah.
Beliau adalah Nabi yang ma'shum.
Beliau adalah kekasih Allah yang dijamin keselamatannya.
Beliau adalah penghulu para nabi dan pemimpin seluruh manusia pada hari kiamat.
Maka menyamakan keadaan Rasulullah ﷺ dengan manusia biasa yang membutuhkan doa dari sesamanya adalah analogi yang tidak tepat.
Kemudian muncul pertanyaan berikutnya:
"Kalau begitu, kenapa saat Sayidah Khadijah wafat, Nabi tidak mengadakan Tahlilan?"
Baik.
Mari kita lihat persoalan ini dengan jujur.
Saya bertanya balik:
Jika ditemukan riwayat bahwa Rasulullah ﷺ bertahlil, berzikir, dan berdoa bersama para sahabat untuk seorang muslim yang telah wafat, apakah kalian siap menerimanya?
Ataukah akan dicari lagi seribu alasan untuk menolaknya?
Karena faktanya, terdapat riwayat yang sering luput dari perhatian.
Simak riwayat Al-Hannad dalam Az-Zuhd ketika Rasulullah ﷺ berada pada pemakaman Sa'ad bin Mu'adz:
فَجَعَلَ يُكَبِّرُ وَيُهَلِّلُ وَيُسَبِّحُ... قَالَ: إِنَّهُ ضُمَّ فِي الْقُبُورِ ضَمَّةً حَتَّى صَارَ مِثْلَ الشَّعْرَةِ، فَدَعَوْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُرَفِّهَ عَنْهُ
"Maka Nabi bertakbir, bertahlil, dan bertasbih. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya kubur ini telah menyempit hingga seperti sehelai rambut, lalu aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melapangkannya."
Perhatikan baik-baik.
Ada takbir.
Ada tahlil.
Ada tasbih.
Ada doa untuk mayit.
Dan semuanya dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.
Belum selesai.
Masih ada riwayat lain yang lebih tegas.
Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ... سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلًا، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا... قَالَ: لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ
"Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Rasulullah ﷺ membaca tasbih, lalu kami pun membaca tasbih dalam waktu yang lama. Kemudian beliau bertakbir, lalu kami ikut bertakbir. Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda: Sungguh kubur hamba saleh ini telah menyempit, hingga Allah melapangkannya."
Perhatikan kembali.
Rasulullah ﷺ memimpin zikir.
Para sahabat mengikuti.
Zikir dilakukan bersama.
Doa dipanjatkan untuk seorang yang telah wafat.
Inilah fakta yang terdapat dalam riwayat-riwayat yang sering kali tidak dibahas secara utuh.
Yang lebih menarik lagi...
Sebagian ulama ahli hadis juga memberikan penilaian positif terhadap sanad riwayat tersebut.
Syaikh Syu'aib Al-Arnauth menulis:
إِسْنَادُهُ حَسَنٌ مِنْ أَجْلِ ابْنِ إِسْحَاقَ... وَوَثَّقَهُ أَبُو زُرْعَةَ... وَذَكَرَهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي الثِّقَاتِ
"Sanadnya hasan, dan para perawinya dinilai terpercaya."
Maka persoalan ini tidak sesederhana slogan.
Tidak sesederhana ejekan.
Dan tidak sesederhana potongan ceramah yang beredar di media sosial.
Karena itu...
Jika ingin berdiskusi, berdiskusilah dengan ilmu.
Jika ingin mengkritik, kritiklah dengan adab.
Dan jika ingin mencari kebenaran, datangilah dalil dengan hati yang jujur.
Jangan sampai fanatisme kepada tokoh atau kelompok membuat seseorang menutup mata terhadap fakta yang ada.
Maka sebelum bertanya:
"Siapa yang Tahlilan saat Nabi wafat?"
Tanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri:
"Sudahkah aku mempelajari seluruh dalil dan penjelasan ulama mengenai masalah ini?"
Sebab kebenaran tidak lahir dari teriakan.
Kebenaran tidak lahir dari cemoohan.
Kebenaran lahir dari ilmu, kejujuran, dan keberanian menerima fakta ketika fakta itu telah berdiri terang di hadapan kita.
#KritikTajam #LogikaAgama #CintaRasul #BongkarNarasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar