Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Senin, 13 November 2017

Rosulullah meninggal sebab di RACUN

Kajian Hadits Tentang Wafatnya Nabi Karena Pengaruh Racun

Di kalangan para ulama Islam, telah terjadi pro dan kontra seputar penyebab wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian pihak beranggapan bahwa Nabi wafat karena sakit panas-demam biasa, sedangkan pihak yang lain berkeyakinan bahwa Nabi wafat karena adanya pengaruh racun yang merasuk ke dalam tubuh beliau. Racun tersebut bersumber dari daging kambing beracun yang pernah beliau cicipi saat terjadinya perang Khaibar pada tahun 7 H. Daging kambing itu diberikan oleh seorang wanita Yahudi bernama Zainab binti Harits, istri Salam bin Misykam, salah seorang pembesar Yahudi.

Menurut para ulama pakar sirah Nabi, diketahui bahwa beliau memang pernah menyantap daging kambing beracun pemberian seorang wanita Yahudi Khaibar. Kemudian paha kambing tersebut berbicara, memberitahu Nabi bahwa ia telah ditaburi racun. Beliau tidak melanjutkan santapannya. Tatkala beliau sakit yang mengantarkannya kepada kematian, beliau bersabda, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku santap di Khaibar. Dan, inilah saatnya aku merasakan urat nadiku terputus karena racun tersebut.”[1] Untuk itu, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atas pengaruh racun tersebut di jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, setelah hal itu nyata-nyata termaktub di dalam kitab shahih dan kitab-kitab yang lain.[2]

Adapun Prof. Dr. Mutawalli Asy-Sya’rawi menegaskan bahwa wafatnya Rasulullah bukan akibat sakit dari makanan beracun yang disuguhkan untuk beliau di Khaibar oleh orang-orang Yahudi, walaupun rasa sakit itu masih terasa sampai beliau wafat. Kedudukan Rasulullah tidak mungkin lebih rendah dari para sahabat beliau yang telah mati syahid yang tetap hidup dan memperoleh rezeki dari Allah.[3]

Sedangkan, kalangan non muslim menjadikan isu wafatnya Nabi karena pengaruh racun tersebut sebagai sarana untuk ‘menggugat’ nubuwwat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

“Kenapa masalah racun ini sangat penting! Karena yang membunuh adalah wanita Yahudi yang ingin membuktikan kalau Nabi Muhammad itu adalah seorang nabi atau bukan. Orang Yahudi orangnya pintar, tidak seperti orang Arab atau orang Islam ‘kurang pintar’ lainnya. Mereka selalu menguji apa yang mereka dapat, tidak menelan mentah-mentah seperti umat Islam sekarang ini. Kalau dia benar-benar utusan Allah, kenapa Allah tidak memberitahukan sebelumnya? Makanya, kalau dia benar-benar utusan Allah, racun itu tentu tidak dimakan. Nah, bukan Islam namanya kalau tonggak keimanannya berdasarkan atas Injil dan Kristen. Jadi, tolok ukurnya pasti Kristen, padahal Injil dianggap dipalsukan. Pasti tanya bagaimana Yesus matinya. Sudah baca Quran atau Injil belum? Kata Quran, Yesus diselamatkan, tidak seperti Muhammad! Kata Injil, Yesus sendiri sudah tahu kalau waktunya sudah tiba, dan itu sudah dinubuwwatkan oleh kitab-kitab lama, dan dia akan dibangkitkan pada hari ketiga. Dia pun bilang ke salah satu rasulnya, kalau dia akan menyangkal tiga kali sebelum ayam berkokok. Dan semua benar. Mengerti tidak? Jelas-jelas Yesus lebih suci, dan Quran sendiri mengakuinya. Sekarang lihat! Tolong sebutkan satu ayat saja di dalam Al-Quran yang menyebutkan kalau Muhammad masuk surga!”[4]

Demikianlah, di kalangan umat Islam sendiri masih terdapat perbedaan pendapat seputar wafatnya Nabi karena pengaruh racun, sedangkan kalangan non muslim terus melancarkan berbagai propaganda untuk meruntuhkan bangunan kenabian di dalam Islam. Untuk itu, hadits-hadits tentang “racun Nabi” kiranya sangat urgen untuk dikaji lebih mendalam, agar bisa memberikan pemahaman yang komprehensif seputar wafatnya Nabi.

Redaksi Hadits

Adapun hadits pokok yang menjadi obyek pembahasan ini adalah sebagai berikut :

Hadits pertama :

وَقَالَ يُوْنُسُ عَنِ الزُّهْرِي قَالَ عُرْوَةُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ : يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ إِنْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ

“Yunus berkata : Diriwayatkan dari Az-Zuhri, Urwah berkata : Aisyah x berkata, “Nabi n bersabda di kala sakit yang berakhir dengan wafatnya beliau, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di perang Khaibar. Dan inilah saatnya bagiku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun itu’.”[5]

Hadits kedua :

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنِى أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ يَحْيَى الأَشْقَرِ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْمَرْوَرُّوذِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ عُرْوَةُ كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِىَ اللهُ عَنْهَا تَقُوْلُ : كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ فِى مَرَضِهِ الَّذِى تُوُفِّىَ فِيهِ يَا عَائِشَةُ إِنِّى أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِى أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ انْقِطَاعِ أَبْهَرِى مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ.[6] أَخْرَجَهُ الْبُخَارِىُّ فِى الصَّحِيحِ فَقَالَ وَقَالَ يُونُسُ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafizh, telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Yahya Al-Asyqar, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa Al-Marwarrudzi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Anbasah, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Ibnu Syihab, ia berkata : Urwah mengatakan : Aisyah x berkata, “Nabi n bersabda di kala sakit yang berakhir dengan wafatnya beliau, ‘Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang pernah aku makan di perang Khaibar. Dan inilah saatnya bagiku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun itu’.” Dikeluarkan oleh Bukhari di dalam Shahihnya, ia mengatakan : Yunus berkata…[7]

