(خاتمة) فِي فتاوى الشيخ أبي عمرو بن الصلاح أنَّ اجتماع الدُّفِّ بالشَّبَّابَة حَرامٌ عند أئمَّة المذاهب، ولم يَثبُت عند أحدٍ ممَّن يُعتَدُّ بقوله فِي الإجماع، والخلاف أنَّه أباحَ هذا السَّماع، والخلاف المنقول عن بعض أصحاب الشَّافِعِيِّ إنما نُقِلَ في الشَّبَّابَة منفردةً والدُّفِّ منفردًا، وربما اعتَقَد مَن لا تحصيل له ولا تأمُّل عنده خلافًا فِي هذا السَّماع، وهذا وهمٌ من الصائر إليه،
(Penutup) Di dalam kitab fatwa Syekh Abu Amr bin al-Shalah disebutkan bahwa perpaduan antara duff (rebana) dan syabbabah (seruling) adalah haram menurut para imam mazhab. Tidak ada satu pun ulama yang pendapatnya diakui dalam kesepakatan ulama (ijma) maupun perbedaan pendapat (khilaf) yang membolehkan aktivitas mendengarkan musik (sama') seperti ini. Perbedaan pendapat yang dinukil dari sebagian ulama mazhab Syafii hanyalah mengenai penggunaan syabbabah secara terpisah atau duff secara terpisah. Terkadang, orang yang kurang ilmu dan kurang pemahaman mengira ada perbedaan pendapat dalam mendengarkan perpaduan keduanya. Hal ini merupakan kekeliruan dari orang yang berpendapat demikian.
ثم قال: وهذا السماع حَرامٌ بإجماع أهل الحلِّ والعقد من المسلمين، وكأنَّه يُعرِّض بعَصْرِيِّه الإمام الشيخ عزِّ الدين بن عبدالسلام؛ لما وقع بينهما فِي عدَّة مسائل الحقُّ فِي أكثرها مع ابن عبدالسلام كما [بيَّنتُ] (٣) كثيرًا منها فِي محالِّه؛
Kemudian beliau berkata: "Mendengarkan perpaduan ini adalah haram berdasarkan konsensus (ijma) Ahlul Halli wal 'Aqd (para ulama dan pemimpin) dari kalangan umat Islam." Tampaknya, dalam hal ini beliau sedang menyindir ulama kontemporer sezamannya, yaitu Imam Syekh Izzuddin bin Abdissalam. Hal ini karena sempat terjadi perselisihan di antara keduanya dalam beberapa masalah, yang mana kebenaran dalam mayoritas masalah tersebut berada di pihak Ibnu Abdissalam, sebagaimana telah [aku jelaskan] banyak di antaranya pada tempatnya masing-masing.
كتخالُفِهما فِي إحياء ليلة الرغائب وليلة النِّصف من شعبان بالصلاة المشهورة، قال ابن عبدالسلام: إنهما بِدعتان مَذمومتان وحديثهما موضوعٌ، وهو كما قال، كما بيَّنته فِي كتابي "الإيضاح والبيان لما جاء فِي ليلة الرغائب وليلة النصف من شعبان"،
Contoh perselisihan mereka adalah tentang menghidupkan malam Raghaib (jumat pertama bulan Rajab) dan malam pertengahan (Nisfu) Sya'ban dengan salat yang masyhur (salat khusus). Ibnu Abdissalam berkata: "Kedua salat itu adalah bidah yang tercela dan hadisnya palsu (maudhu)." Apa yang dikatakannya adalah benar, sebagaimana telah aku jelaskan dalam kitabku yang berjudul "Al-Idhah wal Bayan lima ja'a fi Lailat al-Raghaib wa Lailat al-Nishf min Sya'ban" (Penjelasan dan Keterangan tentang Riwayat Malam Raghaib dan Malam Nisfu Sya'ban).
وممَّن وافق ابن عبدالسلام فِي حكاية خِلاف العلماء فِي الجمع بين الدُّفِّ والشَّبَّابَة ابن المُنَيِّر المالكي: واعتَرَض بعض المتأخِّرين على ابن الصلاح من حيث الحكمُ الذي ذكَرَه بأنَّه لا يلزم من حُرمة الشَّبَّابَة وحدَها أنها إذا انضمَّت إلى الدُّفِّ تُصيِّره محرمًا،
Di antara ulama yang sejalan dengan Ibnu Abdissalam dalam menceritakan adanya perbedaan pendapat ulama mengenai perpaduan antara duff dan syabbabah adalah Ibnu al-Munayyir al-Maliki. Namun, sebagian ulama belakangan (muta'akhirin) menyanggah Ibnu al-Shalah terkait hukum yang beliau sebutkan. Mereka beralih argumen bahwa keharaman syabbabah ketika dimainkan sendiri tidak serta-merta membuatnya tetap haram saat dipadukan dengan duff.
وانتصر الأذرعي لابن الصلاح فقال: وفي الإنكار على ابن الصلاح بالنسبة إلى مذهبنا نظرٌ؛ إذ لا يلزم من ثُبوت الخلاف فِي حالة الانفِراد ثبوتُه فِي حالة الاجتماع إلاَّ أنْ يثبت أنَّ مَن أباح الدُّفَّ بانفِراده من أصحاب الوجوه يقول بإباحة الشَّبَّابَة بإنفِرادها، وهَيْهات! على أنَّ ذلك ليس بلازمٍ؛ إذ قد يجوزُ ذلك على الانفِراد ويمتنع [في حال. ت. أ] (١) الاجتماع؛ لشدَّة الإطراب المتولِّد من الهيئة الاجتماعيَّة،
Lalu, Al-Adzra'i membela Ibnu al-Shalah dan berkata: "Sanggahan terhadap Ibnu al-Shalah jika dikaitkan dengan mazhab kita (Syafii) perlu ditinjau kembali. Sebab, adanya perbedaan pendapat dalam kondisi terpisah tidak otomatis menunjukkan adanya perbedaan pendapat dalam kondisi berpadu. Kecuali, jika ada bukti bahwa ulama mazhab yang membolehkan duff secara terpisah juga membolehkan syabbabah secara terpisah, dan itu sangat jauh panggang dari api! Lagi pula, hal itu tidak mutlak sama. Terkadang sesuatu boleh dilakukan secara terpisah, namun dilarang saat digabungkan; karena kuatnya efek melalaikan (ithrab) yang timbul dari kombinasi keduanya."
ومَن سَبَر أحوالَ الصحابة والتابعين وتابعيهم عَلِم يقينًا أنَّ أحدًا لم يجمع بينهما [ز١/ ٢٠/ب] ولا صحَّ عنه قولاً ولا فعلاً، ا. هـ، والله تعالى أعلم.
Siapa saja yang meneliti sejarah kehidupan para sahabat, tabiin, dan pengikut mereka (tabi'ut tabiin), pasti akan tahu dengan yakin bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang memadukan keduanya, dan tidak ada riwayat yang sah dari mereka, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Selesai kutipan. Wallahu ta'ala a'lam (Dan Allah Yang Maha Mengetahui).
كف الرعاع عن محرمات اللهو والسماع لابن حجر الهيتمي ص: 84-85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar