Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Rabu, 15 April 2020

KITAB SHAUM

*(كتب الصوم)*

كل عمل ابن ادم له الاالصوم فإنه لى وانا اجزى به
Artinya : setiap ibadah manusia baginya kecuali puasa, maka ia bagiKu dan Aku yang membalasnya
Puasa secara bahasa (امساك) menahan diri dari perbuatan dan berbicara, adapun puasa secara syara’ adalah
(امساك عن المفطرعلى وجه مخصوصة) :
menahan diri dari yang membatalkan menurut cara tertentu. adapun dalil yang menentukan wajibnya puasa adalah Firman Allah QS. Al Baqarah :183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
Juga dalam hadist di sebutkan bahwa salah satu dasar Rukun Islam adalah puasa.

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج البيت وصوم رمضان

Islam itu di bangun atas lima (dasar) syahadah, sholat, zakat,haji dan puasa Ramadhan (bukhari).
Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan sya’ban tahun ke dua Hijriyah .
Rukun rukun puasa ada tiga (3)
1. Niat
berniat dengan hati pada malam hari ( dimulai waktu magrib hingga terbit fajar/shubuh) dan di sunnahkan melafadzkan niat denga lisan.
Dan wajib di ulangi setiap malam malam puasa, adapun dalil yang mewajibkan berniat setiap malamnya adalah hadist

من لم يبيت الصيام قبل الفجرفلا صيام له ( رواه ابو داود , ابن ماجه و احمد)

Artinya : barang siapa yangtidak berniat semenjak waktu malam sebelum terbit fajar maka tidaklah puasa baginya .
Dan jika sudah berniat puasa, maka tidak membatalkan puasa dengan hal hal yang membatalkan puasa, karena yang dinamakan Puasa adalah menahan diri dari hal hal yang membatalkan puasa sejak waktu fajar. Maka dapat difahami bahwa wajib berniat puasa pada malam harinya di khususkan kepada puasa wajib (ramadhan, nadzar, kafarah) tidak berlaku kepada puasa sunnah, sebagaimana di jelaskan dalam hadist

هل عندكم من غذاء قالت لا قال فأني اذا اصوم

Nabi bertanya kepada Siti Aisyah : apakah ada padamu untuk di makan? Jawabnya tidak ada, Rasulullah bersabda jika demikian aku berpuasa.
Maka niat puasa sunnah boleh dilakukan setelah fajar dengan syarat segala syarat syarat puasa telah tercapai ( tidak melakukan hal yang membatalkan puasa)
Dalam puasa fardhu maka wajib dita’yin dalam niatnya, (sehaja aku puasa ramdhan esok hari)

(نويت صوم غد اداء فرض رمضا ن هذه السنة لله تعالى) sempurnanya. (نويت صوم غد عن رمضان

Jika seseorang berniat ; sahaja aku puasa sebulan ramadhan seluruhnya “ maka sahlah puasa untuk hari pertamanya jua, ( hanya sehari) adapun jika seseorang makan sahur ( makan dan minum pada malam puasa)
Maka hal ini sudah mencukupi sebagai penganti niat puasa dengan pengathuannya akan masuknya bulan ramadhan. Karena telah mendatakan qhasad ( kesengajaan).
2. Menahan diri dari hal hal yang membatalkan puasa.
a. bersenggama ( bersetubuh) baik mengeluarkan sperma atau tidak, dan jika dilakukan pada siang hari ramadhan maka wajib baginya membayar kafarah puasa, sebagaimana dijelaskan ulama dalam kitab Tuhfatul muhtaj

وَهِيَ) أَيْ: الْكَفَّارَةُ (عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا) كَمَا فِي الْخَبَرِ السَّابِقِ وَسَيَأْتِي بَيَانُ هَذِهِ الثَّلَاثَةِ وَشُرُوطُهَا وَصِفَاتُهَا فِي بَابِ الْكَفَّارَةِ (فَلَوْ عَجَزَ عَنْ الْجَمِيعِ اسْتَقَرَّتْ) مُرَتَّبَةً (فِي ذِمَّتِهِ فِي الْأَظْهَرِ)

kifarat ini termasuk kifarat tartib (harus berurutan) diantara ketiganya. dan ketika tidak (belum) mampu, maka TETAP baginya menanggung hutang kifarat terrsebut, karena masalah ini termasuk HUQUUQULLOH /hak-hak Alloh. (tuhfatul muhtaj 3/452).
(memerdekan budak, puasa dua bulan secara berurutan dan Memberi makan kepada orang miskin atau faqir sbnyak 60 orang ( wajib secara tertib)
b. mengeluarkan sperma ( mani ) dengan sengaja, maka sebab mimpi tidak membatalkan puasa.
c. Sengaja muntah kecuali tidak dapat menahannya ( yang karena sakit)

من ذرعة القيء فليس قضاء ومن استقاء فليقض ( متفق عليه و ابو داود و ابن ماجه من ابى هريرة)

Barang siapa yng terpeksa muntah tidaklh qhada atasnya dan barang siapa yang sengaja muntah maka hendaklah diqhadanya.
d. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga ( semua lubang yang terbuka : hidung, mulut, telinga, vagina, puting susu (wanita)dubur ) maka membatalkan puasa ,adapun memasukkan jarum ke tubuh ( suntik ) tidak membatalkan puasa jika tidak sampai kepada rongga di dalam tubuh.

ﻭَﻟَﻮْ ﺍَﻭْﺻَﻞَ ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﺀَ ﺍِﻟَﻰ ﺩَﺍﺧِﻞِ ﺍﻟَّﻠﺨْﻢِ ﺍَﻭْ ﻟِﺠَﺮَﺍﺣَﺔٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﺳَّﺎﻕ ﻏَﺮَﺯَ ﻓِﻴْﻪِ ﺳِﻜَّﻴْﻨًﺎ ﻭَﺻَﻠَﺖْ ﻣُﺤَّﻪُ ﻟَﻢْ ﻳُﻔْﻄِﺮْ ﻷَِﻧَّﻪُ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺠَﻮْﻑٍ

Orang yang berpuasa dan disuntik, puasanya tidak batal, sebab obat yang dimasukan melalui injeksi itu adalah ke dalam daging dan tidak ke dalam rongga badan. [ Al Mahali, dari Kitab Al Qalyubi juz 2 halaman 56 ]

ﻭَﻟَﻮْ ﻃَﻌَﻦَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﺍَﻭْ ﻃَﻌَﻨَﻪُ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ﺑِﺎِﺫْ ﻧﻪِ ﻓَﻮَﺻَﻞَ ﺍﻟﺴِّﻜِﻴْﻦُ ﺟَﻮْﻓَﻪُ ﺃَﻓْﻄَﺮَ.

-Dan andaikata seorang menikam dirinya sendiri atau orang lain menikam dirinya dengan idzinnya,kemudian pisaunya sampai pada rongga, maka hal itu membatalkan puasanya. [ Qalyubi juz 2 halaman 56  ].

e. Dan juga membatalkan puasa jika masuk air kedalam rongga ( telingga ) mandi di kolam/sungai dengan cara menyelam, karena menyelam adalah unsur kesengajaan.
Tidak membatalkan puasa jika mencium bau2an dan mencicipi makan sekedar tanpa di yakinkan masuk ke dalam tenggorokan hanya di hukumi makruh.