Beberapa hadits pendukung yang menceritakan kronologi diracunnya Nabi antara lain sebagai berikut :

Hadits pertama :

حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنْ هِلالٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنَ الْيَهُودِ أَهْدَتْ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةً مَسْمُومَةً فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَقَالَ مَا حَمَلَكِ عَلَى مَا صَنَعْتِ قَالَتْ أَحْبَبْتُ أَوْ أَرَدْتُ إِنْ كُنْتَ نَبِيًّا فَإِنَّ اللَّهَ سَيُطْلِعُكَ عَلَيْهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ نَبِيًّا أُرِيحُ النَّاسَ مِنْكَ. قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا احْتَجَمَ قَالَ فَسَافَرَ مَرَّةً فَلَمَّا أَحْرَمَ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَاحْتَجَمَ

“Telah bercerita kepada kami Syuraih, telah bercerita kepada kami Abbad, dari Hilal, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita Yahudi menghadiahkan daging seekor kambing yang telah dibubuhi racun. Lantas, beliau mengutus seseorang agar menghadapkan wanita itu, beliau bertanya, “Apa alasanmu melakukan hal ini?” Ia menjawab, “Aku suka –atau aku ingin–, jika engkau benar seorang nabi, pasti Allah akan memberitahukan racun itu kepadamu. Namun jika engkau bukan seorang nabi, maka manusia tak akan lagi terganggu olehmu.” Ibnu Abbas menuturkan, “Apabila Rasulullah n merasakan sesuatu dari racun itu, beliau melakukan bekam. Suatu kali beliau sedang bepergian, ketika melakukan ihram beliau merasakan pengaruh racun tersebut, lantas beliau berbekam.”[8]

Hadits kedua :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ يَهُوْدِيَّةً أَتَتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُوْمَةٍ فَأَكَلَ مِنْهَا فَجِيْءُ بِهَا فَقِيْلَ أَلاَ نَقْتُلُهَا؟ قَالَ : لاَ. فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Wahab, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Hisyam bin Zaid, dari Anas bin Malik a, bahwa seorang wanita Yahudi mendatangi Nabi n dengan membawa daging kambing beracun. Beliau telah memakan sebagiannya. Lantas wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah n dan beliau menanyainya tentang alasan tindakannya tersebut. Dikatakan, “Tidakkah kita membunuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak perlu.” Anas berkata, “Aku senantiasa mengetahui bekas racun tersebut di pangkal langit-langit mulut Rasulullah n.”[9]

Hadits ketiga :

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا رَبَاحٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِي عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ أُمِّ مُبَشِّرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلْتُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيْهِ فَقُلْتُ : بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا تَتَّهِمُ بِنَفْسِكَ فَإِنِّي لاَ أَتَّهِمُ بِابْنِي إِلاَّ الطَّعَامَ الَّذِي أَكَلَهُ مَعَكَ بِخَيْبَرَ وَكَانَ ابْنُهَا بِشْرُ بِنُ الْبَرَّاءِ بْنِ مَعْرُوْرٍ مَاتَ قَبْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَأَنَا لاَ أَتَّهِمُ غَيْرَهَا هَذَا أَوَانُ انْقِطَاعِ أَبْهَرِي

“Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ja’far, telah mennceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Rabah : Diriwayatkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’b bin Malik, dari ayahnya, dari Ummu Mubasysyir, ia berkata, “Aku pernah menjenguk Rasulullah n saat beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mencurigai sesuatu yang menyebabkan dirimu sakit? Sesungguhnya aku tiada mencurigai penyebab putraku meninggal, selain makanan yang ia santap bersamamu di Khaibar.’ Putranya, Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur telah meninggal sebelum Nabi n. Maka, Rasulullah n menjawab, ‘Aku tiada mencurigai selain ulah wanita Yahudi itu. Dan, inilah waktunya urat nadiku terputus’.”[10]

Pembahasan

Berbagai upaya pembunuhan terhadap Nabi Muhammad n telah banyak dilakukan oleh kaum Yahudi, bahkan sejak Nabi masih kecil. Di dalam kitab Ath-Thabaqat, Ibnu Sa’d meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Ishaq bin Abdillah, bahwasanya ketika ibunda Nabi n hendak menyerahkan beliau kepada seorang perempuan Bani Sa’d (Halimah As-Sa’diyyah) yang akan menyusui beliau, ia berkata, “Jagalah putraku ini,” seraya ia menceritakan mimpinya. Suatu ketika Halimah melewati segolongan kaum Yahudi, lalu ia berkata, “Tidakkah kalian berkomentar tentang anakku ini?” Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Bunuh anak itu.” Mereka bertanya, “Apakah anak itu yatim?” “Tidak, ini ayahnya dan aku ibunya,” jawab Halimah. Mereka berkata, “Sekiranya ia anak yatim, pasti kami akan membunuhnya.” Halimah meneruskan perjalanannya seraya berkata, “Hampir-hampir saja aku merusak amanah yang diembankan kepadaku.” (Riwayat ini mursal, sedang para perawinya tsiqat).[11]

Sedangkan tragedi peracunan Nabi setelah penaklukan Khaibar oleh seorang wanita Yahudi[12] merupakan tragedi bersejarah yang mengantarkan Rasulullah n memperoleh syahid dalam hidupnya. Ibnu Katsir v memastikan bahwa Nabi n wafat sebagai syahid. Ia menukil, “Kaum muslimin berpandangan bahwa Rasulullah n wafat sebagai syahid, selain kemuliaan yang Allah limpahkan kepada beliau berupa kenabian.”[13] Ibnu Mas’ud a berkata, “Sekiranya aku bersumpah sembilan kali untuk menyatakan bahwa Rasulullah n wafat karena terbunuh, itu lebih aku sukai daripada aku bersumpah sekali untuk menyatakan bahwa beliau tidak terbunuh. Yang demikian itu, karena Allah telah mengangkat beliau sebagai nabi sekaligus sebagai syahid.”[14]

