Alumni ponpes روضة الهدا purabaya kab:Smi, dan المعهد الاسلاميه kota sukabumi

Kamis, 17 Juni 2021

Hukum Perempuan Jadi Saksi

Di banyak daerah, pada umumnya yang didaulat untuk menjadi saksi nikah adalah dari kalangan laki-laki. Jarang seorang perempuan didaulat untuk menjadi saksi nikah kecuali hanya sebatas melihat dan menyaksikan saja. Sebenarnya bagaimana hukum perempuan menjadi saksi nikah, apakah boleh?

Menurut ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafii dan Hanbali, salah satu syarat untuk menjadi saksi nikah adalah harus berjenis kelamin laki-laki. Adapun perempuan tidak boleh dan tidak sah untuk menjadi saksi nikah.

Oleh karena itu, jika hanya perempuan saja yang menjadi saksi nikah, atau satu laki-laki dan dua perempuan, maka nikah tersebut dinilai tidak sah karena belum memenuhi syarat persaksian, yaitu zukurah atau semua saksi harus laki-laki. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Wahbah Azzuhaili dalam kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

الذكورة: شرط عند الجمهور غير الحنفية، بأن يكون الشاهدان رجلين، فلا يصح الزواج بشهادة النساء وحدهن ولا بشهادة رجل وامرأتين، لخطورة الزواج وأهميته

“(Syarat saksi nikah) harus laki-laki. Kebanyakan ulama, selain ulama Hanafiyah, mengharuskan dua saksi nikah harus terdiri dua orang laki-laki. Karena itu, akad nikah tidak sah jika hanya perempuan saja yang menjadi saksi, atau satu laki-laki dan dua perempuan. Hal ini karena akad nikah sangat penting untuk diperhatikan.”

Adapun menurut ulama Hanafiyah, dua perempuan boleh menjadi saksi nikah asal masih ada satu saksi laki-laki. Jika yang menjadi saksi nikah adalah satu laki-laki dan dua perempuan, maka nikah tersebut sudah dinilai sah. Adapun jika semuanya perempuan, maka tidak sah. Hal ini karena dua perempuan bisa menggantikan satu laki-laki dalam persaksian, termasuk dalam nikah.

Ulama Hanafiyah mendasarkan pendapat tersebut pada firman Allah surah al-Baqarah ayat 282 berikut;

فَإِن لَّمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّن تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاء أَن تَضِلَّ إْحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأُخْرَى

“Jika tak ada dua orang laki-laki, maka seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kalian ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya.”

Dalam kitab al-Ghayah Syarh al-Hidayah disebutkan sebagaimana berikut;

وَلَا يَنْعَقِدُ نِكَاحُ الْمُسْلِمِينَ إلَّا بِحُضُورِ شَاهِدَيْنِ حُرَّيْنِ عَاقِلَيْنِ بَالِغَيْنِ مُسْلِمَيْنِ أَوْ رَجُلٌ وَامْرَأَتَيْنِ عُدُولًا كَانُوا أَوْ غَيْرَ عُدُولٍ

“Nikah kaum Muslim tidak sah kecuali dengan hadirnya dua saksi yang merdeka, baligh, Muslam, hadirnya saksi seorang laki-laki dan dua perempuan, baik mereka adil atau tidak.”

Allahu A'lam

Hukum Catur dan yang lainnya

HARAM KAH PERMAIN GAPLE,REMI CATUR DAN SEJENIS MEREKA''

Alhamdulilahi rabbil ‘alamin,Was sholatu wassalamu ‘ala,
Asyrofil ambiyaa iwal mursalin,Sayyidina wa maulana Muhammadin,
Wa ‘alaa ‘alihi wa shohbihi ajmain.Ama ba’du

''Hukum bermain, permainan yg memakan waktu(menyia2kan waktu,memubzirkan waktu) juga kebanyakan membuat lalai segala pekerjaan apapun,termasuk ibadah kpd allah swt,

'seperti catur,dadu, remi, gaple dll'

siapa catur dan siapa dadu, orang moderen sudah tahu tapi mungkin org tua2 kita masih ada yg belum tahu,
catur adalah sebuah patung-patung plastik atau sejenis simbol-simbol,.
ialah sebuah permainan strategi sejenis perperang atau taktik yg bertujuan mengalahkan satu sama lain,untuk menjatuhkan kekuatan, kekuasan kekuatan lawan,
dan siapa dadu,dadu sejenis permainan yg banyak ragam nya bisa sejenis kodok2 gaple, seperti ular tangga anak dll( gaple dan remi termasuk keluarga dadu, dan alat serta bahan yg digunakan pun bermacan-macam
sebenarnya catur gaple remi,termasuk katagori jenis dadu juga,
dan kapan berasal nya, sya belum tahu yg jelas' tetapi jelas catur dan dadu telah ada ada sejak dari zaman nabi karna telah masuk pembahasan hukum2 islam,,
dan setiap permainan yg melalaikan ibadah atau mencari peruntungan, dipertaruhkan, baik game dan sejenis nya, itu dilarang'  karna telah menjadi bagian dari mereka, tapi yg dibahas disini induk daripada mereka,,
wallahu a'lam

Ada sebagian pendapat ,hukum nya haram, ada sebagian pendapat sampai nya haram apabila dijadikan pertaruhan( dengan uang)
tapi semua ulama tetap tidak menyukai nya apapun hukum nya
namun sebagian tidak menyebutnya haram,dan sebagian menyebutnya makruh' tapi yg paling banyak di bahas catur dan dadu, dan yg saya dapatkan, dengarkan dalam pembahasan' ulama2 sekarang pembahasan haram makruh terjadi pada catur dan dan dadu namun gaple dan remi adalah keluarga mereka juga,
dalam hal ini semua ulama mempunyai khilaf masing-masing dari dahulu sampai sekarang namun kita memilih pendapat yg paling kuat yg paling shahih sebagaina firman allah swt
 
Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa: 59).
 
Dalam banyak ayat, Allah memuji persatuan dan mencela perselisihan,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah (aturan Allah), dan jangan berpecah belah. (QS. Ali Imran: 103)

dari pendapat ustadz2 kita sekarang ada juga yg tidak menyebutnya mutlak pengharamanya dan tetap mengatakan pendapat pandangan-pandangan ulama terdahulu dan ada sebagian yg mengeluarkan dalil-dalil pengharaman nya namun ia pun tidak memutuskan secara detail namun setiap ulama tidak membolehkan kan tetapi tidak memutuskan hukumnya secara mutlak karna ada pendapat2 lain jgn sampai menyalahkan satu sama lain,kemungkinan dan ada yg memutuskan nya secara mutlak pula,,
namun setiap ulama condong kepada pelaranagannya

Dan saya sendiri mengambil pendapat yg mengharamkan...??
namun dari yg saya pelajari' dari guru saya' dan guru yg saya temui, tanyai ,dan datangi, tetap mengatakan''HARAM''

MARI KITA BAHAS..........................................