ومحل الكراهة ان لم تكن له حاجة اما الطباح رجلا كان او امراءة ومن له صغير يعلله فلا يكره في حقهما ذلك قاله الزيادي

"Dimakruhkan mencicipi makanan (bagi orang yang puasa...) tersebut bila memang bagi orang yang tidak ada kepentingan sedangkan bagi seorang pemasak makanan baik laki-laki atau perempuan atau orang yang memiliki anak kecil yang mengunyahkan makanan buatnya maka tidak dimakruhkan mencicipi makanan buat mereka seperti apa yang di fatwakan Imam Az-Ziyaadi". (Assyarqowy I/445)
1.Tidak membatalkan puasa kemasukan debu jalanan atau debu tepung saat mengayaknya, kecuali di sengaja membuka mulutnya, adapun merokok maka membatalkan puasa, karena asap rokok mengandung ‘ain ( nikotin yang dapat membatalkan puasa) maka sangat keliru jika di qhaiaskan kepada asap kendaraan ( yang bukan perbuatannya sendiri) dan sap tembakau yang dikumpulkan karena di hisap dianggap benda menurut adat sebagaimana yang di jelaskan oleh syekh Taifi dan di perkuat oleh syekh Ahmad Nakhli dan syekh Ali shufi.
2.Maka di fahami perbuatan2 yang membatalkan puasa jika hal tersebut di lakukan dengan sengaja, adapu jika tidak ada unsur kesengajaan maka tidak membatalkan puasa, sebagaimana Sabda Rasulullah :

من نسي وهو صائم فاكل او شرب فليتم صومه فانما اطعمه الله وسقاه ولاقضاءعليه ولاكفارة (رواه البخارى)

Artinya : barang siapa yang lupa dikala ia berpuasa maka makan atau minum, hendaklah dieruskan puasanya , maka hanya Allah telah menganugrahkan kepadanya makanan dan minuman dan tidak ada qhada dan kafarah baginya.
Sisa makanan yang tertinggal disela sela gigi, di basahi oleh air ludah lalu tertelan tanpa di sadarinya maka tidak membatalkan puasa selama ia tidak bisa memisahkan antara sisa makanan dan air liur , dan jika disengajanya dengan mampu memisahkannya ( sisa makanan dan air ludah (liur) maka membatalkan puasa karena di anggap lalai.
Berbekam ( mengeluarkan darah ) maka tidak membatalkan puasa, hanya terlebih afdhal tidak melakukannya di saat berpuasa.
Orang yang berpuasa (صائم)
Maka disyaratkan kepada orang yang berpuasa tiga (3) perkara
1.Bahwa yang berpuasa beragama islam, maka jika ia murtada di siang hari puasa, maka batallah puasanya, karena tidak lagi terhitung beragama islam.
2.Tetap dalam keadaan berakal sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari, jika gila ia sesaat ( sedetik) maka batallah puasanya, berbeda dengan orang yang pingsan atau mabuk di karenakan sakit, maka tidak membatalkan puasa sekalipun sadarnya hanya sesaat di siang hari, dan jika pingsan atau mabuk sejak terbit fajar hingga waktu magrib, maka tidak sah puasanya, dikarenakan mabuk dan pingsan megeluarkannya dari tuntutan melakukan kewajiban puasa berbeda dengan orang tidur, maka sah puasanya dikarenakan masih di tuntut melakukan sholat, bandingannya orang tidur di wajibkan mengqhada sholat, adapun mabuk dan pingsan tidak wajib mengqhada sholat , sebagaimana yang di jelakn dalam kitab sabilal juz 2 hal 142.
3.Suci dari haid dan nifas sejak terbit fajar hingga waktu magrib.
Maka tidak sah puasa wanita haid dan nifas bahkan haram berpuasa, dan wajib mengqhadanya dan tidak diwajibkan menghada sholat,

حديث عائشة : " كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم " . أخرجه البخاري ( الفتح 1 / 421 - ط السلفية ) ومسلم ( 1 / 265 - ط الحلبي ) واللفظ لمسلم .

Dan wajib baginya mengqadha puasanya tidak sholatnya berdasarkan perkataan ‘Aisyah ra “Kami dulu mengalami haidh. Kami diperintarkan untuk mengqodho puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqodho’ shalat.” (HR. Bukhari- alFath I/421 dan Muslim I/265).
Dan terjadi kesepakan ulama dalam masalah tersebut. (Mugni alMuhtaaj I/109)

قَالَتْ : كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ ، وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ فَالأَْمْرُ بِالْقَضَاءِ فَرْعُ وُجُوبِ الأَْدَاءِ .وَالإِْجْمَاعُ مُنْعَقِدٌ عَلَى مَنْعِهِمَا مِنَ الصَّوْمِ ، وَعَلَى وُجُوبِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِمَا

Maka diqhadakan puasa di hari yang tidak diharamkan berpuasa, ( 2 hari raya, hari tasriq, hari syak yaitu hari akhir sya’ban kecuali orang yang terbiasa berpuasa)

من صام يوم السك فقد عصى ابا القاسم (رواه الترمذ)

Barang siapa yang berpuasa pada hari syak (ragu) maka sesungguhnya ia telah berbuat durhaka kepada abul qasim (Rasulullah SAW)
Adapun hadist

(اذا انتصف شعبان فلا تصوم رواه ابو داود و ابن ماحة و الترمذ)

apabila telah sampai pertengan bulan sya;ban maka janganlah kamu berpuasa “
kecuali bagi yang sudah terbiasa puasa sepanjang tahun atau puasa sunnah lainnya.
Menggabung niat beberapa puasa sunnah seperti puasa Arofah dan puasa senin/kamis adalah boleh dan dinyatakan mendapatkan pahala keduanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Kurdi. Bahkan menurut Imam Al-Barizi puasa sunnah seperti hari ‘Asyuro, jika diniati puasa lain seperti qadha ramadhan tanpa meniatkan pauasa Asyura’ tetap mendapatkan pahala keduanya
Adapun puasa 6 hari bulan syawal jika digabung dengan qadha ramadhan, maka menurut imam Romli mendapatkan pahala keduanya
بغية المسترشدين ص 113-114
(مسألة: ك): ظاهر حديث: «وأتبعه ستاً من شوّال» وغيره من الأحاديث عدم حصول الست إذا نواها مع قضاء رمضان، لكن صرح ابن حجر بحصول أصل الثواب لإكماله إذا نواها كغيرها من عرفة وعاشوراء، بل رجح (م ر) حصول أصل ثواب سائر التطوعات مع الفرض وإن لم ينوها، ما لم يصرفه عنها صارف، كأن قضى رمضان في شوّال، وقصد قضاء الست من ذي القعدة، ويسنّ صوم الست وإن أفطر رمضان اهـ. قلت: واعتمد أبو مخرمة تبعاً للسمهودي عدم حصول واحد منهما إذا نواهما معاً، كما لو نوى الظهر وسنتها، بل رجح أبو مخرمة عدم صحة صوم الست لمن عليه قضاء رمضان مطلقاً.
الفوائد الجنية ج1 ص 153
قوله : (كل ما المقصود منه الفعل) أي لا حصوله مستقبلا بنية. قوله : (وهي نحو ستة عشر سنة) منها غسل الجمعة هو سنة إذا نوى مع غسل الجنابة, ومنها سلام الخروج من الصلاة إذ نوى به السلام على الحاضرين, ومنها عمرة التطوع إذا نويت مقرونة بحج الفرض, ومنها الصوم عن عرفة إذا نوى معه صوم قضاء أو نذر أو كفارة

Demi ingin berpuasa sebulan penuh seorang muslimah mngkonsumsi obat anti haidh maka hal ini di perbolehkan sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama syafi’iyah asalkan tidak menimbulkan bahaya pada dirinya..
Berikut uraiannya, sekaligus pendapat-pendapat kalangan madzhab selain syafiiyyah tentang wanita yang minum obat pencegah datangnya haid..