Az-Zuhri berkata, bahwa Jabir mengatakan, “Pada hari itu Rasulullah n berbekam. Beliau dibekam seorang maula Bani Bayadhah dengan tanduk dan pisau. Pasca peristiwa tersebut, Rasulullah n hidup selama tiga tahun sampai jatuh sakit yang mengantarkan beliau wafat. Beliau bersabda, ‘Aku masih merasakan makanan yang aku makan dari kambing panggang saat perang Khaibar hingga sekarang. Inilah waktu terputusnya urat nadiku.’ Akhirnya, Rasulullah n wafat sebagai syahid.”[15]

Di dalam kitab Syarh al-Mawahib al-Laduniyah, Az-Zarqani berkata, “Salah satu mukjizat Nabi n adalah beliau tidak terpengaruh oleh racun seketika itu juga, sebab mereka (kaum Yahudi) berkata, ‘Jika dia seorang nabi, maka racun itu tidak akan membahayakan dirinya; tetapi jika ia hanya seorang raja, maka kami terbebas darinya.’ Tatkala racun itu tidak bereaksi dalam tubuh beliau, mereka menjadi yakin akan kenabian beliau. Sampai-sampai ada yang menyatakan bahwa perempuan Yahudi tersebut masuk Islam. Kemudian racun itu bereaksi di tubuh beliau setelah tiga tahun, guna memuliakan beliau dengan status syahid.”[16]

Dari paparan di atas menjadi jelaslah bahwa demam yang menyerang beliau menjelang wafat adalah reaksi dari racun yang tertelan di Khaibar. Selama hidup beliau racun itu tidak berpengaruh pada tubuh beliau, tidak bereaksi seketika itu juga –kecuali bekas yang ditinggalkan di langit-langit mulut dan rasa sakit yang acapkali datang kepada beliau–. Setelah kejadian itu, beliau masih sempat memimpin pasukan, ikut terjun pada beberapa pertempuran besar dan meraih kemenangan, melayani tantangan musuh, menerima tamu utusan, dan menjalani kehidupan normal seperti biasa. Hingga ajal yang telah ditetapkan datang menjemput beliau dengan cara yang alamiah. Allah membangkitkan kembali reaksi racun tersebut di tubuh Nabi n, dan karena racun itu beliau wafat. Sebagaimana sabda beliau n di kala sakit yang mengantarnya kepada kematian, “Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku makan di Khaibar,[17] dan sekaranglah saatnya terputusnya urat nadiku.”[18]

Sehingga, Allah menghimpun gelar kenabian (nubuwwah) dan kesyahidan (syahadah) sekaligus untuk Nabi-Nya, guna mengoptimalkan kehormatan, kemuliaan dan ketinggian derajat beliau di sisi Allah. Dan juga agar beliau menempati kedudukan para syuhada’, sekaligus kedudukan para nabi. Karena itu, Ibnu Mas’ud, Az-Zuhri dan yang lain berpendapat bahwa Rasulullah n wafat sebagai syahid akibat racun tersebut di atas.[19]

Jadi, keselamatan beliau dari racun yang mematikan bagi orang lain seketika itu juga, pemberitahuan Allah kepada beliau bahwa daging itu beracun dan laporan organ kambing itu kepada beliau, merupakan mukjizat Rasulullah.[20] Begitu pula, sudah barang tentu tidak wafatnya Nabi n segera setelah menyantap daging kambing beracun tersebut menjadi salah satu mukjizat dan tanda kenabian yang semakin menambah kebenaran risalah beliau; bahwa beliau adalah benar-benar seorang rasul dari sisi Allah l. Hikmah Allah menghendaki, bahwa beliau wafat sesuai ajal yang telah Allah tetapkan, betapa pun beliau terpengaruh oleh racun yang ada di dalam daging kambing tersebut, sehingga beliau bertahan hidup sampai beberapa tahun sesudahnya.[21]

Kesimpulan

Setelah mengkaji secara mendalam hadits-hadits tentang kisah diracunnya Nabi, maka dapat diambil beberapa kesimpulan dan ibrah (pelajaran) sebagai berikut :

Rasulullah n wafat dan berpulang ke haribaan Allah sebagai syahid. Sebab, Allah telah mengangkat beliau sebagai nabi sekaligus sebagai syahid.
Permusuhan kaum Yahudi terhadap Islam berikut pemeluknya adalah fenomena sejak zaman dahulu kala. Mereka adalah musuh-musuh Allah dan para rasul-Nya.
Nabi n tidak menaruh dendam, bahkan beliau justru memberi maaf dan bersikap toleran. Karenanya, beliau tidak menghukum wanita yang memberi kambing beracun tersebut. Akan tetapi, wanita itu dibunuh sebagai qishash atas meninggalnya Bisyr bin Barra’ akibat dari perbuatannya.
Salah satu mukjizat Rasulullah n adalah daging kambing yang telah dipanggang itu bisa berbicara, dan memberitahu beliau bahwa ia telah ditaburi racun.
Sudah menjadi karunia Allah atas para hamba-Nya bahwa Dia tidak mencabut nyawa Nabi-Nya kecuali setelah Dia menyempurnakan agama-Nya, sehingga beliau meninggalkan umatnya dalam keadaan terang-benderang, malamnya seperti siangnya, tidak ada yang tersesat kecuali orang yang binasa.[22]
Dalam hadits ini mengandung isyarat akan kesempurnaan kesabaran dan ketabahan Rasulullah n. Beliau merasakan sakit dari waktu ke waktu akibat daging kambing panggang yang dibubuhi racun tersebut. Kondisi seperti ini berlangsung selama tiga tahun sejak pasca penaklukan Khaibar (7 H – 10 H). Setelah itu, beliau wafat.[23]

Maraji’

Fatawa Lajnah Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’.

Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya’rawi, Anda Bertanya Islam Menjawab, Gema Insani Press, Jakarta.

http://www.salib.net/Forums/viewtopic/p=12821.html.

Shahih al-Bukhari, Al-Maktabah asy-Syamilah.

Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.

As-Sunan al-Baihaqi al-Kubra, Al-Maktabah asy-Syamilah.

Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Al-Maktabah asy-Syamilah.

Musnad Ahmad, Al-Maktabah asy-Syamilah.

Syaikh Shalih Al-Munajjid, Al-Islam Su’al wa Jawab, www.islam-qa.com.

Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Wadda’ ar-Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i, Hal Matar Rasul bi Atsaris Samm.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Adh-Dhiya’ al-Lami’ min Khuthab al-Jawami’.

Khalid Abu Shalih, Qashimah azh-Zhuhri, Darul Wathan, Riyadh, 1422 H/2001.

Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum.

Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Mata an-Nabiy n bis Samm.

[1] Shahih al-Bukhari, Bab Maradh an-Nabi n, juz IV, hlm. 1611, no. 4165. Al-Maktabah asy-Syamilah.

[2] Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Bab Atsar as-Samm ‘alar Rasul n, juz 26, hlm. 37. Fatwa tersebut ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua), Abdul Aziz Alu Syaikh (Wakil Ketua), Abdullah bin Ghadyan (Anggota), Shalih Al-Fauzan (Anggota), Bakr Abu Zaid (Anggota). Al-Maktabah asy-Syamilah.

[3] Prof. Dr. M. Mutawalli Asy-Sya’rawi, Anda Bertanya Islam Menjawab, Gema Insani Press, Jakarta, hlm. 515.

[4] http://www.salib.net/Forums/viewtopic/p=12821.html, dengan perubahan redaksional.

[5] Yang dimaksud ath-tha’am dalam hadits di atas adalah asy-syat al-masmumah allati uhdiyat lahu (daging kambing beracun yang pernah dihadiahkan kepada beliau). Awanu artinya adalah waqt wa hina (waktu dan saat). Wajadtu artinya sya’artu (aku merasakan). Inqitha’u maksudnya qurba inqitha’ihi (hampir terputus). Abhari adalah urat nadi yang tersambung dengan jantung. Bila urat nadi seseorang terputus, maka ia akan meninggal. Shahih al-Bukhari, Bab Maradh an-Nabi n, juz IV, hlm. 1611, no. 4165. Al-Maktabah asy-Syamilah. Hakim dan Al-Isma’ili menyatakan sanadnya bersambung kepada Rasulullah n.

[6] Kata as-samm (racun) dengan fathah pada sin, dhammah atau mengkasrahkannya. Dibaca dengan tiga bahasa (as-samm, as-summ dan as-simm), namun yang paling fasih adalah dengan fathah (as-samm). Bentuk jamaknya samam dan sumum. Demikian dikatakan Al-Ashma’i. Lihat Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.

[7] As-Sunan al-Baihaqi al-Kubra, Bab Isti’mal Awani al-Musyrikin, juz X, hlm. 11, no. 20209. Al-Maktabah asy-Syamilah.

[8] Ahmad meriwayatkannya sendiri, dan sanadnya hasan. Musnad Ahmad, juz V, hlm. 6, no. 32784. Al-Maktabah asy-Syamilah.

[9] Dikeluarkan oleh Muslim di dalam As-Salam, Bab As-Samm, no. 2190. Juga, Shahih al-Bukhari, Bab Qubul al-Hadiyyah min al-Musyrikin, juz II, hlm. 923, no. 2474. Al-Maktabah asy-Syamilah. Sedang kata al-lahawat adalah bentuk jamak dari lahat, yakni daging merah yang menggantung di pangkal langit-langit mulut (ovula). Demikian dikatakan Al-Ashma’i. Dikatakan pula, ‘Daging yang ada di ujung langit-langit mulut.’ Ucapannya, ‘Aku senantiasa mengetahuinya,’ yakni tanda. Seolah-olah racun tersebut meninggalkan tanda dan bekas berwarna hitam atau lainnya. Ucapan para sahabat, ‘Tidakkah kita membunuhnya?’, di sebagian naskah dengan huruf nun (kita) dan di sebagian lain dengan ta’ khithab (Anda). Lihat Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.

[10] Hadits ini shahih berdasarkan syarat Syaikhani, namun keduanya tidak mengeluarkan hadits tersebut. Adz-Dzahabi berkata di dalam At-Talkhish, “Berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.” Lihat Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Bab Dzikru Manaqib Bisyr bin Barra’ bin Ma’rur, juz III, hlm. 242, no. 4966. Al-Maktabah asy-Syamilah.

[11] Dinukil dari Al-Islam Su’al wa Jawab, Syaikh Shalih Al-Munajjid, www.islam-qa.com.

[12] Ada riwayat yang menyatakan bahwa wanita Yahudi yang menghadiahkan daging kambing beracun itu masuk Islam setelah ia bertanya, “Siapa yang memberitahumu?” Dan, ia mendapat jawaban dari Rasulullah n bahwa daging kambing beracun itulah yang memberitahu beliau. Rasulullah n memaafkannya terlebih dahulu, kemudian beliau membunuhnya sebagai qishash atas meninggalnya Bisyr bin Barra’. Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, IV : 208-323. Dinukil dari kitab Wadda’ur Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat, karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani.