Hukum permainan catur, menurut jumhur (mayoritas) ulama, adalah haram, tidak dibedakan baik dengan uang atau tanpa uang. Apabila dengan uang, maka menjadi perjudian.
Para salafush shahih telah mengingatkan kita dengan peringatan yang keras terhadap permainan ini karena permainan catur menyerupai atau bahkan lebih buruk dari permainan dadu [1], sedangkan permainan dadu telah dilarang dalam Islam, sebagaimana dalam hadits:

عَنْ أَبِي مُوْسَى اْلأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَ رَسُوْلَهُ

Dari Abu Musa al-Asy’ari, dia berkata,
 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa bermain dadu, maka dia sungguh telah durhaka kepada Allah dan Rasul-nya.’ ” (HR. Abu Daud: 4938, dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah: 2762, Irwa’ al-Ghalil: 2670, dan Shahih al-Jami’ al-Shaghir: 5629)

Demikian juga, permainan catur kartu domino(dadu) tidak diperbolehkan karena semisal dengan dadu, sama saja baik dengan uang atau tanpa uang.
 
atau sedang kumpul-kumpul, begadang, maka akan terlihat ada yang meneriakkan “skak .. “skak gap double enam…dsb Permainan catur gap,remi ini sangat popular sekali.
Kadang permainan ini menghabiskan waktu berjam-jam, untuk karena memikirkan strategi permainan,untuk menutup daun lawan atau untuk mematikan raja si lawan.
Mengenai permainan-permainan ini jika melalaikan dari kewajiban shalat karena berjam-jam meski nongkrong untuk mematikan lawan, maka jelas terlarang. Namun jika tidak melalaikan, masih diperselisihkan oleh para ulama.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَكَذَلِكَ يَحْرُمُ بِالْإِجْمَاعِ إذَا اشْتَمَلَتْ عَلَى مُحَرَّمٍ : مِنْ كَذِبٍ وَيَمِينٍ فَاجِرَةٍ أَوْ ظُلْمٍ أَوْ جِنَايَةٍ أَوْ حَدِيثٍ غَيْرِ وَاجِبٍ وَنَحْوِهَا

“(Bermain catur) itu diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama) jika di dalamnya terdapat keharaman seperti dusta, sumpa palsu, kezholiman, tindak kejahatan, pembicaraan yang bukan wajib” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 245).
 
Jika demikian, jika bermain catur,dadu sampai melalaikan dari shalat lima waktu dan berjama’ah di masjid bagi pria-, dalam kondisi ini permainan catur dihukumi haram. Dan inilah kebanyakan yang terjadi.
Karena sibuk memikirkan strategi, pikirannya dihabiskan berjam-jam sehingga akhirnya meninggalkan shalat
 
atau kalau bermain gap domino,(dadu) catur dia selalu utamakan dan selalu sibuk tetapi dg urusan agama dia tidak sibuk dan hirau,maka ia ia telah melanggar batas yg nyata sedangkan urusan yg tidak bermanfaat dia kerjakan yg bermanfaat dia tinggal bahkan samapai melalaikan semuanya
walaupun dalam hal ini' yg banyak disebutkan cuma catur dan dadu tetapi singgungan ini bukan hanya pada catur dan dadu saja semata' tapi pada kakak adik sepupunya catur juga,,
Dan Dalil ulama lainnya

ملعون من لعب بالشطرنج والناظر إليها كالآكل لحم الخنزير

“Sungguh terlaknat siapa yang bermain catur dan memperhatikannya, ia seperti orang yang memakan daging babi” (Disebutkan dalam Kunuzul ‘Amal 15: 215) Namun hadits ini mengandung cacat dari dua sisi: (1) mursal dan (2) majhulnya satu orang perowi yaitu Habbah bin Muslim. Sehingga hadits ini dho’if. Begitu pula hadits-hadits yang membicarakan haramnya catur tidak keluar dari hadits yang dho’if dan palsu (Demikian disebutkan oleh guru kami Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam kitab beliau Al Musabaqot hal. 227).

namun yg menguatkan dalil adalah

Dalil yang lain adalah perkataan ‘Ali bin Abu Tholib berikut:

عَنْ مَيْسَرَةَ بْنِ حَبِيبٍ قَالَ : مَرَّ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى قَوْمٍ يَلْعَبُونَ بِالشَّطْرَنْجِ
فَقَالَ (مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِى أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ)

Dari Maysaroh bin Habib, ia berkata, “’Ali bin Abu Tholib radhiyallahu ‘anhu pernah melewati suatu kaum yang sedang bermain catur. Lantas ia berkata, “Apa geragangan dengan patung-patung yang kalian i’tikaf –atau berdiam lama- di depannya?” (HR. Al Baihaqi 10: 212). Imam Ahmad berkata bahwa inilah hadits yang paling shahih dalam bab ini.
 
Meskipun hadits yang melarang adalah dho’if, namun terdapat dalil dari perkataan ‘Ali bin Abi Tholib yang berisi pengingkaran beliau. Inilah pemahaman secara tekstual dari dalil tersebut.

2. Buah catur tidak ubahnya seperti patung yang memiliki bentuk. Sebagaimana diketahui bahwa memiliki gambar atau patung hukumnya adalah haram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

“Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk yang memiliki ruh)” (HR. Bukhari 3224 dan Muslim no. 2106). Patung catur termasuk dalam gambar tiga dimensi dan terlarang pula berdasarkan hadits ini. Demikian alasan dari Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah.
 
dan ulama yg membolehkan catur dan sejenisnya hanya dg beberapa rah yaitu
Ulama yang membolehkan catur memberikan syarat: (1) tidak sampai berisi keharaman seperti judi dengan memasang taruhan, perkataan sia-sia atau celaan, dan dusta, (2) tidak sampai meninggalkan kewajiban seperti meninggalkan shalat. Namun syarat ini jarang dipatuhi oleh pemain catur sebagaimana kata guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ketika membantah pernyataan Yusuf Qordhowi dalam Al Halal wal Haram yang membolehkan permainan catur. Jika syarat di atas jarang dipatuhi, bagaimana mungkin kita katakan boleh-boleh saja bermain catur ,gaple dan remi,, ini lah rata2 pendpat org yg masih fasih melaksanankan,
Bermain Catur Termasuk Maysir
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (maysir), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
(QS. Al Maidah: 90).
Maysir sebenarnya lebih umum dari berjudi.

Kata Imam Malik rahimahullah, “Maysir ada dua macam: (1) bentuk permainan seperti dadu, catur dan berbagai bentuk permainan yang melalaikan, dan (2) bentuk perjudian, yaitu yang mengandung unsur spekulasi atau untung-untungan di dalamnya.” Bahkan Al Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr memberikan jawaban lebih umum ketika ditanya mengenai apa itu maysir. Jawaban beliau, “Setiap yang melalaikan dari dzikrullah (mengingat Allah) dan dari shalat, itulah yang disebut maysir.” (Dinukil dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 406).

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Permainan catur termasuk kemungkaran sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Umar dan sahabat lainnya. Oleh karena itu, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan selainnya bersikap keras dalam hal ini, sampai-sampai mereka mengatakan, “Tidak boleh menyalami para pemain catur karena mereka nyata-nyata menampakkan maksiat.” Sedangkan murid-murid Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak mengapa jika menyalami mereka” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 245).
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).,
jelas catur dan dadu hal yg tidak manfaat tentu banyak mudharatnya

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ , إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Ma-idah: 90-91)
Yang termasuk dalam berjudi adalah an nardasyir (permainan dadu) dan semacamnya.
Telah terdapat
dalam hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِير
ِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِى لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

“Barangsiapa bermain dadu(dan sejenisnya daun domino remi), maka seakan-akan ia telah mencelupkan tangannya ke dalam daging babi dan darahnya.
 
Empat imam madzhab berpendapat bahwa bermain dadu walaupun tanpa taruhan tetap diharamkan.

Ibnu ‘Umar, Imam Malik bin Anas dan selainnya mengatakan, “Permainan catur lebih jelek lagi dari permainan dadu.” Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Imam Asy Syafi’I mengatakan, “Permainan dadu termasuk dalam permainan catur.”

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Barangsiapa bermain dadu, maka dia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.”

Terdapat pula riwayat dari ‘Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu-. Beliau pernah melewati orang-orang yang bermain catur, lalu beliau mengatakan, “Ada apa dengan berhala-berhala yang kalian beri’tikaf di hadapannya,
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa ‘Ali membalik papan catur orang-orang tadi.