وفي فتاوي القماط ما حاصله جواز استعمال الدواء لمنع الحيض

Dalam Fatawy alQimaath di simpulkan diperbolehkannya menggunakan obat untuk mencegah datangnya haid. [ Ghooyah at-Talkhiiish al-Murood 247 ].
Dan di dukung pendapat ulama ulama di luar madzhab syafi’i

المالكية قالوا : الحيض دم خرج بنفسه من قبل امرأة في السن التي تحمل فيه عادة …….أما أن تصوم الحيض بسبب دواء في غير موعده فإن الظاهر عندهم أنه لا يسمى حيضا ولا تنقضي به عدتها وهذا بخلاف ما إذا استعملت دواء ينقطع به الحيض في غير وقته المعتاد فإنه يعتبر طهرا ويتنقضي به العدة على أنه لا يجوز للمرأة أن تمنع حيضها أو تستعجل إنزاله إذا كان ذلك يضر صحتها لأن المحافظة على الصحة واجبة

Kalangan Malikiyyah berpendapat : Haid adalah darah yang yang keluar dari alat kelamin wanita pada usia yang ia bisa hamil menurut kebiasaan umum,Bial wanita menjalani puasa akibat obat yang mencegah haid hadir dalam masanya, menurut pendapat yang zhahir masa-masa tidak dikatakan haid dan tidak menghabiskan masa iddahnya, berbeda saat ia menjalani haid dan meminum obat untuk menghentikan haidnya diselain waktu kebiasaannya, maka ia dinyatakan suci namun iddahnya dapat terputus karena sesungguhnya tidak boleh bagi seorang wanita mencegah atau mempercepat keluarnya darah haid bila membahayakan kesehatannya karena menjaga kesehatan wajib hukumnya. (alFiqh ‘alaa Madzaahib al-Arba’ah I/103).
SYARAT WAJIB PUASA BULAN RAMDHAN.
1.Berakal (tidak gila, mabuk, pingsan)
2.Baligh (had taklif )
3.Islam ( maka tidak sah orang kafir/murtad) jika orang murtad kembali masuk islam, maka wajib baginya mengqhada puasa yang tertinggal saat masa murtadnya, adapun orang kafir asli, tidak wajib mengqhada puasa jika masuk ke dalam islam. Sebagaimana firman Allah
(قل للذين كفروا ان ينتهوا يغفرلهم ماقد سلف)
4.Mampu melakukannya menurut ukuran fisik (tidak sakit/tua) dan ukuran syara’( haid/nifas)
KEADAAN YANG MEMPERBOLEHKAN BERBUKA PUASA

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ (البقرة 184)

1. Orang sakit yang yang akan membinasakannya. Maka wajib baginya berbuka puasa karena ditakutkan bahaya pada dirinya, begitu juga orang yang sangat lapar dan haus, yang akan membawa kemudharaan kepada tubuhnya ( binasa)
Kalangan Syafiiyah berpendapat bila pengakhiran qadha puasa tersebut sebab adanya udzur yang ISTIMROOR (terus menerus) baginya cukup mengqadha puasa tanpa menyertakan membayar fidyah.

ومن أخر قضاء رمضان مع إمكانه حتى دخل رمضان آخر لزمه مع القضاء لكل يوم مد لأن ستة من الصحابة رضي الله عنهم قالوا بذلك ولا مخالف لهم ويأثم بهذا التأخير قال في المجموع ويلزمه المد بدخول رمضان أما من لم يمكنه القضاء لاستمرار عذره حتى دخل رمضان فلا فدية عليه بهذا التأخير

Barang siapa yang mengakhirkan qadha puasa ramadhan padahal berkesempatan mengqadhanya hingga memasuki ramadhan yang lain (ramadhan berikutnya) wajib baginya disetip hari yang pernah ia tinggalkan satu MUD (6,25 gram) karena enam shahabat nabi menyatakan masalah ini dan tidak ada perbedaan diantara mereka, dan ia berdosa sebab mengakhirkannya.Imam Nawawy berkata dalam kitab ‘alMajmuu’ : Dan wajib baginya satu Mud sebab mengakhirkannya hingga masuk ramadhan berikutnya, sedang bagi yang tidak berkesempatan mengqadhainya karena udzurnya yang terus berlangsung hingga memasuki ramadhan berikutnya maka tidak berkewajiban membayar fidyah (sehari satu mud) sebab pengakhiran qadhanya. (Al-Iqnaa’ Li as-Syarbiiny I/243).
2. Orang yang bekerja berat ( memanen padi) yang ditakutkan busuk padinya, syekh Romli didalam kitab “ Nihayah” bahwa Imam Azra’i telah memfatwakan wajib bagi orang yang menuai pada berniat puasa di bulan ramadhan pada setiap malamnya dan kalau ia berkerja pada siang harinya dan sangat letih maka ia boleh berbuka ( sabilal juz 2 hal 144).

مسألة) : لا يجوز الفطر لنحو الحصاد وجذاذ النخل والحراث إلا إن اجتمعت فيه الشروط. وحاصلها كما يعلم من كلامهم ستة : أن لا يمكن تأخير العمل إلى شوّال ، وأن يتعذر العمل ليلاً ، أو لم يغنه ذلك فيؤدي إلى تلفه أو نقصه نقصاً لا يتغابن به ، وأن يشق عليه الصوم مشقة لا تحتمل عادة بأن تبيح التيمم أو الجلوس في الفرض خلافاً لابن حجر ، وأن ينوي ليلاً ويصحب صائماً فلا يفطر إلا عند وجود العذر ، وأن ينوي الترخص بالفطر ليمتاز الفطر المباح عن غيره ، كمريض أراد الفطر للمرض فلا بد أن ينوي بفطره الرخصة أيضاً ، وأن لا يقصد ذلك العمل وتكليف نفسه لمحض الترخص بالفطر وإلا امتنع ، كمسافر قصد بسفره مجرد الرخصة ، فحيث وجدت هذه الشروط أبيح الفطر ، سواء كان لنفسه أو لغيره وإن لم يتعين ووجد غيره ، وإن فقد شرط أثم إثماً عظيماً ووجب نهيه وتعزيره لما ورد أن : "من أفطر يوماً من رمضان بغير عذر لم يغنه عنه صوم الدهر".
Bagi pekerja berat (seperti pengetam, kuli bangunan, tukang becak, nelayan, pembajak tanah dll.) tidak diperbolehkan berbuka puasa (mokel-java-pen) kecuali bila memenuhi 6 persyaratan :
1.Pekerjaannya tidak bisa diundur hingga bulan syawal
2.Ada halangan untuk dikerjakan dimalam hari
3.Terjadi masyaqqat (kesulitan) menurut kebiasaan manusia bila menjalani puasa hingga dalam batasan masyaqqat yang memperkenankan baginya tayammum atau menjalani shalat dengan duduk
4.Dimalam hari tetap niat, dipagi hari tetap puasa baru setelah benar-benar tidak kuat boleh berbuka
5.Saat berbuka diniati mencari keringanan hukuman
6.Tidak boleh menyalahgunakan keringanan dalam arti pekerjaannya dijadikan tujuan atau membebani diri diluar batas kemampuan agar dapat keringanan berbuka puasa
Bila syarat-syarat diatas tidak terpenuhi maka berdosa baginya berbuka puasa meskipun diganti dihari-hari selain ramadhan berdasarkan hadits “Barangsiapa berbuka puasa tanpa adanya udzur tidak mencukupi baginya meskipun diganti dengan puasa sepanjang tahun”. (Buhyah alMustarsyidiin Hal. 234).
Musafir ( perjalanan yang bukan maksiat) jarak yang diperbolehkan shalat qhasar (jauh dan mubah) dengan jarak tempuh dua marhalah atau sekira kira (83/93 KM) hanya saja dalam pembahasan ini adalah yang di perbolehkan tidak berpuasa jika di awali dari waktu fajar dari tempat keberangkatanya, dan jika dia berpuasa di negrinya dan berbuka di negri perjalanannya, maka hal ini tidak di perbolehkan, karena sebagian puasanya berada pada tempat ia berada. Adapun puasa dalam perjalanan lebih afdhal kecuali dikhawatirkan membawa mudharat, maka berbuka lebih afdhal.
Orang jompo ( yang berumur lanjut/ sangat tua) maka tidak wajib berpuasa baginya dan diganti fidyah Ukuran untuk seharinya fidyahnya 1 mud ( 6ons lebih 25 gram ) dan di bayar setiap harinya. Referensi :

والشيخ ) وهو من جاوز الأربعين والعجوز والمريض الذي لا يرجى برؤه ( إن عجز ) كان يلحقه به مشقة شديدة بأن يفطر ويطعم ( كل منهم إن كان حرا ( عن كل يوم مدا ) ( عن الصوم ) لقوله تعالى { وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين

“Kakek-kakek (orang yang telah melewati usia 40 tahun), nenek-nenek dan orang sakit yang tidak diharapkan lagi akan kesembuhannya bila tidak mampu menjalani puasa (seperti mendapatkan masyaqqat/kesulitan yang sangat bila berpuasa) boleh baginya tidak berpuasa dan wajib baginya (bila ia merdeka) mengeluarkan satu Mud setiap harinya berdasarkan firman Allah ta’aalaa “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) : memberi makan seorang miskin. (QS. 2:184)”. (Iqnaa’ Li as-Syarbiiny I/242).
Sunnat bagi orang yang berbuka puasa karena udzur sunnat menyegerakan mengqhadakan puasa puasa yang tertinggal, dan lebih afdhal dilakukan dengan sunat bulan syawal. Agar ia cepat terlepas dari hutangnya, adapun bagi yang berbuka puasa tanpa udzur, wajib menyegerakan qhada puasa, agar keluar dari perbuatan maksiat dengan segera.
SUNAT SUNAT PUASA
Banyak sekali sunnah sunnah dalam melaksanakan puasa, diantaranya
1. Makan sahur, lebih afdhal mengakhirkan makan sahur, agar agar tubuh kita kuat dalam melaksanakan ibadah dan agar membedakan puasa orang islam dengan orang yahudi dan nasrani, dan kesunahan ini selagi sampai waktu yang diragukan terbit fajar, , waktu makan sahur apabila sudah masuk tengah malam dan di peroleh sunat sahur dengan makan/minum banyak atau sedikit.
Bersahurlah kamu karena di dalam sahur itu ada barakah ( muttafaqun ‘alaihi)
( تسحروافإن فى السحور بركه)
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر واخرواالسحور ( رواه احمد )

Arti : senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur
2. Menyegerakan berbuka, dan terafdhal berbuka dengan kurma basah/kering, hikmahnya adalah buah tersebut belum tersentuh oleh api dan dapat mengurangi kekaburan mata yang disebabkan berpuasa, dan juga kurma dapat mengeluarkan kotoran di dalam perut dengan sempurna.

لا تزال امتي بخير ما عجلواالافطار ( رواه احمد )
Artinya : Ummatku selamanya dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka
Haram bagi umat islam, berpuasa washal ( terus menerus, menggabungkan puasa beberapa hari tanpa sahur dan berbuka) berbeda halnya dengan Nabi Muhammad SAW. Maka tidak haram, karena Nabi mempunyai kekuatan yang tidak di miliki oleh umatnya
3. Membaca do’a setelah berbuka

اللهم لك صمت وعلى رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الرحمين

Artinya : Ya tuhanku, bagi-Mu aku berpuasa dan dengan Rizqi-Mu aku berbukas
Dan di sunnahkan membaca do’a

اللهم ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الاجر , ان شاء الله تعلى

Artinya : Ya tuhanku hilangkanlah dahaga, basahlah seluruh urat tubuh, dan tercapailah pahala, insyallah
4. Sunnah memberikan makanan dan minuman kepada orang yang berpuasa, dan sunnah makan bersama sama orang yang berpuasa, walau hanya sebutir kurma dan seteguk air, lebih sempurna jika sampai mengenyangkannya.

مَن اَفطر صائما فله مثل اجره ولا ينقص من اجّر الصا ئم شئ (رواه امام احمد و الترمذى و ابن حبا

Artinya :Barang siapa membukakan orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala yang berpuasa dan tidak kurang sedikitpun pahalanya.
5. Sunnah muakkadah memelihara lisan dari penyakit lisan ( dusta, kata kata keji, dusta, fitnah, mengadu domba) juga memlihara hati dari penyakit hati ( ria, sombong, angkuh, iri, dengki etc)

من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حا جة في ان يدع طعامه وشرابه ( رواه امام البخاري و ابو داود)

Artinya : barang siapa yang tidak meninggalkan berkata kata dusta (keji) dan memperbuatnya maka tidaklah bagi Allah sesuatu keperluan dalam meninggalkan makan dan minumnya.
Dan juga sabda Nabi : puasa itu perisai, apabila salah seorang kamu puasa maka janganlah ia berbuat fasik, maka jika ada orang yang mencacinya atau menyumpahinya maka hendaklah dikatannya “ sesungguhnya aku berpuasa “ (inni shooimun, اني صائم)
6. Sunnah tidak berbekam ( karena berbekam melemahkan badan dan di hukumi makruh)
7. Sunnah tidak mencicipi makanan ( makruh mencicipi makanan, kecuali sampai tertelan, maka batal puasa)
8. Sunnah tidak mencium istri di bibir, berpelukan jika tidak takut keluar sperma, jika di khawatirkan, maka haram melakukannya.
9. Makruh bersugi setelah matahari tergelincir

لخلوف فم الصا ئم يوم القيامة اطيب عندالله من ريح السك (رواه امام البخاري)

Artinya : Perumpamaan bau mulut orang yang berpuasa itu pada hari kiamat terlebih harum di sisi Allah dari bau kasturi.
10. Memberbanyak berbuat amalan baik (amal shaleh) do’a, dzikir, membaca Al qur’an, sholat sunnah siang dan malamnya, bersedekah, beri’tikaf di masjid terutama malam 10 akhir ramadhan, dikarenakan banyak riwayat yang menjelaskan bahwa malam lailatul qadr terjadi malam akhir ramadhan.
Sebagaimana yang di sebutkan di dalam kitab

(الحوهر الموهب و منهات القلوب)
Halaman samping kitab juz 2 hal 25
(سيرالسالكين الشيخ عبد الصمد الفلمباني رحمه الله تعالى واسكنه اعلى جنته ونفعنابعلومه)

Juga disebutkan oleh Imam nawawi di dalam kitab majmu’ dan fatawa . kitab raudhah , kitab bajuri , hasyiah fathul wahab maka jika awal puasa hari ahad, rabu ( maka malam lailatul qadr jatuh pada malam 29 )jika di awali dengan hari senin ( maka malam lailatul qadr jatuh pada malam 21 ) jika hari selasa dan jum’at ( maka malam lailatul qadr jatuh pada malam 27) jika hari kamis ( maka malam lailatul qadr jatuh pada malam 25 ) jika di mulai hari sabtu ( maka malam lailatul qadr jatuh pada malam 23 ) dan di sunnahkan memperbanyak do’a di malam lailatul qadr “ ya allah, ya Tuhanku, sesungguhnya engkau maha pemaaf lagi maha pemurah dan senang kepada orang yang pengampun, maka ampunilah aku HR.tirmidzi, Ahmad, Ibnu majah dari Aisyah

اللهم انك عفوكريم تحب العفو فاعف عنى ( رواه امام الترمذ و احمد و ابن ماجه)

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

” Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, aku memohon ampunan Allah, aku memohon sorga kepadaMu, dan aku berlindung kepadaMu dari neraka “.

Selasa, 14 April 2020

3 Pristiwa penting dibulan Sya'ban

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang sangat penting dalam kehidupan Muslim di Indonesia. Karena selain menjadi bulan yang dekat dengan Ramadhan dan sebagai bulan persiapan untuk menghadapi puasa di bulan Ramadhan, ada beberapa hal yang sering diperingati secara rutin setiap bulan Sya’ban, yaitu malam nisfu Sya’ban.

Selain malam Nisfu Sya’ban ada juga beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban. Dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban? karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menyebutkan tiga peristiwa penting yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim.

1. Peralihan Kiblat
Peralihan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Sya’ban. Menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.

Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya, “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

2. Penyerahan Rekapitulasi Keseluruhan Amal kepada Allah
Salah satu hal yang menjadikan bulan Sya’ban utama adalah bahwa pada bulan ini semua amal kita diserahkan kepada Allah SWT. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengutip sebuah hadits riwayat An-Nasa’i yang meriwayatkan dialog Usamah bin Zaid dan Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”

Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Banyak manusia yang lalai di bulan Sya’ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku suka ketika amalku diserahkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.”