[13] Lihat Al-Bidayah wan Nihayah, IV : 210, 211-212, dan V : 223-244. Dinukil dari kitab Wadda’ur Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat, karya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani.

[14] Disebutkan oleh Ibnu Katsir dan ia menisbatkan sanadnya kepada Baihaqi. Lihat Al-Bidayah wan Nihayah, V : 227. Dinukil dari ibid.

[15] Dikutip dari Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.

[16] Dikutip dari Hal Matar Rasul bi Atsaris Samm, fatwa Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i, no. 2091.

[17] Nabi bersama sebagian sahabat menyantap daging kambing beracun tersebut. Tetapi, beliau hanya mengunyah daging itu, tidak sampai menelannya. Segera saja beliau memuntahkan daging itu kembali. Lihat Adh-Dhiya’ al-Lami’ min Khuthab al-Jawami’, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Saat itu, Bisyr bin Barra’ ikut makan bersama beliau. Dan, suapannya telah masuk ke tenggorokannya, dan akhirnya ia meninggal karenanya. Lihat Khalid Abu Shalih, Qashimatuzh Zhuhri, bab Wa Mata n Syahidan, Darul Wathan, Riyadh, 1422 H/2001, hal. 64-68.

[18] Ibid. Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri juga menulis dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum, “Rasa sakit itu semakin bertambah dan menjadi-jadi. Sungguh terlihat pengaruh racun yang tertelan oleh beliau di Khaibar, sampai-sampai beliau bersabda, “Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit akibat makanan yang aku santap di Khaibar. Dan, inilah saatnya aku merasakan urat nadiku terputus karena racun itu.”

[19] Ibid.

[20] Abu Yusuf Muhammad Yazid, Munawarat al-Asyqiya’ li Qatli Khatam al-Anbiya’.

[21] Mata an-Nabiy n bis Samm, karya Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq.

[22] Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Wada’ ar-Rasul li Ummatihi : Durus wa Washaya wa ‘Ibar wa ‘Izhat.

[23] Khalid Abu Shalih, Qashimatuzh Zhuhri, hal. 68.

Kategori: Pemikiran Islam
Tinggalkan sebuah Komentar
Muhammad Albani

Blog di WordPress.com.
Kembali ke atas

HUKUM AMALAN REBO WEKASAN

PERTANYAAN

Hukum Sholat REBO WEKASAN.

JAWABAN :

Berikut paparan ALMUKARRAM
KH. HASYIM ASY'ARI MENGENAI SHALAT REBO WEKASAN
dalam Hasil Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jatim 1980 di PP.

Pertanyaan : Shalat rebo wekasan dan rangkainnya, bagaimana hukumnya menurut fuqoha dan menurut ulama sufi ?
Jawab : Menurut fatwa Roisul Akbar Almarhum Asyaikh Hasim Asy’ari tidak boleh. Shalat rebo wekasan karena tidak masyru’ah dalam syara’ dan tidak ada dalil syar’i.
Adapun fatwa tersebut sabagaimana dokumen asli yang ada pada cabang NU Sidoarjo sebagai berikut:

Mas’alah:

a. Kados pundi hukumipun ngelampahi shalat rebo wulan shofar, kasebat wonten ing kitab mujarobat lan ingkang kasebat wonten ing akhir bab 18?

فَائِدَةٌ اُخْرَى: ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ مِنْ اَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِيْنِ أَنَّهُ يَنْزِلُ كُلَّ سَنَةٍ ثَلاَثَمِائَةٍ وَعِشْرُوْنَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّ ذَلِكَ فِى يَوْمِ اْلأَرْبِعَاءِ اْلآخِيْرِ مِنْ شَهْرِ صَفَرَ فَيَكُوْنُ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ أَصْعَبُ اَيَّامِ السَّنَةِ كُلِّهَا فَمَنْ صَلَّى فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ..... الخ.
فونافا ساهى فونافا أوون؟ يعنى سنة فونافا حرام؟ أفتونا اثابكم الله؟

Sebagian orang yang ma’rifat dari ahli al-kasyafi dan tamkin menyebutkan: setiap tahun, turun 320.000 cobaan.
Semuannya itu pada hari rabu akhir bulan shafar.
Maka pada hari itu menjadi sulit-sulitnya hari di tahun tersebut. Barangsiapa shalat di hari itu 4 rokaat dst.

b. Kados pundi hukumipun ngelampai shalat hadiyah ingkang kasebat wonten ing kitab:

حاشية المهى على الستين مسئلة وونتن آخريفون باب يلامتى ميت وَنَصُّهُ:
فَائِدَةٌ:
ذَكَرَ فىِ نُزْهَةِ الْمَجاَلِسِ عَنْ كِتَابِ الْمُخْتاَرِ لا يَأْتِى عَلَىالْمَيَّتِوَمَطَالِعِ الاَنْواَرِ عَنْ النَّبِى أَشَدُّ مِنَ اللَّيْلَةِ الأُوْلَى فَارْحَمُواْ مَوْتَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فِيْهِمَا فَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ وَإِلَهُكُمْ ... وَقُلْ هُوَاللهُ أَحَدْ اِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً وَيَقُولُ: الّلهُمَّ إِنِّى صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلاةَ وَتَعْلَمُ مَااُرِيْدُ. اللهم ابْعَثْ ثَواَبَها اِلَى قَبْرِ فُلان فَيَبْعَثُ الله مِنْ سَاعَتِهِ اَلَى قَبْرِهِ اَلْفَ مَلِكِ مَعَ كُلِّ مَلِكِ نُوْرٌ هَدِيَّةً يُؤَنِّسُوْنَةُ فِى قَبْرِهِ اِلَى اَنْ يُنْفَخَ فِى الصُّوْرِ وَيُعْطِىْ اللهُ المُصَلَّى بِعَددِ مَاطَلَعَتْ عَلَيهِ الشَّمْسُ أَلْفَ شَهِيْدٍ وَيُكْسِى أَلْفَ حُلَّةٍ. اِنْتَهَى وَقَدْ ذَكَرَنَا هَذِهِ الْفَائِدَةُ لِعُظْمِ نَفْعِهَا وَخَوْفاً مَنْ ضِيَاعِهاَ، فَيَنْبَغِى لِكُلِّ مُسْلِمٍ اَنْ يُصَلِّيْهَا كُلِّ لَيْلَةٍ لأَمْواَتِ الْمُسْلِمِيْنَ.
جواب:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى اُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
أورا وناع فيتواه، اجاء-اجاء لن علاكونى صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سوأل، كرنا صلاة لورو ايكو ماهو دودو صلاة مشروعة فى الشرع لن اور انا اصلى فى الشرع.
وَالدَّلِيْلُ عَلَى ذَلِكَ خُلُوُّ الْكُتُبِ الْمُعْتَمَدَةِ عَنْ ذِكْرِهَا

كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأفندوكور. كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين، كابيه ماهو اورا انا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.

وَمِنَ الْمَعْلُوْمِ اَنَّهُ لَوْكَانَ لَهَا أَصْلٌ لَبَادَرُوْا إِلَى ذِكْرِهَا وَذِكْرِ فَضْلِهَا، وَالْعَادَةُ تُحِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِثْلُ هَذِهِ السُّنَّةِ، وَتَغِيْبُ عَنْ هَؤُلاَءِ وَهُمْ أَعْلَمُ الدِّيْنِ وَقُدْوَةُ الْمُؤْمِنِيْنِ.

لن اورا وناع اويه قيتواه أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدى قال:

وَلاَ يَجُوْزُ اْلإِفْتَاءُ مِنَ الْكُتُبِ اْلغَيْرِ الْمُعْتَبَرَةِ،

لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القارى:

لاَ يَجُوْزُ نَقْلُ الْأَحَادِيْثِ النَّبَوِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ وَالتَّفَاسِيْرِ الْقُرْاَنِيَّةِ إِلَّا مِنَ الْكُتُبِ الْمُدَاوَلَةِ (الْمَشْهُوْرَةِ) لِعَدَمِ اْلإِعْتِمَادِ عَلَى غَيْرِهَا مِنْ وَدَعِ الزَّنَادِقَةِ وَإِلْحَادِ الْمُلاَحَدَةِ بِخِلاَفِ الْكُتُبِ الْمَحْفُوْظَةِ.

انتهى لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية:

وَلاَ يَحِلُّ الْإِفْتَاءُ مِنَ الْكُتُبِ الْغَرِيْبَةِ. وَقَدْ عَرَفْتَ اَنَّ نَقْلَ الْمُجَرَّبَاتِ الدَّيْرَبِيَّةِ وَحَاشِيَةِ السِّتِّيْنَ لِاسْتِحْبَابِ هَذِهِ الصَّلَاةِ الْمَذْكُوْرَةِ يُخَالِفُ كُتُبَ الْفُرُوْعَ اْلفِقْهِيَّةِ فَلَا يَصِحُّ وَلَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِهَا.

لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلانى على البخارى:

وَيُسَمَّى الْمُخْتَلَفُ الْمَوْضُوْعَ وَيَحْرُمُ رِوَايَتُهُ مَعَ الْعِلْمِ بِهِ مُبَيِّنًا وَاْلعَمَلُ بِهِ مُطْلَقًا.

انتهى
قَالَ فِى نَيْلِ اْلأَمَانِى:
وَيَحْرُمُ رِوَايَتُهُ أَىْ عَلَى مَنْ عَلِمَ اَوْ ظَنَّ اَنَّهُ مَوْضُوْعٌ سَوَاءٌ كَانَ فِى اْلأَحْكَامِ أَوْ فِى غَيْرِهَا كَالْمَوَاعِظِ وَالْقَصَصِ وَالتَّرْغِيْبِ إِلاَّ مَعَ : مَنْ رَوَى عَنِّي حَدِيثًا وَهُوَ يَرَىبَيَانِ وَضْعِهِ لِقَوْلِهِ أَنَّهُ كَذِبٌ، فَهُوَ أَحَدُ الْكَذَّابِين وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ حَتَّى قَالَ الْجُوَيْنِى عَنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِنَا بِكُفْرِ مُعْتَمِدِهِ وَيُرَاقُ دَمُهُ. وَالْجُمْهُوْرُ اَنَّهُ لاَ يَكْفُرُ إِلاَّ إِنِ اسْتَحَلَّهُ وَاِنَّمَا يُضَعَّفُ وَتُرَدُّ رِوَايَتُهُ أَبَدًا، بَلْ يُخْتَمُ .
.... اِنْتَهَى.
وَلَيْسَ ِلأَحَدٍ أَنْ اَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُيَسْتَبْدِلَ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ خَيْرٌ مَوْضُوْعٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَاِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعِيَّةٍ

سكيرا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة هدية كلوان دليل حديث موضوع، موعكا اورا بيصا تتف كسنتانى صلاة ربو وكاسان كلوان دليل داووهى ستعاهى علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سباب ايكى بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم.
(هذا جواب الفقير اليه تعالى محمد هاشم أشعارى جومباع)
Wallohu a'lam.

3 yang pertama masuk neraka

3 YANG PERTAMA MASUK NERAKA

Sabda Rasulullah saw.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ أَيُّهَا الشَّيْخُ حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ 

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ

Dari hadapan Abu Hurairah, setelah itu Natil, seorang penduduk Syam, bertanya, “Wahai Syaikh, ceritakanlah kepada kami hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah saw!” dia menjawab, “Ya, saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:

Pertama: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisap pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.

Kedua: Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.