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa catur merupakan bagian dari judi. Telah kita ketahui bahwa Allah mengharamkan perjudian.
Para ulama menyatakan bahwa permainan dadu dan catur itu haram jika dengan menggunakan taruhan. Dadu dan catur temasuk perjudian yang Allah larang.
Permainan dadu dinilai haram oleh empat ulama madzhab baik dengan taruhan ataupun tidak. Akan tetapi, sebagian kecil dari ulama Syafi’iyah membolehkan memainkan dadu jika tanpa taruhan karena mereka menganggap bahwa dadu tidak digunakan untuk perjudian.
Sedangkan Imam Asy Syafi’i dan mayoritas ulama Syafi’iyah, juga Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan ulama lainnya mengharamkan dadu baik dengan taruhan ataupun tidak. Begitu pula dengan permainan catur, para ulama madzhab –Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan selainnya- mengharamkannya dengan tegas.
Para ulama tersebut selanjutnya berselisih pendapat, manakah yang lebih jelek (dadu ataukah catur) Imam Malik dan selainnya mengatakan bahwa catur lebih jelek daripada dadu. Imam Ahmad dan selainnya mengatakan bahwa catur lebih mending dari dadu. Sedang Imam Asy Syafi’i abstain dalam masalah dadu jika dia terbebas dari hal haram (yaitu adanya taruhan). Adanya kesamaran mengenai manakah yang lebih jelek antara keduanya karena kebanyakan orang yang bermain dadu menggunakan taruhan, sedangkan permainan catur umumnya tanpa taruhan. Juga sebagian mereka menyangka bahwa bermain catur dapat melatih berperang karena di dalam permainan itu diajarkan strategi bagaimana mengatur pasukan.

Namun berdasarkan penelitian mendalam –pendapat yang tepat-, apabila dadu dan catur dimainkan dengan taruhan, maka catur dinilai lebih jelek. Alasannya, karena catur pada saat ini diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama kaum muslimin. Begitu pula permainan tersebut diharamkan berdasarkan ijma’ jika ada hal-hal haram di dalamnya seperti dusta, sumpah yang dusta, kezholiman, tindak pidana, atau ada pembicaraan yang bukan wajib dan semacamnya. Dan permainan catur tetap dinilai haram oleh mayoritas ulama meskipun tidak terdapat hal-hal yang terlarang tadi. Dilarang demikian karena catur sering melalaikan dari berdzikir pada Allah, melalaikan dari shalat, menimbulkan permusuhan dan kebencian dan hal ini berbeda dengan permainan dadu apabila dadu tersebut disertai adanya taruhan. Namun jika kedua permainan tadi sama-sama memakai taruhan, catur dinilai lebih jelek.

Adapun jika permainan dadu atau catur memakai taruhan, maka ini berarti memakan harta seseorang yang bukan haknya dengan cara yang batil. Allah telah menggandengkan perjudian dengan khomr, penyembahan pada berhala dan mengundi nasib karena semuanya dapat memalingkan dari berdzikir pada Allah dan dari shalat. Dalam berbagai kegiatan tadi akan timbul permusuhan dan kebencian. Namun, keseringan bermain catur ternyata lebih melalaikan hati dari mengingat Allah dibanding dengan minuman keras.
Oleh karena itu, ‘Ali bin Abi Tholib –selaku Amirul Mukminin- menasehati orang yang gemar bermain catur, beliau menyamakannya dengan para penyembah berhala, sebagaimana beliau katakan, “Ada apa dengan berhala-berhala yang kalian beri’tikaf di hadapannya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah menyamakan peminum minuman keras dengan para penyembah berhala dalam hadits yang terdapat dalam musnad, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

شَارِبُ الْخَمْرِ كَعَابِدِ الْوَثَنِ
“Peminum khomer layaknya seperti penyembah berhala.”.

Penjelasan ini memberikan pencerahan pada kita bahwa permainan catur termasuk kemungkaran sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘Ali, Ibnu ‘Umar dan sahabat lainnya. Oleh karena itu, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan selainnya bersikap keras dalam hal ini, sampai-sampai mereka mengatakan, “Tidak boleh menyalami para pemain catur karena mereka nyata-nyata menampakkan maksiat.” Sedangkan murid-murid Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak mengapa jika menyalami mereka.
kenapa dalam pembahasan hanya merujuk kepada catur dan dadu,mungkin masa itu belum ada daun gaple atau remi wallahu a'lam,
Namun kenapa nabi saw bersabda; bahwa peminum khomer layak nya penyembah berhala, sedangkan kalau dijeli seperti berbeda, sedang dadu dan catur jelas2 sama, dg remi dan gaple sama2 permainan sejenis cuma berbeda bahannya saja
berati gap remi,catur,dadu adalah permainan serupa,
Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa menolak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah berada dalam jurang kebinasaan
Setelah kita mengetahui penjelasan ini, mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah untuk meninggalkannya dan berusaha pula mengajarkan keluarga tentang hal ini serta melarang mereka untuk memainkannya walaupun itu cuma sekedar mainan atau hiburan.
 
Demikian beberapa penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-
Kesimpulan:
Permainan dadu adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Permainan dadu tetap terlarang baik dengan menggunakan taruhan ataupun tidak.
Permainan catur disamakan dengan permainan dadu atau merupakan bagian dari permainan dadu dan perjudian, sehingga dihukumi haram.
Permainan catur dinilai lebih jelek dari dadu jika sama-sama menggunakan taruhan.
Kedua permainan ini terlarang dikarenakan membuat orang lalai dari mengingat Allah dan menunaikan yang wajib.
Terakhir kami katakan, jangan sampai kita menentang perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan para ulama yang lebih memahami maksud hadits Nabi daripada kita. Kalau memang kita belum mampu meninggalkannya, maka janganlah berkomentar macam-macam sebagai tanda tidak suka,,
 
DAN SELANJUTNYA

لاَ سَبَقَ إِلاَّ فِى نَصْلٍ أَوْ خُفٍّ أَوْ حَافِرٍ

“Tidak ada taruhan dalam lomba kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” (HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan bahwa,

أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ قَالَتْ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَىَّ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِى فَقَالَ هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ

Ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud no. 2578 dan Ahmad 6: 264. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Berdasarkan dua dalil di atas, maka lomba yang dibolehkan dengan taruhan hanyalah empat lomba, yaitu lomba memanah, pacuan unta, pacuan kuda, dan lari. Selain itu, tidak diperbolehkan dengan taruhan. Jika ada permainan kartu yang di dalamnya memasang taruhan, maka tidak dibolehkan, alias haram.DAN walupun tidak dg taruhan uang dan sebagainya,maka didalam permain kartu adalah klah ada menangnya sedang kan dalam perlombaan NABI dan AISYAH, ADALAH dro tidak ada yg dirugikan atau dikalahkan sedngkan dadu catur, gaple remi dan sejenisnya ada yg dirugikan dikalahkan dalam sebuah permainan
Jika lepas dari hal yang terlarang, para ulama berselisih pendapat. Ada yang membolehkan.tapi kebanyakan melarang, Namun kebanyakan ulama belakangan seperti ulama Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah), Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, begitu pula -guru kami- Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri mengharamkan permainan ini meskipun lepas dari penipuan, perjudian maupun melalaikan kewajiban.

Diqiyaskan (dianalogikan) dengan hukum dadu. Kartu yang keluar ketika pertama kali dikocok untung-untungan. Karena ada yang beruntung mendapatkan kartu yang bagus, dan ada yang terus merugi. Demikian pula dengan permainan dadu.