Penyerahan amal yang dimaksud dalam hal ini adalah penyerahan seluruh rekapitulasi amal kita secara penuh. Walaupun, menurut Sayyid Muhammad Alawi, ada beberapa waktu tertentu yang menjadi waktu penyerahan amal kepada Allah selain bulan Sya’ban, yaitu setiap siang, malam, setiap pekan. Ada juga beberapa amal yang diserahkan langsung kepada Allah tanpa menunggu waktu-waktu tersebut, yaitu catatan amal shalat lima waktu.

3. Penurunan Ayat tentang Anjuran Shalawat untuk Rasulullah SAW
Pada bulan Sya’ban juga diturunkan ayat anjuran untuk bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW, yaitu Surat Al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani mengatakan, bulan Sya’ban adalah bulan shalawat. Karena pada bulan itulah ayat tentang anjuran shalawat diturunkan. Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Imam Syihabuddin Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib-nya, serta Ibnu Hajar Al-Asqalani yang mengatakan bahwa ayat itu turun pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriyah.
Wallahu a’lam

3 Keistimewaan Syaban

Bukti dari mulianya bulan Sya’ban, bisa kita lihat dari sejumlah peristiwa penting bersejarah di dalamnya.
Peristiwa-peristiwa ini bisa dipandang bukan semata sebagai fakta historis tapi juga pertanda bahwa Allah memberikan perhatian spesial terhadap bulan ini.

Pertama, pada bulan Sya’ban Allah menurunkan ayat perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana yang tercantum dalam Surat al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Mayoritas ulama, khususnya dari kalangan mufassir, sepakat bahwa ayat ini turun di bulan Sya’ban. Secara bahasa, shalawat berakar dari kata shalât yang berarti doa. Dalam ayat tersebut ada tiga shalawat :
Shalawat yang disampaikan Allah, Shalawat yang disampaikan malaikat,
Dan (perintah) shalawat yang disampaikan umat Rasulullah ﷺ.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya—mengutip pernyataan Imam Bukhari—menjelaskan bahwa “Allah bershalawat” bermakna Dia memuji Nabi, “Malaikat bershalawat” berarti mereka sedang berdoa, sementara “manusia bershalawat” selaras dengan pengertian mengharap berkah.

Ayat tersebut menjadi bukti kedudukan Rasulullah yang tinggi. Kemuliaan dan rahmat dilimpahkan langsung oleh Allah kepada beliau, malaikat-malaikat suci terlibat dalam merapalkan doa-doa, dan seluruh kaum beriman pun diperintah untuk mengucapkan shalawat kepadanya.

Wajar sekali bila Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak shalawat di bulan Sya’ban, di samping bergegas membersihkan diri atau bertobat dari kesalahan-kesalahan yang sudah lewat guna menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

Kedua, bulan Sya’ban juga menjadi sejarah dimulainya Ka’bah menjadi kiblat umat Islam yang sebelumnya adalah Masjidil Aqsha.
Peristiwa peralihan kiblat ini ditandai dengan turunnya ayat 144 dalam Surat al-Baqarah:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai.
Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Saat menfsirkan ayat ini, Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkâmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban.

Kiblat menjadi simbol tauhid karena seluruh umat Islam menghadap pada satu tujuan.
Beralihnya kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram juga menegaskan bahwa Allah tak terikat dengan waktu dan tempat.
Hal ini ditunjukkan dengan sejarah perubahan ketetapan kiblat yang tidak mutlak dalam satu arah saja. Umat Islam tidak sedang menyembah Ka’bah ataupun Masjidil Aqsha melainkan Allah subhanahu wata’ala.

Ketiga, bulan Sya’ban merupakan saat diturunkannya kewajiban berpuasa bagi umat Islam.
Imam Abu Zakariya an-Nawawi dalam al-Majmû‘ Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa Rasululah menunaikan puasa Ramadhan selama sembilan tahun selama hidup, dimulai dari tahun kedua hijriyah setelah kewajiban berpuasa tersebut turun pada bulan Sya'ban.

Puasa merupakan kegiatan penting guna meredam nafsu yang sering menuntut dimanjakan.
Melalui puasa, manusia ditempa secara ruhani untuk menahan berbagai godaan duniawi, bahkan untuk hal-hal yang dalam kondisi normal (tak berpuasa) halal. Menahan diri dari hal-hal halal seperti makan, minum, berhubungan dengan istri, menjadi sinyal kuat bahwa sesungguhnya ada yang lebih penting dari kenikmatan dunia yang fana ini, yakni kenikmatan Akhirat, berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala.

Bulan Ramadhan merupakan bulan paling mulia di antara bulan-bulan lainnya. Artinya, Sya’ban merekam sejarah penting “diresmikannya” kemuliaan Ramadhan dengan difardhukannya puasa bagi kaum mukminin selama sebulan penuh. Sya’ban menjadi tonggak menyambut bula suci sebagai anugerah besar dari Allah yang melipatgandakan pahala segala amal kebaikan di bulan Ramadhan.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang tidak menyia-nyiakan bulan Sya’ban, meski di tengah kesibukan duniawi yang luar biasa. Al-faqir mengajak kepada jamaah sekalian untuk menyisihkan waktu untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah, melalui kontemplasi, dzikir, dan amal kebaikan, lebih-lebih di bulan mulia ini.
Wallahu a’lam.

Senin, 13 April 2020

MENGENAL QOLBU

MENGENAL QALBU

Qalbu pada dasarnya memiliki makna ganda. Ada makna secara syariah dan hakikiyah. Secara syariah Qalbu diartikan sebagai segumpal daging yg mana baik buruknya akan memberi dampak besar terhadap jasad seseorang. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw :

......وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري و مسلم)

Artinya : “… Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah qalbu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Secara lughawiyah, Qalbu memiliki arti asli yaitu Jantung. Dan ini sejalan dengan Hadits diatas bahwa ketika jantung kita sehat, maka seluruh tubuh kita pun akan sehat dan bebas dari berbagai penyakit. Namun sebaliknya, jika jantung kita biarkan kotor, maka darah yg mengalir ke seluruh tubuh pun akan menjadi darah yang kotor dan menjadi biang penyakit.

Sementara makna secara hakikiyah, qalbu adalah sebuah organ yang bersifat sir (tidak berwujud), namun ketika seseorang tersebut melakukan sebuah kemaksiatan, maka akan muncul bercak-bercak hitam yang lama kelamaan akan mengeraskan qalbu. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam hadits Qudsyi :

بنيت في جوف بان ادم قصرا و في القصر صدرا و في الصدر قلبا و في القلب فأدا و في الفأد شغفا و في الشغاف لبّا و في اللب سرّا و في السرّ انا

Artinya : Telah kami (Allah) bina/bangun dalam diri bani adam sebuah bangunan. Di dalam bangunan itu terdapat dada, di dalam dada terdapat qalbu, di dalam qalbu terdapat fuad (mata hati), di dalam fuad terdapat syagaf (hati nurani), di dalam syagaf terdapat lubb (lubuk hati), dalam lubuk hati terdapat sirr (rasa), didalam sirr ada Aku (Allah). 

Menurut ahli tasawwuf, Qolbu diartikan pula sebagai sebuah latifah / titik sensor / dimensi ketuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik sebagaimana difahami oleh sebagian kita. Untuk membuktikan bahwa qolbu itu bukanlah daging hati, kita bisa melihat dan menyaksikan seekor ayam atau kambing yang kita potong kemudian kita bedah perutnya maka kita akan menemukan pada hewan tersebut segumpal daging yang disebut hati, tapi apakah dengan hatinya itu hewan mampu membedakan mana yang haq dan bathil ? tentunya tidak. Apakah setelah kita belah hewan-hewan tersebut kita menemukan organ yang penuh bercak hitam karena kemaksiatan yang hewan lakukan ? tentunya jawabannya pun tidak.