Ketiga: Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya..? dia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridlai.” Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.”  (HR. Muslim).

Selasa, 07 November 2017

SIAL DALAM ISLAM

Sial' Dalam Islam

Eh, kamu kan perawan, jangan keramas di hari Sabtu, nanti dapat suami yang suka nyiksa lho….

Kamu mau nikah dengan janda?!  Makanya, jangan sering beli  barang bekas!

Nyapu kok di malam hari, nanti seret rezeki lho….

Aduh, sial... .. Gue dapat no.13 nih!

Tathayyur ada di mana-mana. Sampai sekarang pun masih ada.

Di era internet di mana kemajuan teknologi dengan segenap inovasi yang begitu cepat dan memukau, tathayyur ternyata masih diterima di tengah-tengah kita.

Tathayyur. Apa Itu Tathayyur? Tahukah Anda apa itu Tathayyur?

Pengertian Tathayyur

Secara bahasa Thiyarah/Tathayyur berasal dari kataطير (burung).

Apa maksudnya?

Sebab, orang Arab jahiliyyah dulu bisa pesimis dan optimis dikarenakan burung.

Lho, kok?

Ketika hendak bepergian, mereka melepaskan terlebih dahulu seekor burung.

Kalau burung itu terbang ke arah kanan,  optimislah mereka. Jadilah mereka berangkat.

Tapi kalau terbang ke arah kiri?

Pesimislah mereka. Maka batallah kepergian mereka. Mereka yakin akan datang kesialan kepada mereka ketika itu.

Itu secara bahasa. Adapun secara istilah, tathayyur adalah sikap pesimis karena sesuatu yang didengar atau dilihat atau diketahui.

Apa contohnya?

Seperti keyakinan orang Arab dulu tentang burung hantu. Jika mendengar suara burung hantu, mereka yakin bahwa itu pertanda akan ada orang yang mati.

Seperti keyakinan mereka bahwa bulan Shaffar dan Syawwal adalah bulan sial.

Mereka di masa jahiliyyah memiliki keyakinan bahwa wanita yang menikah di bulan Syawwal tak akan bahagia dan tak akan pula dicintai suaminya.

Padahal, tahukah kita di bulan apa Nabi صلى الله عليه وسلم menikahi ibunda kita, Aisyah رضي الله عنها?

Beliau صلى الله عليه وسلم menikahinya di bulan Syawal! Dan mencampurinya pun di bulan Syawwal!

Lantas, apakah pernikahannya setelah itu berantakan?

Aisyah berkata:

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ

“Aku dinikahi Rasulullah di bulan Syawwal dan dicampuri pun di bulan Syawwal, lantas, siapakah di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku? ” (HR. Muslim no. 2551 Maktabah Syamilah)

Berkata Imam An-Nawawi:

وَقَصَدَتْ عَائِشَة بِهَذَا الْكَلَام رَدّ مَا كَانَتْ الْجَاهِلِيَّة عَلَيْهِ ، وَمَا يَتَخَيَّلهُ بَعْض الْعَوَامّ الْيَوْم مِنْ كَرَاهَة التَّزَوُّج وَالتَّزْوِيج وَالدُّخُول فِي شَوَّال ، وَهَذَا بَاطِل لَا أَصْل لَهُ ، وَهُوَ مِنْ آثَار الْجَاهِلِيَّة ، كَانُوا يَتَطَيَّرُونَ بِذَلِكَ لِمَا فِي اِسْم شَوَّال مِنْ الْإِشَالَة وَالرَّفْع

"Maksud Aisyah dengan perkataannya yaitu menolak keyakinan di masa jahiliyyah dan menolak anggapan sebagian orang awam di hari ini tentang dibencinya menikah dan menikahkan serta bercampur di bulan Syawwal. Keyakinan ini adalah batil dan tidak ada asalnya. Itu merupakan sisa-sisa jahiliyyah. Dulu orang-orang jahiliyyah bertathayyur (bersikap pesimis) terhadap bulan Syawwal, karena Syawwal berasal dari kata Al-Isyalah dan Ar-Raf'u (yaitu mengangkat/mematikan). " (Syarh Shahih Muslim juz 5 hal. 131 Maktabah Syamilah)

Itu beberapa contoh thiyarah yang tersebar di zaman jahiliyyah dulu. Nah, sekarang?

Silahkan Anda hitung sendiri…

Hukum Tathayyur/Thiyaroh

Dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik. "

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata:

وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Dan tiada seorang pun dari kita kecuali (merasakannya). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan bertawakkal kepada-Nya”. (HR Abu Daud no. 3411 Maktabah Syamilah)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, sungguh, ia telah berbuat syirik. ” (HR Ahmad: 6748 Maktabah Syamilah)

Dua hadits di atas menunjukkan dengan jelas bahwa thiyaroh merupakan perbuatan syirik. Namun pertanyaannya, syirik apakah itu? Syirik besar atau kecil? Bisa kecil dan bisa besar. Lho?

Mari kita lanjutkan pembahasan ini..

Tathayyur, Syirik Besar Atau Kecil?

Orang yang bertathayyur bisa terjatuh kepada syirik akbar atau syirik ashghar.

1. Dia jatuh ke dalam syirik akbar jika meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu memang membawa kesialan dengan sendirinya, tanpa ada andil dari Allah عز وجل sedikit pun.

2. Dia jatuh ke dalam syirik ashghar jika meyakini bahwa sesuatu yang ia anggap sial itu hanya sekedar sebab kesialan saja, sedangkan yang menentukan adalah Allah عز وجل. (lihat penjelasan tentang ini di Aunulma'bud Syarh Sunan Abi Daud juz. 8 hal. 438)

Lantas, apa bedanya orang yang terjatuh ke dalam syirik akbar dengan orang yang terjatuh dalam syirik ashghar?

Lihat ini dan ini.