Qiyas dengan Dadu

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِير
ِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِى لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ

Dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia seakan-akan telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260).
Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya bermain dadu karena disamakan dengan daging babi dan darahnya, yaitu sama-sama haram (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 16). Imam Nawawi pun mengatakan, “Hadits ini sebagai hujjah bagi Syafi’i dan mayoritas ulama tentang haramnya bermain dadu” (Syarh Shahih Muslim, 15: 15).

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938 dan Ahmad 4: 394. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Abu ‘Abdirrahman, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِى يَلْعَبُ بِالنَّرْدِ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى مَثَلُ الَّذِى يَتَوَضَّأُ بِالْقَيْحِ وَدَمِ الْخِنْزِيرِ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى

“Permisalan orang yang bermain dadu kemudian ia berdiri lalu shalat adalah seperti seseorang yang berwudhu dengan nanah dan darah babi, kemudian ia berdiri lalu melaksanakan shalat” (HR. Ahmad 5: 370. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini dho’if).

Dikisahkan pula bahwa Sa’id bin Jubair ketika melewati orang yang bermain dadu, beliau enggan memberi salam pada mereka. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya 8: 554).

Malik berkata, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka aku menganggap persaksiannya batil. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak ada setelah kebenaran melainkan kebaikan” (QS. Yunus: 32). Jika bukan kebenaran, maka itulah kebatilan” (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, 8: 259).

DAN KITA ULANGI LAGI BERBAGAI DALIL SEPERTI DI ATAS

Mayoritas ulama mengharamkan permainan dadu yaitu ulama Hambali, Hanafi, Maliki dan kebanyakan ulama Syafi’i. Sebagian ulama lain menyatakan makruh, yaitu Abu Ishaq Al Maruzi yang merupakan ulama Syafi’iyah.

Dalil-dalil yang mendukung ulama yang mengharamkan,

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدَشِيرِ فَكَأَنَّمَا صَبَغَ يَدَهُ فِى لَحْمِ خِنْزِيرٍ وَدَمِهِ ».

Dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia seakan-akan telah mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi” (HR. Muslim no. 2260).
Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan haramnya bermain dadu karena disamakan dengan daging babi dan darahnya, yaitu sama-sama haram (Lihat Syarh Shahih Muslim, 15: 16). Imam Nawawi pun mengatakan, “Hadits ini sebagai hujjah bagi Syafi’i dan mayoritas ulama tentang haramnya bermain dadu” (Syarh Shahih Muslim, 15: 15).

عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ ».

Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no. 4938 dan Ahmad 4: 394. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
 
Malik berkata, “Barangsiapa yang bermain dadu, maka aku menganggap persaksiannya batil. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak ada setelah kebenaran melainkan kebaikan” (QS. Yunus: 32). Jika bukan kebenaran, maka itulah kebatilan” (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an, 8: 259).

Sedangkan sebagian ulama menganggap boleh bermain dadu. Di antara hujjahnya adalah dari perbuatan Ibnul Musayyib. Namun kisah ini tidak shahih dan tidak tegas. Itu hanyalah kisah dari ahlu batil. Jika itu pun shahih, maka perbuatan Ibnul Musayyib tidak bisa mengalahkan dalil-dalil larangan yang dikemukakan di atas.

Jika sudah jelas bahwa hukum bermain dadu itu haram, maka memasang taruhan dalam permainan dadu pun haram. Bahkan termasuk dalam maysir. Bahkan para ulama sepakat akan haramnya memasang taruhan dalam permainan dadu.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
(QS. Al Maidah: 90)

Lihatlah permusuhan sesama muslim bisa muncul akibat perbuatan maysir.

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al Maidah: 91)

Bahkan maysir itu lebih berbahaya dari riba. Sebagaimana Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kerusakan maysir (di antara bentuk maysir adalah judi) lebih berbahaya dari riba. Karena maysir memiliki dua kerusakan: (1) memakan harta haram, (2) terjerumus dalam permainan yang terlarang. Maysir benar-benar telah memalingkan seseorang dari dzikrullah, dari shalat, juga mudah timbul permusuhan dan saling benci. Oleh karena itu, maysir diharamkan sebelum riba.” (Dinukil dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 406)

Maysir yang disebutkan dalam ayat di atas sebenarnya lebih umum dari judi. Kata Imam Malik rahimahullah, “Maysir ada dua macam: (1) bentuk permainan seperti dadu, catur dan berbagai bentuk permainan yang melalaikan, dan (2) bentuk perjudian, yaitu yang mengandung unsur spekulasi atau untung-untungan di dalamnya.” Bahkan Al Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr memberikan jawaban lebih umum ketika ditanya mengenai apa itu maysir. Jawaban beliau, “Setiap yang melalaikan dari dzikrullah (mengingat Allah) dan dari shalat, itulah yang disebut maysir.” (Dinukil dari Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 406). Dari penjelasan Imam Malik menunjukkan ada permainan yang terlarang yaitu catur dan dadu. Dua permainan ini disebut maysir.

Seorang muslim ketika Allah dan Rasul-Nya melarang sesuatu, sikap mereka adalah mematuhinya. Jika berisi perintah, ia laksanakan. Jika berisi larangan, ia jauhi sejauh-jauhnya. Lihatlah bagaimana contoh teladan dari sahabat yang mulia, Abu Bakr Ash Shiddiq dalam menerima ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakr berkata,

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

”Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya
sedikit saja, aku akan menyimpang” (HR. Bukhari dan Muslim). Sebaliknya jika itu larangan, maka Abu Bakr akan menjauh sejauh-jauhnya. Itulah teladan yang mesti kita contoh.

Larangan bermain dadu di sini sifatnya umum, bukan hanya untuk judi saja yang dilarang, termasuk pula untuk permainan anak-anak seperti monopoli dan ular tangga meskipun tidak ada taruhan. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وَاللَّعِبُ بِالنَّرْدِ حَرَامٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِعِوَضِ عِنْدَ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ وَبِالْعِوَضِ حَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ .

“Permainan dadu itu haram meskipun bukan untuk maksud memasang taruhan (judi). Demikian pendapat kebanyakan ulama. Sedangkan jika permainan dadu ditambah dengan taruhan, maka jelas haramnya berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’)” (Majmu’ Al Fatawa, 32: 246).

Mengenai perkara ini Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وَاللَّعِبُ بِالنَّرْدِ حَرَامٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ بِعِوَضِ عِنْدَ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ وَبِالْعِوَضِ حَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ .

“Permainan dadu itu haram meskipun bukan untuk maksud memasang taruhan (judi). Demikian pendapat kebanyakan ulama. Sedangkan jika permainan dadu ditambah dengan taruhan, maka jelas haramnya berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’)” (Majmu’ Al Fatawa).

Pernah pula dikisahkan Dari Nafi’, murid dan manantu Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa:

“Bahwa Ibnu Umar jika melihat salah satu diantara anggota keluarganya bermain dadu, beliau langsung memukulnya dan memecahkan dadu itu.” (HR. Bukhari)

Kemudian Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengisahkan bahwa beliau penah menyewakan rumahnya kepada seseorang. Kemudian beliau mendapat laporan bahwa penyewa rumah tersebut menyimpan dadu di rumahnya. Aisyah pun mengirim surat kepada mereka. “Jika kalian tidak membuang dadu itu, aku yang akan keluarkan kalian dari rumahku.” (HR. Malik).