Kemudian kita pergi ke sebuah warung makan atau restoran lalu kita bertanya apakah disana ada sop daging hati atau goreng daging hati, maka tentulah di salah satu warung makan atau restoran tersebut ada dan disediakan menu makanan dengan lauk sop atau goreng daging hati. Tapi coba kita tanyakan apakah disana ada sop atau goreng daging qolbu, maka jawabannya pasti tidak ada karena qolbu tidak diperjualbelikan dan bukan untuk dimakan dan bukan pula berbentuk segumpal daging.

Daging hati yang berbentuk segumpal daging itu dalam bahasa arab disebut “kabid” bukan qolbu. Adapun qolbu menurut Imam Al-Ghozali r.a dalam kitabnya ihya; ulumiddin adalah ruh, akal atau nafsu.

APA ITU RUH ?
Firman Allah Swt dalam surah Al-Isra ayat 85 :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya : dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Dalam kitab sirrurl asror karya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dikemukakan sebagai berikut :

Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Allah Swt adalah ruh, ruh siapa? ruh Muhammad Saw. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam hadits qudsi : “Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-Ku”.

Ruh adalah hakikat Muhammad dan hakikat Muhammad disebut nur kenapa disebut nur ? karena bersih dari segala kegelapan. Ruh Muhammad adalah ruh termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk, sebagaimana sabda beliau Saw : “aku dari Allah dan makhluk lain dari aku”.

Dari ruh Muhammad inilah Allah menciptakan semua ruh di alam lahut (negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan ruh Muhammad). Kemudian ruh-ruh tersebut diturunkan ke tempat yang terendah, dimasukkan kepada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Jasad itu sendiri diciptakan Allah dari bumi yang tersusun dari empat unsur (tanah, air, api dan angin).

Setelah diwujudkan jasad itu maka Allah menitipkan ruh dari-Nya ke dalam jasad, dan sebagai barang titipan pastinya Allah akan mengambil kembali titipannya itu. Ketahuilah ruh itu memiliki perjanjian awal di negeri asalnya yaitu alam lahut dan isi perjanjiannya adalah ketika Allah bertanya kepada semua ruh :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Qs. Al-Araaf : 172).

Tapi sayang banyak ruh yang lupa dengan perjanjian awalnya terhadap Allah Swt, sehingga mereka terlena dan terlalu nyaman tinggal di dalam jasad sebagai tempat terendah bagi mereka.

Ruh-ruh yang setia dan tetap memegang perjanjian awal pada hakikatnya mereka tetap berada pada negeri asalnya yaitu alam lahut meskipun badannya di bumi. Namun sangat sedikit orang yang sadar dan berkeinginan pulang atau kembali ke negeri asalnya. Oleh karena itu Allah melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad sebagai penunjuk jalan dari kesesatan mereka. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Allah Swt. Sebagaimana salahsatu sifat Rasul Saw adalah Tabligh, yaitu untuk memberikan basyirah  dan huda kepada manusia menuju jalan Rabb-nya.

Tapi sebagai manusia biasa, Nabi Saw memiliki keterbatasan waktu di dunia ini untuk menjalankan tugasnya tersebut, maka kemudian Allah mewariskan tugas ini kepada para ulama yang sholih yang sudah mencapai kesucian ruh dan telah Allah berikan bashiroh (pandangan yang jelas) kepadanya. Siapa mereka? Mereka adalah para wali Allah. Para wali Allah sebagai ahli bashiroh telah dibukakan mata hatinya untuk mengetahui jalan menuju Allah, mereka itulah yang disebut ahli ruhani.

Ruh terbagi ke dalam 4 bagian :
(1). Ruh Al-Qudsi (ruh termurni), yaitu ruh yang berada di alam lahut atau alam ma’rifat atau alam tertinggi. Ruh ini adalah hakikat manusia yang disimpan di dalam lubuk hati. Keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan menanamkan kalimatul iman dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya bersyahadat Laa illa ha Illallah di mulut saja, namun ditanamkan dengan kokoh kedalam qalbu. Ruh ini dinamakan oleh ahli Tasawwuf sebagai bayi ma’nawi (thiflul ma’ani). Ruh inilah yang senantiasa akan mampu berhubungan dengan Allah Swt sedangkan badan atau jasmani ini bukan mahromnya bagi Allah. Ruh Al-Qudsi telah Allah tempatkan di dalam rasa (sirri). Alatnya adalah ilmu hakikat, yaitu ilmu tauhid. Amalannya adalah mudawamah nama-nama Tauhid dengan lisan sirr tanpa suara dan huruf. Siapapun tidak ada yang mampu melihat / menelitinya kecuali Allah. Adapun keuntungannya yaitu keluarnya tiflul ma’ani, musyahadah serta terarah dan melihat kepada zat Allah dalam keagungan-Nya dan dalam keindahan-Nya dengan penglihatan sirri.

(2). Ruh Sulthoni, adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam jabarut. Tempat ruh ini adalah fuad (mata hati). Alatnya adalah ma’rifat dan amalannya adalah mudawamah asma Allah dengan lisan dan hati (qolbu). Adapun keuntungan pengolahan dari ruh sultani adalah melihat pantulan “Jamalillah” (keindahan Allah).

(3). Ruh Sairani Rawani (ruh ruhani), adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam malakut. Tempatnya adalah hati (qolbu). Alatnya adalah mudawamah asma’ul bathin tanpa suara dan huruf, hasilnya adalah ma’rifat kepada Allah Swt, ilmu bathin, memperoleh ketenangan di dalam bergaul, hidupnya hati dan musyahadah di alam malakut (seperti menyaksikan surga dan ahlinya dan malaikat-malaikatnya). Tempatnya di akhirat adalah surga tingkat ke dua yaitu jannatun na’im.

(4). Ruh Jismani, adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam mulki (alam terendah bagi ruh). Ruh jismani telah Allah tempatkan di dalam jasad antara daging dan darah tepatnya di wilayah dada dan anggota badan yang zahir. Alat untuk mengolah ruh ini adalah syari’at, hasilnya adalah wilayah (pertolongan Allah), mukasyafah (terbukanya hijab antara manusia dengan Allah), dan musyahadah (merasa berhadap-hadapan dengan Allah). Keuntungan di akhirat akan ditempatkan di jannatul ma’wa.

Setiap ruh itu mempunyai hanut (tempat) di daerah keberadaannya, dan bekal / alat pengolahannya dan keuntungan / hasil pengolahannya dan cara pengolahannya yang tidak pernah sia-sia yang diketahui secara tertutup (rahasia) maupun secara terbuka. Oleh karena itu wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui cara mengolah dirinya, sebab apa yang dilakukan di muka bumi ini akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hari kiamat.

Tujuan utama didatangkannya manusia ke alam terendah adalah agar manusia berupaya kembali mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai darajat (kembalinya manusia ke tempat asalnya) dengan menggunakan hati (qolbu) dan jasad. Maka perlu ditanamkan bibit tauhid di ladang hati agar tumbuh menjadi pohon tauhid yang akarnya tertanam di dalam rasa dan menghasilkan buah tauhid untuk mencapai ridha Allah Swt. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani menyebut ruh atau hakikat Muhammad itu adalah akal.