Obat Anti Tathayyur

Kok gue sial terus ya hari ini… Jangan-jangan gara-gara nabrak kucing tadi

Setelah dia datang di kantor ini, kok kita rugi terus ya..

Pernahkah Anda pada suatu waktu merasa pesimis ketika menghadapi suatu masalah? Kalau pernah, ya itu masih 'wajar'. Tapi pernahkah Anda pada suatu waktu merasa pesimis ketika menghadapi suatu masalah lalu timbul di hati Anda ‘tuduhan’ terhadap benda atau orang tertentu (yang sebenarnya menurut akal sehat tak ada kaitannya dengan masalah Anda) sebagai penyebabnya? Kalau jawaban Anda: "pernah ". berarti Anda telah terjangkiti virus yang sangat berbahaya yang bernama: "Tathayyur"

Segera obati!

Lantas apa obatnya?

1.Tawakkal kepada Allah. Dalilnya? Lihat hadits Ibnu Mas'ud di atas

2.Berdoa. Apa doanya?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah, sungguh, ia telah berbuat syirik”.

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟

“Wahai Rasulullah, apa penebusnya? ”

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab:

قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ:

“Hendaklah ia berdoa:

اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

(Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan, kecuali dari-Mu, tiada yang berhak diibadahi selain-Mu) (HR Ahmad: 6748 Maktabah Syamilah)

Inilah tathayyur. Apakah kita tetap menerimanya? Apakah kita tetap percaya dengan yang berbau "sial": "hari sial", "nomor sial", "tempat sial"dan  berbagai "sial" lainnya lagi? Tentu saja tidak. Kecuali, jika kita mau dikatai: "Sialan! "....

Minggu, 29 Oktober 2017

Umroh menurut empat madzhab

Hukum ‘Umrah Menurut Madzhab yang Empat

Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah dalam kitab fiqih beliau, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, menjelaskan perbedaan pendapat para ‘ulama madzhab tentang hukum ‘umrah, wajib ataukah sunnah muakkadah.

Pendapat yang Menyatakan Sunnah Muakkadah

Menurut Hanafiyah dan pendapat yang terkuat dari Malikiyah, ‘umrah hukumnya sunnah muakkadah sekali dalam seumur hidup. Mereka berpendapat demikian karena hadits-hadits yang masyhur yang menyebutkan tentang fardhu-fardhu dalam Islam tidak menyebutkan ‘umrah di dalamnya. Misalnya hadits dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, بني الإسلام على خمس, hadits ini hanya menyebutkan haji, tanpa disertai ‘umrah. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku apakah ‘umrah itu wajib?’ Rasulullah bersabda, ‘Tidak, namun ber-‘umrah lebih baik bagimu’ atau dalam riwayat lain, ‘ber-‘umrah lebih utama bagimu’. Berikut redaksi Arabnya:


وروى جابر أن أعرابياً جاء إلى رسول الله صلّى الله عليه وسلم، فقال : يا رسول الله، أخبرني عن العمرة، أواجبة هي؟ فقال : لا، وأن تعتمر خير لك . وفي رواية : أولى لك

Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Ahmad, al-Baihaqi, Ibn Abi Syaibah dan ‘Abd ibn Humaid (Syaikh az-Zuhaili mengutip dari Nailul Authar: 4/281). Namun, dalam isnadnya terdapat al-Hajjah ibn Arthah, dia dha’if. Tashhih at-Tirmidzi terhadap hadits ini fiihi nazhar (keterangan: ungkapan ini menunjukkan bahwa hadits ini ada ‘masalah’). Karena begitu banyaknya ‘ulama yang mendha’ifkan al-Hajjaj, Imam an-Nawawi berkata, ‘Para huffazh (ahli Hadits) bersepakat akan kelemahannya’. Berikut redaksi Arab dari penjelasan Syaikh az-Zuhaili:

رواه الترمذي وصححه أحمد والبيهقي وابن أبي شيبة وعبد بن حميد (نيل الأوطار: 281/4) لكن في إسناده الحجاج بن أرطاة وهو ضعيف، وتصحيح الترمذي له فيه نظر؛ لأن الأكثر على تضعيف الحجاج، قال النووي : اتفق الحفاظ على ضعفه

Ketika saya cek kitab Nailul Authar melalui software al-Maktabah asy-Syamilah, di kitab tersebut disebutkan bahwa ‘ulama sepakat bahwa al-Hajjaj adalah seorang mudallis (seseorang yang terbiasa menutupi cacat dalam isnad hadits).

Hadits lain yang digunakan sebagai dalil yang menyatakan hukum ‘umrah adalah sunnah muakkadah adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

الحج جهاد والعمرة تطوع


Dalam Nailul Authar, Imam asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daraquthni, Ibn Hazm dan al-Baihaqi dari Abu Hurairah. Isnad hadits ini dha’if, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Hafizh (maksudnya Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani). Asy-Syaukani kemudian menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dari Thalhah dengan isnad yang dha’if, dan diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dari Ibn ‘Abbas. Kemudian asy-Syaukani mengutip pernyataan al-Hafizh tentang hadits ini dari berbagai jalurnya, ‘Hadits ini tidak shahih melalui jalur manapun (ولا يصح من ذلك شيء)’.

Pendapat yang Menyatakan Wajib

Menurut pendapat yang termasyhur di kalangan Syafi’iyah dan juga menurut Hanabilah, ‘umrah hukumnya fardhu sebagaimana haji. Ini berdasarkan firman Allah ta’ala dalam surah al-Baqarah ayat 196:

وأتموا الحج والعمرة لله

Ayat di atas menunjukkan bahwa dua perkara tersebut merupakan perkara yang wajib untuk dilaksanakan.

Serta berdasarkan khabar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah ada jihad bagi wanita?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, jihad yang tidak ada perang ...