Kemudian dikisahkan Dari Kultsum bin Jabr, bahwa sahabat Abdullah bin Zubair (yang saat itu memimpin Mekah) pernah berkhutbah:

“Telah sampai kepadaku berita bahwa ada beberapa orang Quraisy yang bermain dadu. Saya bersumpah demi Allah, jika ada orang yang ditangkap dan diserahkan kepadaku karena bermain dadu, pasti akan aku hukum dari rambut sampai kulitnya. Dan orang yang melaporkan akan aku beri hadiah berupa harta yang dibawa orang itu.” (HR. al-Baihaqi).
Lebih jelas lagi Syaikhul Islam menjelaskan bahwa:

“Bermain dadu hukumnya haram menurut imam 4 madzhab, baik dengan taruhan maupun tanpa taruhan.” (Majmu’ Fatawa)

Rasulullah SAW bersabda: 
''Barangsiapa bermain dengan menggunakan dadu, maka ia bagaikan mencelupkan tangannya di dalam daging dan darah babi.”(HR. Muslim)

Umar bin Khattab (ra.) berkata:
”Bermain dengan dadu itu sama saja dengan melumuir tubuh dengan minyak babi”

Ali bin Abu Thalib berkata:
”Catur itu adalah judinya orang-orang a’jam (non Arab)”
Suatu hari Ali bin Abu Thalib berjalan melewati orang-orang yang sedang bermain catur, lalu beliau berkata:

”Patung-patung apa yang sedang kalian hadapi ini? Jika kalian memegang bara api samapai padam dalah lebih baik daripada menyentuh benda ini.” Beliau pun berkata, “Demi Allah, kalian diciptakan bukan untuk memainkan ini.”

wallahu a'lam

Sabtu, 12 Juni 2021

RUHBAH DAN HARIIM


حكم رحبة المسجد

 RUHBAH DAN HARIM

PERTANYAAN :

Yang dimaksud harim masjid lebh jelasnya seperti apa ? Apakah teras dan halaman masjid yang diwqafkan untuk masjid termasuk harim atau gimana ? Beda tidak antra رحبة dan حريم? Atau satu arti

JAWABAN :

Ruhbah/serambi masjid adalah bangunan yang disandarkan kepada masjid, atau yang menempel dengan masjid tapi di luarnya, menurut yang lainnya, ruhbah adalah bangunan yang dibangun di sekitar masjid dan menempel dengan masjid.

Masalah ruhbah terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama', apakah masuk harim masjid atau tidaknya.
Menurut imam rofi'i dan kebanyakan ulama bahwa ruhbah termasuk harim masjid walaupun ruhbah tsb di pisah dengan jalan,dan ini adalah pendapat madzhab.
Menurut ibnu kaj , jika terpisah dengan jalan maka tdk termasuk harim. 

- kitab asbah wan nadhoir (125)

وحريم المسجد ، فحكمه حكم المسجد ، ولا يجوز الجلوس فيه للبيع ولا للجنب ، ويجوز الاقتداء فيه بمن في المسجد ، والاعتكاف فيه . 

وضابط حريم المعمور تعرضوا له في باب إحياء الموات . 

وأما رحبة المسجد فقال في شرح المهذب ، قال صاحب الشامل والبيان : هي ما كان مضافا إلى المسجد ، وعبارة المحاملي : هي المتصلة به خارجه . قال النووي : وهو الصحيح خلافا لقول ابن الصلاح إنها صحنه وقال البندنيجي : هي البناء المبني بجواره متصلا به ، وقال القاضي أبو الطيب : هو ما حواليه ، وقال الرافعي الأكثرون على عد الرحبة منه ; ولم يفرقوا بين أن تكون بينها وبين المسجد طريق أم لا ، وهو المذهب وقال ابن كج : إن انفصلت عنه فلا .

- Imam Ibnu Hajar dlm ktb Fathul Bari : 
هي بناء يكون أمام المسجد غير منفصل عنه هذه رحبة المسجد

- kitab Qurratul Aain Fatawa Isma’il Zain :

وإن لم تكن ملحقة به في ذلك بأن كانت للإرتفاق التابع للمسجد فليس لها حينئذ حكم المسجد

هذا ما يتعلق بتعريف الرحبة، وعلى ضوء هذا التعريف اختلفوا في حكمها هل تأخذ حكم المسجد أم لا؟على ثلاثة أقوال:القول الأول: أن الرحبة إن كانت متصلة بالمسجد محوطة به؛ فهي من المسجد، وتأخذ حكمه، وبهذا قال محمد بن عبد الحكم، وابن حجر، والقاضي، وأبو يعلى، وبعض الشافعية.القول الثاني: أن الرحبة ليست من المسجد مطلقاً متصلة أو منفصلة عنه، وهذا مذهب الأحناف، ورواية عن مالك، وبه قال بعض الشافعية، والصحيح من مذهب الحنابلة.القول الثالث: أن رحبة المسجد منه مطلقاً، متصلة كانت أو منفصلة، وهذا مذهب مالك، والشافعي، ورواية عند الحنابلة.

رحبة المسجد في اللغة: هي ساحته ومتسعه، وسميت رحبة: لسعته. 

وأما الرحبة في اصطلاح الفقهاء فقد عرفت بما يلي:عرفها ابن حجر بأنها: "بناء يكون أمام باب المسجد غير منفصل عنه"وقيل:"الرحبة صحن المسجد الجامع".وقيل:"ما بني بجوار المسجد"وقال: محمد بن عبد الحكم, والقاضي أبو يعلى: "إن الرحبة هي ما أضيف إلى المسجد محجراً عليه".

Wallohu a'lam.


الحمد لله الواحد الأحد، الفرد الصمد، الذي لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفواً أحد، والصلاة والسلام على خير البشر، صاحب الوجه الأغر، القائم لربه في السحر؛ عدد ما هطل المطر، وأضاء القمر، وأزهر الشجر، وأينع الثمر، وتناسل البشر، وسلم تسليماً إلى يوم الدين أما بعد:

فإن من أحكام المسجد في الشريعة الإسلامية ما يسمى "رحبة المسجد" أو"صحن المسجد"، وهي البرحة التي تكون تابعة للمسجد، وهي مسألة مهمة بالنسبة لأحكام المسجد؛ من حيث أنها تابعة له، يصلي الناس فيها، ويزاولون فيها كل الأعمال التي يزاولونها في المسجد، وقد تكلم عليها العلماء قديماً وحديثاً، وبينوا أحكامها، وما يتعلق بها، وما يجوز فيها وما لا يجوز،
وهل حكمها حكم المسجد أم لا؟...
ولعلنا أن نستعرض هذه المسألة بشيء من التفصيل حتى تتم الفائدة فنقول:

رحبة المسجد في اللغة: هي ساحته ومتسعه، وسميت رحبة : لسعته1.

وأما الرحبة في اصطلاح الفقهاء فقد عرفت بما يلي:

ا- عرفها ابن حجر بأنها: "بناء يكون أمام باب المسجد غير منفصل عنه"2.

2- وقيل:"الرحبة صحن المسجد الجامع".

3- وقيل:"ما بني بجوار المسجد"3.

4– وقال: محمد بن عبد الحكم4، والقاضي أبو يعلى5: "إن الرحبة هي ما أضيف إلى المسجد محجراً عليه"6.

هذا ما يتعلق بتعريف الرحبة، وعلى ضوء هذا التعريف اختلفوا في حكمها هل تأخذ حكم المسجد أم لا؟

على ثلاثة أقوال:

القول الأول: أن الرحبة إن كانت متصلة بالمسجد محوطة به؛ فهي من المسجد، وتأخذ حكمه، وبهذا قال محمد بن عبد الحكم، وابن حجر، والقاضي، وأبو يعلى، وبعض الشافعية7.

القول الثاني: أن الرحبة ليست من المسجد مطلقاً متصلة أو منفصلة عنه، وهذا مذهب الأحناف8، ورواية عن مالك9، وبه قال بعض الشافعية10، والصحيح من مذهب الحنابلة11.