APA ITU AKAL ?
Kebanyakan kita mengatakan bahwa akal itu adalah otak, sehingga kalau kita berkata kepada orang lain “gunakan akalmu!” maka kita akan menunjuk dan mengarahkannya kepada kepala kita sebagai isyarat bahwa tempatnya akal disana. Ketahuilah wahai saudaraku akal bukanlah otak, jadi letak keberadaannya bukan di kepala. Keberadaan akal tidaklah berbentuk secara fisik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata kepala ini. Tapi meskipun demikian, fungsi dan gerakannya dapat dirasakan.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari kesesatan, semoga kita diberikan pemahaman yang mendalam akan akal ini sehingga kita tahu sebenarnya akal itu apa. Sulit saudaraku untuk yakin dan beriman dengan menggunakan otak kita ini, otak ini selalu menuntut bukti nyata, alasan dan sebab yang benar menurutnya. Dengan selalu menggunakan otak dan menuntut segala sesuatunya harus rasional akhirnya kita tidak bisa beriman secara betul-betul akan tetapi malah bermain-main dalam keimanan. Seperti dalam melaksanakan sholat, perhatikanlah firman Allah berikut :

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ

Artinya : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (Qs. Al-Maaidah ayat 58)

Akal adalah alat untuk berfikir dan memahami ayat-ayat Allah baik yang kauniyah maupun kauliyah. Tapi berfikir dengan akal tidak seperti berfikir dengan otak, berfikir dengan akal itu akan berujung dengan satu kesimpulan :رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا   “tidak ada sesuatu apapun yang Allah telah ciptakan itu sia-sia.” Apabila seseorang telah mempergunakan akalnya dalam berfikir dengan baik dan benar maka keimanannya akan semakin mantap dan terus meningkat.

Sekarang kita buktikan bahwa akal bukanlah otak, pernahkah anda makan pepes ikan mas ? ketika kita makan dibagian kepalanya akan terdapat yang disebut otak ikan. Tapi sekarang adakah di kepala ikan itu akal, maka pasti tidak ada karena akal bukan di kepala dan akal bukan otak. Kalau akal diartikan otak seperti yang ada di kepala ikan maka berarti ikan juga punya akal. Jadi jelas bahwa akal bukanlah otak dan otak bukanlah akal. Akal itu adalah qolbu, sebagaimana Allah firmankan dalam surah Qoof ayat 37 :

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya”. (Qs. Qaf :37)

Dalam ayat di atas Allah menggunakan kata qolbun untuk menyatakan akal.

APA ITU NAFSU ?
Nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yang berpotensi mendorong pada tabi’at badaniyah / biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Allah surah At-Takwir ayat 7 :

وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Artinya : “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”.
Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh. Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari :

(1). Nafsu Amaroh
Nafsu amaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi

(2). Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum artinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr artinya menipu
4. Al-Ujb artinya bangga diri
5. Al-Ghibah artinya mengupat
6. Ar-Riya’ artinya pamer amal
7. Az-Zulm artinya zalim
8. Al-Kidzb artinya dusta
9. Al-ghoflah artinya lalai

(3). Nafsu Mulhimah
Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah artinya murah hati
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup
3. Al-Hilm artinya murah hati
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati
5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Allah
6. As-Shobr artinya sabar
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab

(4). Nafsu Muthmainnah
Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud artinya dermawan
2. At-tawakkul artinya berserah diri
3. Al-Ibadah artinya ibadah
4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho artinya rido
6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan

(5). Nafsu Rodhiyah
Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom artinya
2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji

(6). Nafsu Mardhiyah
Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak
2. Tarku maa siwAllah artinya meninggalkan selain Allah
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.

(7). Nafsu Kamilah
Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmu Al’Yaqiin
2. Ainul Yaqiin
3. Haqqul Yaqiin

Kesimpulan
Dari semua pendapat diatas dan penjelasan diatas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan atau garis besarnya. Yaitu pada hakikatnya Qolbu, Ruh, Akal dan Nafsu adalah satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. bahkan Imam Al-Ghazali r.a mengatakan dalam kitabnya bahwa qolbu, ruh, akal dan nafsu itu adalah satu. (syai’un wahidun). Tidak memiliki perbedaan, semuanya merupakan hal yang sama. Sehingga jelas bahwa keempat nama tersebut pada dasarnya adalah satu hal yang sama, memiliki fungsi dan tugas yang sama. Tinggal bagaimana kita membina, menuntun keempat hal ini agar betul-betul mampu mengantarkan kita lebih dekat dengan Allah swt dan mampu mengantarkan kita mencapai tujuan kita yaitu bertemu dengan-Nya. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber :
1. Kitab Qothrul Ghoits
2. Kitab Bidayatussalikiin
3. Kitab Sirrul Asror
4. Ihya; ulumuddin
4. Dan sumber lainnya lisan maupun tulisan

Senin, 06 April 2020

Menghadapi orang Bodoh

*TELADAN IBNU SINA DAN*

Perlunya diam disaat menghadapi orang² yang bodoh.

Tahukah kalian siapa Ibnu Sina ?
Adalah tahun 980 sampai 1037 ada seorang mumpuni bernama Ibnu Sina. Seorang filsuf, penulis, ahli obat dan pengobatan juga ilmuwan yang cukup handal. Adapun karyanya yang tersohor adalah al-Qanun fi At-Tibb tentang ilmu obat dan pengobatan.
Suatu hari Ibnu Sina melakukan perjalanan dengan Kuda kesayangannya. Pada suatu tempat yang dianggap nyaman, ia berhenti beristirahat. Kuda diikat ditempat yang sedikit teduh. Diberi makanan jerami dicampur rumput pilihan. Ibnu Sina tahu binatang itu tidak boleh dimusuhi bahkan disiksa. Harus disayang karena membantu manusia.
Ibnu Sina duduk di tempat lebih teduh tak jauh dari Kuda, sambil menikmati bekal yang dibawanya.
Tiba-tiba datang seseorang menunggang Keledai. Ia turun dan mengikat Keledai berdekatan dengan Kuda milik Ibnu Sina. Dengan maksud supaya Keledainya bisa ikut memakan jerami dan rumput pilihan. Dan orang tersebut pun duduk dekat dengan Ibnu Sina berada.
Ketika ia duduk dan ikut makan, Ibnu Sina mengingatkan,
"Keledaimu jauhkan dari kudaku
supaya tidak dislentak/ditendang."
Orang yang diajak bicara itu tersenyum sambil menoleh ke Kuda dan Keledai.
Namun plak. Si Keledai ditendang kuda hingga luka cidera.
Pemilik Keledai marah² kepada Ibnu Sina dan meminta tanggung jawabnya. Ibnu Sina diam saja.
Sampai kemudian si pemilik Keledai mendatangi hakim dan meminta agar Ibnu Sina membayar atas luka cidera Keledainya.
Saat ditanya oleh hakimpun Ibnu Sina terdiam.
Hakim kemudian berkata kepada orang yang mengadu,
"Apakah ia bisu ..... ?"
Orang itu menjawab
"Tidak, tadi bicara padaku."
Hakim bertanya lagi,
"Apa yang ia katakan ..... ?"
Orang itu kembali menjawab,
"Jangan dekatkan Keledaimu nanti ditendang Kudaku."
Setelah mendengar jawaban itu, sang hakim tersenyum dan berkata kepada Ibnu Sina
"Anda ternyata pintar. Cukup diam dan kebenaran terungkap."
Sambil tersenyum Ibnu Sina berkata kepada hakim,
"Tidak ada cara lain untuk menghadapi orang bodoh selain dengan diam."
Dan kebenaran akan menemukan jalannya sendiri
Itulah kenapa sebabnya kenapa saya memilih diam.
Semoga bermanfa'at....

Takut terbagi beberapa bagian

الخوف من الله

تعريف الخوف: هو فزع القلب واضطرابه.
أنواع الخوف

1- الخوف من الله تعالى:
• ويسمى (خوف العبادة)، وهو الخوف المقترِن بالمحبة والتعظيم والتذلل والخضوع، وهو الذي يحمل العبدَ على الطاعة والبعد عن المعصية.
• حكمه: واجب في حق الله تعالى، وصرفه لغير الله تعالى شرك أكبر.
• والخوف من الله قد يكون:

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: "الخوف المحمود هو ما حجزك عن محارم الله"؛ اهـ، أما إذا زاد الخوف بحيث يؤدي إلى القنوط واليأس، فهو خوف مذموم؛ لذلك لا بد أن تتوازن عبادةُ الخوف مع عبادة الرجاء.