القول الثالث: أن رحبة المسجد منه مطلقاً، متصلة كانت أو منفصلة، وهذا مذهب مالك12، والشافعي13، ورواية عند الحنابلة14.

الأدلة:

دليل أصحاب القول الأول:

أراد أصحاب القول الأول أن يجمعوا بين القولين؛ لأن البناء المتصل بالمسجد يعتبر منه، ولأنه يجوز للمصلي به أن يقتدي بإمام المسجد15، فهذه حجتهم.

أدلة أصحاب القول الثاني ما يلي:

1- عن سالم بن عبد الله بن عمر – رضي الله عنهما – أن عمر بن الخطاب – رضي الله عنه – بنى رحبة في ناحية المسجد تسمى "البطيحاء"، فقال: "من كان يريد أن يلغط أو ينشد شعراً، أو يرفع صوته؛ فليخرج إلى هذه الرحبة" رواه مالك في الموط16، والشاهد: "من كان يريد أن يلغط… فليخرج إلى هذه الرحبة" ووجه الدلالة:

أن عمر – رضي الله عنه – بين بمجمع من الصحابة أن الرحبة لا تأخذ حكم المسجد، وهي متصلة به ببناء، وكان ذلك بمحضر من الصحابة، فلم ينكر عليه أحد، فصار كالإجماع السكوتي، وإذا كان هذا في الرحبة المتصلة بالمسجد فالمنفصلة من باب أولى.

2- قال البخاري – رحمه الله تعالى -: "وكان الحسن وزرارة بن أبي أوفى يقضيان في الرحبة خارجاً من المسجد"17، فهذا الأثر يدل على أن الرحبة لا تأخذ حكم المسجد، فلا يكره القضاء بين الناس فيها.

أدلة أصحاب القول الثالث ما يلي:

ا- أن الرحبة زيادة في المسجد، والزيادة تأخذ حكم الأصل، فهي كالمسجد.

2- أن الرحبة باعتبارها منفصلة؛ يصح اقتداء المصلي بها بإمام المسجد، إذا كان المقتدي يرى الإمام أو المأمومين أو يسمع الصوت18.

3- يصح الاعتكاف في الرحبة، ولا يعتبر الخروج إليها بلا عذر مفسداً للاعتكاف، وهذا يدل على أنها من المسجد19.

الترجيح:

إن الذي يتأمل أدلة الفريق الثاني يجد أن الرحبة التي بناها عمر – رضي الله عنه – منفصلة عن المسجد؛ وإلا فكيف يسمح عمر لمن أراد أن يلغط أو يرفع صوته أن يفعل ذلك، ومن في المسجد سيتأذى به، وقد قال النبي – صلى الله عليه وسلم -: ((أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ))20؛ فكيف باللغط وارتفاع الأصوات وإنشاد الشعر، ثم إن أثر عمر – رضي الله عنه – مرسل تابعي، لكنه ثقة21، وأما الحسن وزرارة فقد ورد – أيضاً – أنهما كانا يصليان إذا دخلا رحبة المسجد، وهذا يدل على أنهما كانا يريان جواز القضاء بالمسجد22، والذي يتأمل مساجد المسلمين اليوم يجدها من جهة الرحبة تنقسم إلى ما يلي:

1- أن تكون الرحبة خلف مصابيح المسجد، ليس بينها وبين المسجد جدار فاصل فهذه من المسجد.

2- أن تكون الرحبة في وسط المسجد، وخلفها مصابيح، وأمامها مصابيح، ولا يدخل المسجد إلا منها فهذه من المسجد؛ وسواء فصل بينها وبين المصابيح بجدر أو لم يفصل.

3- أن تكون الرحبة محيطة بالمسجد، ولا يفصلها عن المسجد الجدار الخلفي، ولا يدخل المسجد إلا منها، فهذه من المسجد، لكن لا تصح الصلاة فيها أمام الإمام23.

4- أن تكون محيطة بالمسجد من جميع جوانبه، وعليها بناء، ومفصول بينها وبين المسجد بأبواب، فهذه محل خلاف، والظاهر أنها من المسجد.

5- أن تكون قطعة أرض ملاصقة للمسجد ولا بناء فيها، فهي من حريم المسجد، ولا تأخذ حكمه، حتى وإن كانت محيطة به من جميع الجوانب، فيصح اقتداء المصلي بها خلف إمام المسجد بالإمام إذا أمكنته المتابعة، أو رؤية بعض المأمومين.

6- أن تكون قطعة أرض مبنية بسور بينها وبين المسجد طريق، فليست من المسجد على الراجح عند أهل العلم.

ومما تقدم يعلم أن الراجح هو القول الأول، والله أعلم.

اللهم اغفر لنا وارحمنا وتجاوز عنا يا كريم، والحمد لله رب العالمين.

 
1 – لسان العرب لابن منظور ( 3 / 1606 ).

2 – فتح الباري ( 13 / 155 ).

3 – إعلام الساجد للزركشي ( ص346 ).

4 – هو: محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أبو عبد الله، ولد في منتصف ذي الحجة سنة 182هـ، قال: ابن عبد البر "كان فقيهًا نبيلاً، جميلاً وجيهًا"، وتوفي سنة 268 هـ، انظر: الديباج المذهب لابن فرحون (2/163).

5 – هو: محمد بن الحسين بن محمد بن خلف بن أحمد بن الفراء أبو يعلى، ولد سنة 380 هـ، وتوفي سنة 458 هـ . انظر: طبقات الحنابلة (2/193).

6 – الفروع لابن مفلح (3/153).

7 – فتح الباري (13/155)، (6/437)، وحاشية قليوبي وعميرة (1/2/76)، ومغني المحتاج (1/459).

8 – حاشية ابن عابدين (1/657)، وشرح فتح القدير (2/308) .

9 – حاشية الدسوقي (1/548)، وجواهر الإكليل (1/158).

10 – حاشية قليوبي وعميرة (1/2/83).

11 – الإنصاف للمرداوي (3/365).

12 – المدونة الكبرى لمالك (1/320).

13 – المجموع شرح المهذب (6/437).

14 – الفروع لابن مفلح (3/153).

15 – انظر: كشاف القناع (1/491)، وشرح النووي على مسلم (3/243).

16 – موطأ مالك (1/175).

17 – البخاري ك الأحكام ب 18 من قضى ولاعن في المسجد، وانظر: فتح الباري (13/154).

18 – كشاف القناع للبهتوني (1/491).

19 – المدونة لمالك (1/230) ، والمجموع شرح المهذب (6/437).

20 – سنن أبي داود (ج 4/ رقم 1332).

21 – جامع الأصول لابن الأثير (11/204).

22 – فتح الباري (13/155).

23 – الإفصاح لابن هبيرة (1/153)، وفتح الباري (13/156).

Kamis, 10 Juni 2021

Agar Mati Tetap Dalam Islam

*Wasiat Jum'at✍🏽

Agara Saat Mati Tetap Dalam Islam

Syekh 'Alawi Al Hadad Rahimahullah dalam kitabnya  Nashoih Ad Diniyyah Wal Washaya Al Imaniyah Hal 32 mengurai

Allah berwasiat agar saat mati dalam keadaan beragama Islam. Mengapa? Karena hanya Islamlah agama yang diridlai Allah SWT (QS.3:19). Agama apapun selain Islam kelak tidak akan diterima oleh Allah SWT (QS.3:85)

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(QS.3:103)

Agara Islam itu terjaga pada diri seseorang hingga terbawa sampai mati, maka harus diperhatikan langkah-langkah berikut:

الاجتهاد فى حفظ اسلامه  وتقويته بفعل ما امر به من طاعة الله
1. Bersungguh-sungguh menjaga kesilaman dan memeliharanya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dari ketaatan kepada Allah

ان يجانب المعاصي والاثام
2. Menjauhi segala maksiat dan perbuatan dosa.

الشكر لله على نعمة الاسلام
3. Bersyukur kepada Allah atas nikmat (diturunkannya) Islam

لا تزال سائلا من الله حسن الخاتمة
4. Terus menerus memohon kepada Allah agar husnul khatimah

  ان لاتزال خائفا وجلا من سوء الخاتمه
5. Tidak berhenti memiliki rasa takut dari suul khatimah

*Ust Husni Thamrin Ugm*
[Khadim Pondok Raudhotul Fata]

*Kitab Nashoih Ad Diniyyah Wal Washaya Al Imaniyah merupakan kitab pokok Dirosah Pondok Raudhotul Fata sebagai panduan pembentukan kepribadian Santri.

Selasa, 08 Juni 2021

Air Mata Jatuh Kemayat

Air Mata Jatuh Kemayat

Seseorang dilarang menangis sehingga air mata mengenai jenazah.
Larangan dibuat kerana bimbang air mata tersebut akan membuatkan jenazah terseksa dan ‘berat’ untuk pergi.

Tetapi benarkah tidak boleh jatuh air mata mengenai jenazah dan kain kafan? Da’i Wan Dazrin ketika ditanya mengenai hal ini memberi penjelasan lanjut di laman Instagram miliknya.

Jenazah terseksa jika kena air mata?

Ramai Tagged saya tentang isu ini.
Saya bantu berikan pencerahan sedikit ya.
Isu ini rasanya disalah takwil orang ramai dari Hr.Bukhari (1286)/Muslim (928)

ان الميت ليعذب ببكاء اهله عليه

Sesungguhnya mayat diazab dengan tangisan keluarganya terhadapnya.

Beberapa takwilan perlu difahami

Al-Imamun Nawawi rah sudah jelaskan beberapa takwilan yang tepat yang perlu difahami dari hadith ini.

1. Ditanggung berat azab seksaan itu dengan maksud jikalau si mati mewasiatkan kepada ahli keluarganya dan pada yang hidup untuk meratap dan meraung atas kematiannya.

2. Membawa kepada maksud kalau-kalau kaum keluarga menangis sampai tahap ratapan.

3. Sengaja ‘Ahli Keluarga’ memperdengarkan tangisan untuk menjadikan hati mereka mengasihani berlebihan.

3 perkara dilarang

Adalah tidak langsung menjadi satu kesalahan daripada sudut pandang syara’, bagi kita untuk mengeluarkan air mata, yang penting jangan buat 3 Perkara ini saat mengeluarkan air mata.

1. Meraung suara
2. Merobek-robek pakaian
3. Menampar wajah kerana kekecewaan.

Dalil yang sahih tentang Nabi saw mengalirkan air mata, ada dari Nabi saw sendiri, dalam Hr.Bukhari menceritakan bagaimana Nabi saw sedih sangat bila puteranya Ibrahim meninggal dunia, waktu tersebut sambil memeluk jenazah puteranya, Nabi saw mengalirkan air mata baginda yang mulia dan ada juga beberapa siri lagi athar yang lain yang menunjukkan Nabi saw pernah mengalirkan air mata baginda yang mulia pada jenazah-jenazah sahabat yang berjuang di jalan Allah swt. Namun, sudah mencukupi saya kira dari penjelasan yang telah diberi.

Ada yang bertanya saya lagi, jadi boleh ke air mata kita kena jenazah tu sebenarnya?

Jawapannya, tiada masalah selagi bebas daripada 3 takwilan Imam An Nawawi rah dari hadith di atas. Selagi ketiga-tiga takwilan itu tidak dilakukan ‘Ahli Keluarga’ masing-masing. Maka, inshaAllah, tidak akan berlakulah seksaan azab pada jenazah tersebut.

Wallahu a’alam bissowab.

Senin, 07 Juni 2021

HUKUM URUNAN QURBAN

HUKUM URUNAN QURBAN :
• Bila keberadaan ternak yang disembelih mencukupi untuk dikurbankan pada jumlah anggota yang berurunan maka SAH seperti seekor unta atau sapi untuk tujuh anggota
اتفق الفقهاء (1) على أن الشاة والمعز لا تجوز أضحيتهما إلا عن واحد، وتجزئ البدنة أو البقرة عن سبعة أشخاص، لحديث جابر: «نحرنا مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم بالحديبية: البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة» (2) . وفي لفظ مسلم: «خرجنا مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم مهلين بالحج، فأمرنا رسول الله صلّى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل، والبقر، كل سبعة منا في بدنة» (1) .
__________
(1) البدائع:70/5، تبيين الحقائق: 3/6، تكملة الفتح: 76/8، الدر المختار: 222/5، القوانين الفقهية: ص 186، بداية المجتهد: 420/1، الشرح الكبير: 119/2، مغني المحتاج: 285/4، 292، المهذب: 238/1، المغني: 619/8 وما بعدها، كشاف القناع: 617/2.
(2) أخرجه الجماعة (نصب الراية: 209/4).
(1) استنبط الشافعية من هذا الحديث خلافاً للحنفية كما بينت جواز الاشتراك بين من يريد القربة ومن لا يريدها، فقالوا: وظاهره أنهم لم يكونوا من أهل بيت واحد، وسواء اتفقوا في نوع القربة أم اختلفوا كما إذا قصد بعضهم التضحية، وبعضهم الهدي، وبعضهم اللحم، ولهم قسمة اللحم، لأن قسمته قسمة إفراز على الأصح.
Semua Ulama sepakat bahwa kambing domba dan kambing jawa tdak dapat dikurbankan kecuali untuk satu orang sedangkan unta dan sapi dapat dikurbankan untuk 7 orang berdasarkan hadits riwayat Sahabat Jabir berkata : " Kami berqurban bersama Rasulullah saw di Hudaibiyyah, satu ekor unta atas nama 7 orang dan satu ekor sapi atas nama 7 orang " (HR. Jama'ah- Nasb ar-Raayah IV/209)
Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim ”Kami keluar bersama Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dengan tahallul haji kemudian beliau memerintahkan kami berserikat dalam unta dan sapi setiap tujuh orang dari kami dalam seekor unta” (HR. Muslim). [ Al-Fiqh al-Islaam IV/265 ].
• Bila keberadaan ternak yang disembelih tidak mencukupi untuk dikurbankan pada jumlah anggota yang berurunan maka TIDAK SAH seperti seekor kambing 7 anggota atau sapi untuk 10 anggota maka panitia harus menjelaskan syarat rukun berqurban yang sesuai dengan tuntunan agama dan bila tidak mampu bisa mengikuti anjuran Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori atau uang urunan tersebut dibelikan kambing yang kemudian diniatkan untuk qurban seseorang. Pada waktu menyembelih orang yang berqurban itu diminta meniatkan pahala qurban untuk orang yang membantu urunan membeli hewan qurban.
(فَائِدَةٌ) عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ يَكْفِى فِى الأُضْحِيَةِ إِرَاقَةُ الدَمِ وَلَو مِنْ دَجَاجَةٍ وَأَوْزٍ كَمَا قَالَهُ المَيْدَنِى وَكَانَ شَيْخُنَا يَأَمُرُ الفَقِيْرَ بِتَقْلِيْدِهِ وَيَقِيْسُ عَلَى الأُضْحِيَةِ العَقِيْقَةَ وَيَقُولُ لِمَنْ وُلِدَ لَهُ مَولُودٌ عَقَّ بِالدِّيْكَةِ عَلَى مَذْهَبِ إِبْنِ عَبَّاس (مَسْأَلَةٌ) مَذْهَبُ الشَّافِعِي وَلاَ نَعْلَمُ لَهُ مُخَالِفًا عَدَمَ جَوَازِ التَضْحِيَّةِ بِالشَّاةِ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ … إِلَى أَنْ قَالَ قَالَ الخَطِيْبُ وَ م ر وَغَيْرُهُمَا لَو أَشْرَكَ غُيْرُهُ فِى ثَوَابِ أُضْحِيَةِ كَأَنْ قَالَ عَنِّى وَعَنْ فُلاَنٍ أَوْ عَنْ أَهْلِ بَيْتِى جَازَ وَحَصَلَ الثَوَابُ لِلْجَمِيْعِ
(Faidah) dari Ibn Abbas ra: "Sesungguhnya dalam berqurban cukup dengan mengalirkan darah meskipun dari ayam jago atau angsa sebagaimana dikatakan oleh Al-Maidani. Syaichuna (Imam Abu Yahya Zakariya Al-Ansori) menganjurkan orang-orang fakir untuk mengikuti madzhab tersebut, aqiqah juga di analogkan pada masalah qurban. Syaichuna juga mengatakan bagi orang yang melahirkan bayi dapat meng-aqiqahi dengan ayam jago menurut madzhab Ibn Abbas. (Masalah) Madzhab Syafii dan saya tidak mengetahui ulama yang berbeda pendapat dengannya tentang ketidakbolehan berqurban dengan seekor kambing untuk orang yang lebih banyak dari satu orang … sampai pada pernyataan pengarang, Imam Khatib, Imam Ramli dan ulama yang lainnya berpendapat kalau orang lain bersekutu dalam masalah pahala qurban seperti ucapan seseorang: untukku atau ahli baitku maka hukumnya boleh dan pahalanya dapat diperoleh semuannya. [ Bughyah al-Mustarsyidiin I/255 ].
Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Kamis, 03 Juni 2021