أنواع الخوف من الله

خوف المقام
خوف الوعيد
خوف مقام الرب سبحانه: وهو الخوف من مقامه تعالى على عباده بالاطلاع والقدرة والمحاسبة.
أو هو خوف المقام بين يديه يوم القيامة.
قال تعالى: ﴿ وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ﴾ [الرحمن: 46].
ويكون بالتفكر في عظمة الله سبحانه وكبريائه، فيعلم شأن تحذيره حين يقول: ﴿ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ﴾ [آل عمران: 28]
وهذه أهمية معرفة أسماء الله وصفاته، فكلما علِم العبد ربه بأسمائه وصفاته قاده ذلك إلى إجلال الله وتعظيمه والخوف منه.
هو الخوف من عذاب الله وناره وعقابه، ووعيده الذي يتوعد به المخالفين لشرعه الخارجين عن طاعته، قال تعالى: ﴿ لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ ﴾ [الزمر: 16].
• ويكون بالتفكر في آيات الوعيد؛ مثل قوله تعالى: ﴿ وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ ﴾ [السجدة: 13]، هذه الآية تورث الخوف.
• ﴿ وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ﴾ [مريم: 71].
• قيل لأحد السلف: لِمَ تبكي؟ قال: لأني أعلم يقينًا أنني سآتي على جهنم، ولكن ليس لدي يقين أنني سأنجو.
•  إذا تفكر العبد في الموت وأنه لا مفر منه؛ ﴿ قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ﴾ [الجمعة: 8].
•  إذا تفكر في يوم القيامة وأهواله، والصراط وزلته، وكيف سيكون حاله ومآله في هذا اليوم.
• إذا تفكر في أنه قد يُحال بينه وبين التوبة بموت مفاجئ.

2- الخوف من غير الله:

1- الخوف الطبيعي: هو خوف الإنسان مما يُؤذيه؛ مثل خوف الإنسان من السَّبُع أن يأكله، ومن النار أن تُحرقه.
• حكمه: مباح إذا وجدت أسبابه.
• وهذا الخوف ليس بعبادة، ووقوعه في القلب لا ينافي الإيمان.
• قال تعالى عن موسى: ﴿ فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ﴾ [القصص: 21].
• ولكن يجب ألا يزيد عن الحد، وألا يستقر في القلب، بل يُذهبه العبد ويَدفعه عن قلبه بالتوكل على الله واللجوء إليه سبحانه؛
﴿ الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ﴾ [آل عمران: 173].
• فالخوف الطبيعي لا يُلام عليه العبد، بشرط ألا يؤدي إلى ترك واجب أو فعل محرَّم، وإذا كان بلا سبب، أو سببه ضعيفًا؛ كمن يخاف من الظلام، أو كان سببًا وهميًّا - فهو مذموم.

2- الخوف المحرَّم: وهو الخوف الذي يحمل على ترك واجب أو فعل محرم.
• هو الخوف من الخلق في حدٍّ من حدود الله، فيعصي الله خوفًا من الناس، أو يترك واجبًا من الواجبات خوفًا من الناس؛ كمن يترك الصلاة في المسجد خوفًا من أن يُفصَل من عمله.
• حكمه: محرم.

3- خوف السر: هو خوف غيرِ الله فيما لا يقدر عليه إلا الله؛ كمَن يخاف مِن ولي أو إنس أو جن، أن يصيبه بمرض أو مكروه أو أذى مما لا يقدر عليه إلا اللهُ.
• وهذا كالخوف الواقع بين عبَّاد القبور المتعلقين بالأولياء؛ قال تعالى عن قوم هود:
﴿ إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ ﴾
[هود: 54].

• حكمه: شرك أكبر.

دليل الخوف: قوله تعالى: ﴿ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾ [آل عمران: 175]؛
أي: إن الشيطان يخوفكم أولياءه، ويعظمهم في صدوركم؛ أي يجعل أولياءه مخوفين في قلوب الناس، ﴿ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ ﴾، وهذا دليل على أن الخوف من غير الله منهيٌّ عنه، وأن الخوف من الله مأمور به، وهو شرط في صحة الإيمان.

وجه الاستدلال من الآية على أن الخوف عبادة:

1) الأمر به، معنى ذلك أن الخوف من الله محبوبٌ له ومرضيٌّ عنده، إذًا فهو عبادة ولا يجوز صرفها لغير الله، ومَن صرفها لغير الله فقد أشرك به.
2) جعله شرطًا في حصول الإيمان، ففيه دليل على أن الله تعالى يُفرَد بهذا النوع، وهو خوف العبادة.

فضل عبودية الخوف:

1)  أمر الله تعالى عباده بالخوف منه، وجعله شرطًا للإيمان؛ ﴿ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾ [آل عمران: 175].

2) وصف الله ملائكته بقولِه: ﴿ يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ﴾ [النحل: 50]، ووصف أنبياءه بقوله: ﴿ الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا ﴾ [الأحزاب: 39].

• مدح الله الذين يخشونه، فقال عنهم: ﴿ إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ * وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ ﴾ [المؤمنون: 57 - 61].

• روى الترمذي عن عائشة رضي الله عنها قالت: سألتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن هذه الآية، فقلت: أَهُم الذين يشربون الخمر ويزنون ويسرقون؟ فقال: ((لا يابنت الصدِّيق، ولكنهم الذين يصومون ويصلُّون ويتصدَّقون، وهم يخافون ألا تُقبل منهم، ﴿ أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ ﴾ [المؤمنون: 61]))؛ صحيح الترمذي (3175).

ثمرات الخوف من الله عز وجل:

• قال الحسن البصري: (عمِلوا لله الطاعات واجتهدوا فيها، وخافوا أن تُردَّ عليهم، إن المؤمن جمع إحسانًا وخشية، والمنافق جمع إساءة وأمنًا".
• وكل أحد إذا خِفْته هربتَ منه إلا الله عز وجل، فإنك إن خفته هربت إليه، ﴿ فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ ﴾ [الذاريات: 50].

• ثمرات الخوف من الله عز وجل:
1- يبعث الخوفُ من الله على العمل الصالح والإخلاص فيه؛ ﴿ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا * إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ﴾ [الإنسان: 9، 10].

2- من ثمرة الخوف أنه يقمع الشهوات، ويكدر اللذات المحرَّمة، فتصير المعاصي المحبوبة عنده مكروهة.

3- يجعل صاحبه في ظل العرش يوم القيامة؛ ((ورجل ذكر الله خاليًا ففاضت عيناه)).

4- الأمان يوم القيامة؛ قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((يقول الله عز وجل: وعزَّتي، لا أجمع على عبدي خوفينِ، ولا أجمع له أمنينِ؛ إذا أمِنَني في الدنيا أخفتُه يوم القيامة، وإذا خافني في الدنيا أمَّنتُه يوم القيامة))؛ رواه ابن المبارك في الزهد (157)، وحسنه الألباني في الصحيحة (742).

5- الخوف من أسباب المغفرة.
• تأمل قصة الرجل الذي كان فيمَن قبلَنا، عندما حضرته الوفاة جمع بَنيه وقال لهم: إني لم أعمل خيرًا قط، فإذا متُّ فأحرقوني، ثم ذروني في يوم عاصفٍ، ففعلوا، فأعاده الله كما كان، ثم سأله: ما حملك على ذلك؟ قال: مخافتك يا رب، فتلقاه برحمته.
عن أبي سعيد رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم:
((أن رجلًا كان قبلكم رَغَسَهُ الله مالًا، فقال لبنيه لَمَّا حُضِر: أيُّ أبٍ كنت لكم؟ قالوا: خير أبٍ، قال: فإني لم أعمل خيرًا قط، فإذا مت فأحرقوني، ثم اسحقوني، ثم ذَرُّوني في يوم عاصف، ففعلوا، فجمعه الله عز وجل، فقال: ما حملك؟ قال: مخافتك، فتلقاه برحمته))؛ رواه البخاري 3219، ومسلم 4952، (رَغَسه الله مالًا: رزقه الله مالًا وفيرًا).

6- الخوف يؤدي إلى الجنة؛ قال صلى الله عليه وسلم: ((مَن خاف أدلج، ومَن أدلج بلغ المنزل، ألا إن سلعة الله غالية، ألا إن سلعة الله الجنة)).