HUKUM MEMANFAATKAN GADAI

Hukum memanfaatkan barang gadai para ulama terdapat perbedaan pendapat, ada yang berpendapat haram, ada yang boleh, ada yang memasukkannya kedalam perkara yang syubhat. Sedangkan yang akan kami paparkan disini adalah khusus pendapat yang menyatakan kebolehan memanfaatkan barang gadai dengan beberapa syarat antara lain :

1.Ada idzin dari rohin (pemilik) untuk memanfaatkan barang yang digadai.

2.Ada dzon (prasangka) yang kuat bahwa rohin ridho atas pemanfaatan barangnya sebab kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat yang mana menurut jumhur ulama ini tidak masuk dalam syarat yang dapat menyebabkan akad menjadi rusak dan masuk kadalam riba, na’udzubillah.
Tetapi menurut mayoritas ulama bahwa sesungguhnya boleh bagi murtahin (penerima gadai) memanfaatkan / menggunakan barang gadaian jika rohin (yang menggadaikan) mengidzininya, dengan syarat hal itu tidak disyaratkan saat aqad.Karena kalau disyaratkan saat aqad maka menjadi hutang yang menarik kemanfaatan, dan itu hukumnya adalah riba.
Wallaahu A’lam.

Referensi :

الفتاوي الفقهية الكبرى لإبن حجر ج ٤ ص ١١٦
وسئل بما لفظه : هل جواز الأخذ بعلم الرضا من كل شيء أم مخصوص بطعام الضيافة ؟
فأجاب : بقوله الذي دل عليه كلامهم أنه غير مخصوص بذلك وصرحوا بأن غلبة الظن كالعلم في ذلك وحينئذ فمتى غلب ظنه أن المالك يسمح له بأخذ شيء معين من ماله جاز له أخذه ثم إن بان خلاف ظنه لزمه ضمانه وإلا فلا
الفتاوي الفقهية الكبرى لإبن حجر ج ٣ ص ٣٦٩
سئل - نفع الله تعالى به -: عما لو جرت العادة بالتسامح بأخذ شيء من البقولات أول وقت النبات من مال الغير يؤكل مثلا هل هو حلال طيب أم لا؟ وقد يأخذ ذلك الصبي ويأتي به إلى أهل الثروة، والعادة جارية بإعطائه شيئا في مقابلة ذلك، ولولا ذلك لم يأت بشيء لهم ويأكل ذلك الورع وغيره وفي نفس الفقيه منه شيء؟ (فأجاب) بقوله: حيث اطردت عادة أهل ناحية بالمسامحة في البقولات بحيث يجزم الآخذ بأن مالك المأخوذ لا يتأثر فيه أو يغلب على ظنه ذلك جاز الأخذ، نظير ما صرحوا به في أخذ الثمار الساقطة
الفقه على المذاهب الأربعة ج ٢ ص ٣٠٠
ولكن الأكثر على أنه يجوز انتفاع المرتهن بالمرهون إذا أذنه الراهن بشرط أن لا يشترط ذلك في العقد، لأنه إذا شرطه يكون قرضاً جر نفعاً وهو ربا.

الفقه الإسلامي وأدلته ج ٦ ص ٤٢٩١ ـ ٤٢٩٢
وقال الشافعية : كالمالكية إجمالاً: ليس للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة - الى أن قال - فإن لم يكن الانتفاع مشروطاً في العقد، جاز للمرتهن الانتفاع بالرهن، بإذن صاحبه، لأن الراهن مالك، وله أن يأذن بالتصرف في ملكه لمن يشاء، وليس في الإذن تضييع لحقه في المرهون؛ لأنه لا يخرج عن يده، ويبقى محتبساً عنده لحقه
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ج ٧ ص ١٢٧
ب- انتفاع المرتهن بالمرهون
علمنا أن عقد الرهن يُقصد به التوثق للدْين، وذلك بثبوت يد المرتهن على العين المرهونة، ليمكن بيعها واستيفاء الدَّيْن من قيمتها عند تعذّر وفائه على الراهن.
وعليه: فإن عقد الرهن لا يعني امتلاك المرتهن للعين المرهونة، ولا استباحته لمنفعة من منافعها، بل تبقى ملكية رقبتها ومنافعها للراهن، المالك الأصلي لها، وبالتالي: فليس للمرتهن أن ينتفع بالعين المرهونة بدون إذن الراهن مطلقاً، فإذا فعل ذلك كان متعدِّياً وضامناً للمرهون.
وهل له أن ينتفع به إذا أذن له الراهن بذلك؟
ينبغي ان نفرِّق هنا بين أن يكون الإذن بالانتفاع لاحقاً لعقد الرهن وبعد تمامه ودون شرط له، وبين أن يكون مع العقد ومشروطاً فيه: فإن كان ذلك مع العقد ومشروطاً فيه كان شرطاً فاسداً، ويفسد معه عقد الرهن على الأظهر، وذلك لأنه شرط يخالف مقتضى العقد، إذ مقتضى العقد التوثّق - كما علمت - لا استباحة المنفعة، وكذلك هو شرط فيه منفعة لأحد المتعاقِدَيْن وإضرار بالآخر، إذ به منفعة للمرتهن وإضرار بمصلحة الراهن.
ومقابل الأظهر: أن الشرط فاسد لا يُلتفت إليه، والعقد صحيح، وقول ضعيف.
وأما إذا لم يكن الانتفاع للمرتهن مشروطاً في العقد فهو جائز، ويملكه المرتهن، لأن الراهن مالك، وله أن يأذن بالتصرّف في ملكه بما لا يضيّع حقوق الآخرين فيه، وقد أذن له بذلك، وليس في ذلك تضييع لحقه في المرهون، لأنه  بانتفاعه به لا يخرج من يده، ويبقى محتبساً عنده لحقه.